
Lima mobil sedan hitam berjalan berbaris ke belakang memecah jalanan ibu kota Jakarta. Mansion Zack terletak di sebelah Utara Jakarta. Sehingga memerlukan waktu sekitar dua puluh lima menit jika keadaan jalan raya lenggang.
Mansion Zack sudah terlihat di depan sana. Kelima mobil itu perlahan menepi dan berhenti di depan pintu gerbang mansion.
"Bixie kita adalah tamu. Biarkan tuan rumah mengetahui kedatangan kita," tutur Brandon.
Bixie mengerti apa yang dimaksud oleh tuan nya. Dia menyuruh dua orang anak buahnya untuk memasang peledak di dekat tembok. Setelah mereka selesai memasang bom di sana, mereka segera berbalik untuk berlindung.
Boom
Suara bom sangat memekakkan telinga penghuni mansion, bahkan getarannya sampai ke ruang bawah tanah. Zack dan Leon saling berpandangan. Mereka tahu saat ini Brandon beserta pasukannya sedang memasuki gerbang mansion. Untung saja letak mansion Zack sangat jauh dari pemukiman warga sekitar.
Amber merasa bergetar saat mendengar ledakan di depan pintu gerbang.
"Di-a datang!" seru Amber terbata. Dia tidak pernah berpikir jika Brandon akan datang menghampirinya dengan cara yang sangat ekstrim.
Dia segera berlari ke bawah mencari dua orang maid. Dia berlari sambil berteriak memanggil mereka. Tidak seorang pun dari maid itu yang menjawab panggilan Amber.
"Si al! Dimana mereka?" tanya Amber.
Ketakutan mulai menghantam dirinya. Tubuhnya bergetar hebat saat mendengar suara deru mesin mobil memasuki halaman depan mansion tanpa hambatan.
Lari. Kata yang terlintas di pikiran Amber. Ya, dia akan lari dari mansion sebelum Brandon dan pasukannya masuk ke dalam mansion. Amber membalikkan tubuhnya, dan berlari ke arah pintu belakang mansion. Pintu bagian belakang mengarah ke taman bunga dan di selingi dengan beberapa pohon apel hijau.
Taman bunga yang sedikit rimbun bisa menyamarkan tubuhnya jika berlari ke sana. Amber meraih gagang pintu belakang bertepatan dengan masuknya Brandon beserta pasukannya ke dalam mansion.
Amber sangat terkejut melihat pemandangan di depan matanya. Taman bunga yang di impikannya dapat menjadi tempat berlindung sementara justru hilang tak berbekas. Dia sampai membuka mulutnya lebar-lebar.
"Kemana hilangnya bunga-bunga dan pohon apel?" tanya Amber pada dirinya sendiri sambil terduduk di anak tangga.
Dia menutup mulut dengan kedua tangan. Air matanya mulai luruh dari kedua bola matanya yang indah.
"Argh!" Amber berteriak histeris. Dia sangat kesal dengan keadaannya saat ini.
"Cari ke seluruh ruangan!" perintah Brandon.
__ADS_1
Bixie segera memberi perintah pada mereka untuk berpencar. Target utama mereka adalah nona muda Emily. Mereka harus mendapatkan gadis kecil itu tanpa kekerasan.
Mereka datang tanpa membawa senjata apa pun. Mereka hanya membawa bom untuk mendobrak pintu gerbang. Selain itu, untuk menggertak Amber dan penghuni mansion.
"Leon! Bagaiman dengan visual dari drone?" tanya Zack.
Leon menatap layar iPad yang berada di tangannya. Layar itu terhubung langsung dengan drone.
"Sejauh ini mereka datang tanpa di bekali persenjataan, tuan," jawab Leon.
"Bagaimana dengan jalan keluar untuk Emily?" tanya Zack.
"Jika kita melakukannya sekarang, nona muda akan berhasil keluar dari mansion dengan selamat tuan," jelas Leon.
"Kalau begitu lakukan sekarang!" perintah Zack.
"Itu, sepertinya harus kita tunda beberapa waktu tuan. Nyonya Amber tepat berada di belakang mansion. Jika nona Emily keluar sekarang, nyonya akan melihatnya," jelas Leon.
Zack terdiam dan menimbang-nimbang yang baru saja dikatakan Leon. Semua yang dikatakan Leon benar. Dia harus bersabar sedikit lagi.
Amber masih betah berada di belakang mansion sambil menangisi kesialannya. Dia mulai mencari seseorang yang pantas untuk disalahkan atas semua yang menimpanya.
Amber memegang gagang pintu, bersiap untuk menekan ke bawah agar pintu itu bisa terbuka. Di sisi lain, Brandon yang mengetahui bahwa Amber berada di belakang mansion segera melangkahkan kakinya menuju pintu belakang mansion.
Di saat bersamaan, Amber dan Brandon menarik ke bawah gagang pintu dan menarik ke sisi mereka masing-masing. Alhasil, pintu itu tidak bisa terbuka karena diperebutkan.
Amber berpikir jika pintu itu macet. Karena pintu belakang mansion umurnya sudah cukup lama. Lain halnya dengan Brandon. Dia berpikir jika pintu itu rusak.
Leon yang melihat dari layar monitor drone dan kamera CCTV di bagian dalam mansion sampai tertawa melihat kelakuan konyol Amber dan Brandon. Bahkan di saat mereka sibuk berkali-kali untuk membuka pintu belakang mansion, tanpa mereka sadari salah satu dari mereka sudah berhasil membuka pintu.
"Hahaha, bisa-bisanya di saat seperti ini mereka berlaku konyol!" seru Leon sambil menggelengkan kepalanya.
Tatapan Leon ke layar iPad nya kini tampak serius. Pintu belakang mansion akhirnya terbuka. Brandon kini berhadapan dengan Amber.
Brandon segera menarik tangan kanan Amber, dan memaksanya untuk masuk kembali kedalam mansion.
__ADS_1
Leon segera memberitahu tuannya, jika keadaan kini sangat aman untuk membawa nona Emily keluar dari mansion.
Zack segera menghampiri Emily yang di gendong oleh Nana. Dia menaikkan penutup kepala sweater Emily hingga menutupi kepalanya. Kemudian memanggil seorang pengawal untuk mengambil alih Emily dari gendongan Nana, dan seorang pengawal lagi untuk menuntun Nana agar tidak tertinggal.
Mereka berempat sudah siap untuk keluar dari mansion. Hanya tinggal menunggu aba-aba dari Leon. Leon menatap fokus pada layar iPad nya. Dia tidak ingin melakukan kesalahan. Banyak nyawa yang sedang di pertaruhkan saat ini.
"Sekarang!" seru Leon.
Kedua pengawal segera bergegas berlari ke arah yang sudah menjadi titik pelarian Emily. Mereka berlari sangat cepat hingga Nana merasa bahwa kedua kakinya tidak menginjak tanah. Dia seakan melayang di udara. Pengawal itu hanya merangkulnya dan memegang erat pinggangnya. Dia sangat heran melihat kekuatan pengawal yang berada di sampingnya.
"Berhenti!" perintah Leon. Perintah itu terdengar jelas di kedua earphone mini milik mereka masing-masing.
Leon melihat ada pergerakan di sebelah barat mereka. Dia memperhatikan gerakan itu dengan teliti. Satu detik, dua detik, tiga detik, ... Tepat di detik ke dua puluh lima, sesuatu yang membuat pergerakan itu menampakkan wujudnya. Seekor kucing berlenggang dengan santai. Dia hanya tersenyum melihatnya.
"Lanjutkan!" Perintah Leon.
Mereka segera berlari dan melanjutkan arah tujuan mereka saat ini. Di ujung jalan ada sebuah tembok yang sangat besar. Di bagian tembok itu terdapat sebuah pintu dan lorong yang sangat gelap. Lorong itu hanya berjarak lima meter. Setelah itu, mereka akan terbebas.
"Nana!" panggil Emily.
"Iya sayang," jawab Nana.
"Mengapa kita harus berlari?" tanya Emily.
"Apa Em lupa apa yang tadi Daddy katakan pada Em?" tanya Nana.
Emily menggelengkan kepalanya.
"Tapi Em takut Nana!" seru gadis kecil itu.
Tidak butuh waktu lama, gadis kecil itu segera mengeluarkan suara tangisnya.
"Huwaa!"
"Jangan menangis nona muda!" bujuk Nana. Dia segera mengambil alih Emily dari gendongan pengawal itu.
__ADS_1
"Lihatlah! Ketika kita bisa melewati lorong itu, maka Em akan menjadi pemenangnya," jelas Nana.
"Tapi Em takut, Nana. Di sana sangat gelap!" seru Emily.