Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 24. Where's Aunty


__ADS_3

Keesokan paginya, Emily bangun lebih awal dari biasanya. Dia melihat Namanya tengah sibuk menyiapkan segala keperluannya.


"Nana, mana Daddy?" tanya Emily sambil bangun dari tempat tidurnya.


"Sekarang masih pukul enam pagi sayang. Daddy pasti masih di kamarnya bersiap-siap," jelas Nana.


"Em mau ke kamar Daddy," pintanya dengan lembut.


"Tunggu sebentar lagi ya nona kecil," ucap Nana.


"Ok. Tapi sebentar lagi itu ada berapa jari?" tanyanya dengan polos.


Nana tertawa mendengar ucapan gadis kecil itu dan sebenarnya Nana bingung harus menunjukkan berapa jari pada Emily.


Lima menit kemudian


"Nana, sudah boleh pergi ke kamar Daddy?" tanya Emily.


Nana melihat jarum jam dinding diatas tempat tidur Emily. Jarum panjangnya hanya bergerak ke satu angka saya. Tandanya baru terlewati lima menit.


"Belum sayang," ucap Nana dengan lembut.


"Kenapa lama sekali?" kesal Emily.


"Memangnya kenapa nona kecil ingin bertemu Daddy pagi-pagi sekali?" tanya Nana sedikit penasaran.


"Em ingin bertanya pada Daddy," jawabnya polos.


"Nona kecil ingin bertanya apa pada Daddy? Siapa tahu Nana bisa menjawabnya," tanya Nana sambil duduk di sebelah nona kecilnya.


Emily tampak berpikir keras. Masih balita saja dia sudah bisa berpikir keras, bagaimana nanti dia dewasa.


"Aunty cantik mana? kenapa tidak ada di sini?" tanyanya. Wajah cerianya seketika berubah menjadi wajah yang sendu. Air mata juga mulai menggenang di kedua pelupuk mata birunya.


Nana tidak tega melihatnya. Segera di rengkuh nya Emily dan di gendongnya.


Huwaaa ...


Tangisan Emily akhirnya pecah. Di peluknya Nana dengan sangat erat. Nana berusaha menenangkan nona kecilnya. Tapi tangisan Emily tidak kunjung surut.


Zack yang kebetulan akan ke kamar putrinya terkejut mendengar suara tangisan Emily. Dia segera masuk ke kamar putrinya.


Emily terlihat masih menangis di dalam gendongan Nana. Zack meraih tubuh kecil putrinya, dia menenangkan Emily dengan penuh kasih sayang.


"Em, kenapa menangis?" tanyanya lembut.


isak tangisnya mulai mereda. Dia menatap wajah Daddy nya dan bertanya "Daddy, where's aunty?"

__ADS_1


Zack berpikir sangat keras siapa aunty yang dimaksud oleh putrinya itu. Dia menatap Nana untuk memberinya jawaban.


"Kemarin di resto tapa di sengaja, nona muda bertemu dengan seorang nona. Namanya nona Lily. Nona kecil memanggilnya aunty, tuan." jawab Nana.


Zack sebenarnya sudah mengetahuinya. Hanya saja tidak mungkin mengatakan bahwa dia tahu aunty yang dimaksud Emily adalah Lily. Dia memberi anggukan pelan pada Nana tanda bahwa dia mengerti.


"Sekarang Emily di rumah. Aunty juga pasti sudah berada di rumahnya," jawab Zack sambil menenangkan putrinya.


Emily mengangkat kepalanya dan menatap Zack dengan lekat.


"Em mau aunty disini. Em suka aunty. Em sayang aunty," ucapnya panjang. Dia melebarkan kedua tangannya untuk menunjukkan pada Daddy nya bahwa dia sangat menyayangi Lily.


"Nanti sayang. Dad janji akan membawa aunty mu kesini," ucap Zack yang tertawa melihat tingkah putrinya.


"Tidak bisa sekarang, Daddy?" tanyanya lagi sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak bisa. Dad harus mencari dulu rumah aunty," Zack dengan tenang memberi penjelasan pada Emily.


"Putri dad jangan cemberut lagi. Sekarang kita sarapan dulu, ok." ucap Zack.


"Tapi Em tidak lapar," Emily menolak untuk sarapan. Hatinya masih tidak karuan. Tapi perut kecilnya justru berbunyi. Cacing-cacing di perutnya justru berdemo minta makan.


"iii... cacing kenapa nakal?" ucapnya pelan sambil memukul pelan perutnya sendiri.


Zack tertawa dan membawa Emily turun ke bawah untuk sarapan.


* * *


"Udah deh Ly cemberutnya," ucap Naya.


Lily hanya menoleh sebentar dan melanjutkan aksi cemberutnya. Bagaimana dia tidak cemberut, Wajah dan baju bagian atasnya basah.


Rafa menyiram wajah Lily dengan segelas air. Lily yang dari tadi sulit dibangunkan membuatnya terpaksa melakukan itu. Hasilnya dia bangun dengan wajah terkejut. Pramugari yang berada disana sampai tertawa melihatnya.


"Lagian lu pikir emang tu pesawat punya nenek moyang lu," ucap Rafa yang masih terkekeh melihat Lily dari spion mobil.


"Ya kan bisa pelan-pelan, Fa." ucap Lily sambil melepas tangannya yang bersimpuh di dagu.


"iiii... mana ada ceritanya kek gitu. Gue itu udah bangunin elu pelan-pelan sampe berasap tangan gue. Yang ada elu malah makin molor aja," oceh Naya.


"Iya... gue sama Naya sampe minta bantuan mba-mba pramugari buat bangunin lu," timpal Rafa. Dia sudah tidak bisa menahan tawanya mengingat kejadian membangunkan Lily di pesawat.


Duk ...


Sebotol air mineral berhasil mendarat di kepala Rafa. Dia spontan berhenti dari tawanya. Tangannya yang tadi memegang perut karena tertawa, kini beralih memegang kepalanya yang sakit karena ditimpuk oleh Lily dengan sebotol air mineral.


"Gila lu. Emang lu kira kepala gue keranjang sampah," Rafa meringis kesakitan saat mengusap kepalanya.

__ADS_1


"Gue itu tadinya mau gendong lu smpe masuk mobil. Pas udah gue angkat ni, pinggang gue langsung encok. Ya gue balikin lagi ke kursi." Rafa berkata dengan tangan yang masih mengusap kepalanya.


"Terus?" tanya Lily.


"Terus, gue liat ada sebotol aer mineral. Gue perhatiin tu aer. Masih baru, masih bersegel, udah pasti penuh kan. Gue mikir kalo gue pakek ni aer, kasian banget kan aer nya. Eh ... gue liat ke samping ada gelas. Ya udah," Rafa berkata sambil memperagakan dengan tangannya.


Naya yang dari tadi diam karena kelelahan sudah tertawa sambil memegang perutnya. Dia melihat tingkah Rafa yang memperagakan ulang kejadian tadi.


"Ya udah apa, Fa?Jangan setengah-setengah deh," oceh Lily.


Rafa membalikkan tubuhnya ke kursi penumpang menghadap Lily dan berkata "Ya udah, gue pakek gelasnya. Gue buka botol mineralnya. Terus gue masukin ke dalam gelas. Ya kira-kira segini la."


Lily yang mendengarnya langsung membelalakkan kedua matanya. Sebelah tangannya meremas jaket yang tadi dipakainya dan bersiap untuk dilemparkan lagi ke Rafa.


"Terus," geram Lily.


"Eh ... Don, lampunya udah hijo tuh!" Rafa melihat lampu lalu lintas telah berganti warna menjadi hijau. Doni, supir kakak sepupunya segera menancapkan gas.


Rafa membenahi duduknya dan menghadap ke arah jalan raya. Malam sudah semakin larut ketika mereka melintasi kota khatulistiwa ini.


"Buset dah, gue di kacangin," gerutu Lily.


Puk ...


Lily melemparkan jaket nya ke Rafa karena sudah tidak ada benda lain lagi yang bisa dilemparkannya kecuali tas dan jaketnya.


"Apaan sih, Ly? tanya Rafa sambil melempar kembali jaket Lily.


"Gini ni, kalo anak kecil boboknya kurang. Suka rewel," Rafa berkata sambil mengatur posisi kursinya menjadi rebahan.


"Udah ah, gue mau merem dulu bentar. Don, ntar kalo udah sampe rumah kak Indy bangunin ya," pesan Rafa.


"Gue juga mau merem bentar, bangunin gue ya, Ly," pesan Naya pada Lily. Dia memperbaiki posisi tubuhnya agar nyaman.


Menit berikutnya, suasana di dalam mobil terasa sepi. Doni fokus dengan kemudinya. Rafa dan Naya tertidur. Hanya dirinya yang terjaga.


Lily membuka kaca jendela mobil sedikit. Dia tidak ingin membuka jendela itu lebar-lebar. Dia khawatir akan membuat Naya tidak nyaman dengan angin malam.


Hembusan angin malam menerpa wajahnya. Pemandangan malam hari kota Pontianak sangat menakjubkan. Cahaya lampu menambah keindahan kota itu. Mobil yang mereka naiki mulai mengitari bundaran tugu Digulis. Lily dibuat takjub lagi melihatnya. Kota ini sudah banyak berkembang.


Ingin rasanya kembali tinggal di kota ini. Kota tempat keluarga ibunya tinggal.


Hi ... My lovely readers. Aku ada novel yang recommended banget loh. Yukss... mampir! Seru loh ceritanya.


judul


Terjerat Cinta Mafia Tampan

__ADS_1


Adelia Fasha adalah seorang gadis matang berusia 25 tahun, sehari hari Adelia Fasha adalah seorang gadis matang berusia 25 tahun, sehari hari ia mencari nafkah dengan berjualan gorengan yang ia jajakan dengan cara berjalan keliling kampung. Suatu hari ia menemukan seorang laki laki dalam keadaan tak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka. Adelia pun menolongnya dan membawanya ke rumahnya, tanpa ia sadari, bahwa laki laki yang ia tolong adalah seorang mafia. mencari nafkah dengan berjualan gorengan yang ia jajakan dengan cara berjalan keliling kampung. Suatu hari ia menemukan seorang laki laki dalam keadaan tak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka. Adelia pun menolongnya dan membawanya ke rumahnya, tanpa ia sadari, bahwa laki laki yang ia tolong adalah seorang mafia.



__ADS_2