Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 85. Will You ...


__ADS_3

Sensasi aneh merasuki hati Zack. Rasa tenang, bahagia, sedih, dan nyaman bercampur jadi satu di hatinya. Dia berjalan mendekati Lily. Untung saja, Emily tidak melihat kehadirannya. Dia sedang sibuk bermain dengan uncle barunya.


Zack mendaratkan kedua lututnya di atas permukaan lantai tepat di samping Lily. Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang hanya muat untuk sebuah cincin. Kotak yang sangat unik, tidak seperti kotak cincin pada umumnya.


Kotak itu berbentuk persegi panjang. Terbuat dari kayu. Siapapun tidak akan menyangka jika kotak itu berisi sebuah cincin..


Keith yang tadi bersenda gurau dengan Emily langsung mengajak Emily untuk diam. Suasana yang tadinya riuh di meja mereka, berubah menjadi sangat tenang.


Lily bingung melihat keadaan yang tiba-tiba sunyi. Ekspresi wajah Keith dan Naya terlihat serius.


"Lily. Just my Lily," ucap Zack dengan suara lantang menggunakan mic.


Lily langsung menoleh saat namanya disebut oleh pria yang dikenalnya. Dia sangat terkejut melihat Zack yang sudah bersimpuh di sampingnya.


"Cinta dan sayang yang aku miliki untukmu mungkin tidak berarti selama tujuh tahun terakhir. Banyak luka yang sudah aku torehkan di hatimu. Aku adalah pria terbodoh, bahkan tidak pantas mendapatkan tempat di hatimu. Aku tidak ingin berandai. Yang aku tahu, hatiku sudah tak ingin menjauh lagi darimu. Aku akan berlutut, melamar-mu dengan cara kuno kami. Will you marry me?"


Ucapan Zack berhasil menghipnotis semua orang yang berada di sana. Suasana riuh berganti sunyi. Kesunyian yang berawal dari meja mereka, kini meluas ke seluruh hall hotel. Termasuk dua tokoh utama pesta.


Lily terkejut mendapat serangan lamaran dadakan dari Zack. Lily mematung, bibirnya terasa kelu untuk mengeluarkan kata. Emily yang berada di pangkuannya seakan mengerti. Tangan mungilnya meraih mic yang berada di genggaman Zack.


Zack sendiri membeku setelah mengucapkan untaian kata-kata sebelum berujung pada lamaran. Dia tidak menyadari mic yang berada di tangannya telah beralih ke tangan si kecil Emily.


"Mommy. Be my mommy, please!" pinta Emily lembut.


Suara lembutnya menggema memenuhi ruangan hall. Dia berkata sambil memberikan senyum terbaiknya pada Lily.


Spontan saja kaum hawa dan emak-emak, langsung memberi respon baik dan dukungan untuk tim Zack-Emily.


"Terima ... terima ..." suara mereka menggema di seluruh hall.


Lily memang sudah memantapkan hatinya, saat dia mengakui Emily sebagai putrinya. Akan tetapi, mendapat serangan yang tiba-tiba membuat Lily jadi salah tingkah.


"Zack kumohon, bangunlah!" pinta Lily.


Dia ingin menggapai rubuh Zack agar berdiri. Tapi, tubuh mungil Emily berada di antara mereka.


"Tidak, sampai kau memberiku jawaban!" tegas Zack.


Emily masih terpesona dengan mic di tangannya. Apalagi mengeluarkan suara yang besar. Baginya sangat lucu. Sebuah mainan yang baru saja ditemuinya Emily kecil yang masih memegang mic mulai bernyanyi. Lagu yang biasa dinyanyikan bersama bonekanya saat bermain sendiri di rumah.


🎵


I love you, you love me.


We're a happy family.

__ADS_1


With a great big hug.


And a kiss from me to you.


Won't you say, you love me too?


🎵


(Barney)


"Hihihi. Suara Em besar mommy," ucap Emy sambil tertawa.


Semua orang tertawa melihat tingkah Emily. Mereka juga bertepuk tangan setelah mendengar Emily bernyanyi.


Beginilah jadinya jika melamar dengan tanpa sengaja membawa balita. Ingin romantis justru menjadi komedi. Ingin menjadi pusat perhatian justru si tokoh utamanya beralih ke Emily kecil.


"Ya," jawab Lily pelan sambil menunduk.


Zack yang tidak terlalu mendengar jawaban Lily, memintanya untuk mengulanginya lagi.


"Ulangi, please!" pinta Zack lembut.


Lily menarik napasnya dalam-dalam. Dia memeluk Emily agak erat sehingga membuat gadis kecil yang berada di dalam dekapannya langsung mendongak.


Emily menatap kedua bola mata hazel Lily. Dia dapat melihat pantulan wajah mungilnya di kedua mata mommy-nya. Senyuman Emily kembali menghangatkan hati Lily. Dengan satu tarikan napas dan lantang. Lily kembali berkata.


Tubuh Zack langsung merosot ke lantai. Ketegangan yang dari tadi dirasakannya mencair hanya dengan mendengar satu kata 'ya'. Semua yang hadir di sana langsung bertepuk tangan. Bahkan, beberapa kaum hawa sampai menitikkan air mata.


Leon segera menghampiri Zack yang terduduk lemas. Zack terlihat seperti orang linglung.


"Tuan, cepat sematkan cincinnya!" perintah Leon dengan nada berbisik.


Zack langsung tersadar, dia segera membuka kotak kayu persegi panjang yang sejak tadi di genggamnya. Sebuah cincin bertahtakan berlian terlihat sangat memukau. Zack mengeluarkan cincin berlian dari peraduannya. Dia meraih jari manis tangan kanan Lily. Suasana romantis sangat terasa saat Zack akan menyematkan cincin berlian di jari manis Lily.


"Wauw ... cantik sekali Daddy! Em mau," ucap Emily.


Gadis kecil itu sangat terpukau dengan cincin berlian.


"Em mau Daddy," pinta Emily sambil melempar asal mic yang dari tadi dipeganginya.


Leon yang masih berada di dekat tuannya segera menyambut mic yang di lempar oleh nona mudanya. Namun sayang, mic itu tidak mendapat di tangan Leon. Akan tetapi, mendarat di keningnya.


"Auw!" keluh Leon sambil memegang keningnya.


"Oops! Sorry uncle," sesal Emily.

__ADS_1


Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Dia merasa sedih telah memukul uncle Leon tanpa sengaja. Leon yang melihat perubahan raut wajah Emily segera mendekatinya.


"It's okay, Em. Uncle hanya terkejut saja," bujuk Leon.


"Really?" tanya Emily.


"Sure," jawab Leon.


"I love you uncle," ucap Emily memeluk leher Leon.


"I love you, too," jawab Leon sambil membalas pelukan Emily dan mengelus punggungnya.


Belum berapa lama Leon memeluk Emily, Zack segera menariknya.


"Kau ingin menggagalkan lamaran ku, ya?" tanya Zack.


"Eh, maaf tuan. Aku terbawa suasana," balas Leon.


Saat pelukan Leon terurai, tangan Emily meraih cincin yang berada di tangan Zack. Wajahnya terlihat bersemangat. Dia memasukkan cincin itu ke salah satu jari tangannya.


"Ah, cantik!" teriak Emily.


Zack melihat keliatan berlian si jari telunjuk kanan Emily. Dia baru sadar jika cincin berlian di tangannya beralih ke Emily. Entah kapan putri kecilnya mengambil cincin tunangannya.


"Sayang, Daddy pinjam dulu cincinnya ya," bujuk Zack.


"No! Ini punya Em," tolak Emily.


Untung saja sifat Amber yang diturunkan oleh Amber hanya ini. Lily sangat menyukai sesuatu yang berkilau. Akan sangat sulit jika benda berkilau sudah berada di tangannya.


"Please!" bujuk Zack.


Lily dan Naya menahan tawa melihat Zack berusaha merayu anak balita.


"No!" tegas Emily.


Zack menautkan kedua tangannya. Dia berusaha membulatkan kedua matanya dan memasang wajah yang terlihat imut.


"Please, my little princess!" bujuk Zack dengan suara yang dilembutkan seperti suara anak perempuan.


Lily terperangah melihat kelakuan Zack yang baru kali ini di lihatnya.


💕💕💕


Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh! Di jamin seru ceritanya... Yukss mampir 😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2