Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 52. Kesempatan


__ADS_3

Ting ... Ting ...


Bunyi notifikasi pesan itu kembali berbunyi. Amber tidak ingin melihat isi pesan itu lagi. Namun, hati dan tangannya tidak bekerjasama dengan baik. Sang hati tidak ingin membuka dan membaca pesan. Tapi tangannya reflek langsung meraih ponsel.


..."Amber, aku hanya ingin bilang hari ini adalah hari terakhir batas mu mengantar Emily sendiri kepadaku. Ingat jangan coba-coba mematikan ponsel mu!"...


Brandon


Isi pesan kedua lebih panjang dari yang pertama. Sekujur tubuh Amber berhasil dibuat kaku oleh isi pesan itu.


"Ba-gaimana dia bisa tahu nomorku?" tanya Amber sendiri sambil terbata.


Dia mendekap kedua kakinya dengan erat. Dia hanya membayangkan Brandon yang akan menghampiri mansion saja sudah membuat dirinya kalang kabut.


Ting ... Ting ...


...Ponsel Amber kembali berbunyi. Dengan malas diraihnya ponsel yang tergeletak begitu saja diatas tempat tidur....


..."Aku akan mengambilnya tepat pukul enam. Aku sengaja memberitahumu terlebih dahulu supaya kau bersiap-siap. Jangan pernah berpikir untuk kabur! Kau tidak akan pernah bisa kabur dariku my little cat."...


Brandon.


Lagi. Isi pesan itu berhasil menohok dirinya. Nomor barunya belum pernah dia sebarluaskan pada siapapun. Dia belum sempat mengabari semua temannya, bahkan Zack sekalipun.


"Pak Will," ucap Amber. Dia teringat, jika ponsel dan nomor barunya pak Will lah yang membelikannya. Dia segera turun dari tempat tidurnya dan bergegas turun ke lantai bawah mansion. Dia ingin meminta penjelasan pada pria itu.


Dia turun dengan membawa serta amarahnya.


"Pak Will! Pak Will!" teriak Amber penuh amarah.


"Pak Will! Pak Will!" Amber berteriak lebih kencang. Suaranya menggema ke seluruh mansion. Dia berjalan mengelilingi mansion sambil berteriak.


Tapi sayang, yang dicari sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya. Tidak mau cepat menyerah, Amber berjalan ke dapur. Dia memasuki dapur tanpa hambatan karena pintu dapur bisa terbuka dan tertutup otomatis.


Kosong. Tidak ada satupun maid disana. Amber bingung sendiri dengan kesunyian yang tiba-tiba seperti ini. Mansion sebesar ini tidak pernah sepi. Hampir di setiap ruangan ada seorang maid yang mengurusi. Atau ada saja maid yang berjalan melintasi setiap ruangan mansion.


Dia berusaha mengingat kembali saat dia keluar dari kamar dan turun ke bawah. Dia hanya berteriak memanggil pak Will, dan tidak memperhatikan suasana mansion saat itu. Suara teriakannya memang terdengar lebih menggema saat itu.


Dia akhirnya keluar dari dapur berjalan kembali ke kamarnya. "Kemana semua orang-orang?" tanya nya sendiri.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Amber duduk di tepi tempat tidurnya. Dia sangat bingung saat ini. Ingin menghubungi Zack, dia tidak tahu nomor ponselnya. Dia meraih ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur. Dia menatap layar ponsel cukup lama, dan membuka daftar kontak.


"S**l!" Tidak ada satupun kontak disini," kesal Amber.


"Bagaimana aku bisa begitu ceroboh kemarin? Seharusnya aku meminta pak Will untuk mengisi beberapa nomor kontak penting," dia berbicara pada dirinya sendiri.


Satu-satunya kontak yang ada di ponselnya saat ini hanya Brandon. Tubuhnya kembali lemas, dia merasa sudah tidak ada tenaga lagi untuk melempar ponselnya yang sudah ke sekian kalinya. Tenaganya sudah menguap dengan emosi yang tadi sudah membuncah.


Jedar


Mendung kini berganti menjadi hujan yang sangat deras. Suara petir terdengar saling menyambar. Amber dapat melihat angin bertiup sengat kencang di luar sana. Alam sepertinya sedang mewakili suasana hatinya saat ini. Air matanya juga sudah tidak ingin merembes keluar.


Percikan air hujan mulai menghampiri kamarnya. Amber segera bangkit dari kasur empuknya dan berjalan menutup jendela.


Kruyuk


Cacing di perutnya mulai berdemo. Suasana dingin seperti ini sangat mudah membuat perut cepat lapar. Dia teringat tidak ada seorang maid yang berada didalam mansion saat ini.


Dengan terpaksa Amber turun ke bawah menuju dapur. Belum sampai di dapur, Amber yang melintasi ruang makan melihat semua makanan sudah tertata di atas meja makan.


"Apa mungkin maid yang mempersiapkannya?" tanya Amber dalam hati.


Amber memulai ritual makannya. Sesuap demi sesuap makanan itu masuk ke dalam mulutnya, dan meluncur tanpa hambatan ke dalam lambung.


Suara derasnya hujan dan gemuruhnya langit tidak membuat Amber terusik. Dengan anggunnya dia merampungkan makanannya. Pada suapan terakhir, dia dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka.


Amber spontan menatap ke arah pintu yang terbuka. Dua orang maid berjalan masuk kedalam. Tubuh mereka berdua terlihat basah kuyup. Ketika mereka melintasi ruang makan, mereka memberi hormat kepada Amber.


Amber hanya menganggukkan kepalanya sedikit. Memberi persetujuan pada mereka untuk segera berlalu dari hadapannya.


Dari tubuh kedua pelayan itu, Amber dapat melihat bahwa diluar sana sedang terjadi badai. Selain tubuh yang basah, tubuh mereka juga terlihat kotor karena terdapat beberapa daun kering yang melekat di tubuh mereka.


Setelah selesai mengisi perutnya, Amber memutuskan untuk berkeliling mansion. Meskipun sekarang masih pagi, dia tidak ingin bersantai. Dia ingin mengecek setiap pintu mansion. Dia ingin memastikan seluruh pintu mansion sudah terkunci. Untuk saat ini, dia masih belum memiliki rencana apapun untuk menghadapi Brandon.


Dia memulainya dari lantai dasar mansion. Dia mengecek satu persatu jendela dan pintu setiap mansion. Setelah satu jam, dia mulai merasa lelah. Dia baru menyadari jika mansion ini sangat luas. Wajar saja jika Zack memperkerjakan banyak maid untuk merawat mansion dan kebutuhan penghuninya.


"Kemana kedua maid tadi?" tanya nya sendiri.


Amber kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar para maid yang terletak di sisi kanan mansion. Dia langsung masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu kamar mereka terlebih dahulu.

__ADS_1


Kedua maid sangat terkejut melihat kedatangan nyonya Amber yang tiba-tiba itu. Nyonya mereka itu tidak pernah sekalipun menginjakkan kedua kakinya ke kamar para maid. Tapi pagi ini, dia dengan sengaja datang menghampiri mereka.


Amber melihat salah seorang maid sedang memijat kaki maid yang lainnya. Yang satu duduk di tepi tempat tidur, dan yang memijat berjongkok di lantai. Mereka segera berdiri ketika melihat Amber yang tengah berdiri didepan pintu kamar. Maid yang sakit kakinya langsung meringis kesakitan saat berdiri untuk memberi hormat padanya.


"Maaf nyonya, kami belum keluar dari tadi. Kaki maid Tina terkilir karena kami berlari menerjang badai saat kembali ke mansion," jelas salah seorang maid.


Jika hari biasanya, Amber pasti akan langsung marah-marah jika ada maid yang tidak menjalankan tugasnya dengannya baik. Tapi hari ini, kemarahannya seolah menguap di udara. Menghilang entah kemana.


"Dimana pak Will, dan maid yang lain?" tanya Amber.


"Maaf nyonya, pak Will, pak Alan, dan maid yang lain hari ini libur nyonya," jelas maid sambil menundukkan kepalanya.


"Tanggal berapa hari ini?" tanya Amber.


"Tanggal delapan belas April, nyonya," jawab maid.


"Astaga, kenapa aku bisa lupa!" seru Amber.


Semua pekerja di mansion Zack selalu mendapat satu hari libur setiap tiga bulan sekali. Zack tidak ingin libur mereka bergantian. Dia memberi mereka satu hari penuh untuk libur bersama-sama.


"Lantas mengapa kalian berdua tidak libur?" tanya Amber penuh selidik.


"Maaf nyonya, kami berdua ditugaskan untuk mengantarkan koper nona muda Emily dan Nana ke sebuah mall. Jadi, tuan Zack memberi kami libur kemarin," jelas maid.


"Mengapa di mall?" tanya nya lagi.


"Karena saat itu Nana dan nona muda Emily sedang bermain di mall," jawabnya lagi.


"Pantas saja banyak maid yang tidak tahu kemana mereka pergi. Ternyata mereka dari mall," ucap Amber dalam hati.


"Aku ingin kalian mengecek semua pintu dan jendela seluruh mansion. Pastikan semuanya terkunci dengan rapat!" perintah Amber.


Dia segera meninggalkan kamar maid dan melangkahkan kakinya kembali ke atas. Dia memutuskan untuk berkeliling mansion bagian atas.


Langkah kakinya kini tiba di depan pintu sebuah kamar yang tidak pernah di masuki nya. Dia hanya sekedar mengintip dari luar saja jika dia mendengar suara Zack di dalam kamar itu.


Dipegangnya gagang pintu kamar itu, dan ditariknya ke bawah. Namun gerakan itu terhenti. Dia merasa sangat enggan untuk masuk kedalam kamar putrinya sendiri. Dia mengurungkan niatnya dan kembali menuju kamarnya.


Sepasang mata yang melihatnya melalui layar monitor merasa geram.

__ADS_1


"Aku sudah memberimu kesempatan berkali-kali. Jangan salahkan aku kali ini!" ucap pria itu.


__ADS_2