Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 80. My Whole Life


__ADS_3

Zack tidak ingin kurang ajar dengan langsung mengecup bibir Lily. Dia tidak ada cara lain lagi untuk mengekpresikan kegembiraannya. Zack hanya mengecupnya sekilas.


"Maaf. Aku kelewatan," sesal Zack.


Zack tidak bisa mengontrol dirinya. Pagi ini menjadi pagi terindah hidupnya. Kebahagiaan bertubi-tubi menghampirinya pagi ini.


"Tidak apa-apa," jawab Lily sambil mengecup pelan pipi kanan Zack.


Zack tersenyum mendapat balasan kecupan dari Lily.


"Em sudah menyebutku mommy. Bisa beritahu aku bagaimana cara menolaknya?" tanya Lily sambil tersenyum.


"Terima kasih, Lily. You and Em are my whole life," (kau dan Em adalah seluruh hidupku).


Lily membalas pelukan Zack singkat.


"Zack. Aku harus segera ke hall hotel. Pesta pertunangannya sebentar lagi akan dimulai."


"Oh, ok. Baiklah, kita pergi bersama," Zack meraih tangan Lily, mengajaknya berjalan bersama.


Saat melihat ke arah cermin yang memantulkan wajah mereka berdua. Wajah Lily terlihat sangat sembab. Zack segera menghentikan langkah kakinya.


"Tunggu, sayang," ucap Zack sambil membalikkan tubuhnya.


"Kenapa?" tanya Lily.


Zack membalikkan tubuh Lily menghadap ke cermin.


"Aaa..." teriak Lily.


"Ya ampun, mukaku udah seperti panda!" gerutu Lily.


"Cuci muka dulu saja, sayang. Sebentar aku panggil Nana dulu. Setahu aku Nana sangat lihai dalam hal berdandan," ucap Zack sambil mencubit pelan pipi kanan Lily.


"ish, Zack!" Lily berteriak kesal.


Zack hanya tertawa kecil mendengar kekesalan Lily. Dia segera keluar kamar mencari Nana.


Nana dan Leon yang mendengar pintu kamar terbuka segera menatap ke arah pintu.


"Nana, bisa bantu Lily di dalam?" tanya Zack.


"Apa yang bisa saya bantu, tuan?" tanya Nana.


"Dia sangat membutuhkan keahlian berdandan Nana," ucap Zack.


"Daddy, mana mommy?" tanya Emily polos.


Emily kini berada dalam gendongan Zack. Sebenarnya gadis kecil itu ingin bermain di lantai. Zack yang sangat merindukan putri kecilnya ingin selalu memanjakannya.


"Kita tunggu sebentar ya. Mommy sebentar lagi keluar," ucap Zack menenangkan Emily.

__ADS_1


"Leon. Carikan gaun yang senada dengan Lily!" perintah Zack.


"Baik, tuan."


"Ah, untukku, Nana, dan juga kau!" ucap Zack lagi.


"Untuk apa tuan?" tanya Leon.


"Kita akan menghadiri pesta pertunangan Rafa dan Liora," ucap Zack.


"Ah. Aku mengerti tuan," ucap Leon.


Leon segera pergi. Dia sangat bersemangat melihat tuannya sudah kembali seperti dulu. Dia berjalan sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Leon menghubungi beberapa relasi, dia ingin pesanan tuan Zack sampai tepat waktu.


"Nana!" teriak Lily.


"Lihatlah kedua mataku!" timpal Lily.


Dia sudah selesai membasuh wajah. Nana yang baru saja masuk ke dalam kamar sangat terkejut saat melihat wajah Lily yang terlihat seperti habis mengikuti pertandingan gulat. Nana hanya bisa tersenyum dalam hati. Dia tidak ingin membuat gadis di depannya semakin panik.


"Tenanglah nona. Aku akan membantumu. Kita masih memiliki waktu sekitar dua jam lagi. Aku rasa cukup untuk remake up wajahmu," ucap Nana.


"Nana, bukan dua jam lagi. Tapi lima belas menit lagi," ucap Lily bimbang.


"Pfft ... Aku rasa anda salah melihat jam nona. Sekarang masih pukul satu siang. Pesta tunangan akan berlangsung pukul setengah empat sore," jelas Nana.


Lily memperhatikan kembali jam yang terletak di atas meja.


"Hehehe. Kau benar Nana. Leganya aku," ucap Nana sambil menghela napasnya.


"Ok, Nana.


"Berbaringlah di atas sofa di sana!" perintah Nana pada Lily sambil menunjuk ke arah sofa.


Lily yang tidak ingin tampil menyeramkan seperti itu, segera menuruti perintah Nana. Setelah siap dengan posisi terlentang, Nana segera memainkan perannya . Dia mengompres area mata Lily yang bengkak dengan air dingin, dan melakukan pijatan ringan di daerah wajah.


Zack tak ingin berlama-lama menunggu di depan. Dia segera masuk kembali ke kamar setelah memberi perintah pada Leon.


"Ah, mommy. Mommy kenapa Daddy?" tanya Emily sambil menutup mulut dengan kedua tangan.


"Sst ... Em bermain di sana saja ya. Jangan ganggu mommy ok?" tanya Zack pelan.


"Okie-dokie, Daddy," ucap Emily sambil berjalan ke ruang tengah, yang sudah dipersiapkan untuk menerima tamu di dalam kamar hotel.


Sedangkan Zack, dia menghubungi Leon kembali untuk mencarikan kado yang cocok untuk pesta pertunangan Rafa dan Liora.


...✳️✳️✳️...


Di dalam kamar Liora


"Duh, Nay! Ly kemana ya? Kenapa lama sekali?" tanya Liora gelisah.

__ADS_1


"Tadi gue udah ke kamarnya, tapi keknya ngga ada orang. Kemana ya tuh anak?" ucap Naya sambil berpikir.


"Coba lagi deh Nay. Siapa tahu sekarang Lily udh balik ke kamarnya," pinta Liora.


"Ntar aja gue balik lagi ke kamarnya. Gue mau rebahan dulu," jawab Naya sambil berjalan ke arah sofa bed.


Badannya sudah mulai terasa pegal. Perut besarnya membuat Naya terkadang sulit bergerak.


"Terima kasih ya, Nay. Lagipula Lily, kenapa dia bisa lupa membawa kotak cincin," ucap Liora.


"Sama-sama, Liora," jawab Naya singkat.


"Maaf ya, Nay. Aku merepotkan," sesal Liora.


"Ngga apa-apa kok, Liora. Gue seneng aja bisa jalan sana-sini. Kata orang biar lancar lahirannya nanti. Elu itu lagi kena penyakit," goda Naya.


"Ha? Penyakit apa Nay? Masih keburu tidak jika ke dokter sekarang?" Liora menghujani Naya dengan beberapa pertanyaan sekaligus.


"Penyakit gugup. Hahahaha ..." goda Naya sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur.


...✳️✳️✳️...


Hampir satu jam lebih berlalu. Lily telah siap dengan penampilan barunya. Nana memang sangat luar biasa. Tangannya sangat terampil dalam memoles wajah. Lily saja sampai tidak percaya dengan sosok pantulan cermin yang merupakan wajah dirinya sendiri.


Mata bengkak itu terlihat sudah normal. Dia tidak perlu malu lagi saat akan menghadiri pesta pertunangan kedua sahabatnya yang akan berlangsung dalam waktu kurang lebih empat puluh lima menit lagi.


Zack baru saja keluar dari kamar mandi dengan setelan jas yang baru saja dibeli oleh Leon. Dia terkesiap saat menatap wajah Lily. Wajahnya sangat jauh berbeda.


Paras Lily memang sudah cantik. Tanpa polesan make up pun sudah cantik. Nana hanya membantu Lily menghilangkan wajah dan mata sembab gadis itu. Selanjutnya, dia hanya memberinya sedikit polesan. Hasilnya sangat luar biasa.


"Bagaimana?" tanya Lily.


"Sangat cantik," jawab Zack.


"Daddy, mommy, look!" teriak Emily sambil memutar tubuhnya ala princess.


"Wah, cantik sekali sayang," ucap Lily sambil mendekati Emily.


"Mommy benar. Putri dad dan mom sangat cantik," ucap Zack sambil mengecup kening Emily.


"Stop! Daddy jangan cium Em!" seru Emily.


Zack heran dengan Emily. Biasanya dia akan sangat senang jika dicium olehnya.


"Kenapa tidak boleh sayang?" tanya Zack.


"Nanti bedak Em luntur kek bajunya uncle yang waktu itu," jawab Emily polos.


"What!" teriak Zack dan Leon bersamaan.


💕💕💕

__ADS_1


Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh... Yukss mampir😘😘😘



__ADS_2