Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 43. Pertemuan Zack vs Rafa


__ADS_3

Zack bersiap akan pergi ke sebuah tempat yang sudah ditentukannya untuk bertemu Rafa. Benar dugaannya jika Rafa sudah kembali ke Jakarta bersama Lily dan Naya.


Waktu masih menunjukkan pukul tujuh malam. Zack segera keluar dari ruang kerjanya dengan mengenakan pakaian yang kasual. Karena dasarnya sudah tampan, jadi memakai apapun tetap saja tampan. Dia segera turun ke lantai bawah tanpa memperhatikan sekitarnya.


Beberapa hari terakhir ini Amber tidak mengetahui kemana Zack membawa Emily beserta pengasuhnya pergi. Para maid mengatakan jika tuannya itu mengajak nona muda pergi berlibur setelah pertemuannya dengan tuan James.


Tepat saat mereka pulang ke mansion, Amber juga baru tiba dari mall. Dia ingin segera menghampiri Zack. Tapi yang turun hanya Emily dan pengasuhnya. Mobil yang dikendarai Zack segera melaju meninggalkan mansion setelah Emily dan pengasuhnya masuk ke dalam mansion.


Dia berniat untuk mengikuti mobil Zack. Tapi karena mobilnya melaju sangat kencang, membuatnya mengurungkan niatnya. Apalagi supirnya sudah tidak muda lagi. Sangat mustahil untuk menyuruhnya mengejar mobil itu.


Amber sebenarnya ingin ke ruang kerja Zack. Baru saja dia sampai di depan pintu ruang kerjanya, pintu itu terbuka. Sosok Zack tampak keluar dari sana. Dia segera bersembunyi di balik tembok.


Amber menatap punggung Zack yang perlahan menghilang. Dia segera mengikutinya. Dia ingin tahu kemana Zack pergi. Selama ini dia tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelum dia tahu jika suaminya itu masih mencintai Lily.


Deru mobil Zack berbunyi dan perlahan meninggalkan mansion. Amber segera masuk ke dalam mobilnya dan mengikuti Zack.


Mobil Zack berhenti di salah satu hotel mewah di Jakarta. Amber segera mencari tempat parkir yang aman di seberang hotel. Dia tidak ingin Zack tahu jika dia mengikutinya.


Setelah memarkir mobilnya, dia segera turun dan bergegas menyeberangi jalan. Hatinya mulai memanas. Jika seorang pria pergi ke hotel malam-malam begini apalagi yang akan dilakukannya selain bercinta.


Amber memasuki lobi hotel dengan tergesa-gesa. Dia tidak ingin kehilangan jejak Zack.


Bugh


Tatapan matanya hanya fokus ke sosok Zack sehingga tanpa dia sadari menabrak seseorang didepannya. Anehnya tubuhnya tidak terjatuh ke lantai. Sepasang tangan kekar melingkari pinggangnya. Tangan itu menahan bobot tubuhnya agar dia tidak terjatuh ke lantai. Amber merasa sangat bersyukur untuk hal itu. Jika saja dia sampai terjatuh ke lantai, sudah dipastikan dia akan menjadi pusat perhatian.


Amber mendongakkan kepalanya. Dia ingin melihat dan meminta maaf karena tidak sengaja menabraknya.


Tubuh Amber seketika membeku. Wajah cantiknya yang di polesi make up tipis kini hilang tak berbekas. Wajahnya tampak sangat pucat.


"Halo sayang!" ucap pria itu. Suara kontralto pria itu sangat dikenal baik oleh telinganya. Sepasang mata biru yang menyala terang mengingatkannya akan sosok seseorang yang selama ini dibencinya.


"Lepaskan aku!" pinta Amber.

__ADS_1


"Tidak semudah itu. Bukankah sudah kukatakan aku akan menemukanmu. Kau tidak akan pernah bisa bersembunyi dariku."


Ucapan pria itu membuat Amber semakin lemas. Tubuhnya hampir merosot ke bawah. Jika tangan kekar itu tidak menahannya dengan baik, dia pasti sudah terjatuh.


"Aa, jangan pingsan disini sayang. Urusan kita sama sekali belum selesai."


Amber berusaha mengatur ulang napasnya. Dia meminta pria itu untuk melepaskan dirinya. Dengan perdebatan yang cukup sengit. Akhirnya pria itu melepaskan Amber.


"Aku tunggu kau di kamar. Jika kau tidak muncul aku yang akan mendatangimu," ucap pria itu sambil menunjuk seorang anak buahnya agar mengikuti Amber.


Amber berusaha menelan salivanya. Pria yang sudah dia blacklist didalam hidupnya, kini berdiri tepat di hadapannya.


"S**l! Mengapa jadi begini!" umpat Amber.


Dia menarik pelan napasnya dan kemudian berjalan masuk kedalam resto. Dia sengaja memilih tempat duduk yang berjauhan dengan Zack. Dia hanya ingin tahu dengan siapa Zack akan menghabiskan waktunya malam ini.


Rafa memasuki resto hotel itu tepat pukul delapan. Sesuai dengan yang sudah dijanjikan.


Penampilannya yang santai membuat Zack semakin kesal melihatnya.


Zack hanya menatapnya saja tanpa ingin membalas seruan yang tidak ada isinya.


"Jadi tuan Zack yang terhormat ingin penjelasan apa?" tanya Rafa tanpa basa-basi.


"Aku hanya ingin tahu dimana Lily? Mengapa kau menyembunyikannya? Mengapa kau ingin memisahkan aku darinya?" tanya Zack dengan satu tarikan napasnya.


"Ya ampun itu pertanyaan udah seperti petasan aja!" seru Rafa.


Zack hanya mengangkat sebelah alis matanya. Dia sudah tahu dengan sifat Rafa. Semakin diladeni akan semakin menjadi.


"Satu, kau tidak akan tahu dimana Lily berada. Dua, aku menyelamatkannya bukan menyembunyikannya. Dari seorang pria yang tidak bertanggung jawab. Waktu tujuh tahun bukan waktu yang sangat pendek untuk menunggu seseorang. Tiga, karena aku menyayanginya. Dan itu tidak akan berubah sampai kapanpun!" jelas Rafa.


"Aku sudah menjawab tiga pertanyaan mu. Aku permisi!"

__ADS_1


Rafa mengubah gaya bicaranya jika dia sudah sangat serius. Dia berdiri dan segera meninggalkan Zack.


"S**l!" geram Zack. Tangannya mengepal sangat kuat.


Pertemuan mereka berakhir dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Zack sangat tidak puas dengan hasil pertemuannya dengan Rafa. Maksud hatinya memilih tempat umum agar bisa mengendalikan dirinya. Nyatanya, emosinya tetap tersulut tapi tidak bisa dilampiaskan.


* * *


Amber melihat Rafa yang datang menghampiri Zack. Dia merasa sangat senang. Kecurigaannya ternyata salah. Dia segera meninggalkan resto dan berjalan keluar. Langkahnya terhenti karena seorang pria yang merupakan seorang pengawal mencegatnya.


Saking senangnya dia lupa jika dia sudah berjanji untuk bertemu dengan pria yang sangat dibencinya. Dia juga lupa ada seorang pengawal yang diutus untuknya.


"Jauhkan tanganmu!" seru Amber.


"Tidak. Selagi nona mau mengikuti ku!" perintah pengawal itu.


"Biarkan aku berjalan sendiri!" Balas Amber tak kalah sengitnya.


Pengawal itu akhirnya melepaskan Amber. Dia mengikuti Amber dari belakang dengan jarak satu meter.


Ting


Pintu lift yang membawa mereka ke lantai lima terbuka dengan lebar. Amber keluar bersama pengawal yang dari tadi mengikutinya.


Sesampainya mereka di depan pintu kamar presiden suite, pengawal itu segera menghubungi temannya untuk membukakan pintu untuk mereka.


Pintu itu terbuka, beberapa pengawal keluar dari dalam kamar. Salah satu dari mereka mempersilahkan Amber untuk masuk ke dalam.


Amber sedikit terkejut ketika pintu kamar itu ditutup dari luar. Kamar ini sangat indah dan luas. Hanya saja dengan hadirnya seorang pria yang sangat dibencinya membuat keindahan kamar ini tampak suram.


Pria itu duduk di sebuah sofa yang terletak sudut kamar. Amber dapat melihatnya dengan sangat jelas. Cahaya lampu di kamar itu sangat terang. Pria itu terlihat lebih tampan dan kaya sekarang. Ada perasaan sedikit menyesal yang terlintas di hatinya.


"Apa kau akan berdiri disana terus, sayang?"

__ADS_1


Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended loh! Yuksss mampir 😘😘😘



__ADS_2