
"Gila bener tuh si Amber! Bisa ya dia kek gitu?" tanya Naya tak percaya.
"Gue juga ngga habis pikir. Bisa dia kek gitu," jawab Lily sambil mengangkat kedua bahunya.
"Cuma itu perempuan, aneh. Udah ngelahirin anaknya Zack, tapi ngga mau disayang," tutur Naya.
"Bener juga ya, Nay. Padahal Emily anak kandung. Udah cantik, pinter lagi!" seru Lily.
Lily dan Naya menatap ke arah Emily dengan perasaan sedih.
"Sekarang gue ngerti, kenapa Emily lebih enak sama elu. Selama ini dia ngga pernah ngerasain kasih sayang seorang ibu," jelas Naya sambil mengusap perutnya.
"Gue aja nih. Waktu tau gue hamil, ngga ada sama sekali pikiran gue buat gugurin calon anak gue. Lebih parahnya lagi, gue ngga tau siapa bapaknya," timpal Naya lagi sambil mengusap perutnya.
Lily menatap Naya dalam diam. Dia teringat beberapa bulan yang lalu saat Naya mengatakan bahwa dia hamil. Memang benar yang dikatakan Naya. Sahabatnya itu sama sekali tidak pernah mengucapkan kata 'menggugurkan', bahkan mungkin tidak ada niat sama sekali untuk ke arah sana.
Lily merasa sangat bangga memiliki sahabat seperti Naya. Kisah hidup Naya lebih memprihatinkan daripada Amber. Bahkan, lebih parah dari kisah cintanya. Sahabatnya itu kini menjadi panutan untuknya.
"Kalo aja si Amber mengasuh dan menyayangi Emily dengan normal, pasti lama-lama Zack juga akan cinta sama dia," tutur Lily.
"Iya. Tapi elu-nya yang gigit jari," tutur Naya.
"Lah kok gue?" tanya Lily.
"Kalo si Amber ngga kek gitu tingkahnya, mereka bakalan jadi keluarga cemara," jelas Naya.
"Emang cowok Zack doang," balas Lily yang tidak mau kalah.
"Iya sih, cowok bukan Zack doang. Tapi, elu-nya yang ngga bisa move on dari Zack. Iya kan?" cecar Naya.
Ucapan Naya sangat tepat sasaran. Selama patah hati, Lily memang masih belum bisa move on dari Zack. Luarnya saja terlihat baik-baik saja. Tapi, di dalam hatinya sangat hancur.
"Itu namanya takdir, Ly. Bearti lu emang udah jodoh sama Zack. Noh, anaknya aja udah nyebut elu mommy," timpal Naya.
"Tau deh, Nay. Zack emang minta kesempatan sama gue. Tapi, gue masih rada gimana gitu, Nay," jelas Lily.
__ADS_1
"Ya, wajar sih elu masih bingung sama keadaan elu yang serba spontan," tutur Naya.
"Gue juga nyesel, Nay. Ngga nanya-nanya dia dulu. Eh, pas denger dari Leon. Justru Zack berkorban lebih banyak dari gue," jelas Lily.
"Menurut gue sih, lanjutin aja hubungan lu sama Zack. Kalian berdua tuh udah kek puzzle. Zack jadi wadahnya, elu puzzle-nya," jelas Naya.
Lily diam, dia berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Naya. Mungkin benar kata Naya. Dia dan Zack sudah ditakdirkan bersama. Hanya saja masih ada rasa ragu dan takut di hati Lily saat mengingat kejamnya tuan James terhadap anaknya sendiri.
Selain itu, dia juga sangat menyayangi Emily. Lily memang belum pernah menikah, apalagi melahirkan. Akan tetapi, dia bisa membedakan mana rasa sayang yang murni sebagai ibu dan mana yang tidak. Tak dapat dipungkiri jika Lily telah menganggap Emily kecil sebagai putrinya.
Lily tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia berusaha membuka kembali hatinya yang hancur. Menyambut kembali Zack bersama Emily ke dalam hidupnya. Mungkin ini memang sudah jalan yang harus di tempuh olehnya untuk mendapatkan cinta yang sejati.
Lily bertekad di dalam hatinya bahwa dia akan memberi kesempatan untuk Zack. Lebih tepatnya kesempatan untuk dirinya meraih kembali cintanya.
Cup
Kecupan singkat terdengar lembut menghampiri telinga Lily. Lily menatap ke arah sumber suara kecupan itu. Keith berdiri di belakang Naya sambil memeluk sahabatnya itu dari belakang.
Lily tersenyum melihat pemandangan mesra di depannya. Dia sangat senang melihat Naya sudah ada yang akan menjaganya nanti. Takdir. Benar kata Naya, kita tidak bisa tahu akan takdir kita sendiri. Sebaiknya jalani saja alurnya.
"Hai Lily!" sapa Keith sambil menarik kursi dan duduk disebelah Naya.
"Wah, siapa gadis cantik ini?" tanya Keith sambil menatap Emily yang duduk di pangkuan Nana.
"Dia putriku," ucap Lily.
Nana yang dari tadi duduk tenang, langsung menatap takjub ke arah Lily. Selama perbincangan Lily dan Naya, Nana berusaha untuk tidak begitu fokus mendengarnya. Akan tetapi, ucapan Lily kali ini berhasil membuatnya mendongak dan menatap Lily.
Nana senang, akhirnya nona mudanya diakui sebagai putri dari seorang ibu. Berbeda dengan Keith. Keith terlihat sangat terkejut mendengar pengakuan Lily. Selama ini, Keith tahu jika Lily sama sekali belum menikah. Apalagi memiliki seorang putri.
Ekspresi Keith sangat lucu dan menarik perhatian Emily kecil. Kedua mata Keith melotot dan mulutnya sedikit ternganga. Naya yang berada di sampingnya saja sampai terkekeh melihatnya.
"Mommy! Uncle lucu!" seru Emily.
Kedua tangan Emily menggapai Lily. Artinya dia ingin beralih ke pangkuan mommy-nya. Lily segera meraih Emily dari pangkuan Nana.
__ADS_1
Keith semakin terperangah mendengar panggilan 'mommy' yang disematkan gadis kecil itu pada Lily.
"Serius?" tanya Keith.
"Menurut lo?" Lily balik bertanya.
"Babe!" seru Keith sambil menatap Naya.
Meskipun Keith tidak tertarik dengan masalah orang lain, tapi Lily adalah sahabat calon istrinya. Lagipula mereka pernah berteman dulu. Dia membutuhkan seseorang untuk memberinya penjelasan.
"Putri sambung Lily," jelas Naya.
"Cieee ... yang udah ngaku-ngaku punya anak," goda Naya sambil terkekeh.
"Mommy. Itu uncle siapa?" tanya Emily.
Lily paham dengan maksud pertanyaan Emily. Gadis kecil itu menanyakan siapa nama paman yang berhasil memikat perhatiannya.
"Nama uncle, Keith. So, you can call me uncle Keith," jelas Keith.
Keith tidak butuh penjelasan dari siapapun. Dia mengerti maksud dari pertanyaan gadis kecil itu.
"My name is Emily. Just call me Em," balas Emily dengan aksen Inggrisnya.
"Nah loh! Keknya lu harus privat bahasa Inggris deh, Ly. Anak lu keknya udah khatam deh bahasa Inggrisnya. Lah elu! Masih diam di tempat, hehehe," goda Naya sambil terkekeh.
"Eh, Nay. Orang-orang juga udah pada tau kali kalo udah ngeliat tampang anak gue. Seratus persen bule. Udah pastilah khatam bahasa Inggrisnya," jelas Lily tak mau kalah.
"Iya, yang gue omongin kan elu-nya bukan orang. Jangan ngeles deh. Hehehe," goda Naya lagi.
Obrolan mereka terdengar oleh Zack yang baru saja kembali dari urusannya. Zack memberi kode pada Nana dan Naya agar tidak mengatakan pada Lily tentang kehadirannya.
Zack senang saat Lily mengucapkan kata 'putriku', dan 'anak gue'. Ucapan Lily terdengar sangat tulus. Pantas saja jika Emily begitu terasa dekat dengannya. Pasti karena ketulusan Lily.
💕💕💕
__ADS_1
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh! Yukss mampir..... Ceritanya seru banget loh 😘😘😘