
Rafa menatap tajam Lily dan Naya. Dia membulatkan kedua matanya, memberi kode pada mereka agar tidak berteriak. Untung saja hanya keluarga dekat yang mendengar teriakan Lily dan Naya.
"Tahan dikit lagi, Fa!" saran Lily.
"Iya. Sebentar juga selesai kok ijab kabulnya," Naya menimpali.
"Ng-nga bisa, somplak!" seru Rafa.
Butiran keringat sebesar biji jagung mengalir dengan deras. Kedua kaki Rafa terlihat sambil menahan sesuatu.
"Gila lu, Fa. Lu mau pecahin rekor muri ya?" tanya Lily sambil menatap Rafa tak percaya.
"Sebodo amat deh, Ly!"
"Jangan, Fa!" teriak Naya.
Liora yang duduk diantara kedua orang tuanya mulai merasa resah. Dia ingin berjalan ke depan menghampiri Rafa, tapi tidak berani. Karena saat ini, mereka menjadi fokus utama para tamu undangan. Dia tidak ingin para tamu menganggap terjadi sesuatu di antara dia dan Rafa.
Lily menoleh ke belakang memberi kode pada Liora yang akan dilakukan oleh Rafa. Akhirnya, Liora merasa lega saat mendapat sedikit petunjuk dari Lily. Dia sudah tahu yang akan di lakukan oleh calon suaminya. Liora berusaha menahan tawa. Dia hanya bisa menyunggingkan senyum. Rasa penasaran dan kesal tadi tergantikan dengan kasihan.
"Maafin, gue ya!" ucap Rafa sambil tersenyum.
"Ngerusak suasana aja lu Fa!" teriak Naya.
Setelah Naya berkata seperti itu. Aroma yang berjalan dengan mulus mulai menghampiri ke hidung orang-orang yang berada di sekitar Rafa. Kemudian beralih ke para tamu undangan yang berada paling depan. Hal itu dapat dilihat dari gerakan tangan mereka yang mulai menutup area hidung.
__ADS_1
Setelah Aroma itu mengelilingi seperempat tamu undangan, Rafa segera melarikan diri. Dia berlari dengan kencang ke arah toilet.
Liora yang sudah paham dengan keadaan Rafa hanya bisa tersenyum dan menggeleng kan kepala. Kebiasaan buruk Rafa jika sedang gugup pasti akan sakit perut. Dari sakit perut beralih mengeluarkan gas beracun, dan tujuan terakhir Rafa adalah toilet.
Jika saja Liora tidak mengetahui kebiasaan calon suaminya, mungkin dia akan berpikir jika Rafa melarikan diri dari pernikahan dan akan membuat sebuah kesalahpahaman yang tidak berujung. Dia senang saat Rafa seperti itu. Artinya, Rafa sangat serius dengan hubungan mereka.
"Untung bukan laki gue!" seru Naya.
"Punya sahabat gini amat yak," Lily menimpali Naya.
Zack berjalan mendekati Lily. Dia bingung melihat Rafa yang lari begitu saja dari prosesi ijab kabulnya.
"Rafa kenapa?" tanya Zack pada Lily.
Lily masih ingin menjaga wajah Rafa. Dia memberi kode pada Zack untuk menunduk sedikit agar dia bisa membisikinya.
"What?" Zack berteriak saat mendengar penuturan Lily.
Lily segera menutup mulut suaminya dengan sebelah tangannya.
"Sst ... Jelek-jelek begitu kelakuannya, sahabat kita juga," timpal Lily.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Zack berbisik.
"Dia grogi," ucap Lily pelan.
__ADS_1
"Georgi?" Zack bingung mendengar kata yang menurutnya aneh.
"Bukan georgi tapi grogi. Maksudnya canggung. Dia selalu seperti itu saat berhubungan dengan sesuatu yang sangat serius dan penting," Lily menjelaskan dengan pelan.
"Oh! Ternyata dia bisa begitu juga. Aku pikir dia tidak akan pernah mengalami hal seperti itu." Zack terkejut mendapati sebuah kebenaran tentang Rafa.
"Maksudmu?" Lily bingung mendengar ucapan Zack yang menurutnya sedikit aneh.
"Kau tahu sendiri Rafa seperti apa sayang. Tingkat kejahilannya di atas rata-rata. Aku pikir dia tidak memiliki kelemahan. Nyatanya, hari ini terbukti," Zack menjelaskan pada istrinya sambil tersenyum.
"Ah, maksudnya begitu! Iya juga sih. Rafa usilnya memang kebangetan. Tapi, kasihan juga lihat dia seperti itu."
Sambil menunggu kedatangan Rafa dari toilet. Pengisi acara memberikan sebuah game untuk para tamu. Game hanya suatu bentuk pengalihan agar Rafa tidak merasa canggung saat kembali. dari toilet.
Permainan yang tadinya hanya satu, berubah menjadi beberapa game karena ada beberapa sponsor dadakan. Semua tamu terlihat senang. Gelak tawa mereka membahana di seluruh hall. Mereka seolah lupa akan yang terjadi kurang lebih satu jam yang lalu. Rafa menghabiskan waktunya di toilet kurang lebih hampir satu jam.
Rafa berusaha mengatur nafas dan gestur tubuh. Dia tidak ingin terlihat canggung saat memasuki hall nanti. Benar kata Lily dan Naya, dia satu-satunya pengantin pria yang lari dari ijab kabul hanya karena canggung dan berakhir di toilet. Sangat cocok mendapat rekor muri.
Mau dielakkan juga tidak mungkin. Rafa tetap harus menghadapi situasi saat ini. Tanpa berhitung satu sampai tiga, Rafa membuka pintu hall. Dia terkejut saat mendapati para tamu yang terlihat senang dan larut dalam sebuah permainan.
Perasaan canggungnya hilang seketika. Dia sudah bisa tampil seperti biasanya. Keith dan Zack berjalan ke arah Rafa. Tidak ada maksud lain, mereka hanya ingin menggoda Rafa. Zack yang tiba lebih dulu segera mengulurkan tangan kanannya. Tidak ketinggalan senyuman terbaik diberikannya pada Rafa.
Rafa yang bingung hanya bisa membalas jabat tangan dari Zack.
"Selamat," ucap Zack berbisik di telinga Rafa. Dia juga merangkul Rafa dengan sebelah tangannya yang bebas.
__ADS_1
"Selamat kenapa?" tanya Rafa bingung.