
"Ulangi ucapan-mu!" perintah Leon.
Rasa lelah dan kantuk yang dari tadi mendera Leon berubah menjadi sebuah semangat yang datang menggebu. Dia tidak ingin salah dengar lagi. Untuk itu, dia meminta si penelpon mengulangi ucapan yang baru saja dia ucapkan.
"Nona muda Emily sudah ditemukan, tuan," balas si penelpon pelan.
"What?" tanya Leon tak percaya.
"Nona Emily sudah ditemukan," tuturnya dengan sabar.
"Nona Emily berada di sini juga?" tanya Leon.
Tanpa dia sadari, pertanyaannya seperti orang bodoh saja. Tidak biasanya dia seperti itu. Informasi yang baru saja di dapatnya membuat hati nya ingin melompat keluar. Dia ingin sekali segera memberitahu tuannya.
"Saat Jeremy mencari informasi tentang acara pertunangan tuan Rafa, tanpa di sengaja dia melihat Nana di sebuah toko bahan kue. Nana menggandeng seorang tangan anak perempuan. Yang sudah dipastikan nona Emily. Jeremy langsung mengikuti kemanapun mereka pergi hingga mereka memasuki area rumah kontrakan," jelas si penelpon.
Pantas saja Jeremy tidak memberiku laporan lengkap. Ternyata dia mengikuti Nana. Kerja bagus Jeremy. Astaga, hari ini aku seperti mendapat sebuah jackpot. Leon bermonolog di dalam hatinya.
"Apa Nana dan nona muda sudah di jemput?" tanya Leon.
"Tidak bisa tuan. Karena ini sudah larut. Lagipula area kontrakan mereka sangat ketat dan aman," jelas si penelpon.
"Bagaimana dengan anak buah tuan James?" tanya Leon.
"Aman, tuan. Kami sudah menyusuri seluruh kota. Tidak ada tanda-tanda keberadaan anak buah tuan James. Sepertinya mereka tidak mengetahui keberadaan nona muda di kota ini," jelas si penelpon.
"Benarkah?" tanya Leon dengan wajah ceria dan kedua bola mata yang berbinar.
"Aku sangat yakin tuan," tutur si penelpon.
"Wah! ini benar-benar seperti peribahasa sekali mendayung pulau dua tiga terlampaui. Hahaha," ucap Leon sambil tertawa.
"Eh, salah tuan," seru si penelpon.
"Memangnya salah?" tanya Leon.
"Iya tuan. Yang benar itu Tiga kali mendayung satu pulau terlampaui," jelas si penelpon.
Plak
"Mengapa kau memukul lenganku?" tanya si penelpon pada seseorang di sebelahnya.
Leon menyimak percakapan antara dua orang di seberang sana.
__ADS_1
"Kau itu bukannya membenarkan justru makin salah," tutur suara pria.
"Jadi apa yang benar?" tanya si penelpon.
"Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui," tutur pria di sebelahnya.
"Oh. Halo tuan. Aku ternyata salah," tutur si penelpon.
"Aku sudah mendengarnya. Ingat! Awasi kediaman Nana dan nona muda. Tambah beberapa orang untuk menjaga keamanan. Aku tidak ingin kehilangan nona Emily lagi," perintah Leon.
"Baik tuan," ucap si penelpon.
Leon segera memutuskan sambungan telpon. Malam ini dia bisa tidur dengan nyenyak. Tak disangka-sangka setelah sekian lama dan menemukan berbagai kesulitan, dia akhirnya menemukan dua orang wanita berbeda generasi kesayangan tuannya.
Dengan langkah ringan Leon kembali ke hotel tempatnya menginap. Dia melirik ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Leon memutuskan untuk tidak menghubungi tuannya.
...✳️✳️✳️...
Kontrakan Nana.
Emily bangun sangat awal hari ini. Belum jam lima pagi, gadis kecil itu sudah membuka sempurna kedua matanya. Warna biru pada kedua bola matanya sangat indah saat bangun tidur. Dia menggeliat di atas kasur. Meregangkan seluruh otot tubuhnya. Setelah dirasa cukup, gadis kecil itu segera beranjak dari kasurnya menuju dapur.
Emily sudah sangat hafal. Nana pasti sudah berada di dapur jika hari masih gelap. Gadis kecil itu masih belum bisa membedakan waktu subuh Dia hanya mengenal pagi, sore dan malam. Dia melangkahkan kedua kakinya pelan. Benar saja. Nana berada di dapur. Nana-nya sedang sibuk bertarung dengan bahan-bahan kue.
Nana menoleh ke belakang saat nona muda memanggilnya.
"Sayang sudah bangun?" tanya Nana.
Emily hanya menganggukkan kepalanya. Nana segera mengangkat tubuh Emily, dan didudukkan diatas kursi di sampingnya.
"Em mau susu?" tanya Nana menawarkan segelas susu untuknya.
Em terlihat masih mengantuk. Tenaganya belum sepenuhnya kembali. Dia menatap ke seluruh penjuru dapur. Emily baru sadar jik dapur mereka di tempati banyak sekali kue.
"Nana, kenapa banyak?" tanya Emily dengan polos.
"Ada yang memesan kue buatan Nana untuk sebuah acara di hotel," jelas Nana.
Emily melihat kue -kue yang sudah tersusun rapi di beberapa tempat. Sebuah senyuman menghiasai wajahnya.
"Nana, Em bisa menabung jika kuenya banyak?" tanya Emily polos.
"Pfft," Nana tertawa kecil.
__ADS_1
"Iya sayang. Em bisa menabung lebih banyak," timpal Nana.
"Wah!" seru Emily senang.
Adonan kue yang dicampur Nana sudah siap. Nana hanya tinggal mencetak adonan kue dan membakarnya. Dia melepaskan plastik pembungkus tangan. Menuju ke kamar mandi untuk mencuci bersih kedua tangannya. Setelah selesai, dia segera menghampiri nona mudanya yang masih setia berada di atas kursi.
"Nona muda. Kita mandi sekarang ya?" tanya Nana.
"Iya Nana," jawab Emily dengan cepat.
Nana segera membawa Emily ke kamar mandi, membersihkan tubuh gadis kecil itu. Nana merasakan jika hari ini adalah hari yang sangat baik. Mungkin karena dia mendapat orderan kue yang sangat banyak untuk pesta pertunangan seseorang di hotel X.
Nana masih teringat saat pertama kali dia bertemu dengan seorang gadis cantik empat hari yang lalu. Gadis itu membeli kue miliknya saat dia berjualan keliling di taman dekat hotel.
Selain cantik, perangai gadis itu sangat sopan. Gadis itu sangat menyukai kue buatannya. Dia kemudian memesan tiga ratus kue pie buah mini untuk pesta pertunangannya di hotel X. Tentu saja Nana menyambutnya dengan benang hati.
...✳️✳️✳️...
Hotel X
Tring ... tring ...
Alarm di atas nakas sudah berdering berkali-kali. Si empunya jam weker masih sangat betah berada dibawah selimut. Akhirnya pada saat deringan terakhir. Zack bangun dari tidur. Dia melihat jam weker yang baru saja dinonaktifkan. Waktu menunjukkan pukul tujuh lebih dua puluh menit.
Zack tertegun melihat jarum jam yang bergerak berirama. Dia tidak percaya jika tadi malam, dia tertidur dengan pulas. Suasana hatinya juga sangat baik hari ini. Zack segera menghubungi Leon. Dia meminta pria itu untuk mengambilkan sarapan. Dia merasa sangat malas untuk turun sarapan.
Leon segera meloloskan permintaan tuannya. Dia segera menghubungi pihak hotel untuk mengantarkan beberapa menu sarapan terbaik mereka ke kamar tuannya.
...✳️✳️✳️...
Nana
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Nana mengecek ulang jumlah kue. Nana juga sudah mengubungi taxi online yang bisa membawa sepuluh kotak kue yang masing-masing berisi 10 buah kue Pai buah mini.
Taxi online yang dinantikan Nana sudah tiba di depan pintu gerbang kontrakan. Nana segera memasukkan sepuluh kotak kue. Setelah semua kotak kue sudah tersusun rapi di dalam mobil. Nana segera memanggil nona mudanya untuk segera menaiki taxi online.
Sepuluh menit kemudian meraka telah tiba di depan Hotel X. Seorang pelayan hotel menghampiri Nana. Dia berniat untuk membantu Nana. Dia melangkahkan kedua kakinya mendekati Nana.
"Maaf nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu sopan.
"Oh ini. Aku membawa pesanan untuk nona ..." ucapan Nana terpotong. Dia lupa siapa nama gadis yang memesan kue pie mininya. Nana teringat jika gadis itu memberinya sebuah kartu nama. Dia segera mengambil dan menyerahkan kartu nama pada pelayan wanita.
"Nah iya. Liora. Namanya Liora," ucap Nana.
__ADS_1