
"Gila ya cerita cinta lu, Nay!" seru Lily.
"Tak segila kisah cintamu Ly," balas Naya.
"Iya juga sih ya, he ... he..." Lily terkekeh mengingat kisah cintanya yang dalam kategori berantakan bahkan sangat kacau.
"Nah, makanya sekarang kita mau pindahan," tutur Naya.
"Lah! Apa hubungannya Nay?" tanya Lily.
"Ngga ada hubungannya dengan gue sih. Tapi ada hubungannya dengan lu," jawab Naya.
"Emang kenapa dengan gue?" tanya Lily bingung.
"Gue kurang tau jelasnya gimana. Tapi yang pasti Rafa khawatir banget sama lu," jelas Naya.
"Khawatir gimana, Nay?" tanya Lily.
Naya mengangkat kedua bahunya dan berkata "Gue juga masih abu-abu, Ly."
"Terus kita pindah kemana?" tanya Lily.
"Kita pindah ke rumah yang udah disiapin sama Rafa. Kata Rafa udah ngga aman tinggal di apartemen," terang Naya.
"Rumah benaran, Nay?" tanya Lily.
"Ya iya lah rumah beneran. Bukan rumah boongan," jawab Naya.
"Kirain aja pindah ke apartemen lagi," ucap Lily.
"Ngga Ly. Kali ini kita pindah ke rumah bukan apartemen," jelas Naya.
"ih, penasaran banget gue. Kok dadakan sih pindahannya," ucap Lily.
"Udah nurut aja!" perintah Naya.
"Kapan lagi hidup kita berdua dijamin sama sahabat sendiri? Ya kan?" tanya Naya sambil mengangkat sebelah alisnya dan menampilkan senyum liciknya.
"Eh iya, bener juga Nay," balas Lily. Mereka tertawa bersama sampai membuat Rafa yang baru kembali dari balkon menatap curiga.
"Ini nih, kalo gaya kalian berdua kayak gini pasti ada yang disembunyiin," ucap Rafa.
"Ih, ge er," ucap Lily dan Naya bersamaan.
__ADS_1
"Udah pada siap kan?" tanya Rafa sambil menatap jam tangan di tangan kanannya.
"Emang berangkat sekarang ya?" tanya Lily.
"Engga," jawab Rafa.
"Jadi kapan?" tanya Lily lagi dengan polosnya.
"TAON DEPAN!" teriak Naya dan Rafa bersamaan.
"Cie, kompak banget!" seru Lily sambil terkekeh. Dia segera meninggalkan Naya dan Rafa di ruang tengah. Dengan santainya dia berjalan melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam kamar. Naya dan Rafa hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya.
"Temen lu tuh!" seru Rafa.
"Ih, sahabat elu juga. Kesayangan elu malahan," cibir Naya. Dia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Tinggal lah Rafa seorang diri di ruang tengah. Dia segera kembali ke apartemen miliknya. Dia ingin memastikan semuanya sudah siap untuk pindahan.
Barusan Bram menghubunginya. Memberitahu dia bahwa Zack saat ini tengah disibukkan oleh sesuatu. Dia yang terlihat dingin dengan istrinya, kini tengah mengurus sesuatu yang berhubungan dengan istirnya. Sehingga Rafa memiliki waktu yang cukup untuk memindahkan Lily dan Naya ke sebuah rumah yang letaknya berada di luar kota Jakarta.
Rafa bersyukur dengan hal itu. Dia berharap Zack memerlukan banyak waktu untuk mengurusi dan menyelesaikan masalah yang kini dihadapinya.
Dia sengaja memindahkan Lily dan Naya karena lambat laun Zack pasti akan menghampiri Lily ke apartemen. Jadi dia putuskan untuk segera pindah dari apartemen.
Lily dan Naya telah siap dengan bawan mereka seadanya. Karena barang-barang mereka yang lain sudah disiapkan oleh asisten rumah tangga mereka. Selain itu semua barang akan di bawa oleh mobil box khusus pindahan.
"Macet," jawab Rafa sekenanya.
"Emang kita pindahnya jauh ya, Fa?" tanya Lily lagi. Naya hanya berdiam diri saja dari tadi. Dia ingin segera masuk kedalam mobil dan beristirahat disana.
"Ya engga lah," jawab Rafa.
"Kalo engga, kenapa harus sekarang pindahnya? Kan bukan pindahan beda benua, Fa." oceh Lily.
Menghadapi sahabatnya yang satu ini memang harus ekstra sabar. Rafa menatap Lily dan menghembuskan napasnya.
"Mau ikut ngga? Ngga mau ya udah, tinggal aja disini sendiri," ucap Rafa sambil menarik tangan Naya dan membawa nya serta berjalan keluar ruangan.
"Eh iya. Hati-hati loh Ly! Ni ruangan kalo udah malam serem, apalagi tinggal sendiri. Ih, ngga bisa banyangin deh gue," ucap Rafa. Dia sengaja berhenti sebentar hanya untuk menakuti Lily.
"RAFA!" teriak Lily sambil berlari menyusul mereka. Dia tidak ingin tinggal sendiri di sini.
* * *
Drt ... drt ...
__ADS_1
Ponsel Zack bergetar sudah ke berapa kalinya. Si empunya saat ini sedang berada didalam kamar mandi. Dia masih sangat betah disana.
Zack memikirkan kejadian hari ini yang merupakan suatu keberuntungan untuknya. Jika dia bisa mengumpulkan bukti tentang perselingkuhan Amber atau apapun itu yang berkaitan dengan rusaknya reputasi Amber, ayahnya tidak akan mencampuri kehidupannya lagi.
Hutangnya sudah lunas dengan pak tua itu. Keputusannya sangat tepat untuk segera kembali ke Jakarta. Jika saja dia telat satu hari, mungkin dia tidak akan menemukan hal yang aneh dari Amber.
Air di dalam bath tub sangat menyegarkan tubuhnya. Saat ini dia merasakan tubuhnya benar-benar rileks seperti sudah sekian lama tubuhnya itu tidak terkena air. Padahal dia mandi sehari bisa sampai tiga kali.
Zack tersenyum mengingat sesuatu yang konyol itu. Merasa sudah cukup, dia segera bangkit dari dalam bath tub dan membilas tubuhnya.
Setelah selesai dengan ritual mandi yang sudah lewat tengah malam. Zack segera mengeringkan tubuhnya dengan handuk, dan keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang dililitkan di pinggangnya.
Dia melihat cahaya yang berkedip-kedip dari ponsel yang ditinggalkannya diatas nakas. Dia melangkahkan kaki kearah nakas dan segera menekan memilih tombol hijau untuk menjawabnya.
"Ya," jawabnya.
"Halo, tuan. Kenapa anda lama sekali menjawab teleponku?" tanya Leon dengan nadanya yang terdengar terburu-buru.
"Kau memarahiku?" tanya Zack.
"Mana berani aku, tuan," jawab Leon. Nada kesal masih terdengar di telinga Zack.
"Memangnya kenapa kau menggangguku dini hari begini?" tanya Zack.
"Tuan, jika tidak ada yang penting untuk apa aku menghubungimu," jawab Leon.
Apa yang dikatakan oleh Leon ada benarnya juga. Dia tidak pernah mengganggu Zack dini hari begini jika sesuatu itu tidak penting. Ini pasti lebih dari penting.
"Baiklah, Katakan!" seru Zack.
"Aku harap kau bersiap mendengarnya tuan," tutur Leon.
"Kau pikir jantungku lemah hanya untuk sebuah informasi saja," cecar Zack.
"Baiklah, yang penting aku sudah memberitahumu," tukas Leon.
"Tiga tahun yang lalu saat anda menyuruhku memeriksa identitas nyonya Amber, aku sama sekali tidak menemukan satu pun kejanggalan. Semua hal tentang dirinya sangat bersih. Jadi tidak ada kecurigaan sedikitpun terhadapnya," jelas Leon.
Dia diam sejenak dan mengisi ulang oksigennya. Karena dia tadi setelah mendapatkan informasi dari salah satu pengawal Brandon yang mabuk, dia segera meninggalkan pub. Dia segera berlari keluar dari sana karena tidak ingin ketahuan dengan teman pengawal itu. Setelah aman, dia segera menghubungi tuannya.
"Dan anda sangat benar melakukan tes DNA setelah nona muda Emily lahir. Brandon menuntut seorang anak pada nyonya Amber
Dia mengira nona muda Emily adalah putrinya dengan nyonya Amber. Karena tiga bulan sebelum anda melangsungkan pernikahan dengannya, nyonya Amber sudah hamil sekitar sepuluh Minggu dan menggugurkannya demi menikahi anda," jelas Leon panjang lebar.
__ADS_1
"Bingo."