Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab. 9 Pertemuan Kedua Tapi Yang Pertama


__ADS_3

Dua pria itu berjalan dengan sangat elegan. Pria yang di depan terlihat lebih tampan, gagah, cool, dan percaya diri. Pria yang mengikuti di belakangnya juga tak kalah tampan. Hanya saja terlihat lebih ramah.


Zack dan Leon berjalan keluar lift hampir beriringan. Yupss... Meeting kali ini bersama perusahaan Zack lagi.


Zack berhenti tepat di hadapan Lily dengan jarak sekitar satu meter. Leon juga mengikuti gerakan tuannya. Leon berhenti tepat di samping Zack.


"Selamat pagi tuan Rafa dan nona..." sapa Leon menunjukkan hormatnya sekaligus mewakili tuannya yang dalam mode on cool jika sudah berada di Ahmad's Company. Leon masih belum mengenal sekretaris dari tuan Rafa sehingga dia tidak menyebutkan nama Lily.


"Lily. Namaku Lily." jawab Lily dengan tersenyum.


"Nama yang sangat bagus, nona. Seperti orangnya." puji Leon sambil tersenyum membalas Lily.


"Terima kasih, tuan..." balas Lily sopan sambil memicingkan sedikit matanya.


"Ahhhh... maaf atas ketidaksopananku. Namaku Leon." ucap Leon mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Lily.


"Senang berkenalan denganmu." Lily membalas uluran tangan Leon.


"Ya. Senang juga berkenalan denganmu nona Lily." balas Leon.


Leon melerai tangannya dan beralih ke Rafa. "Apa kita bisa memulai meeting nya sekarang , tuan?" tanya Leon.


Rafa mengangguk dan mempersilahkan kedua tamunya untuk memasuki ruang meeting terlebih dahulu "Silahkan tuan."


Zack dan Leon berjalan masuk ke dalam ruang meeting. Zack melewati Lily seperti menganggap Lily tak ada. Sedangkan Leon melewati Lily dengan senyuman.


Rafa yang sempat melihat kelakuan Zack merasa sangat kesal. Jika saja kerjasama ini tidak penting, dengan senang hati Rafa akan memukul wajah Zack. Akan dia buat beberapa lukisan polkadot berwarna biru atau ungu di wajahnya yang tampan itu.


Niat tinggal niat. Rafa tak ingin memperkeruh keadaan dan suasana. Sudah cukup Rafa dan Naya yang melihat terpuruknya Lily. Untungnya saat ini Lily terlihat tegar. Kesal yang Rafa rasakan perlahan luntur.


Zack dan Leon sudah duduk di tempat yang sudah disediakan. Rafa dan Lily duduk berseberangan dengan mereka. Ruangan meeting ini memang sengaja di design untuk meeting dengan CEO atau utusannya saja. Bukan ruangan besar yang bisa memuat sepuluh hingga lima belas orang. Untuk ruang meeting yang besar itu terdapat di lantai tiga. Ruangan itu digunakan khusus meeting dengan pemegang saham atau rapat bulanan dengan para karyawan.


Leon mulai mengeluarkan berkas-berkas yang sudah disiapkan dan mulai menjelaskan serta mengeluarkan surat kontrak yang harus ditanda tangani.


Lily juga sangat profesional. Selama meeting, Lily tidak mengaitkan dengan masalah pribadinya. Apalagi penyebab masalah pribadinya adalah pria yang ada di depan matanya. Sungguh sangat sulit bagi Lily. Ketegaran dan keteguhan Lily membuat Rafa bangga terhadapnya.

__ADS_1


Lily menjelaskan secara detail tentang rencana proyek mendatang dan keuntungan yang akan diperoleh oleh kedua belah pihak.


Rapat pagi itu berjalan sangat lancar. Waktu meeting yang diperkirakan berlangsung selama satu jam, terpangkas menjadi empat puluh menit. Bisa jadi karena Zack tidak ikut andil berbicara dalam meeting tadi. Jika dengan perusahaan lain, Zack akan bertanya panjang lebar hingga terkadang membuat kliennya tak berkata-kata dan berakhir dengan batalnya kerjasama.


Akhirnya , kerjasama antara kedua belah pihak pun telah disepakati. Zack dan Leon segera meninggalkan ruangan meeting. Melihat Zack sudah menjauh dari ruangan dan dirasa Lily aman, Lily segera menjatuhkan dirinya ke lantai.


"Aduuhhh..... hampir aja jantung sama hati gue pindah posisi, Fa." ucap Lily memegang dadanya.


Rafa melongo melihat kelakuan Lily.


"Lhaa... gue pikir lu udah ngga apa-apa." tutur Rafa.


Lily bangkit dari lantai dan duduk di samping Rafa.


"Hhuufftt... gue tahan tau dari tadi, Fa. Gue pikir udah beneran bisa move on." ucap Lily nelangsa kemudian menempelkan keningnya ke meja. Dia butuh sesuatu untuk menahan otaknya yang ingin travelling mengingat kembali Zack.


"Semua butuh proses, Ly. Mana ada yang instant. Beras aja di masak jadi nasi juga pakek proses walaupun pakek rice cooker. Berasnya dibersihin dulu, habis itu di cuci dua sampe tiga kali. Udah masuk ke rice cooker, harus colokin dulu kabelnya. Udah di colokin, tekan tombol ke bawah kalo mau masak. Harus nunggu lagi sampe bunyi ceklek, itu tandanya mateng. Baru bisa dimakan." Rafa menjelaskan dengan tenang dan panjang.


Lily menoleh dan menatap Rafa dengan malas. Kini pipi sebelah kanannya yang menempel ke meja.


Rafa langsung mentoyor kening Lily. "Gini-gini gue mandiri kali." ketus Rafa.


"iiisshhh..." ketus Lily.


"Untung sebentar tadi meeting nya." ucap Lily sambil mengangkat pipinya dan merebahkan punggungnya ke kursi.


"Gimana ngga sebentar. Pada takut keknya liat muka lu yang kek gitu." jawab Rafa sambil menunjuk wajah Lily dengan bibir bawahnya.


"iiisshhh... bagus deh." jawab Lily asal.


"Tumben ngga bales?. Biasanya kalo diledekin balasnya pasti panjang lebar kek sirkuit Moto GP dua puluh tujuh lap ... muter-muter." tutur Rafa sambil memperagakan jari telunjuknya muter-muter.


Lily menautkan kedua alisnya. "Tau ah gelap!" rajuk Lily.


"Gelap?... ini masih terang kali." goda Rafa sambil berdiri dan berjalan ke arah jendela. Rafa membuka penutup jendela dengan sekali tarikan. "Tuh kan bener. Masih siang." jawab Rafa.

__ADS_1


Lily menutup matanya dengan tangan kanannya. Waktu saat ini memang menuju panas. Cahaya yang masuk melewati jendela membuat mata Lily silau. Lily berdiri dan berjalan ke arah Rafa. Sesampainya di dekat jendela, Lily mengalihkan pandangannya ke bawah gedung. Lily meraih teleskop mini yang masih tertancap di sisi jendela.


Lily mulai memainkan teleskop itu kesana kemari. Arah pandangnya berhenti ke bawah, tepat di halaman parkir. Lily dapat melihat dengan jelas Zack yang berjalan ke arah mobil yang sudah menantinya.


Rafa menyadari Lily yang memperhatikan Zack dari arah pandangnya.


"Besok-besok juga bakalan ketemu lagi kok, Ly.Jadi lu pasti akan terbiasa. Ini yang kedua kalinya kan lu ketemu sama dia." ucap Rafa tanpa mengalihkan pandangannya.


"Pertama, Fa. ini memang pertemuan yang kedua tapi yang pertama, pertama kali gue bisa berhadapan langsung sama Zack." ucap Lily.


Lily membalikkan tubuhnya. Lily tak ingin berlama-lama melihat Zack. Lily lebih memilih kembali ke meja meeting dan merapikan semua berkas-berkasnya.


Rafa yang masih berada di tepi jendela, meraih teleskop mini itu dan menatap Zack. Seperti ada rasa ikatan batin atau apapun itu, Zack mendongakkan kepalanya ke atas. Meskipun hanya terlihat seperti titik hitam, tapi Zack yakin itu adalah Rafa.


"Yuk, Fa balik ke atas!" ajak Lily.


Mendengar ajakan Lily, Rafa membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar ruangan meeting bersama Lily.


Sepanjang perjalanan kembali ke ruangan. Rafa dan Lily sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Lily mencoba menghalau segala pikiran dan perasaan tentang Zack. Terkadang Lily berpikir kalau dia sangat bodoh karena masih menyisakan rasa sayang untuk Zack. Lily hanya ingin menyisakan sedikit saja agar setitik rasa sayang yang masih itu dapat tersirami lagi dan tumbuh menjadi sayang yang sangat luas.


Sedangkan Rafa tenggelam dengan perasaan kesalnya kepada Zack. Rafa berusaha untuk tidak menghakimi Zack atas apa yang selama ini terjadi. Tapi, apa itu adil untuk Lily?. Lily menjaga dirinya dengan baik selama ini. Perasaan Lily sangat murni, bahkan di zaman sekarang sangat sulit menemukan wanita yang benar-benar tulus seperti Lily.


Rafa juga tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan pribadi Lily. Sebagai sahabat baiknya, Rafa hanya bisa membantunya sebatas dan sewajarnya saja. Lily berhak mendapat penjelasan dari Zack. Tapi Zack bahkan terlihat tak ingin memberikan penjelasan kepada Lily sama sekali. Hal ini membuat Rafa frustasi memikirkannya.


Ting...


Pintu lift terbuka. Kali ini mereka kembali ke lantai lima belas tempat ruangan mereka. Rafa dan Lily melangkahkan kaki keluar lift. Rafa memberitahu Lily bahwa dia akan pergi keluar untuk bertemu dengan klien bersama Bram. Jadi, Lily bisa menyelesaikan pekerjaan lain dengan santai.


Lily melirik jamnya. Lily sempat berpikir untuk segera ke pantry. Akan tetapi saat ini masih sangat awal untuk makan siang kesana. Mpok Atun pasti lagi nyiapin makan siang. Lily berkata dalam hatinya. Akhirnya, Lily memutuskan untuk kembali ke ruangannya.


Lily menarik gagang pintu dan mendorong perlahan agar terbuka. Setelah Lily masuk, dia juga menutupnya perlahan. Hal itu dilakukannya karena Lily sangat tidak suka jika seseorang membuka dan menutup pintu dengan kasar.


Lily berjalan ke arah meja kerjanya. Belum sempat Lily menarik kursinya untuk duduk, dia dikejutkan dengan suara berdehem seseorang.

__ADS_1


__ADS_2