Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 78. Hai Daddy!


__ADS_3

Leon terdiam cukup lama. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk mengatakan semuanya pada nona Lily.


"Leon!" teriak Lily.


Dia mengguncang lengan kiri Leon.


"Apalagi tuan besar James mengancam tuan Zack. Jika tuan Zack tidak mau menikahi Amber, maka tuan besar James tinggal memberi perintah untuk membereskan anda, nona," jelas Leon.


"A-pa?" tanya Lily tak percaya.


Lily sangat terkejut mendengar penjelasan Leon. Dia tidak mengenal siapa tuan James itu. Tapi, dari ucapan Leon dapat dia simpulkan bahwa tuan James bisa jadi adalah ayah Zack.


"Tuan Zack dengan terpaksa harus mengikuti perintah ayahnya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu apapun dengan anda, nona. Akan tetapi, tuan Zack tidak secara langsung meninggalkan anda. Selalu ada pengawal yang menjaga anda dari kejauhan," jelas Leon.


Air mata Lily mengalir deras saat mendengar semua penjelasan Leon. Benar saja dugaannya jika pria bernama James itu adalah ayahnya Zack. Dia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Selama ini Lily mengira jika Zack sudah melupakannya, tidak peduli lagi padanya, dan tidak mencintainya lagi.


"Tuan Zack tidak kehilangan akal. Dia selalu menjaga dirinya. Sampai dia dituntut untuk segera memberi keturunan oleh tuan James. Tuan Zack segera berkonsultasi dengan seorang dokter terkenal di negaranya. Amber mau tidak mau harus menyetujui semua itu dengan syarat, dia diberi hak untuk menggunakan harta kekayaan tuan Zack sepuasnya dan selalu bersikap romantis di depan umum," jelas Leon.


Leon sendiri heran pada dirinya sendiri. Dia sangat lancar sekali menceritakan tentang semua rahasia tuan Zack pada Lily. Dia merasakan bahwa ini adalah saat yang sangat tepat untuk memberitahu nona Lily tentang keadaannya yang sebenarnya.


Ada sebuah kesalahpahaman gang sangat besar di antara mereka. Kesalahpahaman itu harus selesai saat ini juga tanpa harus di tunda-tunda lagi.


"Nona muda lahir dengan sehat. Tapi sayangnya, nona muda tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Bayi mungil itu tidak pernah merasakan asi. Amber mencintai tuan Zack, tapi tidak dengan nona muda. Amber menganggap nona muda hanyalah sebuah tiket emas. Tuan Zack memberinya nama Emily. Karena tuan Zack selalu teringat pada anda nona. Aku pernah mendengar saat dia mabuk karena larut dalam kepedihannya kehilangan kalian berdua. Dia berharap Emily dapat mempertemukan kalian kembali," jelas Leon.


Lily masih terdiam. Air matanya tumpah sejadi-jadinya. Ungkapan itu selalu saja benar. Kenyataan selalu tak seindah harapan. Lily sudah mematikan rasa cinta dan sayangnya pada Zack. Setelah mendengar semua dari Leon. Lily justru menjadi bersalah. Salah, karena tidak menuntut penjelasan pada Zack.


"Tuan Zack juga pernah tertembak di bagian perut kanannya karena berusaha kabur untuk menemui anda, nona," timpal Leon.


Ucapan Leon sudah seperti ratusan jarum yang menghujani hatinya tanpa henti. Derai air matanya tak tertahankan. Lily menangis tanpa bersuara.


Rasa rindu yang sudah lama menghilang kini menyeruak keluar. Dia rindu sepasang mata biru yang selalu menatapnya dengan lembut. Dia rindu akan wajah dan dekapan hangat Zack. Ternyata pengorbanan Lily selama ini tidak sebanding dengan pengorbanan yang telah dilakukan Zack.


Pria itu memiliki seorang putri tanpa menjamah tubuh si ibu. Zack juga terluka hanya karena untuk menemui dirinya. Sungguh sangat luar biasa.


"Mommy, kenapa cry?" tanya Emily lembut.


Lily tidak sadar saat Emily berjalan menghampirinya. Memeluk kedua lutut Lily.


"Hiks ... hiks," Emily kecil justru menangis saat melihat Lily menangis.


"Sayang kenapa menangis?" tanya Lily sambil meraih tubuh mungilnya ke dalam dekapannya.

__ADS_1


"I'm sad lihat mommy menangis. Hiks," tutur Emily.


"Aunty tidak apa-apa sayang. Em berhenti menangis ya," bujuk Emily.


"Mommy, please. Em tidak mau dengar 'aunty' lagi. Hiks..." bujuk Emily.


Lily merasa tidak tega saat melihat wajah mungil Emily. Wajah Emily terlihat tulus saat mengatakan ingin memanggilnya 'mommy'. Lily merasa jika Emily sangat merindukan sosok ibu yang selama ini hilang. Apalagi setelah mendengar penjelasan dari Leon. Hati nya semakin sakit saat tahu Amber memperlakukan anak kandungnya sendiri seperti itu.


Harimau saja tidak pernah menerkam anaknya sendiri. Sedangkan Amber dengan mudahnya melakukan itu.


"Ok. Mommy," ucap Lily lembut sambil mengecup pelan kening Emily.


Emily tersenyum mendengar ucapan Lily.


"Mommy, mommy, mommy!" teriak Emily senang sambil menghujani wajah Lily dengan ciuman.


"Hahaha. Hentikan sayang. Kita bisa jatuh dari kursi," ucap Lily.


Emily langsung menghentikan gerakannya.


"Uncle dengar! Em sekarang punya mommy beneran. Bisa gendong, bisa peluk, bisa cium. Em senang sekali," ucap Emily sambil tertawa.


...✳️✳️✳️...


"Terima kasih sudah membantuku," tutur Nana pada room boy yang tadi menjaga box-box kue dan mengantarnya ke dalam salah satu hall hotel.


"Sama-sama nyonya. Saya permisi," ucap room boy itu sopan.


Nana sudah menyelesaikan tugasnya. Kue-kue yang dibuat olehnya telah tersusun rapi dia tas meja yang sudah disediakan. Nana segera melangkahkan kedua kakinya ke arah lift. Dia ingin segera kembali menemui nona Emily dan Lily. Sebelum Nana turun ke bawah, Lily sempat memberitahu Nana untuk kembali ke kamarnya di lantai lima.


Wanita paruh baya itu segera berjalan menuju lift tanpa memperhatikan sekelilingnya. Saat akan memasuki lift, seorang pria memanggil namanya.


Sosok yang di lihat Zack ternyata tidak salah. Sosok itu adalah seorang wanita paruh baya. Saat kehilangan pandangan dari sosok itu, Zack sudah tidak terlalu peduli lagi. Dia tidak ingin menambah pusing kepalanya.


Akan tetapi, saat akan berjalan menuju lift. Zack melihat wanita paruh baya itu berjalan ke arah lift. Zack sangat mengenal wanita itu. Dia segera berlari, berusaha mengejarnya. Wanita paruh baya itu hampir memasuki lift. Pintu lift yang terbuka masih ditahan oleh salah seorang pengunjung hotel. Tak ingin kehilangan wanita paruh baya itu. Zack berteriak dengan kencang.


"Nana!" teriak Zack.


Nana yang mendengar suara seorang pria yang memanggilnya, segera membalikkan tubuhnya. Nana sangat terkejut melihat tuannya berada disana. Mereka hanya berjarak beberapa meter saja. Nana segera berlari menghampiri dan membuka tuannya itu. Tangisnya pecah saat memeluk Zack.


"Tu-an," ucap Nana terbata sambil menahan tangis.

__ADS_1


Zack memeluk Nana dengan erat. Dia merasa sangat lega saat memeluk Nana.


"Nana, kalian kemana saja?" tanya Zack.


Air mata Zack tanpa permisi keluar dari kedua matanya. Dia tidak peduli jika semua orang di hotel mengatainya pria cengeng.


"Kami berada di kota ini tuan," jawab Nana.


Zack melepaskan pelukannya. Kedua matanya mencari sosok kecil yang sangat dirindukannya.


"Nana, dimana Em?" tanya Zack tidak sabar.


"Ayo tuan, ikut aku!" ajak Nana.


Nana memencet tombol agar lift segera turun.


"Apa Em baik-baik saja?" tanya Zack.


"Sangat baik tuan," jawab Nana sambil mengelap sisa air matanya dengan ujung lengan bajunya.


Ting


Pintu lift terbuka. Zack dan Nana segera memasuki lemari besi berjalan itu. Nana memencet tombol 5 di sisi kanan pintu lift.


"Aku sudah mencari kalian kemana-mana. Aku hampir putus asa. Kau tahu Nana, hidup tanpa Emily bagai sayur tanpa garam," jelas Zack.


"Aku tahu tuan seperti apa rasanya berpisah dengan orang yang sangat disayangi," tutur Nana.


Ting


Pintu lift terbuka. Nana dan Zack segera berjalan keluar dengan Nana yang memimpin jalan. Sesampainya di depan kamar. Nana segera memencet bel.


"Em dengan siapa, Nana?" tanya Zack.


Pintu kamar terbuka. Menampilkan sosok Leon sambil tersenyum. Zack yang melihatnya hanya bisa menaikkan sebelah alisnya. Baru saja Zack akan melangkahkan kaki kanan masuk ke kamar, suara lembut itu menghampiri telinganya.


"Hai Daddy!"


Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recomended banget loh... yukss mampir😘😘😘


__ADS_1


__ADS_2