
Semua orang yang berada di hall tertawa melihat kelakuan Zack. Entah apa yang dipikirkan oleh Zack. Dia tidak peduli dengan opini orang lain tentang dirinya yang berusaha merayu seorang gadis kecil berusia tiga tahun.
Namun, mereka takjub dengan aksi Zack yang menunjukkan ketulusan hatinya. Beberapa kaum hawa justru menasehati pria mereka untuk berlaku sama seperti Zack. Zack dijadikan bahan percontohan bagi kaum hawa.
Emily tertawa melihat aksi Daddy-nya. Dia merasa sangat senang saat Daddy nya seperti itu.
"Please, Em!" pinta Zack.
"Em sayang, lihat! Cincinnya kebesaran untuk jari tangan Em," Nana membuka suara untuk membantu tuannya.
Emily melihat cincin yang bergelantung di jari telunjuknya. Dia melihat cincin itu dengan seksama. Kemudian, Emily berusaha menggerakkan jari telunjuk, dan mulai menggoyangkan jari telunjuknya.
Jari telunjuknya bergerak berputar dari perlahan hingga semakin cepat. Pantulan berlian sangat memukau, sehingga menarik perhatian Emily. Gadis itu tertawa saat melihat cincin itu bergerak berputar di hari telunjuknya.
"Mommy, look! Cantik," seru Emily.
Lily hanya bisa tersenyum. Toh, cincin itu masih belum sah menjadi miliknya. Lain halnya dengan Zack dan Leon. Mereka terlihat sangat khawatir. Emily semakin kencang memutar jari.
Swing
Sebuah benda dengan kilatan cahaya terbang dari jari telunjuk gadis mungil. Empat pasang mata yang dari tadi terlihat khawatir langsung mengikuti arah cahaya berlian.
Benar saja, ketakutan mereka terjawab. Cincin tunangan Zack terbang bebas, dan mendarat entah kemana.
"Hahahaha," Rafa tertawa terbahak-bahak saat melihat Zack harus kehilangan cincin tunangan dengan sengaja.
Pelaku yang menerbangkan cincin tunangan, tak lain adalah putrinya sendiri. Ingin marah, tentu saja Zack tidak bisa. Dia hanya bisa menerima dengan sukarela.
Sangat sulit untuk menghentikan suara tawa Rafa. Dia sampai berjongkok saat melihat kemalangan menimpa Zack. Jika saja Liora tidak mencubit lengannya, sudah pasti Rafa tidak akan pernah berhenti menertawakan Zack.
"Auw, sakit sayang!" keluh Rafa.
Liora hanya melototkan kedua matanya. Dia sudah lelah berdiri dari tadi, mengalami dan meladeni setiap tamu yang mengucapkan selamat padanya, dan berbincang sebentar dengan mereka.
Setelah mendapat cubitan cinta dari tunangannya, Rafa segera memperbaiki postur tubuhnya. Dia berdiri tegap, dan menggandeng Liora berjalan menuju meja Lily.
"Perlu bantuan, bro?" tanya Rafa menawarkan bantuan.
Zack dan Leon sedang sibuk menyisir karpet menggunakan tangan mereka. Mereka sedang sibuk mencari cincin tunangan Zack. Sangat tidak mungkin jika cincin bisa terpelanting di atas karpet. Setidaknya hanya bergeser beberapa inci saja.
Rafa yang sudah mengetahui letak cincin, segera menggeser kaki kanannya. Dia berdiri membelakangi cincin.
__ADS_1
Jahil dikit ngga apa kan. Lagian enak banget lu, numpang tunangan pas di acara tunangan gue! Gerutu Rafa dalam hati.
Tanpa disengaja, Liora juga melihat Rafa yang dengan sengaja menyembunyikan cincin Zack. Emily kecil yang tidak mengerti dengan apa yang telah dilakukannya justru bertepuk tangan dan tertawa.
Bagaimana Zack bisa memarahi putrinya yang bertingkah sangat menggemaskan.
Ya ampun, nona. Perih di keningku saja belum sembuh, sudah harus mencari cincin lagi. Batin Leon. Hal yang sama juga dialami Leon. Dia sudah hafal betul jika nona mudanya sangat suka dengan sesuatu yang berkilau. Keturunan dari Amber.
"Mommy, cincin cantik tadi terbang. Lihat! Daddy dan uncle sedang mencarinya, yeay," ucap Emily sambil tertawa dan bertepuk tangan.
Lagi-lagi, Lily hanya bisa tertawa. Setidaknya kenakalan Emily memberimu sedikit pelajaran, Zack. Acara melamar-mu jadi kacau. Hihihi. Batin Lily.
"Auw!" teriak Rafa.
"Mengapa aku di cubit lagi?" tanya Rafa sambil menatap Liora.
"Minggir!" perintah Liora.
"Mengapa aku harus minggir?" tanya Rafa berpura-pura tidak mengerti.
Liora melototkan kedua matanya lagi. Rafa seperti terhipnotis jika Liora sudah seperti itu. Dari sekian banyak wanita, dia hanya takut pada Liora. Bukan berarti dia tidak bisa mengendalikan Liora. Hanya saja, Rafa membiarkan hal seperti itu tetap seperti asalnya agar dapat mengendalikan dirinya.
Rafa menatap Liora dengan tatapan memelas, dia berharap agar Liora dapat memberinya tambahan waktu untuk mengerjai Zack.
Liora tampak sangat lelah. Akhirnya, Rafa memutuskan untuk menyudahi sedikit kejahilannya. Dengan berat hati, dia menggeser kaki yang menutupi cincin. Rafa menurunkan berat tubuhnya. Dia kini berjongkok sambil mengambil cincin yang tadi di sembunyikan.
"Ini," ucap Rafa sambil memberikan cincin pada Zack.
Zack yang tadinya terlihat sedikit frustasi dan lelah, bisa bernapas lega.
"Thanks, bro," jawab Zack sambil meraih cincin.
Zack ingin mengulang kembali momen saat menautkan cincin ke jari manis Lily. Akan tetapi, lengannya di tahan oleh Rafa.
"Tunggu!" perintah Rafa sambil berdiri.
"Hai Em!" sapa Rafa.
"Uncle Rafa," jawab Emily cepat.
Gadis kecil sangat senang saat melihat Rafa. Terkahir kali mereka bertemu saat di restoran sebuah mall.
__ADS_1
"Ya. Uncle Rafa. Lama tidak bertemu dengan Em," tutur Rafa.
"Iya. Em juga rindu uncle," jawab Emily antusias.
"Kalau Em rindu sama uncle. Ayo, sini beri uncle pelukan," pinta Rafa.
Emily segera menggapai kedua tangannya di udara ke arah Rafa. Tanda gadis kecil itu minta di gendong. Emily kini berpindah ke dalam gendongan Rafa dengan cepat.
Gadis kecil itu mendaratkan kecupan kecil pada Rafa dan Liora.
"Hai aunty!" sapa Emily setelah mencium pipi Liora.
"Hai little Em," sapa Liora.
"Nah, sekarang Em main dulu sama uncle dan aunty di sana, ok!" bujuk Rafa.
"Ok. Dah mommy," ucap Emily sambil mengecup telapak tangannya sendiri dan melambaikan tangan.
Rafa sempat menoleh ke belakang dan berkata pada Zack.
"Aturan paling penting. Jangan pernah membawa anak saat akan melamar! Hasilnya? Benar-benar kacau?" seru Rafa sambil berjalan meninggalkan Zack dan Leon.
"Astaga, cepat sekali nona muda melupakan anda, tuan," tutur Leon.
Dengan santainya, Leon meletakkan tangan kiri ke atas pundak kanan Zack. Mereka menatap kepergian Emily dengan perasaan bingung. Tapi tidak berlaku nagis Zack. Dia senang Emily sedikit melupakannya dirinya setelah bertemu dengan 'mommy' yang sangat menyayanginya.
Zack merasakan pundak kanannya terasa sangat berat. Saat dia menoleh ke kanan. Leon dengan santai bertumpu pada dirinya. Zack segera bangkit. Sedangkan tubuh Leon terhempas. Gerakan spontan dari Zack membuat dirinya tidak sempat menyeimbangkan tubuh. Alhasil, Leon sukses menjadi bahan tertawaan malam ini.
Dasar tuan. Begini nih nasib asisten. Batin Leon.
"Ya ampun, Lily. Cuman tinggal masukin cincin ke jari manis elu aja, susah banget deh!" seru Naya.
"Hihihi. Biarin aja. Sekali-kaki ngerasain kejahilan Emily," balas Lily.
Perasaan Lily semakin tidak karuan saat Zack memulai kembali aksinya.
💕💕💕
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recomended banget loh. Yukss ... mampir
😘😘😘
__ADS_1