
Zack, Emily, dan Nana telah tiba di bandara Soetta. Mereka keluar melalui terminal tiga. Leon sudah menyiapkan hatinya saat melihat tuan nya berjalan keluar bandara. Dia sudah tahu tuannya itu pasti akan menyemprotnya perihal tadi pagi. Bukannya dia sengaja untuk tidak menjawab panggilan dari tuannya.
Leon segera membuka pintu mobil untuk Nana dan nona muda Emily. Zack membuka sendiri pintu mobilnya. Dia duduk di belakang kemudi. Melihat perbuatan Zack, Leon hanya bisa menghela napas. Dia segera membuka pintu di sampingnya. Kali ini dia tidak berani bersuara. Dia membiarkan tuannya yang mengendarai mobil.
Zack meninggalkan parkir bandara perlahan. Dia mengarahkan mobilnya kembali ke mansion untuk mengantar Emily dan Nana terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan itu tidak ada yang membuka suara. Termasuk Emily, dia tertidur tidak berapa lama setelah mobil keluar dari halaman parkir bandara. Jam satu siang memang jam tidurnya. Wajar saja jika Emily tertidur.
"Cari tahu keberadaan Rafa!" perintahnya pada Leon.
"Baik tuan," jawab Leon. Dia segera mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang. Orang itu tidak lain adalah Bram.
Tut ... Tut ...
Panggilannya di jawab pada bunyi kedua.
"Halo," sapa Bram.
"Bram, tuan Zack ingin mengadakan pertemuan dengan tuan Rafa. Apa bisa kau atur waktunya hari ini?" tembak Leon.
"Tuan Rafa?" tanya Bram.
"Ya ampun Bram. Memangnya kau ada berapa tuan?" tanya Leon.
"Ya cuma satu," tukas Bram.
"Jadi apa bisa?" tanya Leon.
"Bagaimana mau ada pertemuan. Tuan Rafa saja tidak ada di kantor," jawab Bram santai.
"Jadi dimana tuan Rafa?" tanya Leon penuh selidik. Dia berusaha untuk memancing Bram agar memberitahu keberadaan tuan Rafa padanya.
"Aku tidak tahu," jawabnya singkat.
"Bagaimana kau bisa tidak tahu keberadaan tuan mu? Kau kan asistennya."
"Iya aku memang asistennya, tapi bukan baby sitter nya," jelas Bram.
"Auw," Bram teriak tertahan karena seseorang menginjak kakinya.
"Benar juga. He .. he ..." Ucap Leon sambil terkekeh.
Ehem
Suara berdehem disampingnya membuat dia segera berbicara serius kembali pada Bram.
"Jadi, apa benar kau tidak tahu dimana tuan mu?" tanya Leon.
"Tuan Rafa belum menghubungiku hari ini. Jadi, ya. Aku tidak tahu dimana tuanku berada," jelas Bram.
"Baiklah. Terima kasih informasinya. Hubungi aku jika tuan Rafa bersedia bertemu."
"Ok," jawab Bram singkat.
__ADS_1
Bram memutuskan panggilan telpon dari Leon. Dia segera menatap pria yang berada di sebelahnya.
"Untung saja kau itu bos ku, tuan. Jika bukan sudah ku buat sate ayam," gerutu Bram dalam hati.
"Kau mengumpat ku ya?" tanya Rafa dengan entengnya.
"Mana berani aku tuan," jawab Bram.
"Tapi kedua matamu terasa menusuk ke jantungku," celetuk Rafa.
Tuan nya ini memang sangat berbeda dengan bos-bos muda lain yang pernah di temui Bram.
Tampan sih tampan, tapi kadang agak polos. Mungkin karena sahabatnya hanya nona Lily dan nona Naya.
"Jadi tuan, kita harus bersembunyi sampai kapan?" tanya Bram.
"Kita? Lu aja kali gue engga," jawabnya adalah sambil memainkan ponselnya.
Rafa melihat Bram mengepal kedua tangannya. Dia tahu jika Bram tersulut emosinya sedikit karena keusilannya.
"Eh, mau marah?" tanya Bram santai.
"Mana aku berani tuan," ketus Bram.
"Lah itu marah!" seru Rafa.
"Ah, sudahlah tuan. Benar saja apa yang dikatakan nona Lily dan nona Naya."
"Tidak ada tuan."
"Tadi katamu ada!"
"Tidak ada tuan."
"Ada."
"Tidak ada"
"Ada," desak Rafa ketiga kalinya.
"Tidak ada tuan Rafa," jawab Bram.
Dia tidak tahu kapan akan berakhir perdebatan yang sangat tidak berbobot ini. Dia menyalahkan mulut dan hatinya yang sama sekali tidak bekerjasama dengan baik. Si hati mudah tersulut emosi. Sedangkan si mulut dengan santainya keceplosan. Pada akhirnya Bram menyalahkan dirinya sendiri.
"Sudah lah, aku lelah," ucap Rafa santai.
"Tuan, apa aku boleh bertanya?"
"Tanya saja," ucap nya santai.
"Bagaimana cara tuan bisa menggunakan bahasa yang berbeda antara sahabat dan klien?" tanya Bram. Sebenarnya ini bukanlah pertanyaan yang ingin dia utarakan.
__ADS_1
"Maksudmu dengan Lily dan Naya?" Rafa BB malah balik bertanya.
"Oh Tuhan, mengapa tuannya hari ini sangat menyebalkan setelah pulang dari liburan," gerutu Bram dalam hati.
"Iya tuan. Memangnya tuan ada sahabat yang lain?"
"Heh, iya juga ya. He... he ..." Rafa terkekeh sambil memutar kursinya menghadap Bram.
"Tentu saja berbeda. Itukan bahasa sehari-hari kami, jadi harus dibedakan dengan yang lain. Apalagi kalian yang para bule kw pasti bingung jika aku menggunakan bahasa yang sama dengan mereka," jelas Rafa.
"Terus tuan, bagaimana dengan nona Lily?" tanya Bram.
"Ada dengan Lily?"
Si tuannya ini selalu kebiasaan, setiap ditanya pasti balik bertanya. Untung saja stok sabarnya sudah diisi ulangnya dari rumah.
"Apa anda tidak sadar tuan, jika anda terlalu mengatur hidupnya nona Lily!" seru Bram.
"Oh, tentu saja. Itu karena aku menyayanginya."
Jawaban Rafa membuat Bram sedikit terkejut. Sebenarnya dia sudah curiga sejak lama. Tuannya itu sangat memperhatikan nona Lily sudah sangat lama. Tentu saja semua itu beralasan. Tuannya pernah memintanya untuk meletakkan teleskop mini di ruang rapat ekslusif.
Alasannya sangat unik sekali waktu itu. Katanya agar dia bisa melihat bintang jika suntuk menyerangnya saat rapat atau kliennya menjelaskan dengan sangat membosankan.
Pada saat itu Bram menerima dan menjalankan perintahnya karena dia pikir tuannya itu tidak menyukai kegiatan yang berbau rapat. Tapi setelah teleskop mini itu terpasang di salah satu jendela, Bram baru menyadari sesuatu. Teleskop itu digunakan untuk melihat keadaan di luar gedung kantor, dan arah pandangnya ke bawah.
Dia yang lulusan S2 di Inggris dengan lulusan terbaik saja, sempat berpikir "Kapan bintang pindah ke bawah, di halaman parkir pula. Dan sejak kapan bintang munculnya di siang hari." Rapat selalu diadakan pada pagi hari atau menjelang sore. Tidak pernah sekalipun rapat diadakan pada malam hari, meskipun ada masalah kantor yang mendesak.
"Sejak kapan kau belajar termenung?" tanya Rafa sambil menepuk pundak Bram.
Bram segera menyadari dirinya sempat termenung mengingat sesuatu yang sudah sangat lama itu.
"Tuan!" panggilnya karena melihat Rafa yang berjalan keluar dari ruang kerjanya di apartemen.
"Apa lagi?" tanya Rafa. Dia sampai menghentikan langkahnya.
"Bagaimana dengan nona Liora?"
"Kau itu sedang terserang penyakit ya?"
"Tidak tuan," jawab Bram segera.
"Iya. Kau itu sedang terserang penyakit kepo akut," ucap Rafa sambil meninggalkan Bram di ruang kerjanya.
Bram tidak habis pikir dengan yang dilakukan oleh tuannya. Dia menyayangi dua orang wanita sekaligus. Bagaimana perasaan kedua wanita itu jika mengetahui hal ini. Dia bergidik ngeri membayangkan apa jadinya jika nona Lily mengetahui perasaan tuan Rafa padanya.
Dia menggelengkan kepalanya. Tidak ingin larut dengan urusan pribadi tuannya itu. Yang terjadi nanti biarlah terjadi. Urusan cinta memang repot. Lebih baik mengurus pekerjaan.
Bram segera melanjutkan pekerjaannya setelah tadi terjeda karena panggilan telpon dari Leon.
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended loh! Yukss mampir!😘😘😘
__ADS_1