
Brak ...
Amber menggebrak meja makan. Untung saja meja makan itu terbuat dari bahan yang sangat berkualitas. Jika tidak, pasti sudah sedikit retak. Wanita jika emosinya sudah di puncak pasti kekuatannya bisa berkali-kali lipat besarnya.
Maid yang dilontarkan banyak pertanyaan itu hanya bisa diam. Dia bingung bagaimana harus menjelaskannya pada nyonya Amber. Dia hanya diberitahu oleh pengawal jika nona muda Emily dan tuannya sedang berlibur. Dia juga yang membereskan koper mereka. Karena saat itu Nana dan Emily sedang berada di luar.
"Maaf nyonya, saya hanya disuruh mengemasi pakaian Nana dan nona muda Emily," jelas maid masih menundukkan kepalanya.
"S**t!" umpat Amber.
Maid yang tadi hendak ke dapur mengambil makanan untuknya tidak berani melangkahkan kakinya kembali. Dia berdiri diam seperti patung. Amber semakin emosi saja melihatnya.
"Kau pergi sana! Siapkan makananku!" perintah Amber pada maid.
"Baik, nyonya." Maid langsung bergegas meninggalkan ruang makan. Dia setengah berlari ke dapur karena tidak ingin dimarahi lagi oleh nyonya Amber.
Kepalanya terasa berdenyut sangat kuat. Dia sampai memegang kepalanya dengan kedua tangan. Rasa pusing kini tengah menghantam kepalanya.
Maid yang tadi mempersiapkan makanan untuknya sudah kembali dan makanan sudah tersaji diatas meja makan.
"Kapan mereka pergi?" tanya Amber.
"Saya kurang yakin nyonya," jawab maid.
"Bagaimana kau tidak yakin?" tanya Amber. Dia menatap tajam maid itu.
"Karena yang selalu berada di samping nona Emily adalah Nana. Kami tidak terlalu memperhatikan. Sekitar jam tujuh malam mereka memang sudah tidak terlihat," jawab maid panjang.
"Tidak mungkin Zack mengetahui yang terjadi padaku. Argh, mengapa kebetulan sekali," gerutu Amber pelan.
"Pergilah!" perintah Amber.
"Baik, nyonya."
Amber tidak ingin merusak suasana hatinya lagi. Dia harus mengisi energi jika harus bertempur. Hari ini baru hari pertama. Masih ada dua hari lagi.
Setelah selesai dengan ritual makannya. Dia segera meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamarnya. Dia ingin segera menghubungi Leon. Pria itu pasti mengetahui tempat tujuan liburan Zack.
Tut ... Tut ...
"Halo," sapa Leon.
"Halo, Leon. Aku tidak akan berbasa-basi. Kemana Zack pergi liburan kali ini?" tanya Amber.
__ADS_1
"Anda terlihat khawatir, nyonya?" Leon balik bertanya pada Amber.
"Oh, tidak. Aku biasa saja. Aku hanya bingung. Bukannya mereka baru saja kembali dari liburan. Mengapa sekarang pergi lagi?" tanya Amber.
"Anda khawatir tentang tuan Zack atau nona muda Emily, nyonya?" tanya Leon selidik.
"Tentu saja Zack," jawabnya cepat.
Leon mendengus kasar mendengar jawaban nyonya nya itu.
"Nyonya, tuan Zack sedang dalam perjalanan bisnis. Semenjak kunjungan terakhir tuan James, perhatian beliau lebih intens terhadap putrinya. Untuk itulah tuan Zack selalu mengajak nona muda Emily," jelas Leon.
"Kemana tujuan mereka, Leon?" tanya Amber. Dia terdengar sangat tidak sabar mengetahui kemana Zack membawa Emily.
"Moscow, nyonya!" seru Leon.
"Apa? Sejauh itu?" tanya Amber tidak percaya.
Perasaannya semakin kacau. Dia mengira Zack hanya membawa Emily sekitar Indonesia saja seperti tempo hari.
Tadi, di saat makan, dia berpikir untuk membawa Emily ke hadapan Brandon. Dia akan meminta Brandon untuk melakukan tes DNA. Dengan begitu Brandon akan puas dan tahu jika dia tidak berbohong sama sekali mengenai Emily.
"Iya nyonya. Sejauh itu," jawab Leon.
Suara di seberang sana yang menghubungi Leon seketika lenyap. Leon memperhatikan layar ponselnya. Ternyata, nyonya nya itu sudah memutuskan sambungan telponnya.
"Telat sekali dugaan tuan," ucap Leon.
Dia segera menatap layar ponsel lagi dan segera menghubungi tuannya. Dia melaporkan segala hal yang tadi dibicarakan dengan nyonya Amber.
* * *
Hari kedua
Kemarin Amber tidak bisa melakukan hal apapun. Dia hanya berdiam diri di rumah. Dia merenungi semua yang telah terjadi padanya.
Ada sedikit rasa penyesalan yang menyelimuti hatinya. Dia menyesal mengapa tidak mendekatkan dirinya pada Emily. Jika saja dia dekat dengan Emily pasti akan sangat mudah membawanya pergi bertemu Brandon. Dia tidak akan merasa pusing saat ini.
Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Dia bangun lebih awal hari ini. Tadi malam dia sengaja meminum obat tidur agar dapat terlelap dengan cepat. Kebiasaan ya jika sedang dilanda kekalutan, dia pasti akan sangat susah tidur.
Ting ... Ting...
Bunyi notifikasi ponselnya. Amber segera meraih ponsel yang berada diatas nakas. Dia membuka kunci layar ponsel dan membaca pesan masuk dari nomor yang sama seperti kemarin.
__ADS_1
..."Amber, hari ini hari kedua. Aku harap mendapat kabar baik darimu."...
Brandon
Amber segera menghempaskan ponsel itu ke lantai marmer putihnya. Sempurna. Layar ponsel itu retak. Dia melemparnya sangat kuat. Tidak sampai disitu. Amber semakin menjadi-jadi merusak ponselnya. Dia melemparnya berkali-kali ke lantai.
Jika ada seseorang yang melihatnya saat ini, pasti dia sudah dikira sudah gila. Dia meluapkan semua emosinya. Puas dengan perbuatannya, dia terduduk di lantai. Jangan ditanya lagi bentuk ponselnya seperti apa.
Melihat ponselnya yang hancur, terbesit sedikit ketenangan di dalam hatinya. Mengapa dia begitu bodoh. Bukannya dia bisa mengganti nomor ponsel saja sehingga Brandon tidak akan bisa menghubunginya.
Dia bangkit dari duduknya di lantai. Dia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Dia turun ke lantai bawah dengan tergesa-gesa.
"Dimana kepala pelayan?" tanya Amber pada salah seorang maid yang dia temui di tangga.
"Pak Will ada di halaman belakang nyonya," jawab maid dengan sopan.
"Panggilkan dia sekarang! Suruh dia menemui ku di ruang tamu!" perintah Amber.
"Baik, nyonya."
Amber menuruni anak tangga lagi dan sampai ke lantai dasar. Dia berjalan menuju ruang tamu dan duduk di salah satu sofa.
Beberapa saat kemudian, pak Will datang. Dia memberi hormat pada nyonya nya itu.
"Anda memanggil saya, nyonya?" tanya pak Will sopan.
"Kau berikan aku ponsel dan nomor baru sekarang!" perintah Amber.
"Baik nyonya," jawab pak Will sambil menundukkan kepalanya sedikit.
Pak Will tidak pergi dari ruang tamu itu. Dia segera menghubungi seseorang untuk datang segera dengan ponsel dan nomor terbaru. Dia sengaja melakukannya di depan nyonya nya itu agar dia tahu keinginannya akan segera terpenuhi.
Setelah menyampaikan tujuannya pada si penerima telpon. Pak Will segera mengakhiri sambungan telpon itu. Dia segera undur diri dari hadapannya nyonya nya.
"Apa ada yang lain lagi nyonya?" tanya pak Will sopan.
"Tidak ada. Kau boleh pergi sekarang!" perintah Amber dengan ketusnya.
Pak Will membungkukkan badannya sedikit lalu pergi meninggalkan nyonya nya itu di rumah tamu.
Sepeninggal pak Will, Amber terlihat tersenyum lebar. Dia kini bisa terbebas dari Brandon.
"Kenapa hal semudah ini tidak terpikirkan olehku dari kemarin," ucapnya pada diri sendiri.
__ADS_1