Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 6. Sahabat Terbaik


__ADS_3

Diamnya Lily membuat Rafa tak tenang. Sudah lebih dari tiga puluh menit Lily terdiam sambil memainkan ujung bajunya. Suara tangis yang dia tunggu-tunggu juga tak kunjung terdengar.


Rafa semakin frustasi melihat keadaan Lily. Rafa juga menyalahkan dirinya yang kemungkinan besar sangat salah memberikan informasi yang didapatnya dari Bram dengan segera. Tapi mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur dan tak mungkin berubah menjadi nasi lagi. Rafa mengusap wajahnya berulang kali dengan kasar.


Lain halnya dengan Naya. Naya juga ikut terdiam. Biasanya Naya akan berteriak atau apapun akan dilakukannya saat mendengar sesuatu yang benar-benar gila. Naya terdiam bukan tanpa alasan. Dia hanya tidak ingin menyulut kesedihan Lily. Naya berusaha menahan dirinya untuk tidak memperlihatkan respon yang berlebihan.


Ketiga sahabat itu kini terdiam dan tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing. Tanpa terasa dua jam telah berlalu. Naya dan Rafa hanya saling pandang tanpa berani bersuara.


"Apa aku tidak pantas untuknya? Apa aku memiliki banyak kekurangan? Apa aku tidak cantik? Apa aku .... ?" ucapan Lily terhenti saat Naya tiba-tiba memeluknya dengan erat dan menangis sekencang-kencangnya.


Rafa terkejut mendengar Naya yang tiba-tiba menangis. Setahu dia, Naya itu tidak cengeng seperti Lily. Tapi kini, suara tangisnya malah lebih kencang dari tangisan Lily tadi.


Karena tangisan Naya yang kencang dan tepat di samping telinga kiri Lily, sontak membuatnya melerai pelukan Naya. Tapi Naya malah semakin erat memeluk Lily.


"Na-y... Na-y... Lu m-au bu-nuh gu-e, Nay?" tanya Lily dengan sedikit terbata-bata.


Naya mendengar suara Lily yang terbata-bata dan tersadar dengan kelakuannya. Naya melepaskan pelukannya. "So-so-rry ... Ly ...hikss... gu-e ng-ga se-se-nga-ja...hiksss." ucap Naya sambil masih terisak.


"Ngga apa-apa kok, Nay. Udah donk jangan nangis lagi!" pinta Lily sambil mengusap lembut rambut coklat Naya.


"What?" Rafa yang melihat kejadian yang aneh dan konyol di depannya tak tahan untuk berteriak dan langsung berdiri. "Ini yang terpuruk siapa, yang nangis siapa!" Rafa menggerutu kesal dan melipatkan kedua tangannya didepan dadanya.


Lily yang tadinya hendak protes pun mengurungkan niatnya. Lily dan Naya saling bertatapan.


Satu ... dua ... tiga ... empat ... lima ... Hitung Rafa dalam hatinya. Namun, gerakan jari tangannya terlihat berhitung.


Haaa ... haaa ... haaa ...


"Pas di hitungan kelima." ucap Rafa pelan yang hanya bisa didengar olehnya. Rafa kemudian mengambil ponsel di saku celananya. Rafa ingin memotret ekspresi jelek kedua sahabatnya itu. "Kapan lagi bisa dapet foto aib mereka." Rafa terkekeh dengan idenya sendiri. Foto itu akan disimpannya sebagai senjata kalau-kalau dua sahabatnya itu akan membuatnya repot suatu hari nanti.


Suara tawa dua gadis itu menggelegar di seluruh ruangan kamar Lily. Mereka tertawa sampai mengeluarkan air mata. Setelah beberapa saat mereka tertawa, tawa mereka terhenti ketika mendengar suara jepretan kamera dari ponsel Rafa. Rafa langsung menyudahi kelakuannya dan segera menyimpan ponselnya kembali sebelum Lily dan Naya merebutnya.


"Ngapain?" tanya Lily dengan curiga.


"Ngga ngapa-ngapain. Tadi screenshoot dokumen yang dikirim Bram." jawab Rafa.

__ADS_1


"Tapi kok kayak bunyi jepretan kamera?" tanya Lily lagi dengan curiga.


Rafa menelan salivanya dengan susah payah. "Hari ini hape gue, gue on in suaranya biar kedengeran. Takut ada yang penting dari Bram." jawab Rafa asal.


"Oohh... Nay, lu udah baikan?" Lily menjawab sekenanya dan bertanya ke Naya.


Bukannya mendapat jawaban, Lily malah mendapat jitakkan dari Naya.


Pletakkk...


Lily refleks mengusap keningnya dengan kedua tangannya. "Ssshhhh... sakit tau, Nay!" ucap Lily sambil menahan sakit di keningnya.


"Lagian elu... nanya ngga berbobot. Yang lagi berduka itu kan elu, bukan gue. Malah elu yang nanyain keadaan gue. Lily... Lily..." ucap Naya sambil menggelengkan kepalanya.


Lily menghentikan mengusap keningnya. Kedua alis matanya bertaut tandanya dia sedang berpikir keras.


"Lhaa... iya ya, Nay." Lily menjawab sambil tertawa akan kekonyolannya.


"Akhirnya, sadar juga temen gue ini." ujar Rafa sambil menengadahkan kedua tangannya seperti berdoa.


"Raaafffaaa..." teriak Lily dan Naya bersamaan.


Kkkrruuuyyuuukkk ...


Rafa dan Naya spontan melihat Lily. Suara perut itu berasal dari perut Lily. Lily tersenyum malu saat kedua sohibnya memperhatikannya.


~Kruuyyuukk~


~Kroookkk~


Bagaikan irama musik yang bersahutan, kini suara perut Naya dan Rafa yang berbunyi berbarengan. Mereka bertiga lagi-lagi menertawai keadaan mereka yang konyol.


"Eh... suara perut lu kok gitu ,Fa? kayak ada kodoknya." tanya Naya sambil tertawa terbahak-bahak.


Tak mau kalah dengan godaan Naya. Rafa membalasnya dengan sebuah ancaman. "Gue hitung sampe tiga kalo lu berdua ngga siap-siap, gue tinggalin pergi makan. Ngga gue traktir!" ucap Rafa penuh penekanan sambil berlalu pergi keluar dari kamar Lily.

__ADS_1


Lily dan Naya tentu saja tak mau kesempatan makan gratis itu hilang begitu saja. Maklum bagi mereka berdua yang notabenenya anak kos, traktiran bisa memperpanjang usia dompet mereka.


Lily dan Naya segera merapikan diri dan berlari menyusul Rafa. Rafa yang baru saja hendak membuka pintu mobilnya, tiba-tiba kaget melihat dua sahabatnya yang sudah muncul di samping pintu mobil belakang.


"Busseett dahhh... giliran makan gratis cepet yeee lu berdua." ucap Rafa sambil masuk ke dalam mobilnya.


Lily dan Naya hanya tertawa cengengesan. Lily dan Naya masuk ke mobil dan duduk di kursi penumpang dengan santai.


"Eittsss ... satu orang pindah. Enak aja dua-duanya di belakang. Emangnya gue supir!" gerutu Rafa pada kedua sahabatnya.


Lily dan Naya memonyongkan bibir mereka ke arah Rafa. Supaya adil, Lily dan Naya biasanya akan suit. Yang kalah bearti harus duduk di kursi depan.


"Yess... gue menang!" Lily bersorak dengan riang. Naya yang kalah terpaksa pindah ke kursi depan. Setelah semuanya siap, Rafa menghidupkan mesin mobilnya. Tapi sebelumnya Rafa ingin memastikan sesuatu kepada Lily.


"Are you okay?" tanya Rafa dengan perhatian. Naya pun menoleh ke belakang melihat Lily.


Tak butuh waktu lama Lily pun menganggukkan kepalanya dan berkata "I'm absolutely okay. (aku sangat baik-baik saja)" jawab Lily dengan mantap sambil mengarahkan dua jempolnya dan mengedipkan sebelah matanya kepada Rafa dan Naya.


"Udah ngga terpuruk lagi?" giliran Naya yang bertanya.


"Ngga donkk.." jawab Lily dengan cepat.


Rafa membalikkan tubuhnya menghadap Lily. "Ly... gue sama Naya tu sayang banget sama elu. Kita berdua sedih kalo lu sampe harus kek gini. Janji ya, lu harus move on dan hidup normal lagi." pinta Rafa dengan tulus. Naya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan Rafa.


Melihat ketulusan di mata kedua sahabatnya. Membuat perasaan Lily menghangat. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Eitsss... ngga ada nangis-nangis lagi." perintah Rafa.


Lily tertawa mendengar perkataan Rafa. "Ini tuh, aku terharu. Bahagia banget aku punya sahabat kalian. Sahabat terbaik aku." Lily tak ingin Rafa salah paham dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Ooohh...so...sweeeettttt..." Naya menirukan gerakan berpelukan dari jauh karena tubuh mereka terhalang oleh kursi mobil.


"Lagian stok air mata gue udah habis, Fa. Ntar singgah ya, buat isi ulang." ucap Lily dengan santainya.


Mereka bertiga kembali tertawa mendengar kekonyolan Lily. Rafa mulai melajukan mobilnya menembus ramainya jalanan ibukota.

__ADS_1


Lily menatap keluar jendela mobil. Lily berusaha untuk memejamkan kedua matanya. Disaat memejamkan kedua matanya, Lily ingin mengenang kembali semua kenangannya akan Zack. Lily ingin men-delete satu persatu kenangan Zack termasuk mata biru dan senyum manisnya. Lily berharap saat membuka matanya nanti, semua kenangan itu akan terhapus sempurna.


"It's Truly Madly Love" gumam Lily pelan dan menutup matanya perlahan.


__ADS_2