Villain System

Villain System
107. Amori


__ADS_3

Beberapa menit kemudian Graham melihat pria paruh baya berkulit coklat kembali. "Penyihir agung. Jika anda lelah. Anda bisa beristirahat di kamar Amori." Pria paruh baya tersenyum kepada Graham.


"Tidak, aku akan pergi dari sini." Kata Graham berdiri dari kursi.


"Ahh, anda sudah ingin pergi." Pria paruh baya terkejut.


"Benar, tidak ada manfaatnya aku tinggal lebih lama disini." Balas Graham.


"Amori ucapkan salam perpisahan kepada orang tuamu." Kata Graham keluar dari rumah.


"Baik penyihir agung." Amori mengangguk kemudian mengucapkan salam perpisahan kepada orang tuanya.


"Penyihir agung. Saya sudah mengucapkan salam perpisahan dengan orang tua saya." Kata Amori.


"Jika begitu, kita akan pergi dari sini." Graham memeluk Amori kemudian terbang ke langit.


"Ahhh." Amori terkejut saat dirinya terbang di langit.


"Lihat penyihir agung terbang ke langit dengan Amori." Teriak seorang pria melihat Graham yang terbang di langit dengan Amori.


"Apa kamu takut ketinggian." Graham melihat Amori yang menutup matanya.


"Emmm." Amori mengangguk.


"Jika sudah terbiasa terbang di langit. Kamu tidak akan takut ketinggian." Balas Graham.


Beberapa menit kemudian Graham melayang turun dari langit dan mendarat di tepi sungai. "Mandilah dan bersihkan pakaianmu." Kata Graham melihat Amori yang mengompol.


"Baik penyihir agung." Amori tersipu malu dan melepas pakaiannya.


"Kamu memiliki tubuh yang bagus." Kata Graham melihat Amori.


"Terimakasih atas pujiannya penyihir agung." Amori tersipu malu dan menutupi dadanya.


"Sudah 1 tahun aku tidak mandi. Jadi aku akan menemanimu mandi." Graham melepas pakaiannya dan berjalan ke arah Amori.


"Penyihir agung milik anda sangat besar." Amori tersipu malu saat melihat burung Graham.


"Jangan panggil aku penyihir agung. Panggilah aku dengan sebutan tuan." kata Graham.


"Baik tuan." Amori mengangguk.


"Kamu memiliki kulit mulus." Kata Graham mengusap perut Amori.


"Emmm." Amori menggerang.


"Meski usiamu baru 19 tahun. Kamu memiliki dada yang besar." Kata Graham meremas dada Amori.


"Emmm, apa tuan tidak menyukai perempuan yang memiliki dada besar." Tanya Amori.


"Tidak, aku suka perempuan yang memiliki dada besar sepertimu." Kata Graham menghisap dada Amori.


"Aahhh." Amori mengerang saat Graham menghisap dadanya.


Graham membaringkan Amori ke tanah dan berkata. "Lebarkan kakimu."


"Baik tuan." Amori mengangguk. "Ahhh." Amori berteriak saat Graham menusuk pussynya.


Beberapa jam telah berlalu. Saat ini Graham berada di tepi sungai bersama Amori yang terbaring di tanah. "Sepertinya aku terlalu berlebihan. Aku lupa kalau dia tingkat Beginner yang tidak jauh beda dengan manusia biasa." Kata Graham melihat Amori.


Graham mengambil pil pemulihan level 1 kemudian memasukan ke dalam mulut Amori. Setelah menelan pil Amori perlahan membuka matanya.

__ADS_1


"Tuan, apa saya pingsan." Tanya Amori.


"Benar, kamu pingsan karena kelelahan." Balas Graham.


"Makan ini." kata Graham memberikan pil spirit level 1 kepada Amori.


"Baik tuan." Amori mengangguk kemudian menelan pil yang diberikan Graham. Amori percaya Graham tidak akan membahayakannya. Merasakan energi di dalam pil. Amori duduk dan mulai berkultivasi, seperti yang di ajarkan Graham padanya.


Melihat Amori yang menyerap energi di dalam pil, Graham berkata. "Munculkan tabel status." Layar status kemudian muncul di depan Graham.


Nama : Graham De Lopez


Usia : 20 tahun


Tingkat : Demi God


Ras : Manusia Setengah Dewa


Strength : 115.000


Agility : 115.000


Vitalitas : 115.000


Stamina : 100.000/115.000


Ki : 105.000/115.000


Poin : 0


"Saat berada di luar angkasa. Aku tidak pernah berkultivasi dan hanya mengkonsumsi pil spirit level 1 sampai 9." Kata Graham melihat statusnya.


"Karena aku sudah menemukan planet yang berpenghuni. Aku akan berkultivasi kembali." kata Graham duduk di tanah dan mulai berkultivasi.


"Ahhh. Tuan cairan hitam apa ini." Amori terkejut melihat cairan hitam yang menyelimuti tubuhnya.


"Cairan hitam itu adalah kotoran tubuhmu. Bersihkan tubuhmu di sungai." Graham melihat Amori.


"Baik tuan." Amori mengangguk dan berjalan ke arah sungai.


"Tuan, apa anda tidak ingin mandi bersama lagi. Amori akan membasuh badan tuan." Kata Amori tersipu malu.


Saat hendak menjawab Amori, Graham melihat beberapa pria yang datang. "Hehehe. Lihat kita menemukan perempuan yang cantik." Kata pria gemuk.


"Meskipun kulitnya coklat. Dia sangat cantik." Kata pria kurus dengan gigi kelinci.


"Dia juga memiliki dada yang besar." Kata pria botak menjilati bibirnya.


"Tuan." Amori ketakutan dan bersembunyi di belakang Graham.


"Di setiap dunia. Pasti ada manusia-manusia berengsek seperti kalian." Graham menghela nafas melihat beberapa pria.


"Apa yang dikatakan pria ini." Pria botak melihat Graham.


Graham mengambil sebuah batu kemudian melemparkan ke arah pria botak. "Buusshh." Batu menghancurkan kepala pria botak.


"Semuanya bunuh dia." Teriak pria gemuk melihat temannya mati.


Graham menciptakan api di tangannya dan berkata. "Terbakarlah." "Wuusshh." Graham membakar semua pria.


"Ahhh." "Tolong jangan bunuh kami." Semua pria berteriak saat tubuh mereka terbakar.

__ADS_1


"Pakai bajumu, kita akan pergi dari sini." Graham melihat Amori yang berdiri di belakangnya.


"Baik tuan." Amori mengangguk kemudian memakai pakaiannya.


Beberapa menit kemudian Graham yang terbang di langit melihat sebuah kota di kejauhan. "Wuusshh." Graham terbang ke arah gerbang kota.


"Lihat ada seseorang yang terbang di langit." Kata seorang penjaga.


"Jika dia bisa terbang di langit. Dia pasti penyihir elemen angin." Balas penjaga lain.


"Wuusshh." Graham mendarat di depan dua penjaga. Graham melihat kedua penjaga kemudian masuk ke dalam kota bersama Amori.


"Ehhh. Kita lupa untuk menanyakan identitasnya." Kata salah satu penajaga.


"Bodoh. Dia adalah seorang penyihir. Kita tidak perlu menanyakan identitasnya."


"Apa kamu pernah kesini." Graham melihat Amori.


"Tidak tuan. Selama ini Amori belum pernah meninggalkan desa." Amori menggeleng.


"Jika begitu ayo kita berkeliling kota." Kata Graham.


"Baik tuan." Amori mengangguk.


Graham melihat sebuah toko kemudian masuk ke dalam. "Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu." Seorang pria menyambut Graham dan Amori.


Graham berjalan ke arah pria kemudian memukul lehernya. "Buuukk." Pria tidak sadarkan diri dan jatuh ke lantai.


Graham membuka laci dan melihat puluhan koin emas dan ratusan koin perak. "Mata uang disini juga terbuat dari emas dan perak." Kata Graham mengambil semua koin emas dan perak.


"Amori ayo kita pergi." Graham berjalan keluar toko.


"Baik tuan." Amori mengangguk dan mengikuti Graham.


"Kruuukk." Graham mendengar sebuah suara.


"Tuan." Amori tersipu malu saat perutnya berbunyi.


"Jika kamu lapar. Bilang saja padaku." Graham melihat Amori.


"Baik tuan." Amori mengangguk dengan malu.


Graham kemudian masuk ke dalam restoran bersama Amori. "Aku pesan 2 porsi makanan terenak di restoran ini." kata Graham melihat pelayan restoran.


"Baik. Silakan tunggu pesanan anda." Pelayan restoran mengangguk dan berjalan ke arah dapur.


"Setelah kita selesai makan. Kita akan membeli pakaian." Kata Graham melihat pakaian Amori.


"Baik tuan." Amori mengangguk.


Beberapa menit kemudian Graham melihat pelayan restoran mengantarkan makanan miliknya. "Ini pesanan anda." Kata pelayan restoran menaruh 2 steak daging di meja.


"Ayo makan." kata Graham melihat Amori.


"Baik tuan." Amori mengangguk kemudian memakan steak.


Sementara itu di tempat lain. Seorang perempuan melihat pria yang tergeletak di lantai. "Kak, apa yang terjadi denganmu." Perempuan membangunkan pria.


"Uuuhh." Pria tersadar dan membuka matanya. "Aku ingat ada seorang pria dan perempuan yang masuk ke dalam toko." Kata pria.


Pria berjalan ke arah laci dan berteriak. "Semua koin emas dan perak telah di curi."

__ADS_1


"Ahhh." Perempuan terkejut.


__ADS_2