
"Aktifkan skill poion." Kata Graham kemudian tubuhnya diselimuti asap hijau.
"Menyebar." Kata Graham kemudian asap hijau mulai menyebar dengan cepat ke arah ribuan anggota sekte demonic.
"Aaahh." "Aaahh." Ribuan anggota sekte demonic memegang tenggorokan mereka saat menghirup racun Graham.
"Graham aku akan membunuhmu." Teriak Lilith melihat semua anggota sektenya di bunuh oleh Graham.
"Kamu tidak akan bisa membunuhku." Graham tersenyum dan melesat kea rah Lilith.
"Booomm!!." Graham meninju Lilith. "Wuusshh." Lilith melesat sejauh 1.000 meter.
"Graham aku akan mengingat kejadian hari ini." teriak Lilith kemudian melesat pergi. Lilith tahu tidak bisa mengalahkan Graham, kecuali dirinya meledakan diri.
"Sepertinya aku harus memperbarui semua skillku jika ingin mengalahkannya." Kata Graham melihat Lilith yang melarikan diri.
Graham kembali dalam bentuk manusianya kemudian terbang ke arah kota. "Hidup yang mulia Graham."
"Yang mulia tidak terkalahkan di benua barat."
"Yang mulia Graham adalah raja terhebat di benua barat." 50 pria yang memperbaiki bangunan bersorak saat melihat Graham.
"Selamat yang mulia anda telah berhasil mengalahkan pemimpin sekte demonic." Henry, Austin dan Vasco mengucapkan selamat.
"Aku tidak mengalahkannya. Pemimpin sekte demonic melarikan diri dari pertempuran." Balas Graham.
"Dia melarikan diri karena tahu tidak bisa mengalahkan dirimu." Kata Elizabeth berjalan ke arah Graham.
"Henry, Austin, Vasco dan kalian semua. Bakarlah mayat ribuan anggota sekte demonic di luar kota." Kata Graham.
"Baik yang mulia." Henry, Austin, Vasco dan 50 pria menjawab dengan semangat.
Saat hendak masuk ke dalam rumahnya, Graham mendengar suara ledakan. "Booomm!!." "Elizabeth lindungi Alice, Elena, Fanny dan Viola." Kata Graham terbang ke arah lokasi ledakan. "
Baik." Elizabeth mengangguk.
Saat tiba di lokasi ledakan, Graham melihat Lilith sedang mencengkram leher Henry. "Lilith lepaskan dia." Teriak Graham mengeluarkan auranya.
"Hahaha, bagaimana jika aku tidak mau." Lilith tertawa.
"Kamu akan mati disini." Balas Graham menelan 2 pil.
"Anda telah mengkonsumsi pil power level 7. Kekuatan anda meningkat 70% selama 7 menit."
"Anda telah mengkonsumsi pil speed level 7. Kecepatan anda meningkat 70% selama 7 menit." Notifikasi muncul di depan Graham.
"Hahaha, coba bunuh aku jika kamu bisa." Lilith tertawa kemudian meremas leher Henry. "Kraakk." Henry kemudian mati.
"Lilith!!." Graham berteriak dan melesat ke arah Lilith.
"Booomm!!." Graham memukul wajah Lilith. "Wuusshh." Lilith terlempar sejauh 1.000 meter.
Saat hendak mengejar Lilith, Graham melihat Austin dan Vasco yang sudah tidak bernyawa. "Lilith. Aku akan membunuhmu." Graham marah dan berubah menjadi manusia naga. "Wuusshh." Graham terbang ke arah Lilith.
__ADS_1
"Sial, aku kehilangan jejak dia." Kata Graham merasakan seluruh mahluk hidup dalam jarak 10.000 meter.
Graham kembali menjadi manusia dan terbang ke arah kota. "Graham apa ayah kita baik-baik saja." Alice dan Viola melihat Graham.
"Kalian berdua ikut denganku." Kata Graham terbang ke luar kota.
"Baik." Alice dan Viola mengangguk kemudian mengikuti Graham.
Badan Alice dan Viola gemetar saat melihat Austin dan Vasco. "Ayah." Alice menangis dan memeluk Austin.
"Ayah." Begitu juga dengan Viola yang menangis memeluk Vasco.
"Fanny beritahu Caroline dan Varel bahwa Vasco telah mati." Kata Graham.
"Baik." Fanny mengangguk dan terbang ke arah kota.
Beberapa menit kemudian Fanny kembali bersama Caroline ibu Viola dan Varel kakak Viola. "Vasco." "Ayah." Caroline dan Varel menangis saat melihat mayat Vasco.
"Graham mengapa kamu tidak bisa melindungi Vasco. Bukankah kamu kultivator tingkat kaisar." Teriak Caroline marah.
"Caroline perhatikan sikapmu. Graham adalah raja Britania." Kata Fanny.
"Benar, aku adalah kultivator tingkat kaisar. Begitu juga dengan Lilith pemimpin sekte demonic." Graham menatap Caroline. Caroline mengigit bibirnya saat mendengar kata Graham.
"Aku ingin beristirahat. Kalian bisa mengubur mayat Austin, Henry dan Vasco." Kata Graham berjalan ke arah kota.
Melihat Graham yang berjalan ke arah kota, Caroline berkata. "Viola, Varel ayo kita kubur jasad ayah kalian."
"Baik bu." Viola mengangguk dan mengusap air matanya.
"Terimakasih kak." Alice mengangguk dan mengusap air matanya.
Saat ini di Lilith sedang berada di tengah hutan. "Graham cepat atau lambat aku akan membunuhmu." Lilith menggertakan giginya kemudian memukul pohon. "Booomm!!." Semua pohon dalam jarak 10 meter hancur.
Beberapa jam kemudian Graham sedang berada di ruangan bersama Alice dan Viola. "Apa kalian berdua menyalahkanku karena kematian orang tua kalian." Graham melihat Alice dan Viola.
"Tidak, kami tidak menyalahkanmu." Alice dan Viola menggeleng.
"Bagus, yang harus di salahkan adalah Lilith pemimpin sekte demonic." Kata Graham.
"Aku berjanji pada kalian berdua, untuk membalas kematian Austin dan Vasco." Kata Graham menepuk bahu Alice dan Viola.
"Hiks." "Hiks." "Baik." Alice dan Viola menangis.
3 Hari telah berlalu saat ini di sebuah istana seorang wanita berambut putih sedang duduk di singgasana. "Yang mulia bawahan melihat Lilith telah kembali seorang diri dari kerajaan Britnia." kata wanita berambut merah.
"Sepertinya Lilith gagal membunuh Graham, dan justru kehilangan semua anggota sektenya." Kata wanita berambut putih.
"Jesicca pergilah ke kerajaan Britania dan temui Graham. Katakan padanya aku ingin bertemu dengannya." Kata wanita berambut putih.
"Baik yang mulia." Wanita berambut merah yang di panggil Jessica mengangguk.
Saat ini Graham sedang bersantai dan memakan sebuah anggur. "Elizabeth aku akan pergi menuju kerajaan Avalon. Kamu diamlah di kota ini dan jaga Alice dan yang lain." Kata Graham meminum secangkir teh.
__ADS_1
"Baik." Elizabeth mengangguk.
Saat ini di suatu tempat seorang wanita berambut kuning sedang duduk di singgasana. "Paus kami melihat Lilith telah kembali seorang diri dari kerajaan Britania." Kata seorang wanita yang memakai jubah putih.
"Sepertinya Lilith gagal membunuh Graham dan kehilangan semua anggota sektenya." Kata wanita berambut kuning yang di panggil Paus.
"Panggil semua uskup kita akan menyerang sekte demonic." Kata wanita berambut kuning.
"Baik Paus." Wanita yang memakai jubah putih mengangguk.
12 Jam telah berlalu saat ini Graham tiba di ibukota Avalon. "Misi Harian Bunuh Gilbert penguasa Avalon. Hadiah menyelesaikan misi mendapatkan 10 poin dan sepotong roti keras." Notifikasi muncul di depan Graham.
"Aku tidak menyangka akan mendapatkan misi membunuh raja Avalon setelah tiba di ibukota." Kata Graham melayang turun ke arah istana.
"Siapa kamu." Teriak penjaga istana melihat Graham.
"Berisik." Kata Graham memukul penjaga. "Booomm!!." Penjaga terlempar sejauh 100 meter dan menghancurkan dinding.
"Ada penyusup." Graham melihat puluhan penjaga mengelilingi dirinya. "Wuusshh." Graham menghilang dan menghajar puluhan penjaga.
"Booomm!!." "Booomm!!." "Aaahh." "Aahhh." Graham mengalahkan puluhan penjaga dalam hitungan detik.
Sekmentara itu di sebuah ruangan. "Yang mulia Graham berada di luar istana." Kata pria berusia 30an.
"Sial, mengapa orang gila itu datang kesini." Balas pria paruh baya dengan panik.
"Akhirnya kita bertemu Gilbert." Kata Graham masuk ke dalam ruangan.
"Suatu kehormatan bagi saya karena kunjungan Raja Britania." Pria paruh baya tersenyum melihat Graham.
"Aku dengar dulu kamu menaruh harga untuk kepalaku." Graham duduk di kursi dan memakan anggur.
"Anda pasti salah dengar. Saya tidak pernah menaruh harga untuk kepala anda." Pria paruh baya berkeringat mendengar kata Graham.
"Baiklah, aku tidak akan membahas masalah sepele seperti itu." Kata Graham. Pria paruh baya menghela nafas saat mendengar kata Graham.
"Lalu mengapa kamu mengirim mata-mata ke kerajaan Britania. Apa kamu ingin berperang." Graham menatap pria paruh baya.
"Saya tidak ingin berperang yang mulia." Pria paruh baya menjawab dengan panik.
"Benarkah." Graham menatap pria paruh baya.
"Benar. Saya adalah raja yang tidak suka berperang." Pria paruh baya mengangguk.
"Sayangnya Aku tidak percaya denganmu. Aktifkan skill 5 elemen." Kata Graham kemudian menunjuk pria paruh baya.
"Buusshh." Panah angin sepanjang 60 cm muncul di udara dan menembus kepala pria paruh baya.
"Selamat anda telah menyelesaikan misi harian. Anda mendapatkan 10 poin dan sepotong roti keras." Notifikasi dan roti keras muncul di depan Graham.
"Yang mulia." Teriak pria berusia 30 an.
"Jangan berisik. Kamu juga akan mati." Kata Graham menunjuk pria.
__ADS_1
"Buussh." Panah angin menembus kepala pria.
"Benar, dulu aku pernah berkelahi dengan anak seorang marquis. Jika tidak salah namanya Liu Bai." Kata Graham berjalan keluar dari istana.