Villain System

Villain System
26. Konflik Keluarga II


__ADS_3

Badan Slyvie gemetar mendengar kata pria berusia 40an. Slyvie tahu bahwa dirinya difitnah.


"Aku tidak menyangka kamu melakukan perbuatan keji pada ayahmu sendiri Slyvie." Teriak ibu tiri Slyvie.


"Penjaga tangkap Slyvie dan pemuda itu. Pemuda itu pasti yang memberikan racun kepada Slyvie." Teriak ibu tiri Slyvie. "Baik nyonya." 10 pria masuk ke dalam kamar.


"Plaakk.." "Plaakk." Graham yang berdiri di samping Slyvie bertepuk tangan. "Drama kalian sungguh hebat." Graham tersenyum melihat 10 penjaga yang mengelilingi dirinya.


"Tangkap dia." Teriak ibu tiri Slyvie. "Baik nyonya." 10 pria mengangguk. "Kalian cari mati." Kata Graham mengeluarkan pedang tingkat 2 yang memberikan tambahan damage +2.000.


"Slasshh." Graham menebas salah tubuh penjaga. "Craatt." Tubuh pria terbelah menjadi dua. Ibu tiri Slyvie dan seluruh orang di dalam kamar terkejut dengan perbuatan Graham.


"Buuzz." Graham mengeluarkan auranya. "Tingkat Advanced." Semua orang di dalam ruangan terkejut dengan kekuatan Graham.


"Jangan takut, bukankah kalian juga tingkat Advanced." Teriak Ibu tiri Slyvie. 9 pria saling melihat kemudian menyerang Graham. "Matii!!." "Kalianlah yang akan mati." Kata Graham menebas 9 pria yang menyerangnya. "Slasshh." "Slassshh." Graham memotong tubuh 9 pria dengan mudah.


"Slyvie apa yang harus aku lakukan pada ibu tirimu." Graham melihat Slyvie. "Saya tidak tahu." Slyvie mengigit bibirnya. Slyvie masih shock bahwa ibu tirinya membunuh ayahnya dan memfitnah dirinya sebagai pembunuh ayahnya.


"Bagaimana jika aku memotong kedua tangan dan kakinya." Graham menyeringai. Ibu tiri Slyvie gemetar ketakutan saat mendengar kata Graham. Graham berjalan ke arah ibu tiri Slyvie dan mengayunkan pedangnya. "Slasshh." "Aaahh." Ibu tiri Slyvie berteriak saat Graham memotong lengannya.


"Ibuu." Seorang pemuda berteriak dan berlari ke arah ibu tiri Slyvie. "Slasshh." Graham mengayunkan pedangnya. "Aaahh." Pemuda berteriak saat Graham memotong lengannya.


"Sekarang giliran kalian berdua." Graham melihat pria berpakaian putih dan koki yang memfitnah Slyvie. "Hikkss." "Ampuni saya tuan muda." Kedua pria ketakutan dan bersujud. "Slasshh." "Slasshh." "Aaahh." "Aaahh." Graham memototong kedua lengan pria.

__ADS_1


"Berapa banyak uang yang Slyvie berikan. Sampai kamu rela membantunya." Tanya ibu tiri Slyvie. "Slyvie tidak memberiku uang. Melainkan memberikan tubuhnya." Graham tersenyum dan duduk di kursi. Ibu tiri Slyvie dan semua orang di dalam ruangan terkejut dengan kata Graham.


"Dasar pelacur." Pemuda berteriak melihat Slyvie. Badan Slyvie gemetar saat mendengar adik tirinya menghinanya pelacur. "Bunuh mereka tuan." Kata Slyvie dengan badan gemetar.


"Hehehe, baiklah." Graham berjalan ke arah pria berpakain putih dan koki yang memfitnah Slyvie. "Kumohon jangan bunuh kami nona Slyvie." Dua pria ketakutan. "Terlambat." Graham menyeringai dan mengayunkan pedangnya. "Slasshh." "Slasshh." Kepala dua pria terpotong dan menggelinding ke lantai.


"Sekarang giliran kalian berdua." Graham tersenyum dan berjalan ke arah ibu tiri Slyvie dan adik tirinya. "Slyvie kumohon ampuni kami." Ibu tiri Slyvie menangis dan berteriak. "Benar kak. ampuni kami berdua." Pemuda menangis dan juga berteriak. Badan Slyvie gemetar saat mendengar teriakan ibu dan adik tirinya.


"Slasshh." "Slasshh." Graham mengayunkan pedangnya. "Aaahh." "Aaahh." Ibu tiri dan adik tiri Slyvie berteriak saat Graham memotong lengan mereka berdua. Graham melihat Slyvie dan berkata. "Tutup matamu Slyvie." "Baik tuan." Slyvie mengangguk.


"Slasshh." "Slasshh." Graham memotong kepala ibu tiri Slyvie dan kedua adiknya. Graham berjalan ke arah mayat ayah Slyvie dan menggendongnya. "Tetap tutup matamu." Graham menggandeng tangan Slyvie. "Baik tuan." Slyvie mengangguk. Graham dan Slyvie berjalan ke luar kamar.


"Kamu bisa membuka mata." Kata Graham setelah keluar dari kamar. Slyvie membuka mata dan melihat ayahnya yang di gendong oleh Graham. "Ayah." Slyvie menangis melihat ayahnya. "Kamu ingin menguburkan jasad ayahmu dimana." Tanya Graham. "Ikuti saya tuan." Kata Slyvie berjalan ke arah pintu keluar. Graham melihat semua mayat di dalam kamar kemudian mengikuti Slyvie.


"Bukankah itu Count Bernard." Kata seorang wanita melihat ayah Slyvie yang di gendong Graham. "Aku dengar Count Bernard sedang sakit." Balas wanita lain. "Ayo kita ikuti nona Slyvie." Kata seorang pria. Semua penduduk kota mengikuti Graham dan Slyvie.


Tidak lama kemudian Graham dan Slyvie berada di kuburan. "Jangan bilang Count Bernard meninggal." Seorang wanita terkejut. "Benar, Count Bernard telah meninggal." Kata Graham melihat penduduk kota. "Apa!!." Semua penduduk kota terkejut dengan perkataan Graham. "Bantu Slyvie untuk menguburkan jasad ayahnya." Kata Graham. "Baik." Balas penduduk kota.


10 menit kemudian Slyvie telah mengubur jasad ayahnya. "Nona Slyvie apa penyakit Count Bernard." Tanya seorang pria. "Jawablah pertanyaan mereka Slyvie." Kata Graham melihat Slyvie. "Ayah di racuni oleh ibu tiriku." Kata Slyvie meneteskan air mata. "Apa!!." Semua penduduk kota terkejut dengan jawaban Slyvie.


"Bukan hanya itu saja. Ibu tiri Slyvie memfitnah Slyvie meracuni ayahnya sendiri." Kata Graham. "Apa!!." Semua penduduk kota terkejut mendengar kata Graham. Graham kemudian menceritakan ibu tiri Slyvie menyewa pembunuh untuk membunuh Slyvie. Semua penduduk kota terkejut mendengar cerita Graham.


"Aku tidak menyangka nyonya Amber melakukan hal sekeji itu." Seorang pria terkejut. "Lalu dimana nyonya Amber sekarang." Tanya seorang wanita. "Aku telah membunuhnya." Balas Graham.

__ADS_1


Semua penduduk kota terkejut mendengar kata Graham. "Dia menyuruh penjaga Count untuk membunuh Slyvie. Jadi aku membunuh mereka semua." Kata Graham. "Gleekk." Semua penduduk kota sekali lagi terkejut dengan jawaban Graham.


"Slyvie ayo kita kembali." Graham melihat Slyvie. "Baik." Slyvie berdiri dan mengangguk. Graham dan Slyvie berjalan pergi meninggalkan makam. Semua penduduk kota saling melihat kemudian meninggalkan makam.


Tidak lama kemudian Graham kembali ke rumah Slyvie. "Apa yang akan kamu lakukan pada mayat ibu tiri dan adik tirimu." Tanya Graham memasuki rumah Slyvie. "Terserah tuan ingin melakukan apa pada mayat mereka." Kata Slyvie mengigit bibirnya.


"Jika begitu, aku akan membakar mayat ibu tiri dan adik tirimu." Balas Graham. Melihat Slyvie tidak menjawab perkataannya, Graham menepuk pundak Slyvie. "Istirahatlah di kamarmu." "Baik." Slyvie mengangguk dan berjalan ke dalam kamarnya.


Graham melihat semua mayat di dalam kamar dan berkata. "Jika kalian tidak menyerangku. Kalian saat ini tidak akan mati." Graham menyeret tubuh pria yang terpotong menjadi dua.


10 menit kemudian Graham melempar tubuh ibu tiri Slyvie ke tumpukan mayat. Graham membuka tabel shop dan menekan gambar buku.


"Skill fire level 2. Efek membuat anda dapat mengendalikan element fire. Strenght +20% saat dalam mode fire. Syarat mendapatkan skill adalah membunuh 90 kultivator peringkat Intermediate. Pelajari Skill Ya/Tidak." Graham kemudian menekan Ya.


Sebuah buku kuno kemudian muncul di depan Graham. Buku kuno menjadi cahaya dan masuk ke dalam kepala Graham. Graham membuka matanya dan berkata. "Aktifkan skill fire." "Wusshh" api muncul di kedua tangan Graham.


"Fire ball." Graham membuat bola api di kedua tangannya. "Wuusshh." Graham melemparkan 2 bola api ke arah tumpukan mayat. "Wuusshh." Semua mayat mulai terbakar. "Skill Fire sangat berguna. Sepertinya aku harus mempelajari skill Water, Wind, Earth dan Lightning." Kata Graham membuka tabel shop.


5 menit kemudian Graham telah mempelajari skill Water, Wind, Earth, dan Lightning. "Di dunia ini dapat menguasai 2 elemen di sebut jenius. Menguasai 3 elemen di sebut super jenius. Lalu aku yang mengusai 5 elemen harus di sebut apa." Graham tersenyum. Graham melihat tumpukan mayat yang terbakar dan berjalan pergi.


Graham masuk ke dalam rumah dan berjalan ke arah kamar Slyvie. Graham membuka pintu dan melihat Slyvie sedang tidur di kasur. Graham duduk di samping Slyvie dan berkata. "Aku telah membakar mayat ibu tiri dan adik tirimu." Melihat Slyvie tidak menjawabnya Graham berkata. "Aku akan tidur di kamar ibu tirimu. Jika kamu butuh sesuatu, cari saja aku." Graham keluar dari kamar Slyvie.


Graham masuk ke dalam kamar ibu tiri Slyvie dan menutup pintu. "Waktunya berkultivasi." Kata Graham duduk di kasur dan memejamkan matanya. Saat memejamkan matanya, energi tidak kasat mata masuk ke dalam tubuh Graham.

__ADS_1


__ADS_2