
"Kotoran yang keluar dari tubuhku, lebih sedikit dari pada saat aku menerobos tingkat Intermediate." Graham melihat kotoran hitam di kulitnya.
Graham kemudian melepas pakaiannya dan berjalan ke arah danau. "Byuurr." Slyvie tersipu malu melihat Graham yang sedang mandi.
5 menit kemudian Graham selesai membersihkan tubuhnya. "Mengapa wajahmu merah. Apa kamu sakit." Graham melihat Slyvie. "Saya tidak sakit." Slyvie tersipu malu dan menggeleng.
"Benar, apa kamu pernah mengkonsumsi pil spirit." Tanya Graham. "Saya pernah mengkonsumsi pil spirit level 1." Balas Slyvie.
"Kapan kamu mengkonsumsi pil spirit level 1." Tanya Graham. "1 tahun lalu." Balas Slyvie. "Jika aku memberikannya pil spirit level 1. Dia akan menerobos tingkat Advanced." Gumam Graham mengingat kekuatan Slyvie 200 poin.
"System apa tidak masalah jika dia menerobos tingkat Advanced." Gumam Graham. "Jika dia menerobos tingkat Advanced, dia akan terlepas dari kontrak budak. Karena kontrak budak anda masih level 2. Sebaiknya anda mempelajari kontrak budal level 3 terlebih dulu sebelum memberikannya pil spirit level 1." Notifikasi hitam muncul di depan Graham.
"Sepertinya aku harus mempelajari skill kontak budal level 3 terlebih dulu." Gumam Graham melihat notifikasi hitam yang muncul di depannya.
3 Jam kemudian Graham dan Slyvie melihat sebuah kota. "Akhirnya kita sampai juga di kota Swallow." Kata Graham berjalan ke arah gerbang kota bersama Slyvie.
"Nona Slyvie." Semua penjaga membungkuk saat melihat Slyvie. Slyvie melihat penjaga dan masuk ke dalam kota. Graham melirik penjaga dan mengikuti Slyvie.
Saat ini di disebuah ruangan seorang wanita berusia 40an sedang memakan anggur. "Ibu." Seorang pemuda berusia 15 tahun masuk ke dalam ruangan. "Ada apa." wanita melihat pemuda. "Slyvie kembali." Balas pemuda. "Apa!!. Bagaimana dia bisa kembali." Wanita berusia 40an berdiri.
Saat ini Graham dan Slyvie sedang berkeliling kota. "Itu rumahku." Slyvie menunjuk rumah yang paling besar di kota. "Ayo ke rumahmu." Balas Graham. "Baik." Slyvie mengangguk dan berjalan ke rumahnya.
"Nona Slyvie." 2 Penjaga membungkuk saat melihat Slyvie. Slyvie mengangguk dan berjalan ke dalam rumahnya. Graham melihat 2 penjaga dan mengikuti Slyvie.
Saat masuk ke dalam rumah Graham melihat wanita berusia 40an dan seorang pemuda seusianya berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Kamu sudah kembali Slyvie." Wanita tersenyum kepada Slyvie. "Aku kembali bu." Slyvie mengangguk. "Dimana maid Yu Jie." Wanita paruh baya melihat Slyvie. "Bibi Yu Jie meninggal." Slyvie menangis. "Apa!!. Bagaimana dia bisa meninggal." Wanita paruh baya terkejut. Slyvie kemudian menceritakan dia dan Yu Jie di serang oleh 5 pria bertopeng putih. Lalu Graham muncul dan menyelamatkannya.
"Terimakasih Graham kamu sudah menyelamatkan Slyvie." Wanita tersenyum kepada Graham. "Aku beruntung 5 pria yang menyerang Slyvie adalah tingkat Advanced. Jika mereka berlima tingkat Expert. Mungkin aku tidak bisa menolong anak bibi." Graham tersenyum.
"Baiklah bu. Aku ingin istirahat." Kata Slyvie berjalan ke sebuah ruangan. Graham tersenyum kepada wanita dan mengikuti Slyvie. Ekspresi wanita tiba-tiba berubah saat Graham dan Slyvie pergi.
"Kamu terlihat tidak akrab dengan ibumu." Graham melihat Slyvie. "Dia ibu tiriku." Balas Slyvie. "Oohh, lalu dimana ibu kandungmu." Tanya Graham. Slyvie berhenti di depan sebuah kamar dan berkata. "Ibuku meninggal setelah melahirkanku." "Aku turut bersimpati." Kata Graham. "Terimakasih." Slyvie tersenyum dan masuk ke dalam kamar.
Saat masuk ke dalam kamar, Graham melihat pria paruh baya yang terbaring di kasur dengan badan kurus. "Ayah aku kembali." Slyvie berjalan ke arah pria paruh baya. "Kamu sudah kembali Slyvie." Balas pria paruh baya dengan suara serak.
"Slyvie siapa dia." Tanya pria paruh baya. "Dia Graham ayah." Kata Slyvie kemudian menceritakan Graham yang menyelamatkannya dari serangan 5 pria bertopeng putih. Pria paruh baya terkejut mendengar cerita Slyvie.
"Graham terimakasih sudah menyelamatkan putriku." Pria paruh baya melihat Graham. "Jika 5 pembunuh yang menyerang Slyvie adalah tingkat Expert. Mungkin aku tidak akan menyelamatkan Slyvie." Graham tersenyum. "Tetap saja kamu sudah menyelamatkan putriku." Balas pria paruh baya.
Graham yang mendengar percakapan Slyvie dan ayahnya bergumam. "System, apa pil pemulihan level 2 bisa menyembuhkannya." "Bisa, tapi butuh 10 pil level 2 untuk menyembuhkannya. Karena racun sudah menyebar di dalam tubuhnya." Notifikasi hitam muncul di depan Graham. "Sepertinya Slyvie akan berutang padaku." Graham tersenyum melihat jawaban System.
Graham membuka tabel penyimpanan dan mengambil pil pemulihan level 1. "Slyvie ambil ini." Graham memberikan pil pemulihan level 1 kepada Slyvie.
Slyvie mengambil pil dan berkata. "Pil pemulihan level 1. Terimakasih Graham." "Ayah makan ini." Slyvie memasukan pil ke dalam mulut ayahnya. Pria paruh baya menelan pil dan merasakan rasa sakit di tubuhnya sedikit berkurang.
"Terimakasih Graham." Kata pria paruh baya melihat Graham. "Tidak perlu berterimakasih. Pil pemulihan level 1 tidak bisa menyembuhkan paman." Balas Graham. "Meski begitu rasa sakit di tubuhku sedikit berkurang." Balas pria paruh baya.
"Kreekk." Graham melihat Ibu tiri Slyvie masuk ke dalam kamar. "Sayang, sekarang waktunya makan." Ibu tiri Slyvie membawa 1 mangkok sup. "Ayah, aku akan kembali ke kamarku dulu." Kata Slyvie berjalan keluar kamar. Graham melihat Ibu tiri Slyvie dan berjalan keluar kamar.
Graham mengikuti Slyvie masuk ke dalam kamarnya. "Sepertinya aku tahu penyebab ayahmu sakit." Slyvie terkejut mendengar kata Graham.
__ADS_1
"Apa yang menyebabkan ayahku sakit." Slyvie penasaran. "Ayahmu di racuni oleh ibu tirimu sendiri." Balas Graham. Badan Slyvie gemetar saat mendengar kata Graham.
"Jangan berbohong, ibu tiriku tidak akan melakukan hal sekeji itu." Slyvie menggeleng. "Buat apa aku berbohong kepada budakku." Kata Graham duduk di kursi.
Slyvie tiba-tiba merasakan badannya menjadi lemas. "Kemungkinan yang mengirim pembunuh adalah ibu tirimu." Graham melihat Slyvie. "Buukk." Slyvie terjatuh di lantai.
"Aaahh." Graham dan Slyvie mendengar suara teriakan. "Suara teriakan itu berasal dari kamar ayahmu." Kata Graham. "Ayah." Slyvie berdiri dan keluar dari kamarnya. Graham keluar kamar dan mengikuti Slyvie.
Graham masuk ke dalam kamar dan melihat ayah Slyvie mengeluarkan busa putih di mulutnya. "Ayah!!." Slyvie berteriak dan berlari ke ayahnya. Badan Slyvie tiba-tiba gemetar saat tidak merasakan denyut nadi ayahnya.
"Cepat panggil dokter Richard." Teriak Ibu tiri Slyvie yang menangis. "Baik nyonya." Balas beberapa penjaga yang berdiri di depan pintu. "Ayah." "Hikss," "Hikss." Slyvie menangis melihat ayahnya.
10 menit kemudian Graham melihat seorang pria berpakaian putih masuk ke dalam ruangan. "Dokter tolong periksa keadaan suamiku." Ibu tiri Slyvie menangis. "Baik nyonya Amber." Balas pria berpakaian putih.
"Nona Slyvie saya ingin memeriksa kondisi Count Bernard." Kata pria berpakaian putih melihat Slyvie yang memegangi tangan ayahnya. "Baik dok." Slyvie mengangguk dan berjalan ke samping Graham.
Pria berpakaian putih kemudian memeriksa ayah Slyvie. "Count Bernard telah meninggal." Badan Slyvie gemetar saat mendengar kata pria berpakaian putih. "Dok, Apa kamu tahu penyebab suami saya meninggal." Ibu tiri Slyvie berkata dengan nada gemetar.
"Count Bernard mati karena keracunan." Balas pria berpakaian putih. Badan Slyvie gemetar saat mendengar kata pria berpakaian putih. Slyvie teringat perkataan Graham bahwa ibu tirinya yang meracuni ayahnya.
Pria berpakaian putih melihat sebuah mangkok sup dan berkata. "Seseorang memberikan racun ke dalam sup." Kata pria berpakaian putih. "Arnold." Ibu tiri Slyvie berteriak. "Iya nyonya." Seorang pria berusia 40an masuk ke dalam kamar dengan badan gemetar. "Apa kamu memberi racun ke dalam sup suamiku." Teriak Ibu tiri Slyvie.
"Bukan saya nyonya yang memberikan racun ke dalam sup Tuan Bernard." Balas pria berusia 40an dengan badan gemetar. "Jangan berbohong, kamu adalah koki satu-satunya di rumah ini." Teriak Ibu tiri Slyvie.
"Saya tidak berbohong nyonya. Yang meracuni tuan Bernard adalah nona Slyvie. Saya melihat nona Slyvie menaruh sesuatu ke dalam sup." Kata pria berusia 40an.
__ADS_1