
Prajurit menggulung kertas kemudian memberikan sebuah lencana kepada Graham. "Ini adalah lencana Baron anda. Tolong di jaga jangan sampai hilang." Kata prajurit. "Tentu, aku tidak akan menghilangkannya." Graham tersenyum.
"Jika begitu, kami pamit pergi Baron Graham." Kata prajurit. "Baiklah." Graham mengangguk. 5 prajurit memberi hormat kepada Graham kemudian berjalan pergi. Melihat 5 prajurit yang pergi Graham masuk ke dalam rumahnya.
"Selamat atas gelar Baron yang kamu dapatkan." Viola tersenyum melihat Graham. "Itu hanya sebuah gelar. Di hadapan kultivator kuat gelar Baron tidak ada gunanya." Balas Graham menyimpan lencana ke tabel penyimpanan. "Apa yang kamu katakan benar. Tapi seorang bangsawan mendapat perlindungan dari di kerajaan." Balas Viola.
"Aku tahu. Tapi bagaimana jika yang membunuh bangsawan seorang kultivator tingkat master. Apa kerajaan akan tetap melindungi bangsawan itu." Tanya Graham. "Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Karena selama aku hidup tidak ada kultivator tingkat master yang membunuh seorang bangsawan." Balas Viola.
Saat hendak membalas perkataan Viola Graham melihat notifikasi yang muncul di depannya. "Misi Harian buat kekacuan di akademi Royal Hadiah menyelesaikan misi mendapatkan 10 poin dan sepotong roti keras."
"Viola berapa banyak kultivator tingkat master di kerajaan ini." Tanya Graham. "Kultivator tingkat master di kerajaan ini ada 3. Raja Arthur, Duke Paul, dan master George ayah raja Arthur." Balas Viola. "Jika begitu akademi royal tidak memiliki tingkat master." Tanya Graham.
"Akademi royal tidak memiliki tingkat master." Balas Viola. Mendengar jawaban Viola Graham berjalan keluar dari rumahnya. "Kamu ingin kemana." Tanya Viola. "Membuat kekacuan." Graham menyeringai.
Beberapa menit kemudian Graham berada di depan akademi Royal. "Siapa kamu." Kata seorang penjaga. "Buukk." "Uuhh." Graham memukul perut penjaga. "Apa yang kamu lakukan." Teriak penjaga lain. "Bukk." "Uuhhh." Graham memukul perut penjaga lainnya.
"Heii, mengapa kamu memukul penjaga." Kata seorang pemuda berambut hitam. "Bukkk." Graham tiba-tiba memukul perut muda. "Uuuhh." "Berengsek, mengapa kamu tiba-tiba memukul ku." Pemuda mengutuk. "Plasshh." Graham menampar wajah pemuda.
Saat ini di dalam akademi. Perempuan berambut merah yang tidak lain Alice sedang berada di kantin. "Taruh makananmu, kudengar ada keributan di luar akademi." Kata seorang pemuda berlari keluar kantin. "Ehh, baiklah." Balas pemuda lain kemudian juga berlari keluar kantin.
"Alice ayo kita lihat juga." Kata perempuan berkulit putih dan berambut hitam panjang. "Baik." Alice mengangguk dan berjalan keluar kantin bersama perempuan berambut hitam.
Saat ini Graham yang sedang memukul seorang pemuda melihat pria berkacamata datang bersama puluhan murid. "Berhenti." Teriak pria berkacamata.
__ADS_1
"Selamat anda telah menyelesaikan misi harian. Anda mendapatkan 10 poin dan sepotong roti keras." "Karena kultivator tingkat Expert mengawasi anda. Roti otomatis di simpan di tabel penyimpanan." Melihat notifikasi yang muncul di depannya Graham berhenti memukul pemuda.
"Siapa kamu, mengapa kamu memukul murid akademi." Pria berkacamata berjalan ke arah Graham. "Aku adalah Graham. Pemuda yang membunuh Count Ferdinant." Balas Graham. Mendengar kata Graham pria berkacamata dan puluhan murid terkejut.
"Graham." Alice terkejut saat tahu pemuda yang membuat keributan adalah Graham. "Oohh, rupanya dia disini." Graham terkejut saat melihat Alice. "Alice kemarilah." Graham tersenyum. "Baik." Alice mengangguk dan berjalan ke arah Graham.
Puluhan murid terkejut saat Alice berdiri di samping Graham. Alice adalah salah satu perempuan tercantik di akademi Royal. Pria berkacamata melihat Graham dan berkata. "Kamu belum menjawab alasanku. Mengapa kamu memukul murid akademi."
"Alasanku sederhana. Aku suka membuat keributan." Graham menyeringai. "Apa kamu tidak takut aku menghajarmu." Pria berkacamata menatap Graham. "Tidak." balas Graham. "Hahaha, pemuda yang menarik. Pantas raja Arthur memberimu gelar Baron." Seorang pria paruh baya keluar dari akademi.
"Alice dan semua murid terkejut saat raja Arthur memberi gelar Baron kepada Graham." "Wakil kepala sekolah." Pria berkacamata memberi hormat kepada pria paruh baya.
"Berapa usiamu saat ini." Tanya pria paruh baya. "15 tahun." Balas Graham. "15 tahun berada di tingkat Advanced. Kamu adalah pemuda paling berbakat di kerajaan Britania." Balas pria paruh baya.
Graham tahu dirinya masih kekurangan informasi tentang dunia dimana dirinya berada. "Hahaha, bagus." Pria paruh baya tertawa bahagia mendengar kata Graham. "Jika begitu, ikuti aku ke dalam akademi." Kata pria paruh baya. "Baik." Balas Graham menarik tangan Alice dan masuk ke dalam akademi.
"Dia usia 15 tahun dia sudah mencapai tingkat Advanced. Apa dia mengkonsumsi pil spirit level 2." Kata pemuda gemuk. "Apa kamu bercanda, tidak ada pil spirit level 2 yang di jual di kerajaan kita." Balas pemuda lain. "Mungkin dia mendapatkan pil spirit level 2 di kerajaan lain." Balas pemuda gemuk. Semua murid mulai mengobrol tentang Graham.
Saat ini Graham sedang berada di dalam ruangan bersama pria paruh baya dan Alice. "Hubungan kalian berdua sepertinya sangat dekat." Kata pria paruh baya melihat Graham dan Alice.
"Sebenarnya Alice adalah wanitaku." Graham tersenyum dan menggengam tangan Alice. Wajah Alice memerah saat Graham menyebutkan dirinya wanitanya.
"Kamu memiliki mata yang bagus Alice." Pria paruh baya melihat Alice. Alice hanya bisa tersenyum mendengar kata pria paruh baya. "Ambilah." Pria paruh baya memberikan sebuah pakaian dan lencana kepada Graham.
__ADS_1
"Itu adalah pakaian akademi kita. Dan lencana itu sebagai identitas kamu telah menjadi murid akademi Royal." Kata pria paruh baya. "Terimakasih wakil kepala sekolah." Graham tersenyum. Graham dan wakil kepala sekolah mulai mengobrol.
5 menit kemudian Graham dan Alice keluar dari ruangan wakil kepala sekolah. "Kapan kamu memasuki akademi." Graham melihat Alice. "1 bulan lalu setelah kamu menyelinap ke dalam kamarku pada malam hari. Esok harinya aku meninggalkan kota Roan." Balas Alice.
"Jadi begitu." Graham mengangguk. "Apa kamu tinggal di asrama akademi." Tanya Graham. "Benar, aku tinggal di asrama akademi." Alice mengangguk. "Mengapa kamu tidak tinggal bersamaku saja." Graham tersenyum dan mengelus pantat Alice.
"Baiklah, aku akan tinggal denganmu." Balas Alice. "Ehh, mengapa kamu setuju dengan mudah." Tanya Graham. "Jika aku menolak permintaanmu. Aku takut akan kesakitan lagi." balas Alice. "Benar, aku lupa dengan efek kontrak budak." Graham tersenyum. Alice mendengus mendengar kata Graham.
Graham dan Alice kemudian berjalan keluar akademi. Saat keluar dari akademi Graham dan Alice menarik perhatian para murid. "Apa kamu sudah makan." Tanya Graham. "Belum." Alice menggeleng. "Jika begitu ayo kita makan." Graham menggandeng tangan Alice. Graham dan Alice berjalan dengan bergandengan tangan.
Tidak lama kemudian Graham dan Alice berada di restoran. "Apa yang ingin anda pesan." Pelayan restoran menyambut Graham dan Alice. "Kamu ingin pesan apa." Graham melihat Alice.
"Aku ingin dimsum dan segelas teh hijau." Kata Alice. "Aku juga pesan makanan dan minuman yang sama dengannya." Kata Graham. "Baik. Silakan duduk dan tunggu pesanan anda." Kata pelayan restoran berjalan ke arah dapur.
"Jarang sekali kamu mengajakku makan." Alice melihat Graham. "Kamu adalah budakku. Aku tidak ingin melihat kamu mati kelaparan." Balas Graham. "Aku tidak akan mati kelaparan." Alice mendengus. Graham tertawa mendengar kata Alice.
"Ehh. Bukankah dia Graham." Kata seorang pria. "Ku dengar dia diberi gelar Baron oleh yang mulia." Kata pria lain. "Siapa perempuan yang makan dengannya. Apa perempuan itu wanitanya." "Kamu sangat terkenal." Kata Alice melihat Graham. "Itu adalah hal wajar. Karena raja Arthur memberiku gelar Baron." Balas Graham.
Beberapa menit kemudian Graham melihat pelayan mengantarkan pesanan makanannya. "2 Dimsum dan 2 gelas the hijau." Kata pelayan menaruh makanan dan minuman di meja. "Baiklah, ayo kita makan." Graham melihat Alice. "Baik." Alice mengangguk.
30 menit kemudian Graham dan Alice telah selesai makan. Graham berjalan ke arah kasir kemudian membayar biaya makanan dan minuman. "Ayo kita pergi." kata Graham melihat Alice. "Baik." Alice mengangguk. Graham dan Alice berjalan keluar dari restoran.
Beberapa menit kemudian Graham tiba di depan rumahnya. "Rumahmu lebih bagus dari pada rumahku." Kata Alice melihat rumah Graham. "Jika raja Arthur tidak memberiku rumah ini. Sekarang aku masih tidur di penginapan." Balas Graham masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1