
1 Jam kemudian Graham melihat Viola telah selesai menyerap energi di dalam pil spirit.
"Graham terimakasih karena telah memberiku pil spirit level 2." Viola membungkuk. Viola tahu bahwa pil spirit level 2 tidak di jual di kerajaan Britania.
"Tidak perlu berterimakasih. Pil itu adalah imbalan kamu menemaniku selama ini." Balas Graham.
"Baiklah, ayo tidur. Besok pagi kita akan melanjutkan perjalanan." Kata Graham masuk ke dalam tenda.
"Baik." Viola mengangguk kemudian masuk ke dalam tenda.
Keesokan harinya Graham melihat kota di depannya. "Akhirnya kita kembali ke kerajaan Britania." Viola tersenyum melihat kota di depannya.
Graham memeluk Viola kemudian terbang ke langit. "Wuushh."
"Aahh." Viola berteriak saat dirinya terbang di langit.
"Lihat ada seseorang di langit." Kata penjaga gerbang melihat Graham.
"Wuushh." Graham melayang turun di tengah kota.
"Bukankah dia Baron Graham. Bagaimana dia bisa terbang di langit. Jangan bilang dia menerobos tingkat Master."
"Bukankah dia baru berusia 15 tahun." Semua penduduk kota terkejut dengan Graham yang terbang di langit.
"Apa kamu ingin pamer karena menerobos tingkat Grand Master." Tanya Viola.
"Mereka hanya tau bahwa aku menerobos tingkat Master." Balas Graham berjalan ke arah rumahnya.
"Tunggu aku." Viola mengejar Graham.
Graham tiba di depan rumahnya kemudian membuka pintu. "Kuuu." Graham melihat rubah putih melompat ke arahnya.
"Aku pulang Gumiho." Graham memeluk Gumiho. "Kuuu." Gumiho menjilati wajah Graham.
"Graham." Graham melihat perempuan berambut merah yang tidak lain adalah Alice.
"Aku pulang Alice." Graham berjalan ke arah Alice kemudian memeluknya.
"Apa kamu merindukanku." Graham melihat Alice.
"Aku tidak merindukanmu." Balas Alice dengan tersipu.
"Uhuuk." Alice mendengar suara seseorang batuk dan melihat Viola. "Ahh, kak Viola."
"Halo Alice. Sudah lama kita tidak bertemu." Viola tersenyum.
"Benar kak. Sudah lama kita tidak bertemu." Alice dan Viola berpelukan.
"Kalian berdua bisa reuni. Aku ingin pergi ke suatu tempat." Kata Graham keluar dari rumahnya.
Graham keluar dari rumahnya kemudian terbang ke akademi Royal. "Lihat, Baron Graham terbang ke langit."
"Apa dia benar-benar berusia 15 tahun." Semua penduduk mulai bergosip.
Graham melihat akademi Royal kemudian melayang turun dari langit.
"Baron Graham." Penjaga gerbang akademi terkejut melihat Graham yang melayang turun dari langit.
Graham mengabaikan penjaga gerbang dan masuk ke dalam akademi. Saat masuk ke dalam akdemi Graham membuat kehebohan.
"Bukankah dia Graham. Mengapa dia datang ke akademi. Bukankah dia sudah keluar dari akademi."
"Jangan bilang dia ingin membuat kekacuan lagi di akademi." Semua murid mulai bergosip.
Graham mengabaikan para murid dan berjalan ke arah ruang Fanny kepala sekolah akademi Royal.
__ADS_1
Graham berhenti di depan sebuah ruangan kemudian membuka pintu.
"Graham." Perempuan berambut coklat yang tidak lain Fanny kepala sekolah akademi Royal terkejut melihat Graham masuk ke dalam ruangannya.
"Lama tidak berjumpa kepala sekolah." Graham tersenyum.
"Mengapa kamu datang kemari. Bukankah kamu sudah keluar dari akademi. Kamu juga telah menghilang selama beberapa bulan." Fanny menatap Graham.
"Memangnya kenapa kalau aku keluar dari akademi. Aku datang kesini untuk menemuimu.' Graham tersenyum dan mengelus wajah Fanny.
"Jangan sentuh aku." Fanny menampar tangan Graham.
"Mengapa kamu begitu galak. Bukankah kita pernah tidur bersama." Graham menyeringai.
"Tolong lupakan kejadian hari itu." Kata Fanny dengan wajah malu.
Melihat Fanny yang malu Graham tersenyum. "Aku tidak akan melupakan kejadian hari itu."
"Terserah jika kamu tidak ingin melupakan kejadian hari itu. Tapi aku minta jangan sebarkan berita bahwa kita berdua pernah tidur bersama." Kata Fanny.
"Baiklah, aku tidak akan menyebarkan berita bahwa kita pernah tidur bersama." Balas Graham berbohong.
"Hmm, aku tidak percaya dengan kata-katamu." Fanny menatap Graham dengan curiga.
Melihat Fanny yang menatapnya Graham bergumam. "Aktifkan skill observasi. Munculkan informasi Fanny."
Sebuah layar status kemudian muncul di depan Graham.
Nama : Fanny
Usia : 25 tahun
Tingkat : Expert
Ras : Manusia
Agility : 910
Vitalitas : 910
Stamina : 890/910
Ki : 890/910
Informasi : Kepala Sekolah Akademi Royal
"Kurang 50 poin lagi dia akan menerobos tingkat Master." Gumam Graham melihat status Fanny.
"Baiklah, aku akan membuat dia menjadi budak ketigaku." Kata Graham melihat Fanny.
Graham melukai jarinya kemudian memukul perut Fanny. "Buuuk." "Uuhh. Mengapa kamu memukulku." Fanny kesakitan dan memegangi perutnya.
Graham meneteskan darah di dahi Fanny kemudian berkata. "Aktifkan skill kontrak budak." Singg!!." Darah di dahi Viola bersinar.
"Ikuti aku." Kata Graham melihat Fanny.
"Baik." Fanny mengangguk kemudian mengikuti Graham keluar dari ruangan.
"Ahhh, mengapa aku menuruti perkataanmu." Fanny terkejut.
"Jawabannya sederhana. Karena kamu sekarang adalah budakku." Graham tersenyum.
"Jangan bicara omong kosong." Teriak Fanny.
"Aku tidak bicara omong kosong." Balas Graham.
__ADS_1
"Ehh, bukankah itu kepala sekolah."
"Mengapa kepala sekolah mengikuti Graham."
Para murid mulai mengobrol melihat Fanny yang mengikuti Graham. L
Graham mengabaikan obrolan para murid dan terus berjalan di ikuti Fanny dibelakangnya.
Tidak lama kemudian Graham dan Fanny telah keluar dari akademi. "Graham jawab dengan jujur. Mengapa aku bisa menuruti perkataanmu." Kata Fanny melihat dirinya mengikuti Graham keluar dari akademi.
"Bukankah sudah aku katakan. Kamu sekarang adalah budakku." Balas Graham.
"Jika begitu cepat lepaskan aku. Aku tidak mau menjadi budakmu." Teriak Fanny.
"Aku tidak mau." Graham tersenyum.
"Kamu." Fanny mencengkram tinjunya.
"Aahhh." Fanny tiba-tiba menjerit kesakitan dan memegangi kepalanya.
"Aku lupa memberitahumu. Kamu akan kesakitan jika merencanakan sesuatu yang buruk padaku." Graham tersenyum.
"Berengsek kamu Graham." Fanny mengutuk.
"Ahhh." Fanny sekali lagi menjerit kesakitan.
"Sudah kubilang kamu akan kesakitan jika berani melawanku." Graham tersenyum.
"Mengapa kamu melakukan hal ini padaku." Kata Fanny meneteskan air matanya.
"Karena kamu cantik dan saat ini aku kekurangan pengikut." Balas Graham.
"Baiklah, ayo ikuti aku." Kata Graham berjalan ke arah rumahnya.
"Baik." Fanny mengangguk dan mengikuti Graham.
Tidak lama kemudian Graham kembali ke rumahnya.
"Kepala sekolah." Alice dan Viola terkejut melihat Fanny yang berdiri di belakangnya.
"Mulai hari ini Fanny akan tinggal di rumah ini." kata Graham.
"Ahhh." Alice dan Viola terkejut dengan kata Graham.
"Graham jangan bilang kamu membuat kepala sekolah menjadi budakmu juga." Viola terkejut.
"Benar, aku baru saja membuat Fanny menjadi budakku." Graham menepuk bahu Fanny.
Alice dan Viola terkejut dengan perkataan Graham. "Kalian bertiga bisa saling mengakrabkan diri." Kata Graham berjalan ke arah kamarnya.
Graham masuk ke dalam kamarnya kemudian menutup pintu. "Munculkan tabel shop." Kata Graham kemudian tabel shop muncul di depannya.
Graham menekan gambar senjata dan melihat semua senjata di level 3 telah terbuka.
"Pedang Tingkat 3. Damage +3.000. Efek khusus dapat melukai jiwa. Syarat mendapatkan senjata adalah memiliki 3 pengikut tingkat Advanced. Stock pedang : 1."
Graham kemudian mengambil pedang. "Sekarang aku memiliki pedang yang lebih bagus." Graham tersenyum melihat pedang hitam sepanjang 90 cm yang muncul di tangannya.
Saat ini di istana Britania. "Yang mulia Graham telah kembali." Kata pria berkumis.
"Oohh, dia akhirnya kembali setelah menghilang selama beberapa bulan." Kata pria berjenggot meminum teh.
"Setelah kembali ke ibukota Graham membuat kehebohan yang mulia." Kata pria berkumis.
"Apa yang di lakukan Graham. Jangan bilang dia membunuh seorang bangsawan." Balas pria berjenggot.
__ADS_1
"Tidak yang mulia. Graham tidak membunuh seorang bangsawan. Melainkan dia terbang di langit." Balas pria berkumis.
"Apa dia terbang di langit menggunakan tehnik perubahan miliknya." Tanya pria berjenggot.