
3 Hari telah berlalu saat ini Graham berada di ibukota Evora. "Ikuti aku." kata Graham berjalan ke arah istana.
"Baik." Flora mengangguk dan mengikuti Graham.
"Tuan Graham." Penjaga istana berkata dengan hormat saat melihat Graham.
"Apa Elena dan yang lain ada di dalam." Tanya Graham.
"Putri Elena, Nona Alice, Nona Fanny, dan nona Viola ada di dalam." Balas penjaga dengan hormat.
"Ambilah." Graham memberikan 1 pil spirit level 1 kepada penjaga.
"Terimakasih tuan." Penjaga berkata dengan senang saat menerima pil spirit level 1.
Graham mengangguk dan masuk ke dalam istana di ikuti Flora.
"Graham." Saat masuk ke dalam istana Graham melihat Elena, Alice, Fanny dan Viola berjalan ke arahnya.
"Aahh. Bukankah anda putri Flora." Alice dan Viola terkejut melihat perempuan berambut pirang di belakang Graham.
"Benar, dia adalah Flora." Balas Graham.
"Graham jangan bilang kamu menjadikan Flora sebagai budakmu juga." Kata Elena.
"Tebakanmu benar. Aku menjadikan Flora budakku." Graham mengangguk. Alice, Elena, Fanny dan Viola tersenyum kecut mendengar jawaban Graham.
"Baiklah, kemasi barang kalian. Kita akan pergi ke kekaisaran." Kata Graham melihat Alice, Elena, Fanny dan Viola.
"Baik." Alice, Elena, Fanny dan Viola mengangguk.
"Graham apa aku boleh mengajak ibu dan kakakku juga." Viola melihat Graham.
"Tidak masalah. Tapi setelah tiba di kekaisaran. Ibu dan kakakmu harus mencari tempat tinggal sendiri." Balas Graham.
"Baik. Aku akan memanggil ibu dan kakakku terlebih dulu." Viola mengangguk dan keluar dari istana.
Beberapa menit kemudian Graham melihat Viola kembali bersama Caroline dan Varel. "Baiklah, ayo kita pergi ke kaisaran." Kata Graham berjalan ke luar istana.
"Baik." Flora dan semua orang mengangguk.
Saat ini di suatu tempat seorang wanita berambut kuning sedang duduk di singgasana. "Paus, ratu Eleanor memberikan Graham gelar duke." Kata seorang wanita yang memakai jubah putih.
"Sepertinya Eleanor tertarik dengan pemuda bernama Graham itu." Balas wanita berambut kuning yang di panggil paus.
"Pergilah ke kaisaran dan undang Graham ke gereja cahaya. Aku ingin bertemu dengannya." Kata wanita berambut kuning.
"Baik paus." Wanita berjubah putih mengangguk kemudian keluar dari ruangan.
4 Hari telah berlalu saat ini Graham telah kembali kekaisaran. "Selamat datang kembali Duke." Penjaga gerbang membungkuk dengan hormat saat melihat Graham.
"Graham, bagaimana bisa kamu menjadi seorang duke." Elena dan yang lain terkejut mendengar penjaga memanggil Graham duke.
"Ratu Eleanor tertarik padaku. Jadi dia memberiku gelar duke." Balas Graham masuk ke dalam kekaisaran.
"Halo duke." "Duke kamu tampan sekali hari ini." Semua penduduk kekaisaran tersenyum saat melihat Graham.
"Kamu sangat populer." Kata Elena melihat Graham.
"Dari dulu aku sudah populer." Balas Graham berjalan ke arah rumahnya.
Tidak lama kemudian Graham tiba di rumahnya. "Graham, ada yang mencarimu." Kata Elizabeth melihat Graham yang kembali bersama Elena dan yang lain.
"Halo duke Graham." Wanita berjubah putih tersenyum kepada Graham.
__ADS_1
"Siapa kamu." Graham melihat wanita berjubah putih.
"Saya adalah Mary salah satu uskup gereja cahaya." Wanita berjubah putih mengenalkan dirinya.
"Oohh. Ada perlu apa kamu menemuiku." Balas Graham.
"Paus mengundang anda datang ke gereja cahaya." Balas wanita berjubah putih.
"Baiklah, aku akan datang ke gereja cahaya jika memiliki waktu luang." Balas Graham.
"Baik duke. Paus menunggu kedatangan anda. Jika begitu saya pamit pergi." wanita berjubah putih tersenyum kemudian pergi.
"Graham siapa dia." Kata Elizabeth melihat Flora di samping Graham.
"Dia adalah Flora putri raja Arthur. Raja Britania sebelum diriku. Dia sama sepertimu." Balas Graham. Elizabeth menghela nafas saat mendengar jawaban Graham.
"Flora katakan pada Arthur, mulai sekarang kamu akan tinggal denganku." Graham melihat Flora.
"Baik." Flora mengangguk kemudian keluar dari rumah.
"Di rumah ini ada 20 kamar. Pilihlah kamar yang kalian suka." Kata Graham berjalan ke kamarnya.
"Baik." Alice, Elena, Fanny dan Viola mengangguk.
Saat ini Graham yang sedang bersantai di kamarnya mendengar suara ketukan pintu. "Tok." "Tok." Graham membuka pintu dan melihat Flora.
"Graham ibukku ingin bertemu denganmu." Kata Flora.
"Baiklah." Balas Graham berjalan ke arah ruang tamu.
"Graham." Graham melihat Rebecca ibu Flora berada di ruang tamu. "Ada perlu apa kamu menemuiku." Balas Graham duduk di kursi.
Rebecca terkejut melihat sikap Graham berubah drastis. "Graham bolehkah aku tinggal di rumahmu." Rebecca melihat Graham.
"Melihat Rebecca terdiam Graham berkata. "Aku akan membayarmu 1 pil spirit level 1 setiap 7 hari sekali."
Mendengar Graham akan memberinya 1 pil spirit level 1 setiap 7 hari sekali Rebecca berkata. "Baiklah, aku setuju."
"Benar, mengapa kamu ingin tinggal di rumahku. Bukankah kamu memiliki rumah sendiri." Graham melihat Rebecca.
"Aku bertengkar dengan Arthur." Balas Rebecca.
"Di rumah ini ada 20 kamar. 6 sudah di tempati. Kamu bisa memilih 14 kamar yang tersisa." Graham melihat Rebecca.
"Baik." Rebecca mengangguk.
"Viola." Graham memanggil Viola.
"Iya." Viola berjalan ke arah Graham.
"Katakan pada ibumu. Ibumu bisa tinggal di rumah ini. Tapi dia harus membersihkan rumah ini 7 hari sekali. Aku akan membayarnya 1 pil spirit level 1 setiap 7 hari sekali." Graham melihat Viola.
"Baik." Viola mengangguk kemudian keluar dari rumah.
"Aku mencarikanmu teman. Agar kamu tidak terlalu berat membersihkan rumah ini." Graham melihat Rebecca.
"Terimakasih Graham." Rebecca tersenyum.
Beberapa menit kemudian Graham melihat Viola kembali dengan Caroline. "Graham apa kamu ingin aku menjadi pelayanmu." Caroline melihat Graham.
"Bisa dibilang begitu. Apa kamu tidak mau." Graham melihat Caroline.
"Aku mau." Caroline mengangguk. Caroline sudah mendengar dari Viola bahwa Rebecca mantan ratu Britania bersedia menjadi pelayan Graham.
__ADS_1
"Di rumah ini ada 13 kamar kosong. Pilihlah kamar yang kamu sukai." Kata Graham.
"Baik." Caroline mengangguk.
"Elizabeth." Graham memanggil Elizabeth. "Iya." Elizabeth berjalan ke arah Graham.
"Ayo ke kamarku." Kata Graham berjalan ke arah kamarnya.
"Baik." Elizabeth mengangguk dan mengikuti Graham. Tidak lama setelah Graham dan Elizabeth masuk ke dalam kamar. Suara erangan dan rintihan mulai terdengar.
"Dia berhubungan badan di siang hari." Rebecca yang melewati kamar Graham, tersipu malu saat mendengar suara erangan dan rintihan.
Keesokan harinya Graham keluar dari kamarnya. "Selamat pagi Graham." Rebecca tersenyum melihat Graham keluar dari kamarnya.
"Selamat pagi juga." Balas Graham berjalan ke arah ruang depan.
"Graham kamu ingin pergi kemana." Tanya Elena.
"Mencari udara segar." Balas Graham.
"Aku ikut jika kamu ingin berkeliling kekaisaran." Balas Elena.
"Aku juga ikut." Kata Alice.
"Baiklah, mengapa kita tidak pergi bersama." Graham melihat Alice, Elena, Elizabeth, Fanny, Flora dan Viola.
"Baik." Semua wanita mengangguk.
7 hari telah berlalu saat ini Graham sedang bersantai dan memakan buah persik. "Graham apa kamu tidak ingin pergi ke gereja cahaya." Kata Elena duduk di samping Graham.
"Tidak, aku tidak terlalu suka dengan perkumpulan seperti gereja cahaya." Balas Graham memakan buah persik.
"Baiklah, aku akan berkultivasi. Katakan pada yang lain untuk tidak mengangguku." Graham berjalan masuk ke kamarnya.
"Baik." Elena mengangguk.
Graham masuk ke dalam kamarnya dan berkata. "Munculkan tabel status." Layar status kemudian muncul di depan Graham.
Nama : Graham
Usia : 16 tahun
Tingkat : Kaisar
Ras : Manusia
Strength : 13.600
Agility : 13.600
Vitalitas : 13.600
Stamina : 11.600/13.600
Ki : 12.600/13.600
Poin : 0
"System dengan kekuatanku saat ini berapa persen peluangku menang jika bertarung melawan Lilith." Kata Graham melihat statusnya.
"Peluang anda menang melawan Lilith adalah 53%." Notifikasi hitam muncul di depan Graham.
"Sial, hanya bertambah 3%." Graham mengutuk.
__ADS_1