Villain System

Villain System
118. Kembali Ke Benua Barat


__ADS_3

Beberapa jam kemudian Graham keluar dari dalam tenda dan melihat Lyra sedang duduk di depan api. "Kamu tidak tidur." Tanya Graham.


"Saya tidak mengantuk tuan." Balas Lyra dengan wajah merah.


"Benarkah." Kata Graham duduk di samping Lyra.


"Benar tuan." Kata Lyra dengan wajah merah.


"Lyra bau tubuhmu sangat harum." Bisik Graham di telinga Lyra. Badan Lyra gemetar saat mendengar kata Graham.


"Lyra." Kata Graham melihat Lyra.


"Iya tuan." Lyra melihat Graham.


Graham melihat Lyra kemudian mencium bibirnya. "Emmm." Lyra terkejut saat Graham tiba-tiba menciumnya.


"Bibirmu sungguh lembut." Graham mengelus wajah Lyra.


"Tuan." Lyra tersipu malu saat Graham mengatakan bibirnya lembut.


"Apa ini ciuman pertamamu." Graham melihat Lyra.


"Benar tuan. Ini adalah pertama kali Lyra berciuman dengan pria." Lyra mengangguk dengan malu.


Graham tersenyum kemudian mencium bibir Lyra. "Emmm." Lyra memejamkan matanya dan memeluk Graham.


Setelah puas berciuman, Graham melepas pakaian Lyra. "Dadamu sungguh kecil." kata Graham melihat dada Lyra.


"Maafkan Lyra tuan, jika Lyra memiliki dada kecil." kata Lyra.


"Kamu tidak perlu meminta maaf. Aku yakin dadamu bisa bertambah besar." Kata Graham meremas dada Lyra.


"Emmm." Lyra mengerang saat Graham meremas dadanya.


"Tuan Graham. Apa putri Elizabeth tidak akan marah jika kita berhubungan badan." Lyra melihat Graham yang melepas celananya.


"Jangan khawatir. Elizabeth menjadikanmu pelayan juga untuk memuaskanku juga." Kata Graham kemudian menusuk pussy Lyra.


"Ahhh." Lyra berteriak saat Graham menusuk dirinya.


Beberapa jam kemudian Graham dan Lyra saling berciuman tanpa mengenakan pakaian. "Tuan Graham apa Lyra akan hamil." Lyra menatap Graham.


"Kamu tidak akan hamil. Aku tidak keluar di dalam milikmu." Balas Graham menjilati dada Lyra.


"Emmm." Lyra mengerang saat Graham menjilati dadanya.


Keesokan harinya Graham sedang membakar daging kelinci bersama Elizabeth dan Lyra. "Lyra bagaimana rasanya berhubungan badan dengan Graham." Kata Elizabeth melihat Lyra. Wajah Lyra menjadi merah saat mendengar kata Elizabeth.


"Lyra mengatakan ingin melakukan denganmu juga." Kata Graham Elizabeth.


"Ahhh." Lyra terkejut mendengar kata Graham.


"Baiklah, nanti malam kita akan melakukan bertiga." Kata Elizabeth. Wajah Lyra menjadi merah saat mendengar kata Elizabeth.


"Tidak perlu menunggu sampai malam. Kita bisa melakukannya sekarang juga." Kata Graham memeluk Elizabeth di kanan dan Lyra di kiri. Wajah Lyra menjadi merah saat Graham memeluk dirinya.


Graham dan Elizabeth saling melihat kemudian mulai berciuman. Lyra terkejut melihat Graham dan Elizabeth yang berciuman di depan dirinya.


Graham berhenti mencium Elizabeth kemudian mencium bibir Lyra. "Emmm." Lyra memejamkan matanya dan memeluk Graham.


7 Hari telah berlalu. Saat ini Graham sedang berada di sebuah pulau kecil bersama Elizabeth dan Lyra. "Tuan Graham. Apa benua barat masih jauh." Tanya Lyra.

__ADS_1


"Tidak, benua barat tidak terlalu jauh dari sini." Kata Graham membakar ikan.


"Setelah kita selesai makan. Kita akan melanjutkan perjalanan." Kata Graham melihat ikan yang dia bakar matang.


"Baik." Elizabeth dan Lyra mengangguk.


Beberapa jam telah berlalu. Saat ini Graham yang terbang di langit melihat sebuah kota. "Wuusshh." Graham melayang turun dari langit dan mendarat di tengah kota.


"Jadi seperti ini kota di benua barat." Kata Lyra melihat manusia yang berinteraksi satu sama lain.


"Lihat pria itu bersama 2 elf." Kata seorang pria melihat Graham, Elizabeth dan Lyra.


"Mengapa wajah pria itu terlihat familiar." Kata pria lain.


"Ahhh. Bukankah dia duke Graham." Teriak pria.


"Tidak salah lagi dia adalah duke Graham." Teriak pria.


"Tuan, saya tidak menyangka anda seorang duke." Kata Lyra melihat Graham.


"Tidak ada yang special menjadi duke. Jika aku mau, aku bisa menjadi penguasa benua barat." Kata Graham berjalan ke arah rumahnya.


Graham membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya. "Siapa yang berani masuk ke dalam rumah duke Graham." Graham melihat seorang wanita keluar dari dalam kamar.


"Ahhh. Tuan Graham." Wanita yang tidak lain Silvia terkejut melihat Graham.


"Lama tidak berjumpa Silvia. Aku tidak menyangka kamu sudah menerobos tingkat kaisar." Kata Graham melihat Silvia.


"Berkat pil spirit yang anda berikan. Silvia berhasil menerobos tingkat kaisar." Silvia tersenyum.


"Silvia pergilah ke kerajaan Evora dan jemput Elena. Katakan padanya aku sudah kembali." Graham melihat Silvia.


"Baik tuan." Silvia mengangguk dan keluar dari rumah.


"Baik." Elizabeth mengangguk dan keluar dari rumah.


"Lyra." Graham melihat Lyra.


"Iya tuan." Lyra melihat Graham.


"Pijatlah pundakku." Kata Graham duduk di kursi.


"Baik tuan." Lyra mengangguk kemudian memijat pundak Graham.


Tidak lama kemudian Graham melihat Elizabeth kembali bersama Flora. "Graham." kata Flora melihat Graham.


"Lama tidak berjumpa Flora." Graham tersenyum. Flora tersenyum kemudian memeluk Graham.


"Graham siapa dia." Flora melihat Lyra.


"Dia Lyra pelayan pribadi Elizabeth." Kata Graham mengenalkan Lyra.


"Halo nona. Saya Lyra pelayan pribadi putri Elizabeth." Lyra tersenyum.


"Aku Flora." Kata Flora.


"Flora, ayo kita ke kamar." Graham melihat Flora.


"Baik." Flora mengangguk. Graham dan Flora kemudian berjalan ke arah kamar.


"Apa kamu merindukanku." Graham melihat Flora.

__ADS_1


"Mengapa masih bertanya. Sudah pasti aku merindukanmu." Flora tersenyum. Graham dan Flora saling menatap kemudian mulai berciuman.


"Graham aku sudah menerobos tingkat Saint. Apa kamu tidak ingin memberiku hadiah." Flora menatap Graham.


"Kamu sama seperti Elizabeth. Dia juga meminta hadiah karena menerobos tingkat Saint." kata Graham.


"Apa yang Elizabeth minta darimu." Tanya Flora.


"Dia memintaku untuk menikahinya." Balas Graham.


"Apa kamu setuju menikah dengan Elizabeth." Tanya Flora.


"Tidak, aku mengatakan padanya. Jika dia menerobos demi god, aku akan menikahinya." Balas Graham. Flora terdiam mendengar jawaban Graham.


"Apa kamu juga minta untukku menikahimu." Graham melihat Flora.


"Benar." Flora mengangguk dengan malu.


"Jika kamu menerobos demi god. Aku akan menikahimu." Balas Graham.


"Janji." Kata Flora melihat Graham.


"Aku berjanji." Graham tersenyum. Flora tersenyum kemudian mencium bibir Graham.


2 Hari telah berlalu. Graham yang sedang bersantai di ruang tamu melihat wanita yang tiba-tiba memeluknya. "Graham, aku sangat merindukanmu." Kata wanita yang tidak lain Elena.


"Aku juga merindukanmu." Graham tersenyum dan memeluk Elena.


Saat ini di benua suci. Grace sedang berkeliling kota bersama anak kecil. "Kak Grace. Apa itu." Kata anak kecil bertelinga hewan menunjuk ke langit.


Grace melihat perahu raksasa yang terbang di langit. "Aku memiliki firasat buruk." Kata Grace dengan ekspresi serius.


"Gumiho ayo pergi dari benua suci." kata Grace melihat anak kecil.


"Baik kak." Anak kecil mengangguk.


"Setelah sekian lama. Akhirnya aku kembali ke planet Azure." kata pria berambut hitam.


"Kalian semua bisa pergi, dan mencari tahu siapa yang membunuh keluarga kalian." Kata pria berambut hitam melihat 100 demi god.


"Baik. Terimakasih atas tumpangannya Chen Sang." Kata pria berotot. Semua demi god berterimakasih kepada pria berambut hitam kemudian turun dari perahu.


"Mengapa kamu masih tidak pergi." Pria berambut hitam melihat wanita berambut ungu.


"Ambil ini." Wanita berambut ungu melemparkan sebuah botol yang berisi air.


"Air kehidupan." Kata pria berambut hitam menangkap botol.


"Air kehidupan itu adalah bayaran karena memberiku tumpangan ke planet Azure. Saat ini aku tidak memiliki hutang padamu." Balas wanita berambut ungu kemudian turun dari perahu.


Beberapa jam telah berlalu. Saat ini pria berambut hitam sedang berada di sebuah ruangan. "Krekkk." Pria berambut hitam melihat beberapa pria masuk ke dalam ruangan.


"Bagaimana, apa kalian sudah menemukan informasi pembunuh itu." Kata pria berambut hitam.


"Kami sudah menemukannya. Namanya adalah Graham dia berasal dari benua barat. Dia adalah jenius yang menerobos demi god di usia 20 tahun." Kata pria berotot.


"Apa!!." Pria berambut hitam terkejut dengan kata pria berotot.


"Saat ini dia tidak ada di benua suci. Tapi kami sudah menangkap beberapa kultivator yang dekat dengannya." Kata pria pria berotot.


"Bawa mereka kepadaku." Kata pria berambut hitam.

__ADS_1


"Baiklah." Balas pria berotot.


Beberapa menit kemudian pria berambut hitam melihat pria berotot kembali bersama 5 wanita dan 1 pria paruh baya. Yang tidak lain adalah Eleanor, Fanny, Yu Jie, Lily dan kedua orang tua Eleanor.


__ADS_2