
Viola kemudian menceritakan bahwa Raja mengundang Graham ke istana dan akan memberikannya hadiah karena berhasil mengungkap kejahatan Count Ferdinant. "Sepertinya aku harus pergi ke istana." Gumam Graham setelah mendengar cerita Viola.
"Aku akan pergi ke ibukota Britania. Apa kamu mau ikut denganku." Graham berdiri dan melihat Viola.
Viola terdiam beberapa detik kemudian berkata. "Baiklah, aku akan ikut denganmu." "Bagus." Graham tersenyum mendengar kata Viola.
"Viola apa kamu kemari untuk mandi." Kata Graham melihat Viola. Mendengar kata Graham Viola tersipu malu. "Benar, aku ke sini untuk mandi." Viola mengangguk.
"Baiklah, kamu bisa mandi. Aku tidak akan mengintipmu." Balas Graham berjalan pergi dari sungai.
Melihat Graham yang sudah pergi dari sungai, Viola melepaskan pakaiannya. "Dia memiliki tubuh yang bagus." Kata Graham melihat tubuh Viola. "Sreekk." "Aahh." Viola menjerit melihat Graham yang keluar dari semak-semak.
"Mengapa kamu kembali lagi." teriak Viola. Graham melukai jarinya kemudian berjalan ke arah Viola. "Buuukk." Graham memukul perut Viola. "Uuhh." Viola kesakitan dan terjatuh ke tanah. Graham meneteskan darah ke dahi Viola dan berkata. "Aktifkan skill kontrak budak." "Singg!!." Darah di dahi Viola bersinar.
"Mengapa kamu memukul ku." Viola menatap Graham. "Telan ini." Kata Graham memberikan pil pemulihan level 1 kepada Viola. "Baik." Viola mengangguk dan menelan pil. Setelah menelan pil Viola merasakan rasa sakit di perutnya menghilang.
"Aahh, mengapa aku menuruti perkataanmu." Viola terkejut. "Aku membuatmu menjadi budakku. Jadi kamu akan menuruti semua perintahku." Graham tersenyum. Viola terkejut dengan yang dikatakan Graham.
"Kamu memiliki dada yang indah." Kata Graham melihat dada Viola. "Aahh, tutup matamu." Viola mendorong Graham. "Aaahh." Viola tiba-tiba berteriak kesakitan. "Aku lupa memberitahumu, bahwa kamu akan menerima rasa sakit yang luar biasa jika berani melawanku." Kata Graham.
"Mengapa kamu melakukan hal ini padaku. Padahal aku tidak pernah berbuat buruk padamu." Viola meneteskan air matanya. "Jawabannya sederhana, karena kamu cantik dan memiliki tubuh yang indah." Balas Graham mengelus pipi Viola.
"Ayo kita mandi bersama." Kata Graham melepas pakaiannya. "Baik." Viola mengangguk. Graham menaruh bayi rubah di atas pakaiannya dan berjalan ke arah sungai. "Basuh badanku." Graham melihat Viola. "Baik." Viola mengangguk kemudian membasuh badan Graham.
"Sekarang biarkan aku membasuh tubuhmu." Kata Graham melihat Viola. "Baik." Viola mengangguk. "Eeemm." Viola mengerang saat Graham mengelus dadanya.
__ADS_1
"Kamu memiliki dada yang indah." Bisik Graham di telinga Viola. "Jangan katakan hal seperti itu." Kata Viola dengan wajah memerah.
"Aku sudah tidak tahan." Kata Graham menggendong Viola dan berjalan ke tepi sungai. "Ahhh, apa yang akan kamu lakukan." Kata Viola panik.
"Tentu saja berhubungan badan denganmu." Graham tersenyum dan membaringkan Viola ke tanah.
"Hentikan." Viola mendorong Graham. "Aahh, sakit." Viola berteriak kesakitan. "Bukankah sudah kubilang padamu. Kamu akan kesakitan jika melawanku." Graham menghapus air mata Viola. "Hiks, hiks." Viola menangis.
"Entah mengapa kamu semakin terlihat cantik saat sedang menangis." Kata Graham mencium bibir Viola. "Eeemm." Viola terkejut Graham tiba-tiba menciumnya. Setelah puas mencium bibir Viola, Graham menjilati dada Viola. "Eeemm." Viola mengerang.
Graham berhenti mencium Viola kemudian menusuk milik Viola. "Aahh, sakit." Viola menjerit. "Jangan khawatir. Rasa sakitnya hanya sebentar." Graham menghapus air mata di wajah Viola.
1 Jam kemudian Graham masih berhubungan badan dengan Viola. "Semua status meningkat 1 poin." Graham melihat notifikasi yang muncul di depannya.
"Aku tidak menyangka kita sudah berhubungan badan selama 1 jam." Kata Graham mencium bibir Viola. "Eeemm." Viola memejamkan matanya saat Graham menciumnya.
"Graham bisakah kamu melepaskanku." Viola melihat Graham. "Tidak, sangat disayangkan jika aku melepaskan perempuan secantik dirimu." Balas Graham mengelus wajah Viola. Badan Viola gemetar saat mendengar kata Graham.
"Makan ini." Graham memberikan pil pemulihan level 1 kepada Viola. "Baik." Viola mengangguk dan menelan pil. Saat menelan pil Viola merasakan staminanya pulih. "Pakai bajumu." Kata Graham memakai bajunya. "Baik." Viola mengangguk dan memakai pakaiannya.
"Ayo pergi ke ibukota Britania." Kata Graham menggendong bayi rubah. "Baik." Viola mengangguk. Graham kemudian berlari ke arah hutan di ikuti Viola.
8 Jam kemudian Graham yang berlari melihat matahari mulai terbenam. "Kita akan bermalam disini." Graham berhenti berlari. "Baik." Viola mengangguk.
Graham membuka tabel penyimpanan kemudian mengambil tenda. "Dia tidak memiliki cincin ruang, namun bisa mengeluarkan benda dari udara kosong." Gumam Viola melihat Graham.
__ADS_1
"Kuuu." Bayi rubah keluar dari pakaian Graham dan masuk ke dalam tenda. "Makan ini." Graham memberikan roti keras kepada Viola. "Baik." Balas Viola kemudian memakan roti keras.
"Uuhh, mengapa kamu memberiku roti seperti ini." Viola melihat Graham. "Hanya itu makanan yang aku punya." Balas Graham memakan roti keras. Viola tersenyum kecut mendengar kata Graham.
"Mengapa kamu melarikan diri dari rumah." Graham melihat Viola. "Aku di jodohkan oleh kedua orang tuaku. Jadi aku melarikan diri dari rumah." Balas Viola. "Aahh, mengapa kamu tahu aku melarikan diri dari rumah." Viola terkejut. Viola tidak pernah mengatakan pada Graham bahwa dirinya melarikan diri rari rumah.
"Itu rahasia." Graham mengigit roti keras. "Sebenarnya aku anak dari seorang Count. Ayahku menjodohkanku dengan anak duke Paul." Kata Viola. "Oohh, apakah anak duke Paul sangat jelek. Sampai kamu melarikan diri dari rumah." Balas Graham.
"Tidak, dia setampan dirimu. Tapi dia sering bermain-bermain dengan perempuan." Balas Viola. "Baru kali ini ada perempuan yang memujiku." Graham tersenyum. "Aku tidak memujimu." Dengus Viola.
Graham tersenyum dan berkata. "Ayo kita masuk ke tenda." "Baik." Viola mengangguk. Graham dan Viola kemudian masuk ke dalam tenda. "Apa kita akan melakukan hubungan badan lagi." Viola melihat Graham. "Kamu sudah tahu jawabannya." Graham tersenyum kemudian mencium bibir Viola.
Ke esokan harinya Graham dan Viola keluar dari tenda. "Kamu seperti hewan buas." Kata Viola melihat Graham. "Mengapa aku seperti hewan buas." Graham bingung. "Karena kamu tidak berhenti menyetubuhiku. Meski aku memohonmu untuk berhenti." Viola mendengus.
"Itu salahmu karena memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang bagus." Graham tersenyum. "Kamu sungguh pandai menggombal." Viola mendengus.
Graham memasukan tenda ke dalam tabel penyimpanan dan berkata. "Ayo kita pergi." "Baik." Viola mengangguk.
10 Jam kemudian Graham tiba di ibukota. Graham berjalan ke arah penjaga gerbang dan memberikan 1 koin emas. "Silakan masuk." Penjaga tersenyum kepada Graham dan Viola. Graham mengangguk dan masuk ke dalam kota. "Wajah pemuda itu terasa tidak asing." Kata penjaga melihat Graham.
"Apa kamu pernah ke ibukota." Tanya Graham. "Setiap 1 tahun sekali aku selalu pergi ke ibukota." Balas Viola. "Jika begitu kamu pasti tahu penginapan terbaik di kota ini." Tanya Graham. "Aku tahu." Viola mengangguk.
Tidak lama kemudian Graham dan Viola masuk ke dalam penginapan. "Berapa biaya menginap 1 hari." Tanya Graham. "Biaya menginap 1 hari adalah 100 koin perak." Balas pemilik penginapan. "Aku pesan 1 kamar untuk 2 hari." Balas Graham memberikan 200 koin perak.
Pemilik penginapan menghitung uang yang diberikan Graham. "Silakan ikuti saya." Kata pemilik penginapan menyimpan 200 koin perak. Graham dan Viola mengikuti pemilik penginapan.
__ADS_1
"Ini kamar anda." Kata pemilik penginapan. "Kamu bisa pergi. Jika aku butuh sesuatu. Aku akan menghubungimu." Kata Graham. "Baik." Pemilik penginapan melihat Viola kemudian berjalan pergi.
Graham dan Viola kemudian masuk ke dalam kamar. Graham mengkunci pintu kemudian berbaring di kasur. "Kuuu." Bayi rubah keluar dari dalam pakaian Graham. "Tidurlah di sampingku." Graham melihat Viola.