
Nama : Graham
Usia : 15 tahun
Tingkat : Master
Ras : Manusia
Strength : 1.000
Agility : 1.000
Vitalitas : 1.000
Stamina : 990/1.000
Ki : 1.000/1.000
Poin : 0
Melihat statusnya Graham berkata. "System berapa poin yang aku butuhkan untuk mencapai tingkat Grand Master."
"Membutuhkan 2.000 poin untuk mencapai tingkat Grand Master." Notifikasi hitam muncul di depan Graham.
"Sepertinya aku harus membunuh 100 kultivator tingkat Expert untuk membuka pil spirit level 4 dan semua buku skill di level 4." Kata Graham menutup layar statusnya.
"Viola, aku datang." Kata Graham melesat dengan cepat.
Keesokan harinya Graham melihat sebuah kota. Graham berjalan ke arah gerbang dan menunjukan lencana baronnya.
Penjaga melihat lencana Graham kemudian berkata dengan hormat. "Selamat datang di kota Criva baron Graham."
"Ambilah." Graham memberikan 1 koin emas kepada penjaga.
"Terimakasih baron." Penjaga berkata dengan senang.
Graham mengangguk dan masuk ke dalam kota. "Sebelum pergi ke rumah Viola aku akan makan terlebih dulu." Kata Graham berjalan ke arah restoran.
Graham masuk ke dalam restoran dan melihat wajah yang tidak asing. "Oohh. Ternyata kita bertemu lagi." kata Graham melihat Varel saudara Viola.
"Graham." Varel terkejut saat melihat Graham.
"Bagaimana kabarmu." Graham tersenyum dan duduk di depan Varel.
"Kabarku baik-baik saja." Varel tersenyum.
"Pelayan aku pesan 1 porsi daging ayam dan 1 botol anggur." Teriak Graham.
"Baik, silakan tunggu pesanan anda." balas pelayan.
"Baron Graham mengapa kamu datang ke kota Criva." Tanya Varel.
"Aku datang ke kota Criva untuk menemui adikmu." Balas Graham.
Varel tersenyum kecut saat mendengar kata Graham.
Tidak lama kemudian pesanan Graham dan Varel datang bersamaan. "Ayo kita makan." Kata Graham melihat Varel.
"Baik." Varel mengangguk. Graham dan Varel mulai makan.
30 menit kemudian Graham telah selesai makan. "Biar aku yang membayar makananmu." Varel berdiri dan berjalan ke arah kasir.
Melihat Varel yang telah selesai membayar makanan Graham berkata. "Ayo kita kerumahmu."
__ADS_1
"Baik." Varel mengangguk.
Tidak lama kemudian Graham dan Varel tiba di rumah Viola. "Mengapa kamu kemari." Pria berusia 50 an dengan rambut sedikit putih terkejut melihat Graham.
"Apa Count Vasco tidak suka dengan kedatanganku." Tanya Graham.
Pria berusia 50 an yang tidak lain Vasco menghela nafas. "Silakan masuk Baron Graham."
Graham dan Varel kemudian masuk ke dalam rumah.
"Graham." Graham melihat Viola berjalan ke arahnya bersama Caroline ibunya.
"Mengapa kamu datang kemari." Tanya Viola.
"Tentu saja aku datang kemari untuk menemuimu." Graham tersenyum kemudian memberikan pil spirit level 1 kepada Viola.
"Pil spirit." Vasco, Caroline dan Varel terkejut melihat Graham memberikan pil spirit kepada Viola.
"Pergilah ke kamarmu dan konsumsi pil spirit itu." Kata Graham.
"Baik." Viola mengangguk dan berjalan ke kamarnya.
"Apa kalian bertiga ingin pil spirit juga." Kata Graham menunjukan 3 pil spirit level 1. Vasco, Caroline dan Varel terkejut melihat Graham mempunyai banyak pil spirit.
"Baron Graham mengapa kamu mempunyai banyak pil spirit." Tanya Vasco.
"Jawabannya sederhana. Aku seorang alkemis." Graham menyeringai. Vasco, Caroline dan Varel sekali lagi terkejut dengan jawaban Graham. "Jika tidak mau, aku akan menyimpan."
"Hehe, aku mau Baron Graham." Varel tersenyum. Varel tahu betapa sulitnya mendapatkan pil spirit level 1 di kerajaan Britania.
"Ambilah." Kata Graham memberikan pil spirit kepada Varel.
"Terimakasih Baron." Kata Varel dengan senang.
"Terimakasih atas kebaikan hati anda anda Baron." Caroline tersenyum dan mengambil 2 pil spirit dari Graham. Vasco menghela nafas melihat istrinya mengambil 2 pil spirit dari Graham.
"Baron Graham tolong ikut dengan saya." Kata Vasco.
"Baiklah." Balas Graham mengikuti Vasco. Graham dan Vasco kemudian masuk ke dalam ruangan.
"Baron Graham saya akan membayar 4 pil spirit level 1 yang anda berikan." Kata Vasco duduk di kursi.
"Jika kamu bersikeras ingin membayar pil yang aku berikan. Maka beri aku 4.000 coin emas." kata Graham.
Vasco mengangguk kemudian mengeluarkan 4.000 koin emas dari cincin ruang miliknya. Melihat tumpukan coin emas di depannya Graham berkata. "Kamu sangat kaya Count Vasco." Graham tersenyum kemudian memasukan 4.000 coin emas ke dalam cincin ruang miliknya.
"Tuan Vasco apa ada kamar kosong untukku. Aku tidak tidur sama sekali sejak tadi malam." Kata Graham melihat Vasco.
"Ikuti saya Baron Graham." Balas Vasco keluar dari ruangan. Graham kemudian mengikuti Vasco.
"Silakan bersitirahat di dalam." Kata Vasco membuka pintu kamar.
"Jangan lupa mengkonsumsi pil spirit yang telah kamu beli dariku." kata Graham masuk ke dalam kamar. Mendengar kata Graham Vasco berjalan ke kamar istrinya.
"Setelah menerobos tingkat master aku tidak kelelahan meski terus berlari selama 12 jam tanpa henti." Kata Graham berbaring di kasur.
"Menjadi kuat sangat menyenangkan." Graham tersenyum dan memejamkan matanya.
2 Jam kemudian Graham yang sedang tertidur mendengar suara ketukan pintu. "Tok." "Tok." "Sial, siapa yang menganggu tidurku." Kata Graham turun dari kasur dan membuka pintu.
Saat membuka pintu Graham melihat Viola yang berdiri di depannya. "Graham terimakasih sudah memberiku pil spirit level 1. Berkat mengkonsumsi pil yang kamu berikan aku menerobos tingkat Advanced." Viola tersenyum.
"Aku tidak memberimu secara gratis. Ayahmu membeli 4 pil spirit level 1 dariku seharga 4.000 coin emas." balas Graham.
__ADS_1
"Aku tahu. Meski begitu kamu menjualnya dengan harga murah. Harga pil spirit level 1 di pelelangan seharga 2.000 coin emas." kata Viola.
"Oohh, apa kamu sudah bangun." Graham melihat Vasco dan Caroline yang berjalan ke arahnya.
"Jika Viola tidak mengetuk pintu. Aku tidak akan bangun." Balas Graham.
"Jangan marah. Aku yang menyuruh Viola untuk membangunkanmu." Kata Vasco.
"Oohh. Apa ada yang ingin kamu katakan padaku." Graham menatap Vasco.
"Aku akan terus terang. Barron Graham aku ingin membeli lebih banyak pil spirit darimu." Kata Vasco melihat Graham.
"Aku kehabisan stock." Balas Graham berbohong.
"Jika begitu kamu tinggal membuat pil spirit. Bukankah kamu seorang alkemis." Kata Caroline.
"Nyonya Caroline. Kamu pikir siapa dirimu berani menyuruhku." Graham menatap Caroline.
Vasco dan Caroline terkejut dengan respon Graham. "Bahkan raja arthur tidak berani memerintahku. Kalian hanya seorang Count sudah berani menyuruhku." Graham mengeluarkan auranya.
"Kultivator tingkat Master." Vasco dan Caroline berkeringat saat merasakan aura Graham.
"Apa kamu sudah lupa bahwa aku pernah membunuh seorang Count." Graham menatap Vasco dan Caroline.
"Graham tolong maafkan kedua orang tuaku." Viola berkata dengan ketakutan. Viola tahu bahwa Graham tidak akan ragu untuk membunuh kedua orang tuanya.
Mendengar kata Viola, Graham menghilangkan auranya. "Menyebalkan, Aku bersikap baik kepada kalian. Karena kalian orang tua Viola." Graham menatap Vasco dan Caroline.
"Graham." Viola menarik pakaian Graham.
Graham melihat Viola dan menghela nafas. "Viola ayo kita pergi." kata Graham melihat Viola.
"Kita akan pergi kemana." Tanya Viola.
"Yang pasti meninggalkan kota ini." balas Graham.
"Apa kalian keberatan jika aku membawa Viola pergi." Graham menatap Vasco dan Caroline.
"Kami tidak keberatan." Vasco dan Caroline menggeleng.
"Bagus." Graham mengangguk.
"Viola kemasi barang-barangmu." Kata Graham.
"Semua barang-barang ada di dalam cincin ruang." Balas Viola.
"Jika begitu ayo kita pergi." kata Graham berjalan ke arah ruang depan.
"Baik." Viola mengangguk.
"Ayah, Ibu Viola pamit pergi." Viola melihat ayah dan ibunya.
"Jaga dirimu dengan baik Viola. Jika ayah dan ibumu memiliki waktu luang. Kami akan mengunjungimu di ibukota." Kata Caroline.
"Graham tolong perlakukan Viola dengan baik." Kata Vasco.
"Aku selalu memperlakukan wanitaku dengan baik." Balas Graham.
Viola melihat kedua orang tuanya kemudian berjalan ke arah Graham.
Melihat kepergian Graham dan Viola, Vasco berkata. "Aku tidak menyangka dia akan menerobos tingkat master."
"Jika tahu begini, aku akan memperlakukan dia dengan baik sebelumnya." Caroline tersenyum kecut.
__ADS_1