
"Selamat anda telah menyelesaikan misi harian. Anda mendapatkan 10 poin dan sepotong roti keras." "Karena banyak kultivator tingkat Advanced yang mengawasi anda. Roti otomatis di simpan di tabel penyimpanan." Graham Melihat notifikasi yang muncul di depannya.
"Berengsek, kamu memukulku. Saat aku tidak siap." John marah dan menyerang Graham. Graham menghindari serangan John kemudian memukul perutnya. "Buukk." "Uuhh." John memegangi perutnya.
"Kamu bukan lawanku John." Kata Graham berjalan pergi. Alice melihat John kemudian mengikuti Graham. "Graham aku akan membalas penghinaan ini." John bereriak marah.
"Aku tidak menyangka kamu serius menghajar John." Kata Alice. Melihat Graham tidak membalasnya Alice berkata. "Apa kamu tidak takut dengan pembalasan orang tua John. Orang tua Joh adalah duke Paul kultivator tingkat master.
"Jika duke Paul menyerangku. Aku akan membuat anaknya menjadi cacat." Kata Graham dengan serius. Melihat ekspresi serius Graham. Alice tahu bahwa Graham tidak bercanda.
Saat ini di sebuah ruangan. Pria paruh baya sedang duduk bersama pria berkacamata. "Wakil kepala sekolah. Graham menghajar John." Kata pria berkacamata. "Pertarungan sesama murid adalah hal yang wajar." Balas pria berkacamata meminum secangkir teh.
"Setelah menghajar John. Graham mengatakan bahwa Viola adalah wanitanya." Kata pria berkacamata." "Uhuuk." Pria paruh baya terbatuk mendengar kata pria berkacamata.
"Bocah ini sudah gila. Apa dia tidak tahu bahwa Viola dijodohkan dengan John." Kata pria paruh baya. "Aku berharap Duke Paul tidak marah setelah mengetahui kejadian ini." Kata pria paruh baya dengan ekspresi serius.
1 Jam kemudian di sebuah ruangan. Seorang pria berotot dengan rambut coklat melihat pria yang membungkuk kepadanya. "Ada apa." Tanya pria berotot. "Tuan muda John di hajar oleh Graham." Kata pria. "Oohh. Apa kamu tahu alasan bocah Graham itu menghajar anakku." Tanya pria berotot.
"Alasannya adalah Viola anak Count Vasco yang dijodohkan dengan tuan muda John. Graham mengatakan Viola adalah wanitanya." Kata pria. "Hahaha. Bocah ini tidak kenal takut seperti rumornya." Pria berotot tertawa. "Beritahu Count Vasco tentang kejadian hari ini." Kata pria berotot. "Baik tuan." Pria membungkuk kemudian keluar dari ruangan.
Sementara itu di akademi Graham sedang mengikuti pelajaran sejarah. "Di benua barat ada 99 kerajaan dan 1 kekaisaran. Dan Britania merupakan kerajaan peringkat 98 di bawah kerajaan Avalon." Kata Graham mendengarkan cerita pria berkacamata.
__ADS_1
"Pak." Graham mengangkat tangannya. "Ada apa Graham." Pria berkacamata melihat Graham. "Mengapa kerajaan Britania berada di peringkat 98." Tanya Graham. "Jawabannya sederhana. Karena kerajaan Britania terlalu lemah. Kultivator terkuat di kerajaan Britania adalah peringkat Master. Sedangkan kultivator terkuat di kerajaan peringkat 80an adalah Grand Master."
"Terlebih lagi kerajaan Britania selalu berada di posisi paling akhir saat mengikuti tournament yang di adakan kekaisaran." Kata pria berkacamata. "Apa ada yang ingin kamu tanyakan lagi." pria berkacamata melihat Graham. "Tidak ada pak." Balas Graham. "Jika begitu bapak akan melanjutkan bercerita." Balas pria berkacamata.
7 Jam kemudian Graham dan Alice keluar dari akademi. "Alice ayo berkeliling kota sebelum kembali ke rumah." Kata Graham menggengam tangan Alice. "Baik." Alice mengangguk dan mengenggam tangan Graham.
2 Jam kemudian Graham dan Alice kembali ke rumah. "Kami pulang." Kata Alice masuk ke dalam rumah. "Mengapa kalian baru kembali." Tanya Viola. "Aku dan Alice berkeliling kota dulu sebelum kembali." Kata Graham mengelus rambut Alice.
"Apa kalian berdua sudah makan. Aku membuat ayam panggang." Kata Viola. "Apa kamu bisa memasak." Tanya Graham. "Kamu meremehkanku. Seorang perempuan harus bisa memasak." Kata Viola. "Baiklah, ayo kita makan." Balas Graham mengelus kepala Viola. "Baik." Viola mengangguk.
Tidak lama kemudian Graham, Alice dan Viola berada di ruang makan. "Makananmu sungguh enak Viola." Kata Graham mengigit ayam panggang. "Sudah kubilang aku bisa memasak." Kata Viola dengan bangga. Alice tertawa melihat Viola.
30 Menit kemudian Graham, Alice, dan Viola telah selesai makan. Alice melihat Viola kemudian berdiri. "Aku akan ke kamar." Alice berjalan ke kamarnya. "Aku juga." Graham memegang tangan Viola.
Graham membaringkan Viola ke Kasur dan mencium bibirnya. "Eeemm." Viola memejamkan matanya. Setelah puas mencium bibir Viola. Graham melepas pakaiannya. "Dadamu lebih besar dari milik Alice." Bisik Graham kemudian menjilati dada Viola. "Eeemm." Viola mengerang dan menutup mulutnya.
Setelah puas menjilati dada Viola. Graham melepaskan panties Viola. Graham mencium pussy Viola kemudian menjilatinya. "Aahh, aku belum membersihkan milikku." Kata Viola. "Tidak masalah Viola." Balas Graham terus menjilati pussy Viola.
Setelah puas menjilati pussy Viola. Graham menusuk pussy Viola dengan miliknya. "Aahhh." Viola menjerit dan memeluk Graham. "Cium aku Graham." kata Viola. Graham tersenyum kemudian mencium bibir Viola.
Ke esokan harinya Graham terbangun dan melihat Viola sedang memeluknya. "Viola ayo bangun." Bisik Graham di telinga Viola. "Eemm." Viola mengusap matanya. "Selamat pagi cantik." Kata Graham tersenyum. "Selamat pagi juga." Balas Viola.
__ADS_1
Tiba-tiba wajah Viola memerah. "Jangan katakan hal itu padaku." Viola tersipu malu. "Kenapa. Apa kamu malu di panggil cantik." Graham tersenyum. "Aku tidak malu." Balas Viola dengan wajah merah.
Melihat Viola yang malu. Graham mencium bibir Viola. "Emm." Viola memejamkan matanya dan memeluk Graham. "Ayo kita lakukan satu ronde sebelum mandi." Bisik Graham. "Baik." Viola mengangguk.
1 Jam kemudian Graham dan Viola keluar dari kamar dan berjalan ke ruang tamu. "Aku tidak menyangka kalian berdua akan melakukan di pagi hari." Kata Alice melihat Graham dan Viola.
"Graham yang mengajakku berhubungan di pagi hari. Dan kamu tahu aku tidak bisa menolak ajakannya." Balas Viola dengan malu. "Bukankah kamu tadi juga menikmatinya." Bisik Graham di telinga Viola. Wajah Viola memerah saat mendengar bisikan Graham.
"Tok." "Tok." Graham mendengar suara ketukan pintu. "Viola lihat siapa yang mengetuk pintu." Kata Graham. "Baik." Viola berjalan ke arah pintu. "Viola membuka pintu dan berteriak. "Kakak." "Viola." Kata pria berusia 25 tahun dengan rambut hitam.
"Siapa dia Viola." Graham berjalan kearah Viola. "Dia adalah kakakku." Balas Viola. Pria melihat Graham dan berkata. "Selamat pagi Baron Graham. Saya adalah Varel anak Count Vasco dan kakak Viola." "Apa kedatanganmu kesini untuk menjemput Viola." Tanya Graham.
"Kedatangan saya disini untuk mengundang anda ke rumah. Ayah saya Count Vasco mengundang anda." Kata Varel. "Karena Viola berada di rumah anda. Sebaiknya anda mengajak adik saya untuk pulang ke rumah." Kata Varel melihat Viola.
"Naik apa kamu kemari." Tanya Graham. Graham tahu rumah Count Vasco bukan di ibukota. "Saya menaiki kereta kuda." Balas Vasco. Melihat kereta kuda yang berada di depan rumahnya Graham berkata. "Alice, Gumiho ayo ikut ke rumah Viola."
"Baik." Alice berjalan ke arah Graham. "Kuuu." Bayi rubah melompat ke arah Graham dan masuk ke dalam pakaiannya. Graham menggengam tangan Viola dan berjalan ke arah kereta kuda.
Graham, Viola, Alice, dan Varel kemudian menaiki kereta kuda. "Jalan." Kata Varel berbicara kepada kusir. "Baik." Balas kusir kemudian mencambuk kereta. "Nggiikk." Kereta kuda mulai berjalan.
"Apa kamu anak baron Austin." Kata Varel melihat Alice. "Benar, aku anak baron Austin." Balas Alice. "Baron Graham sungguh beruntung karena memiliki perempuan secantik nona Alice." Varel tersenyum.
__ADS_1
"Misi Harian usir Varel dari kereta kuda. Hadiah menyelesaikan misi mendapatkan 10 poin dan sepotong roti keras." Notifikasi muncul di depan Graham. "Diamlah." Kata Graham melihat Varel.
"Huuhh." Varel terkejut dengan kata Graham. "Jika kamu tidak diam. Aku akan menghajarmu." Kata Graham. "Baiklah, aku akan diam." Varel tersenyum. "Dia gila seperti yang dirumorkan." Gumam Varel di pikirannya.