
"Apa kamu tahu. Hubungan antara kerajaan Moniyan dan kerajaan Barren semakin memanas akhir-akhir ini." Kata seorang pria.
"Benar, jika perang sampai terjadi. Mau tidak mau kita akan berpatisipasi dalam perang." Balas pria lain.
"Sepertinya negara ini akan berperang." Gumam Graham mendengar obrolan dua pria.
Beberapa menit kemudian Graham telah selesai makan dan meninggalkan restoran. "Tuan, apa kita akan meninggalkan kota ini." tanya Amori.
"Tidak, kita akan mencari penginapan dan menghabiskan waktu bersama." Balas Graham.
"Baik tuan." Amori tersipu malu saat mendengar kata Graham.
Tidak lama kemudian Graham menemukan penginapan dan memesan 1 kamar. Graham masuk ke dalam kamar bersama Amori. "Tuan, apa Amori perlu mandi dulu." Kata Amori dengan wajah merah.
"Tidak perlu. Aku suka bau keringatmu." Kata Graham menjilat leher Amori.
"Ahhh." Amori mengerang saat Graham menjilati lehernya.
"Tuan." Amori menatap Graham kemudian mencium bibir Graham.
Beberapa jam telah berlalu. Saat ini Graham sedang duduk di kursi dan meminum anggur. "Tuan. Karena anda telah mengambil kesucian Amori. Tuan tidak boleh meninggalkan Amori." Kata Amori mengingau.
"Dia perempuan yang menarik." Graham tersenyum saat mendengar Amori yang mengingau.
"Baiklah, sekarang waktunya berkultivasi." Kata Graham duduk di lantai dan mulai berkultivasi.
Keesokan harinya Amori terbangun dan melihat Graham sedang berkultivasi. "Ahh, tuan sedang berkultivasi." Amori terkejut.
"Kamu sudah bangun." Graham membuka matanya dan melihat Amori.
Amori mengangguk dan berkata. "Selamat pagi tuan."
"Selamat pagi juga." Balas Graham.
"Apa tuan tidak tidur sejak tadi malam." tanya Amori.
"Tidak." Balas Graham.
"Ahhh." Amori terkejut dengan jawaban Graham.
"Mandilah, setelah itu kita akan pergi ke restoran." Graham melihat Amori.
"Baik tuan." Amori mengangguk.
"Apa tuan tidak ingin mandi bersama Amori." Amori tersenyum.
"Tidak, kamu bisa mandi sendiri." Balas Graham. Amori cemberut saat mendengar jawaban Graham.
1 Jam kemudian Graham dan Amori keluar dari penginapan. "Menyingkir dari jalan." Teriak seorang pria yang mengendarai kereta kuda. "Ngggiiikkk." Graham menghentikan kuda dengan satu jarinya.
"Hei, mengapa kamu tidak menyingkir dari jalan." Pria berteriak kepada Graham.
"Beraninya manusia rendahan sepertimu berteriak kepadaku." Kata Graham menunjuk pria. "Buusshh." Jarum angin keluar dari jari Graham dan menembus kepala pria.
"Buuukk." Pria jatuh ke tanah dengan kepala berlubang.
__ADS_1
"Ahhh. Pembunuhan." Seorang wanita berteriak melihat pria jatuh ke tanah.
"Singgg!!." Graham melihat 10 prajurit mengelilingi dirinya dan Amori.
"Berhenti." Graham mendengar suara dari dalam kereta kuda.
"Dia adalah penyihir. Kalian tidak akan mungkin bisa mengalahkannya." Seorang wanita berkulit putih dengan rambut pirang keluar dari kereta kuda.
"Putri Bella." Semua penduduk membungkuk saat melihat wanita berkulit putih dengan rambut pirang keluar dari kereta kuda.
"Dia cantik." Gumam Graham melihat wanita berambut pirang.
"Hei, mengapa kamu tidak berlutut di hadapan putri Bella." Seorang prajurit berteriak kepada Graham.
Graham menunjuk prajurit kemudian jarum angin keluar dari jarinya. "Buusshh." Jarum angin menembus kepala prajurit. "Buukk." Prajurit jatuh ke tanah dengan kepala berlubang.
"Kamu." 9 prajurit terkejut Graham membunuh teman mereka.
"Mengapa kamu membunuhnya." Wanita berambut pirang melihat Graham.
"Aku tidak suka dengan orang yang berteriak kepadaku." Balas Graham.
"Jika aku berteriak kepadamu. Apa kamu akan membunuhku juga." Wanita berambut pirang melihat Graham.
"Tidak. Aku akan menjadikanmu sebagai budakku." Graham melihat wanita berambut pirang.
"Lancang." 9 prajurit berteriak mendengar kata Graham.
"Wuusshh." Graham menciptakan api kemudian membakar 9 prajurit. "Ahhh." 9 prajurit berteriak saat tubuh mereka terbakar.
"Jika mereka tidak menyinggungku. Aku tidak akan membunuh mereka." Balas Graham.
"Amori ayo pergi." kata Graham berjalan ke arah restoran.
"Baik tuan." Amori mengangguk dan mengikuti Graham. Wanita berambut pirang terkejut melihat Graham pergi bergitu saja.
Graham masuk ke dalam restoran dan berkata. "Pelayan aku pesan 2 porsi daging ayam."
"Baik tuan." Balas pelayan dengan ketakutan. Pelayan telah melihat Graham membunuh 10 prajurit dengan mudah.
"Kreekk." Graham melihat wanita berambut pirang masuk ke dalam restoran dan berjalan ke arahnya.
"Aku belum pernah mendengar penyihir yang menguasai 2 elemen di kerajaan Moniyan. Apa kamu berasal dari kerajaan Barren." Wanita berambut pirang melihat Graham.
"Aku bukan berasal dari kerajaan Barren." Balas Graham.
"Jika begitu dari mana kamu berasal." Wanita berambut pirang melihat Graham.
"Amori apa nama desa tempat tinggalmu." Graham melihat Amori.
"Nama desa tempat tinggal saya adalah Crack tuan." Balas Amori.
"Aku berasal dari desa Crack." Graham melihat wanita berambut pirang. Wanita berambut pirang tersenyum kecut saat mendengar kata Graham.
"Tuan ini pesanan anda." Graham melihat pelayan restoran mengantarkan 2 porsi steak daging.
__ADS_1
"Apa kamu mau." Graham melihat wanita berambut pirang.
"Terimakasih. Aku masih kenyang." Balas wanita berambut pirang."
"Benar. Aku belum mengetahui namamu." Kata wanita berambut pirang.
"Namaku Graham." Balas Graham memakan daging.
"Namaku Bella." Balas wanita berambut pirang.
"Setelah selesai makan, ikut denganku ke istana." Kata wanita berambut pirang.
"Baiklah, aku juga ingin melihat semewah apa istana di kerajaan ini." kata Graham mengigit daging.
Beberapa menit kemudian Graham dan Amori telah selesai makan dan meninggalkan restoran. "Graham. Jika kita sampai ke istana. Jangan bunuh prajurit yang menyinggungmu." Wanita beramput pirang melihat Graham.
"Hoaam. Barusan kamu mengatakan apa." Graham menguap.
"Jika kita sampai ke istana. Jangan bunuh prajurit yang menyinggungmu." Wanita berambut pirang mengulang perkataannya.
"Aku tidak mendengarnya." Graham membersihkan telinganya.
"Kamu." Wanita berambut pirang tidak bisa berkata-kata saat melihat Graham.
Tidak lama kemudian Graham, Amori dan wanita berambut pirang tiba di istana. "Putri Bella." Penjaga membungkuk saat melihat wanita berambut pirang.
"Ayo masuk." Kata wanita berambut pirang masuk ke dalam istana. Graham dan Amori masuk ke dalam istana mengikuti wanita berambut pirang.
"Aku ingin berbicara dengan ayahku." Kata wanita berambut pirang melihat dua penjaga yang berdiri di depan pintu." "Krekkk." Penjaga kemudian membuka pintu.
"Ayo masuk." Kata wanita berambut pirang masuk ke dalam ruangan. Graham dan Amori kemudian masuk ke dalam ruangan.
"Ayah." Wanita berambut pirang melihat pria paruh baya berambut pirang yang duduk di singgasana.
"Kamu sudah kembali." kata pria paruh baya berambut pirang.
"Benar ayah. Aku baru saja kembali." Balas wanita berambut pirang.
"Siapa mereka berdua." Pria paruh baya berambut pirang melihat Graham dan Amori.
"Dia adalah Graham penyihir elemen angin dan api." Wanita berambut pirang mengenalkan Graham.
"Jadi kamu raja di kerajaan ini." kata Graham melihat pria paruh baya berambut pirang.
"Lancang. Beraninya kamu berbicara seperti itu kepada yang mulia." Seorang penjaga berteriak melihat sikap Graham.
Graham menunjuk penjaga kemudian jarum angin keluar dari jarinya. "Buusshh." Jarum angin menembus kepala penjaga. "Buuukkk." Penjaga jatuh ke tanah dengan kepala berlubang.
"Beraninya kamu membunuh salah satu penjagaku." Pria paruh baya berambut pirang marah dan mengeluarkan mana yang menyelimuti tubuhnya.
"Apa kamu percaya jika aku juga bisa membunuhmu." Graham tersenyum dan mengeluarkan auranya.
"Uuuhhh." Pria paruh baya dan wanita berambut pirang terjatuh ke lantai saat merasakan aura Graham.
"Penyihir 10 star." Pria paruh baya ketakutan saat melihat Graham.
__ADS_1