
30 menit kemudian Graham melihat Rudeo kembali. "Yang mulia, semua penduduk telah berkumpul di alun-alun ibukota." Kata Rudeo.
"Ayo Graham." Kata Arthur melihat Graham.
"Ayo." Balas Graham.
Graham dan Arthur berjalan keluar ruangan.
Tidak lama kemudian Graham tiba di alun-alun kota dan melihat puluhan ribu penduduk.
"Selamat siang semua rakyatku semuanya. Hari ini saya Arthur akan menyerahkan takhtaku kepada Graham." Kata Arthur melihat semua penduduk.
"Apa!!." Semua penduduk terkejut mendengar kata Arthur.
"Saya keberatan dia menjadi raja." Teriak pria berotot.
"Duke Paul." Semua orang berteriak melihat pria berotot yang melayang di udara.
"Katakan apa alasan duke Paul keberatan." Arthur melihat pria berotot.
"Dia masih berusia 15 tahun. Terlebih lagi dia suka membuat kekacauan di ibukota." Kata pria berotot.
"Benar, Graham masih berusia 15 tahun."
"Dia terlalu muda untuk menjadi raja." Semua orang mulai bergosip.
"Jika kamu keberatan aku menjadi raja. Mengapa kita tidak bertarung." Kata Graham mengeluarkan auranya.
"Buzzz." Semua orang terkejut saat merasakan tekanan aura Graham.
"Tingkat Grand Master." Duke Paul terkejut.
"Bagaimana mungkin pemuda berusia 15 tahun mencapai tingkat Grand Master." Semua penduduk terkejut.
"Duke Paul. Apa kamu masih tidak setuju aku menjadi seorang raja." Graham melayang di langit.
Ekspresi pria berotot menjadi buruk mendengar kata Graham. Dia tahu dirinya tidak akan menang jika bertarung dengan Graham.
"Karena kamu tidak menjawab pertanyaanku. Aku anggap kamu setuju aku menjadi raja." Kata Graham melayang turun dari langit dan berdiri di samping Arthur.
"Karena duke Paul tidak keberatan Graham menjadi raja. Mulai hari ini saya Arthur menyerahkan takhta saya kepada Graham." Kata Arthur.
"Graham apa kamu bersedia menjadi raja kerajaan Britania." Kata Arthur melihat Graham.
"Aku bersedia." Balas Graham.
Arthur kemudian memasangkan mahkota di kepala Graham.
"Selamat anda telah menyelesaikan misi harian. Anda mendapatkan 10 poin dan sepotong roti keras." Notifikasi hitam muncul di depan Graham.
"Sekarang giliranmu untuk berpidato." Arthur berbicara dengan pelan.
"Tidak perlu, kamu bisa membubarkan mereka." Kata Graham berjalan pergi.
Semua penduduk terkejut melihat Graham yang pergi begitu saja.
Saat ini Graham sedang berada di istana dan duduk di singgasana. "Aku tidak menyangka akan menjadi seorang raja." Kata Graham memakan anggur.
"Tok." "Tok." Graham mendengar suara ketukan pintu.
"Graham ini aku Arthur." "Masuklah." Kata Graham.
__ADS_1
Graham melihat Arthur masuk ke dalam ruangan. "Ada apa Arthur." Graham melihat Arthur.
"Aku akan meninggalkan kerajaan ini bersama keluargaku." Kata Arthur.
"Oohh. Kamu ingin pergi kemana." Tanya Graham.
"Kami akan pergi kekaisaran." Balas Arthur.
"Oohh." Graham terkejut dengan jawaban Arthur.
"Graham jangan hancurkan kerajaan Britania." Kata Arthur.
"Kamu tidak perlu khawatir." Balas Graham.
"Baiklah, aku akan pergi." kata Arthur kemudian keluar dari ruangan.
"Sayang sekali dia pergi dari kerajaan ini. Padahal dia mempunyai anak yang cantik." Kata Graham mengingat Flora.
Tidak lama setelah Arthur keluar. Pria berotot yang tidak lain Paul masuk ke dalam ruangan. "Apa kamu akan meninggalkan kerajaan Britania juga." Graham melihat Paul.
"Benar, aku akan meninggalkan kerajaan Britania." Paul mengangguk.
"Jika kamu ingin pergi. Maka pergilah. Kerajaan Britania tidak butuh orang sepertimu." Kata Graham.
Paul tersenyum kecut mendengar kata Graham. "Jika begitu saya akan pergi." kata Paul keluar dari ruangan.
Tidak lama setelah Paul keluar dari ruangan, seorang pria gemuk masuk ke dalam ruangan. "Apa kamu ingin meninggalkan kerajaan Britania juga." Kata Graham.
"Tidak yang mulia. Saya tidak ingin meninggalkan kerajaan Britania." Pria gemuk menggeleng.
"Saya datang kesini untuk mengucapkan selamat kepada yang mulia." Pria gemuk membungkuk.
"Saya adalah Henry yang mulia." Balas pria gemuk.
"Oohh, apa kamu marquis Henry." Kata Graham.
"Benar yang mulia. Saya Marquis Henry." Pria gemuk mengangguk.
"Ambil ini." Graham memberikan pil spirit level 2 kepada pria gemuk.
Pria gemuk terkejut melihat Graham memberikan pil spirit level 2.
"Jika kamu setia padaku. Aku akan memberikanmu lebih banyak pil spirit." Kata Graham melihat pria gemuk.
"Saya Henry mulai hari ini bersumpah setia kepada Raja Graham." Henry membungkuk.
Henry tahu di kerajaan Britania tidak menjual pil spirit level 2. Namun Graham memberikannya pil spirit level 2 dengan santai. Hal itu membuat Henry yakin bahwa setia kepada Graham adalah pilihan yang benar.
"Henry, katakan pada semua bangsawan di kerajaan Britania. Jika mereka tidak menemuiku dalam waktu 3 hari. Aku akan membuang gelar bangsawan mereka." Kata Graham melihat pria gemuk.
"Baik yang mulia." Henry mengangguk.
"Benar, pergilah ke rumahku. Suruh Alice, Viola dan Fanny untuk menemuiku." Kata Graham.
"Baik yang mulia." Henry mengangguk kemudian keluar dari ruangan.
Beberapa menit kemudian Graham melihat Alice, Viola dan Fanny masuk ke dalam ruangan. "Kuuu." Rubah putih melompat dari pelukan Alice dan berlari ke arah Graham.
"Kami memberi hormat kepada yang mulia." Alice, Viola dan Fanny membungkuk kepada Graham.
"Fanny." Graham melihat Fanny.
__ADS_1
"Iya yang mulia." Fanny melihat Graham.
"Berhentilah menjadi kepala sekolah akademi royal. Dan jadilah asistenku." Kata Graham melihat Fanny.
"Baik yang mulia. Saya akan berhenti menjadi kepala sekolah." Fanny mengangguk.
"Bagus. Di istana ini ada 20 kamar. Kalian bisa memilih kamar mana yang kalian suka." Kata Graham melihat Alice, Viola dan Fanny.
"Baik yang mulia." Alice, Viola dan Fanny membungkuk kemudian keluar dari ruangan.
Saat ini di kota Criva. "Aku tidak menyangka dia akan menerobos tingkat Grand Master dan menjadi raja." Kata pria berusia 50 an yang tidak lain Vasco ayah Viola.
"Ayah apa kita akan pergi ke ibukota." Tanya Varel kakak Viola.
"Tentu saja kita akan pergi ke ibukota. Katakan pada ibumu untuk bersiap-siap." Balas Vasco.
"Baik yah." Varel mengangguk.
Saat ini di kota Roan. Seorang pria paruh baya sedang membaca sebuah surat. "Aku tidak menyangka calon menantuku mencapai tingkat Grand Master dan menjadi raja." Kata pria paruh baya yang tidak lain adalah Austin ayah Alice.
"Sepertinya aku harus pergi ke ibukota lagi." kata Austin berdiri dan keluar dari ruangannya.
Keesokan harinya Graham yang sedang duduk di singgasana mendengar suara ketukan pintu. "Tok." "Tok."
"Yang mulia Count Vasco Bersama keluarganya dan Baron Austin ingin bertemu dengan anda." Kata Fanny yang berada di luar pintu.
"Biarkan mereka masuk." Balas Graham.
Vasco, Caroline, Varel dan Austin kemudian masuk ke dalam ruangan. "Kami memberi hormat kepada yang mulia." Vasco, Caroline, Varel dan Austin membungkuk kepada Graham.
"Bagus, kalian datang lebih cepat dari perkiraanku." Graham mengangguk.
"Ambil ini." Graham memberikan Vasco, Caroline, Varel dan Austin masing-masing 1 pil spirit level 2.
Vasco, Caroline, Varel dan Austin terkejut melihat Graham memberikan mereka pil spirit level 2. Mereka tahu pil spirit level 2 tidak ada di kerajaan Britania.
"Jika kalian setia padaku. Di masa depan aku akan memberikan lebih banyak pil spirit kepada kalian." Kata Graham melihat Vasco, Caroline, Varel dan Austin.
"Saya Austin mulai hari ini bersumpah setia kepada Raja Graham." Austin bersumpah tanpa ragu.
"Saya Vasco mulai hari ini bersumpah setia kepada Raja Graham." Begitu juga dengan Vasco.
"Saya Caroline mulai hari ini bersumpah setia kepada Raja Graham." Caroline membungkuk.
"Saya Varel mulai hari ini bersumpah setia kepada Raja Graham." Varel membungkuk.
"Baiklah, kalian bisa pergi." kata Graham melihat Austin, Vasco, Caroline dan Varel.
"Baik yang mulia." Austin, Vasco, Caroline dan Varel membungkuk kemudian keluar dari ruangan.
Graham keluar ruangan dan melihat Fanny yang berdiri di depan pintu. "Ikut denganku ke tempat pembuatan senjata."
"Baik yang mulia." Fanny mengangguk.
Graham kemudian berjalan pergi Bersama Fanny.
Tidak lama kemudian Graham tiba di tempat pembuatan. "Kamu bisa tunggu di luar. Aku akan membuat senjata." Kata Graham mengambil hammer hitam dari tabel penyimpanannya.
"Baik yang mulia." Fanny mengangguk kemudian keluar dari ruangan.
Graham menghidupkan api dan mengambil sebuah besi. Graham membakar besi dan mulai menempanya. "Tingg!!." "Ting!!."
__ADS_1