Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
10.


__ADS_3

"Tu tuan Ray!" Devi nampak begitu kaget saat melihat kedatangan orang yang cukup berpengaruh itu.


"Bagaimana keadaannya?" Sorot mata Ray begitu tajam saat menanyakan keadaan dari wanitanya.


"Masih didalam tuan, dokter belum ada yang keluar." Jelas Devi dengan nada bicara yang sedikit bergetar.


Mereka ikut menunggu diluar ruang tindakan, Devi yang menyaksikan Ray seperti setrikaan. Baru kali ini ia melihat orang yang begitu tinggi tingkatannya dari segi harta dan tahta, sangat khawatir dengan sahabatnya yang hanya orang biasa.


Nisha, kau sangat beruntung sekali. Lihatlah, tuan Ray sangat mengkhawatirkanmu. Kuatkan untuknya Nis dan juga untuk kami. Devi dengan lamunannya yang sudah kemana-mana.


Klik!


Pintu ruangan tersebut terbuka, terlihat seorang dokter berjalan keluar dari ruangan tersebut. Dengan secepat kilat, Ray mencegat dan menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaannya?" Begitu seriusnya Ray mempertanyakan hal tersebut kepada dokter itu.


Dokter tersebut menatap serius pada Ray, seakan menyelidiki siapa dirinya.


"Maafkan saya tuan Ray, saya tidak memperhatikan anda. Anda keluarga dari pihak pasien didalam?" Dokter tersebut baru menyadari jika orang yang berhadapan didepannya itu adalah orang yang sangat perpengaruh pada kesejahteraan rumah sakit tempat ia bekerja.


Ray menganggukkan kepalanya, sebagai pernyataan jika ia membenarkan hal tersebut.


"Pasien mengalami luka robek pada kepalanya, hal itu tidak sampai mengenai organ dalam. Hanya saja luka robek itu sedikit dalam dan membutuhkan perawatan intensif. Untuk luka yang lainnya, hanya goresan dari pecahan kaca saja." Penjelasan dokter tersebut membuat raut muka Ray menjadi menyeramkan.


Devi pun tampak begitu kaget dengan keadaan Nisha, ada rasa bersalah pada dirinya yang tidak bisa menjaga sahabatnya itu. Dokter tersebut pun berlalu setelah memberikan penjelasan mengenai pasiennya, begitupun terlihat pintu ruangan tersebut terbuka kembali yang membawa Nisha yang masih tidak sadarkan diri di atas brangkar menuju ruang perawatan, Ray dan Nisha berjalan mengikutinya.


Wew... Ini kamar orang sakit apa kontrakan ya, lengkap bener.


Devi terperangah saat melihat ruang perawatan khusus yang diberikan kepada Nisha.

__ADS_1


"Kamu?!" Ray menunjuk Devi.


"Saya tuan, ada apa?" Tanya Devi dengan kekagetannya, segera menghampiri.


"Tolong jaga sebentar untuk saya, jangan biarkan orang lain masuk. " Titah Ray yang begitu tegas.


"Si siap tuan, tanpa anda minta pun akan saya laksanakan. Tapi tuan, saya mau mengkonfirmasi dahulu pada pak Erwin." Devi takut jika semua warga Cafe sedang mengkhawatirkan keadaan Nisha.


"Aku yang akan mengurusnya, kamu disini saja menjaganya." Mendapatkan anggaran kepala dari Devi, Ray berjalan meninggalkan ruang perawatan yang mendapatkan pengawasan darinya. Dengan menempatkan beberapa bodyguardnya untuk berjaga di depan ruangan.


Mengendarai mobilnya sendiri menuju tempat yang sudah diberitahukan oleh Felix padanya, Ray melajukan kecepatan mobilhya dengan sangat cepat. setibanya ia disana,dengan kasar menutup pintu mobil dan memasuki tempat yang memang sudah biasa mereka gunakan.


"Selamat datang tuan, mari. " Felix menyambut kedatangannya dan menghantarkannya menuju suatu ruangan.


Langkah kaki yang cukup panjang, membuat mereka dengan cepat menemukan ruangan tersebut. Disana sudah nampak dua orang yang sedang mendapatkan introgasi dari pihak Ray, namun mereka belum bisa menentukan tindakan selanjutnya. Karena Ray yang memintanya sendiri untuk memberikan pelajaran kepada mereka, melihat keduanya saja sudah memancing emosi seorang Ray.


"Apa yang telah kalian lakukan padanya?" Ucapan Ray yang terdengar masih sangat datar.


Brak!


"Cepat katakan! Atau kau akan tahu akibatnya membuang waktuku!" Kali ini emosi Ray benar-benar tersulut.


Mendapatkan sikap Ray yang sangat menakutkan, membuat pria yang bersama wanita tersebut melerainya. Namun bukan Ray namanya, jika harus sabar menghadapi orang seperti mereka.


"Maaf tuan, teman saya memang sudah melakukan kesalahan. Dan itu hanya kesalahpahaman diantara dirinya dengan wanita tersebut, kami akan mempertanggung jawabkan semuanya." Pria tersebut menyadari dari aura yang ditampakkan oleh Ray begitu sangat keras.


"Hei, apa-apaan kamu hah! Kita nggak salah, dasar pelayan itu saja yang tidak becus bekerja. Masih untung kita tidak mengadukannya kepada pihak yang berwajib, pencemaran nama baik itu namanya." Begitu angkuhnya wanita itu dengan melipat kedua tangannya didepan.


"Sstthh, sudahlah. Itu kan memang kesalahan kamu, kartu kamu memang nggak bisa digunakan. Sudah overlimit tahu nggak, makanya jangan boros. Nggak sadar diri kamu." Pria tersebut berbisik kepada temannya.

__ADS_1


Terjadi perdebatan diantara mereka berdua, bahkan Felix dan lainnya sudah tersenyum sijis dengan sikapnya. Namun tidak bagi Ray, entah mengapa ia sangat begitu emosi saat mendengar wanita yang ia cap sebagai miliknya terluka.


"Diam!! Kalian benar-benar tidak mau mengakui kesalahan yang sudah kalian lakukan pada wanitaku! Jika itu mau kalian, bersiaplah untuk berpindah ke alam lain. Felix! Bawa miliku kemari." Sorot mata Ray sudah begitu merah menahan amarahhya.


Tanpa menunggu lama, Felix telah membawa sebuah benda kecil yang berada dalam sebuah kotak kecil yang berlapiskan emas. Awalnya, kedua tahanan mereka belum menunjukkan reaksi apa-apa. Setelah kotak kecil itu berada ditangan sang tuannya, terlihat sebuah berlatih kecil yang berkilauan terkena cahaya.


"A a pa yang kau lakukan tuan, saya mohon maafkan kami." Pria tersebut terus memohon ampun kepada Ray yang sudah mendekati mereka.


"Tu tuan, apa yang akan kau lakukan. Aku tidak bersalah, pelayan itu memang yang sudah memfitnahku. Ja jangan lakukan itu tuan, lepaskan kami." Pinta wanita tersebut yang sudah sangat ketakutan.


Berlatih kecil itu sudah bergerak dengan cukup lincahnya, bagaikan angin yang berhembus begitu saja.


Crash!


"Argh! Apa-apaan ini! Kau melukai tanganku." Teriakan dari wanita itu cukup membuat Ray tersenyum sinis.


"Heh, sudah aku peringatkan sebelumnya. Tapi kalian masih membangkang, kali ini aku tidak menerima lagi pembelaan apapun."


Keduanya berusaha untuk meminta Ray untuk tidak menghukum mereka lagi, bahkan wanita tersebut mengakui kesalahannya yang sudah melukai Nisha. Ray tidak menanggapi ucapan tersebut, ia hanya membersihkan benda kecil miliknya dan kembali meletakkannya ke dalam tempatnya.


"Bereskan mereka, aku tidak ingin mereka masih bernafas. Aku akan kembali ke rumah sakit." Ray melemparkan kotak kecil itu kepada Felix dan setelah ia berlalu dari tempat tersebut.


Menghembuskan nafas dengan cukup cepat dan berat, Felix mengembalikan kotak tersebut pada tempat sebelumnya. Memandangi kedua tahan mereka yang masih meminta pengampunan darinya, menggelengkan kepalanya yang sudah cukup pegel.


"Kalian benar-benar bo***h, mendapatkan penawaran untuk mengakui kesalahan. Tapi dengan sombongnya kalian menepisnya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Selamat jalan menuju kehidupan selanjutnya tuan, nona."


Dor!


Dor!

__ADS_1


Tepat mengenai dada kiri dari keduanya, dalam hitungan detik mereka pun menghembuskan nafas terakhirnya.


__ADS_2