Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
33.


__ADS_3

Brak!


Pintu utama mansion terbuka dengan sangat kasar, Ray berjalan dengan sedikit berlarian memasuki bangunan itu dan menuju kamar utama.


"Baby! Sayang, sayang." Suara Ray memecahkan telinga dengan suaranya yang begitu keras.


Memasuki kamar miliknya, mencari keberadaan wanita yang sangat ia rindukan. Akan tetapi, ruangan kamar itu kosong. Di kamar mandi pun tidak ada, membuat Ray menjadi frustasi dengan keberadaan istrinya.


Namun saat kakinya akan melangkah keluar, sudut matanya melihat pintu balkon kamarnya terbuka. Dengan cepat ia menuju kesana, menghela nafas setelah menemukan apa yang ia cari.


"Kenapa sampai ketiduran disini, baby. " Tangan kekar itu membelai wajah Nisha perlahan, membawa tubuh itu masuk dan membaringkannya di atas tempat tidur.


Dengan berpindahnya tempat, tidak membuat Nisha terbangun. Hal itu mengundang rasa curiga Ray kepada istrinya itu.


Tidak biasanya istriku seperti ini, dia akan selalu peka dengan apa yang terjadi. Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?


"Eugh." Nisha mengeliat, merenggangkan otot-ototnya yang begitu terasa kaku.


Ia tidak menyadari jika dirinya sudah berpindah tempat dan ada seseorang yang sedang memandanginya dengan begitu serius. Begitu matanya terbuka, tubuh Niaha mendadak kaku.


"Mas, mas Ray?!" Seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Nisha menggosok-gosok kedua matanya.


"Benarkah itu kamu, mas?"


"Memangnya siapa lagi yang memiliki wajah tampan seperti ini, yang membuat seorang Nisha begitu kagum dan terikat oleh seorang Ray." Begitu percaya dirinya Ray mengatakan hal tersebut.


Tiba-tiba saja pria bertubuh ekor itu membawa Nisha ke dalam pelukannya, memberikannya ciuman pada semua sudut wajah dan hasilnya membuat Nisha berteriak dengan keras.


"Mas Ray!"


"Loh, kenapa?" Ray nampak bingung dengan teriakan Nisha yang tiba-tiba.


Nisha mendorong tubuh Ray untuk menjauh darinya, memberikan tatapan tajam kepada pria yang sudah membuatnya hampir frustasi. Kini, dengan tidak ada rasa bersalah sedikitpun, pria itu kembali.


"Kenapa tidak memberikan kabar? Seenaknya saja pergi, kini pulang juga seperti itu. Dasar laki-laki tidak peka dengan perasaan istri, pergi lagi saja sana, sekalian tidak usah balik lagi!"


Bukannya marah ataupun membela diri, Ray begitu menikmati sikap Nisha yang kali ini benar-benar membuatnya tersenyum.

__ADS_1


Tak!


"Ya! Sakit!" Keluh Nisha saat Ray memberikan sentilan pada keningnya.


"Kenapa istriku ini sekarang berubah menjadi sangat cerewet ya, suaminya pulang bukannya disambut dan diberikan sesuatu yang membuatnya bahagia misalnya. Tapi, ternyata mendapatkan dengkuran halus dan omelan." Ray bersedekap dengan menatap Nisha.


"Siapa suruh tidak ada kabar, mana lama lagi. Pulang-pulang ngomel-ngomel tidak jelas dan minta disambut segala, seharusnya aku marah sama mas." Nisha melewati Ray begitu saja dan menuju ke kamar mandi.


"Tunggu sayang, sayang." Ray menyusul mengikuti langkah kaki Nisha.


Baru saja beberapa langkah turun dari tempat tidur, tiba-tiba saja pandangan Nisha berembun dan tubuhnya hilang keseimbangan.


Brugh!


"Sayang!"


Ray menjadi panik melihat istrinya jatuh ke lantai, dengan cepat ia meraihnya dan menyadarkan pada dadanya.


"Sayang, sayang ada apa?" Kepanikkan memenuhi wajah Ray, ia melihat wajah Nisha begitu pucat.


"Egh ti tidak apa-apa mas, tiba-tiba saja pandanganku kabur." Nisha memegang pelipisnya dan sedikit memberikan pijatan.


"Tunggu mas." Nisha menahan tangan Ray agar tidak pergi.


"Ada apa sayang? mas hanya mau mengambil air di atas nakas."


"A aku mau bicara sesuatu padamu mas." Tatapan mata Nisha menunjukkan jika ia serius.


Mengurungkan niatnya untuk mengambil air minum untuk istrinya, Ray kembali duduk disamping Nisha. Mengambil tangannya dan menggenggam serta memberikan sebuah kecupan hangat pada punggung tangan Nisha.


"Mas janji, akan menjawab setiap pertanyaanku tanpa menutupi apapun dariku?!" Nisha meminta persetujuan dan berharap Ray akan mengikuti apa yang ia inginkan.


"Baiklah sayang, apa yang tidak untukmu."


Mengambil nafas perlahan, Nisha memejamkan kedua matanya sesaat dan mengumpulkan semua memori pertanyaan yang akan ia layangkan kepada suaminya.


"Kenapa mas tidak ada kabar dalam waktu yang cukup lama?"

__ADS_1


"Ponsel mas rusak, pekerjaan disana juga sangat memakan waktu dan tenaga sayang. Maaf jika itu membuatmu marah." Ray menangkap jika Nisha sedang dalam mode emosi.


"Apa pekerjaan disana tidak ada sedetik pun untuk beristirahat sejenak?"


"Maaf sayang. "


"Apa mas tahu, aku disini hampir gila memikirkan keadaan mas disana. Tapi mas seperti melupakanku begitu saja."


"Sayang, maafkan mas."


Ray meraih tubuh Nisha dengan maksud untuk memeluknya dan meredakan emosinya saat ini kepada dirinya, ia juga merasa sangat bersalah terhadap keadaan Nisha saat ini. Namun hal itu mendapat penolakan dari Nisha, tubuh Ray sedikit terdorong atas aksi istrinya itu.


"Maaf, maaf, maaf. Apa hanya itu yang bisa mas katakan! Tidak adakah penjelasan lainnya yang seharusnya mas katakan kepadaku, jawab mas!" Perkataan Nisha sudah penuh dengan kalimat penekanan untuk Ray.


Menangis, itulah yang terjadi pada Nisha. Tubuh itu bergetar dengan isakan tangisnya sendiri, Ray juga begitu kaget mendapatkan sikap Nisha yang menurutnya sangat berbeda dari biasanya.


"Sayang, ..."


"Jangan menyentuhku mas, selagi kamu belum bisa jujur sama aku."


"Jujur seperti apa yang kami inginkan, Nisha. Mas benar-benar tidak mengerti maksud dari perkataanmu ini." Emosi Ray mulai sedikit terpenting.


"Tanya itu semua pada hati kecil mas, jangan pernah menyentuh ataupun berbicara padaku sebelum mas berkata jujur." Nisha membuang mukanya ke arah lain, ia begitu meluapkan emosinya pada Ray.


Isi kepala Ray sudah tidak bisa berpikir keras untuk mencari alasan kepana istrinya sampai bersikap seperti itu, jika ia tidak bisa mengendalikan emosinya saat ini. Maka, ia takut jika istrinya akan melihat sisi dirinya yang sebenarnya.


"Baby, maafkan mas. Mas janji tidak akan mengulangi hal ini lagi, jangan menangis seperti ini. Itu membuat mas merasa sakit, sayang." Ray kembali ingin meraih tubuh Nisha untuk memeluknya, namun hal itu mendapatkan penolakan lagi dari Nisha.


"Aku bilang jangan sentuh aku mas!"


Kali ini, emosi Ray benar-benar tidak bisa tertahankan lagi. Kedua bola mata itu mulai berubah warna menjadi merah, Nisha pun merasakan hal yang serupa.


Brakh!


"Baiklah. Terserah kau saja, mau percaya atau tidak itu bukan urusanku! Bahkan kau tidak sedikit pun memberikanku kesempatan untuk menjelaskan semuanya, aku memang bukan pria yang bisa memahami perasaan wanita, tapi kau membuatku benar-benar menjadi pria itu!" Kursi kecil pada meja rias telah hancur saat Ray menendangnya.


Tubuh Nisha seketika bergetar hebat melihat sosok Ray seperti itu, ia seakan-akan telah mendapatkan jawaban atas apa yang ia tanyakan kepada Ray.

__ADS_1


"Ka kamu benar-benar seorang ma ma fia, kamu mafia mas. Ti tidak." Nisha membekap mulutnya dan air mata itu tiada henti mengalir, berusaha bangkit dan menjauhkan diri dari Ray. Namun baru saja turun dari tempat tidur, Ray sudah menarik dan mencengkram lengan Nisha dengan sangat kuat.


__ADS_2