Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
89.


__ADS_3

Setelah melakukan pemeriksaan terhadap Nisha, Jackson menancapkan jarum infus pada punggung tangannya. Memastikan keadaannya tidak mengkhawatirkan, ia menambahkan vitamin ke dalam botol infus sehingga cairan itu berubah.


Menyuntikkan beberapa obat yang memang benar-benar dibutuhkan oleh tubuh wanita itu saat ini, namun dalam dosis yang sangat rendah. Tidak berani memberikan dosis pada umumnya, Jackson tidak ingin mengambil resiko yang akan berakibat fatal.


"Jangan terlalu membuatnya kelelahan Ray, nafsumu itu harus sedikit dikurangi intensitasnya. Kalau kondisinya sudah lebih baik, aku sarankan untuk menemui Zahra." Jackson menepuk bahu Ray dan tersenyum sebagai tanda baik untuk semuanya.


"Kau ingin bermain-main denganku, Jackson!" Nada suara itu sedikit meninggi kala mendapatkan jawaban yang ambigu.


"Hahaha, mana ada aku berani padamu Ray. Aku mengatakan sejujurnya, jika kondisi Nisha sudha lebih baik. Sebaiknya kalian bertemu dan berkonsultasi pada Zahra, karena dia yang mengerti dan ahli dalam bidang ini." Memang benar Jackson tidak memberikan jawaban secara utuh, agar Ray bisa menebak apa yang disampaikan oleh Jackson.


Sruth!


"Akh! Aku susah bernafas Ray!" Kerah kemeja yang digunakan Jackson ditarik Ray dengan paksa dan membuatnya merasa sulit bernafas.


"Katakan sebenarnya!"


Merasa pasukan udara pada kerongkongannya semakin menipis, dimana ia juga tahu kalau Ray bukankah orang yang suka bermain-main. Lagian juga, Jackson tidak ingin nyawanya lenyap begitu saja pada usianya saat ini.


"O oke, lepaskan dulu tanganmu. Aku mau bernafas."

__ADS_1


Perlahan tangan itu melonggar dan tarikan itu terlepas, menetralkan pernafasan yang sempat tersendat. Jackson benar-benar bodoh dalam keusilannya sendiri, hampir saja nyawa itu melayang.


"Cepat katakan!" Teriakan Ray hanya ia dan Jackson yang bisa mendengarnya, selain mereka belum ada anggota keluarga yang lainnya untuk di izinkan masuk ke dalam.


Menarik nafas panjang, Jackson harus memutar otaknya untuk menyusun kata-kata yang mudah dicerna oleh tuannya.


"Istrimu sepertinya sedang mengandung, maka dari itu kalian perlu memastikannya dan bertemu dengan Zahra."


Bagaikan terkena sengatan listrik tegangan tinggi, Ray sedikit lambung dan tubuhnya bergerak mundur membentur dinding dibelakangnya. Perasaan yang campur aduk diantara kekhawatiran, panik dan juga kebahagian telah menjadi satu. Menatap Nisha dengan tatapan yang penuh arti, tak sengaja sudut mata itu mengeluarkan tetesan air.


"Sa sayang, benarkah ini?" Ray mendaratkan tubuhnya disamping Nisha yang masih terlelap.


"Dasar bucin tidak tertolong lagi." Jackson berlalu dari ruangan kamar tersebut dan memilih untuk keluar, berkumpul bersama yang lainnya.


Membiarkan Ray yang masih larut dalam kebahagian bercampur kecemasan didalam sana, Jackson menghampiri kedua keponakannya yang terlihat mencemaskan Nisha.


"Kenapa kalian disini? Mana yang lainnya?" Mendapati si kembar berdiri didepan pintu kamar utama.


"Bagaimana keadaannya mommy, uncle J?" Fiona sangat terlihat mengkhawatirkan keadaan Nisha, berbanding terbalik dengan Nathan yang begitu terlihat datar.

__ADS_1


"Mommy kalian baik-baik saja, kelelahan. Mau masuk?" Tawarnya untuk si kembar.


Keduanya sontak saja secara bersamaan menggelengkan kepalanya, mereka tahu jika Ray sedang dalam keadaan yang tidak mau diganggu. Apalagi ini berkaitan dengan mommu mereka, sudah jelas mereka akan mendapatkan penolakan jika ingin masuk kesana.


"Terserah kalian saja, uncle mau kebawah dulu." Memberikan senyuman dan mengacak-acak puncak kepala keduanya, Jackson menjauhi lantai atas.


Kepergian Jackson tanpa memberitahukan bagaimana keadaan mommy mereka, dimana Nathan hanya menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar orangtuanya. Berbeda dengan Fiona, ia sangat mencemaskan keadaa Nisha.


"Bang, kita masuk yuk."


"Kamu saja."


"Ish, abang itu kembaran sama Fio atau sama daddy sih? Kenapa selalu saja menjengkelkan. "


Terjadi perdebatan diantara keduanya, yang membuat mereka tidak sadar jika Ray sudah membuka pintu kamar dan berdiri diantaranya, menyaksikan si kembar sedang asik berdebat. Sampai ia merasa tidak akan terselesaikan perdebatan itu, Ray membuka suara.


"Jangan bertengkar, mommy butuh istirahat."


Keduanya langsung saja terdiam, saat mengetahui pemilik dari suara tersebut.

__ADS_1


__ADS_2