
Benar-benar sudah sangat menggemaskan, Ray tidak sanggup untuk menahannya lebih lama lagi. Menarik tubuh wanita berperut besar itu dan kemudian mencuri ciumannya dikeramaian, sontak saja membuat Nisha menjadi kaget serta malu.
Pukh!
"Malu mas, di liatin sama orang banyak." Nisha menatap Ray dengan memasang wajah cemberut.
"Biarkan saja, itu akan membuat mata mereka semakin membesar dan tidak akan menatap mas lagi. Karena kamu, adalah pemiliknya." Ray terlihat semakin menggoda.
Malas untuk berdebat dihadapan publik, Nisha menghindar dan berjalan kembali ke tempatnya. Kedatangan Nisha dengan wajah yang tidak baik-baik saja, membuat pasangan siput menatapnya dengan kening yang berkerut.
Disusul oleh kedatangan Ray dari arah belakang, membuat keduanya berpikir keras. Namun mereka hanya menghela nafas dengan sikap keduanya, yang diyakini jika keduanya sedang ada masalah.
"Dasar suami aneh, sudah dibilang banyak orang tapi masih saja." Nisha yang telah duduk berdengus kesal.
"Ada apa dengan kalian berdua?" Heru berani membuka suara saat Ray sudah bersama mereka.
"Ini ni, masa main cium saja didepan orang banyak. Malu la kak, mana penggemarnya mengumpat dengan kalimat yang aneh-aneh dari mulutnya." Nisha terus berceloteh mengeluarkan semua kekesalannya.
Bukannya mendinginkan suasana, Ray malah semakin senang melihat istrinya itu terlihat menggemaskan tingkat tinggi.
"Sshh, argh!" Nisha mengagetkan dengan suara rintihannya.
__ADS_1
"Sayang! A ada apa?!" Ray berubah panik.
"Nisha."
"Icha."
"Pe perutku! Argh!" Kembali Nisha merasakan sakit dan perutnya yang kencang.
Begitu panik dan tidak ingin terjadi apa-apa dengan istri serta calon buah hatinya. Ray mengendong tubuh Nisha dan membawanya menuju mobil. Heru dan Jihan juga mengikuti langkah Ray, meletakkan Nisha kedalam mobil dan Ray melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang sangat cepat. Dari arah belakang, Heru mengikutinya dengan perasaan was-was.
"Tahan sayang, kita ke rumah sakit ya." Menggengam tangan Nisha yang terasa begitu dingin.
"Tahan sayang, tahan ya." Ray menambah kecepatan laju mobilnya agar bisa segera tiba dirumah sakit.
Menghubungi Zahra segera, agar saat tiba dirumah sakit. Mereka bisa dengan cepat menangani Nisha, keringat membasahi wajah dan juga tubuh Nisha. Saat mobil berhenti, Ray segera keluar dan segera membawa Nisha turun.
"Nisha kenapa?" Zahra yang sudah menunggu didepan pintu ruang gawat darurat.
"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja dia merasakan sakit dan perutnya kencang." Meletakkan Nisha di atas brankar yang kemudian membawa tubuh wanita hamil itu memasuki ruang penanganan.
Zahra segera memeriksa kondisi Nisha, sangat terlihat jelas jika rasa sakit itu benar-benar telah membuatnya seperti tidak berdaya. Memberikan penanganan pertama pada kondisi seperti yang dialami Nisha.
__ADS_1
"Kalian habis darimana?" Pertanyaan Zahra yang terdengar ketus saat menemui Ray.
"Kenapa?" Ray hanya menjawab dengan pertanyaan kembali.
"Kondisi istrimu itu sedang hamil besar dan kembar Ray Tamoez! Dia itu kelelahan dan banyak pikiran, dasar kau ini!"
Bugh!
Pukulan telak menghampiri bahu Ray, hanya ringisan kecil yang terjadi. Tenaga yang dimiliki oleh Zahra cukup membuat seorang Ray merasakan sakit, karena dibalik gelarnya sebagai dokter kandungan. Ternyata Zahra juga menjadi bagian dari dunia bawah.
"Kau hampir saja membuat ketiganya masuk ke dalam zona bahaya." Ketus Zahra.
Seketika wajah Ray berubah pias, hal yang ia takuti benar-benar terjadi. Apalagi saat ini, Nisha masih meringgis dengan menahan rasa sakit itu.
"Sudah memasuki bulannya, kontrol emosi dan juga dirimu. Ingat, kondisi setiap orang berbeda. Biarkan masalah yang lainnya, serahkan saja pada suamimu. Dan kamu, lebih baik fokus untuk proses kelahiran, oke." Zahra memasang infus pada punggung tangan Nisha.
"Apa mereka baik-baik saja mbak?" Nisha menakutkan jika kondisi kedua janinnya.
"Cukup baik, tapi tidak untuk dirimu. Jangan kelelahan dan juga jangan banyak yang dipikirkan, itu bisa membuatnya menjadi lebih cepat dari waktunya dan berbahaya untuk kalian bertiga."
Penjelasan Zahra membuat Nisha mengeluarkan air mata, ia merasa begitu bersalah dengan apa yang terjadi. Jika saja ia tidak menuruti egonya, pasti dirinya tidak seperti ini.
__ADS_1