Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
24.


__ADS_3

Sudah beberapa hari dari keberangkatannya ke negara seberang, membuat Ray dalam keadaan yang tidak begitu baik. Keberadaan dari orang yang dari dulu ia cari, kini mulai menunjukkan diri.


"Semuanya sudah siap tuan, menunggu target yang masih dalam pengawasaan kita." Bibby memberitahukan kepada Ray akan pergerakan dari target mereka.


"Jangan sampai kita kehilangan lagi, dia sangat licin untuk kita tangkap." Ray menyesapi benda yang berasap dari mulutnya.


"Baik tuan, semua anggota kita sudah siap."


Mematikan benda yang ia hisap dengan menginjaknya, Ray bersiap untuk segera bertemu dengan orang yang selama ini ia nantikan. Kendaraan dalam jumlah yang cukup banyak sudah tersebar di berbagai titik rencana, bahkan mereka juga menyiapkan pasukan rahasianya untuk turun dalam rencana kali ini.


Terlihat beberapa orang dari target mereka sedang menjalankan bisnis mereka dalam dunia bawah, akan tetapi Ray seperti merasakan sesuatu kejanggalan yang terjadi.


"Tuan, anda mau kemana?" Bibby mendapati Ray yang berjalan sendiri dan keluar dari zona mereka.


Dengan berjalan terus, tanpa memperdulikan panggilan dari beberapa anggotanya. Ray ingin memastikan sesuatu hal yang menganjal dalam pikirannya dan menyakininya secara langsung, pergerakan darinya mengundang rasa penasaran dari anggota kelompoknya. Mereka tetap dengan rencana awal yang sudah siap, dan beberapanya lagi memecah untuk mengikuti serta memberikan pengamanan pada tuan mereka.


"Lemparkan sesuatu tepat pada arah jam empat bagian utara." Perintah Ray kepada anggotanya.


Anggota yang mengikuti langkah Ray cukup kaget dengan apa yang dikatakan olehnya, namun mereka tidak dapat untuk membantahnya. Pada saat mereka melempar tempat tersebut, terjadi sebuah ledakan yang cukup besar.


Duar!


Duar!


Dua kali ledakan terjadi, disaat yang bersamaan ledakan tersebut. Ray juga memerintahkan untuk menyergap titik-titik yang sudah mereka tandai sebelumnya, di luar dari dugaan yang mereka predeksi sebelumnya.


"Kosong!!" Semuanya berteriak bersamaan saat memasuki titik target mereka.


"Bre***ek!! Sial!!" Ray membogem tembok tepat disampingnya.


Brugh!


Tembok dinding itu hancur akibat dari pukulan tangan Ray, sudut-sudut jarinya memerah dan mengeluarkan cairan berwarna merah. Kemarahan Ray akan kejadian tersebut membuat merinding semua anggotanya, Bibby yang menyaksikan hal tersebut terperangah akibat ketidakjeliannya dalam mengamati situasi.

__ADS_1


"Ma maafkan saya tuan." Dengan tersendat, Bibby meminta maaf atas kejadian ini.


"Tidak perlu meminta maaf, selidiki semuanya. Jangan sampai hal ini terulang kembali, dia bukan lawan yang mudah. Huh." Ray memijat pelipisnya dengan berdesis memejamkan mata.


Sementara itu di negaranya, Heru yang mengetahui jika klien mereka adalah Vansh. Ia segera menarik lengan Nisha dengan kasar, membawa dirinya untuk menjauhi tempat yang akan mereka masuki.


"Aduh, kenapa kak?" Nisha yang bingung dengan sikap Heru yang tiba-tiba saja menariknya untuk menjauhi tempat yang ia datangi.


"Sebaiknya Caca saja yang menemui klien kalian, kau kembali masuk ke dalam mobil. Kakak akan menghubungi tuan Ray, jangan memberikan peluang pada manusia itu untuk mendekatimu lagi." Heru menjelaskan kepada Nisha kenapa ia menariknya dan melanjutkan langkahnya menuju mobil.


"Apakah benar dia adalah kak Vansh? Kenapa kita tidak diberitahukan sebelumnya tentang siapa yang menjadi klien tersebut kak, Akh!" Nisha berteriak ketika tangannya ditarik oleh seseorang dari arah belakang.


Heru yang mendapati Nisha berteriak segera menghentikan langkahnya, saat ia melihat apa yang terjadi. Amarahnya seketika meledak dan menghampiri orang tersebut, ia pun melayangkan pukulan telak pada kepalanya.


Bugh!


"Argh!" Teriak orang tersebut dengan merasakan sakit pada kepalanya.


"Ka kak Vansh! Le paskan kak, i i ni sakit!" Terlihat pada genggaman tangan itu memerah.


"Ti tidak! Kau tidak akan pernah aku lepaskan! Hei kalian, cepat halangi pria ini!!" Teriak Vansh seperti memanggil, ternyata dia sudah mempersiapkan pertemuan pada saat itu dengan rencana busuknya.


Segerombolan orang menyerang Heru dengan tiba-tiba, dalam keadaan yang tidak terduga seperti ini. Heru harus memberikan perlawanan terhadap semuanya, bahkan untuk menghubungi anggotanya saja ia tidak mempunyai kesempatan.


"Le lepaskan kak, lepaskan." Nisha terus memberontak untuk melepaskan tangannya tersebut, rasa sakit sudah ia rasakan.


"Diam! Jika kau terus terusan memberontak seperti ini, jangan salahkan aku jika pria itu akan lenyap di tangan mereka." Dengan menyeringai, Vansh memberikan sebuah ancaman kepada Nisha agar ia menuruti perkataannya.


Mendengar jika mereka akan menyakiti Heru, Nisha terdiam dengan keadaan yang begitu tertekan. Ia menatap Heru yang sedang bertarung mempertahankan dirinya dari serangan pada dirinya, Vansh merasa tidak terima dengan apa yang Nisha saksikan.


"Sepertinya aku harus membawamu dengan caraku sendiri, Nisha." Vansh mengeluarkan selembar kain dari saku jas miliknya, memecahkan sebuah botol kecil dan membasahi kain tersebut.


"A a pa yang kamu lakukan kak, ja jangan!" Nisha mengetahui jika Vansh akan memberikan kain tersebut kepadanya.

__ADS_1


Kain tersebut telah basah oleh cairan yang diberikan oleh Vansh, cairan itu berisikan obat bius dengan tujuan agar mempermudah aksinya dalam membawa wanita yang ia inginkan sejak lama.


"Diam." Kini kain tersebut telah menutupi hidung dan juga mulut Nisha.


Memberontak dalam waktu sepertinya detik dang berakhir dengan hilangnya kesadaran Nisha, senyum seringai dari wajah Vansh atas apa yang telah ia lakukan.


"Akhirnya, kini aku bisa membawamu Nisha." Seperti sedang membawa sebuah karung di punggungnya, Vansh segera beranjak dari tempatnya untuk membawa Nisha pergi.


"Nisha!" Teriak Heru melihat tubuh itu dibawa pergi menjauh.


Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Heru memberikan perlawanan dengan caranya bertarung dalam dunia bawah. Saat ini ia baru menyadari jika memiliki alat untuk memberikan sebuah tanda kepada anggota yang lainnya, menekan sebuah alat kecil dari dalam dasi yang ia kenakan.


Dor!


"Argh! Sial!" Satu tembakan tepat mengenai bahu Heru bagian kanan.


Crash!


Crash!


Sruph!


Tubuh Heru tumbang, ia terjatuh dengan begitu tidak berdaya. Dua goresan dan satu tujuan senjata tajam mengenai dirinya, berusaha menggapai dinding terdekat untuk membantunya berdiri, namun serangan itu tidak berhenti sampai disitu. Orang suruhan tersebut masih ingin memberikan serangan kepada Heru yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa, namun saat mereka akan menyerang kembali terhalang oleh sebuah tembakan yang melumpuhkan sebagian dari kelompok mereka.


Dor! Dor! Dor!


Tembakan tanpa suara membuat sebagian orang suruhan itu tergeletak di tanah, sinyal pemberitahuan akan situasi genting telah berhasil. Dalam jumlah yang cukup banyak, anggota kelompok Dark kill yang dipimpin oleh Ray telah datang.


"Pak Heru!" Caca yang baru menyadari hilangnya dua orang bersamanya, mencari keberbagai tempat dan ruangan ada. Saat ia melihat adanya kerumunan orang yang berpakaian aneh, ia segera menghampiri dan mencari tahu.


Membantu Heru untuk bersandar, betapa mirisnya keadaan Heru pada saat itu. Dalam keadaan tidak berdaya, Heru meminta Caca untuk membantunya mengambil ponsel miliknya dari dalam saku jasnya.


"Hubungi tuan Ray, katakan jika Nisha di di cu lik!" Kesadaran Heru menghilang.

__ADS_1


__ADS_2