Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
7.


__ADS_3

Semenjak kejadian pada hari itu, membuat Nisha kini hanya bisa berdiam diri dirumah. Ia benar-benar tidak ingin terlibat lagi dengan Ray, bener-benar menghindar dan berusaha untuk tidak bertemu lagi.


"Kamu tidak pergi bekerja Nis?" Tanya Soraya yang melihat cucunya hanya berada dirumah saja beberapa hari ini.


"Nisha sedang ambil cuti nek, oh ya. Nanti biar Nisha saja yang belanja nek, sekalian sudah janjian sama Devi dan bang Satria." Melihat dan memeriksa barang apa saja yang sudah habis diwarung.


"Iya nak, memang sudah ada beberapa barang yang sudah habis. Nanti beli seperlunya saja, jangan lupa buat berbaginya."


"Siap nek, hehehe."


Soraya menggelengkan kepalanya atas sikap cucunya itu, kehidupan telah membawa mereka untuk menjadi manusia yang tidak lupa akan berbagi rezeki kepada sesama. Walaupun dalam jumlah yang tidak banyak, sebagai tanda syukur mereka terhadap rezeki yang dimiliki. Setelah selesai mencatat dan bersiap-siap. Nisha pamit kepada Soraya dan pergi, menemui kedua sahabatnya terlebih dahulu yang sudah menunggu disebut warung bakso di dekat pasar.


"Nisha!" Suara cempreng khas milik Devi sudah terdengar, melambaikan tangannya sebagai tanda bahwa mereka sudah berada disana.


"Maaf ya telat, tadi ngecek barang-barang warung dulu soalnya. Bang satria mana?" Nisha celingak celinguk mencari keberadaan sahabatnya yang satu lagi.


"Duduk dulu, nanti aku ceritain."


Membawa Nisha untuk duduk bersamanya, Devi menceritakan kejadian yang terjadi setelah Nisha mengajukan pengunduran diri. Vansh, dialah yang menjadi sumbernya.


"Huh, aku memang yang salah Dev. Seharusnya aku tidak bertemu lagi dengannya." Menghel nafasnya, membuat Nisha merenung.


"Sudahlah Nis, itu bukan salah kamu. Dasar dianya saja yang nggak bisa gunakan pikirannya dengan waras, masa lalu ya masa lalu. Eh, ngomong-ngomong. Pak Ray gimana kabarnya?" Bisik Devi yang sedikit menggoda Nisha.

__ADS_1


"Aish, apalagi itu. Sudah ah, pusing ni kepalanya. Pria aneh yang seperti makhluk halus, datang nggak diundang pergi juga semaunya saja. Lama-lama aku capek kayak gini."


"Memangnya kenapa tuan pria sama kamu?" Rasa penasaran kembali tercinta dalam pikiran Devi.


"Sudah ah, bisa bahas yang lainnya saja. Kamu ngajakin aku kesini ngapain?" Nisha menanyakan balik.


Saat Nisha bertanya, datanglah Satria yang baru saja tiba. Mereka melanjutkan obrolannya, dimana kedatangan Satria membawa berita besar bagi kedua sahabatnya.


"Nis, sebaiknya kamu temuin saja pak Vansh. Kasihan pak Erwin yang menjadi sasarannya, bukannya abang membela sebelah pihak. Tapi, nasib teman-teman yang lainnya akan menjadi apes gara-gara obsesinya sama kamu. Oh ya, kamu sama pak Ray apa kabarnya?" Pertanyaan yang sama Satria tujuan kepada Nisha.


Mendapatkan kata-kata tersebut, membuat Nisha kembali menggela nafas panjangnya. Sedangkan Devi sudah tersenyum untuk menunggu jawaban.


"Tidak terjadi apa-apa bang, pak Ray hanya mau menyelamatkan dari pak Vansh. Nanti Nisha pikirin lagi semuanya, terima kasih sarannya bang." Nisha terpaksa harus berbohong kepada sahabatnya, ia tidak ingin keduanya tahu jika Ray mengucapkan kata-kata aneh dari mulutnya.


Suasana menjadi ceriah setelah mendengar tawa dari kedua sahabatnya, semenjak peristiwa di Cafe waktu itu. Membuat luka hati dan kenangan buruk masa lalunya harus terbuka kembali, walaupun Vansh dahulunya merupakan orang yang Nisha kagumi. Puas dengan pertemuannya kali ini, mereka pun berpisah. Nisha melanjutkan tujuannya untuk berbelanja keperluan warung, ditempat biasanya ia berbelanja. Karena barang yang ia beli tidak terlalu banyak, Nisha bermaksud untuk membawa sendiri dengan menggunakan jasa bentor.


"Maaf nona, silahkan letakkan saja. Biarkan kami yang akan membawanya." Seorang pria yang berpakaian seperti bodyguard, tiba-tiba saja berdiri dihadapan Nisha.


Karena kaget dengan hal tersebut, membuat Nisha melepaskan beberapa barang yang berada dalam genggamannya.


"Ka ka lian siapa?" Suara terbata-bata Nisha yang kaget.


"Maafkan kami nona, tuan Ray yang mengutus kami. Silahkan nona." Pria itu membuka pintu sebuah mobil dan mempersilahkan Nisha untuk masuk kedalamnya.

__ADS_1


"Ta tapi, ..." Ada keraguan dalam diri Nisha.


Salah satu dari orang tersebut berbicara melalui ponselnya, dan tak lama kemudian orang itu mengarahkan layar ponselnya kepada dirinya.


"Hallo baby, mereka adalah suruhanku. Jangan takut, aku tidak ingin kamu lelah sayang. Mereka akan menghantarkanmu, jangan menolak dan jangan menghindar. Hati-hati baby, aku lanjut kerja." Ray yang melambaikan tangannya dan menghentikan sambungan telfonnya.


Mau kabur, membuat langkah Nisha menjadi kaku. Semua barang belanjaannya sudah diamankan oleh orang suruhannya Ray, begitu ragunya Nisha melangkahkan kakinya masuk kedalam mobil yang membawanya pulang kerumah.


Kedatangan mobil mewah yang berhenti tepat pada halaman rumah sederhana itu, mengundang banyak mata untuk melihatnya.


"Terima kasih tuan-tuan, apakah kalian mau minum dulu?" Tawar Nisha yang merasa tidak enak setelah dihantarkan pulang.


"Maaf nona, kami hanya diperintahkan untuk menghantarkan anda pulang. Kami permisi." Mereka pun pergi menghilang dari pandangan semua orang.


Memilih tidak menghiraukan banyaknya mata yang sedang melirik kepadanya, Nisha memilih untuk membuka warungnya dan mulai menata barang-barang yang telah ia beli. Nisha berpikir jika orang suruhan Ray itu takut dengan tuannya, ingin rasanya Nisha menemui pria itu aksn tetapi. Ia takut akan terjadi hal-hal yang tidak baik, karena ucapan Ray padanya sudah menjadi ketakutan untuk dirinya sendiri.


Mengetahui jika Nisha sudah pulang dan sedang menata barang-barang belanjaannya sembari membuka warung, Soraya pun ikut serta membantunya. Walaupun warungnya tidak terlalu lengkap, namun setidaknya dapat membantu jika ada warga yang membutuhkan berang tertentu dan tidak perlu ke pasar.


"Wah, ada Nisha ya. Enaknya belanja dan pulangnya di anterin pakek mobil mewah, ngomong-ngomong siapa tuh Nis? Pacar kamu ya, kok wajahnya tuaan. Jangan-jangan kamu jadian sama om-om ya." Lensi, teman satu lingkungan sama Nisha yang kerjaannya suka sekali mengampuni kehidupan orang lain.


"Lensi toh, mau beli apa nak? Maaf ya, Nisha sedang menyusun barang." Soraya yang terlebih dahulu menghampiri, agar cucunya tidak mudah terpenting dengan ocehan tersebut.


Mendapatkan Soraya yang menghampirinya, membuat Lensi memanyunkan bibirnya, ada rasa kesal namun ia masih haus akan informasi.

__ADS_1


"Lensi cuma mau ngobrol sama Nisha, nek. Soalnya beredar gosip saat Nisha dia dianterin sama orang yang menggunakan mobil mewah tadi, sebagai teman kan Lensi tidak tega kalau Nisha jadi bahan gunjingan yang lainnya." Dengan liriknya matanya, Lensi masih memancing emosi dari seorang Nisha.


__ADS_2