Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
43.


__ADS_3

Prang!


Peristiwa itu membuat Queen menjadi kaget, ia tidak menyangka jika respon Ray pada dirinya akan seperti ini.


"Ray, ada apa?" Dengan paniknya Queen mencoba mendekati Ray yang dalam keadaan yang terlihat begitu marah.


Suara kretakan rahang yang menandakan orang tersebut sedang dalam keadaan yang begitu marah, hal tersebut membuat Queen merasa sedikit takut untuk menghadapi seorang Ray.


"Ray." Queen menyentuh lengan Ray.


"Akh!" Tiba-tiba saja Queen berteriak saat salah satu tangan kekar itu mencengkram rahangnya dengan sangat kuat.


"Jangan bermain-main denganku! Katakan, apa tujuanmu?" Suara Ray bergetar dengan mata yang sudah memerah.


"Uhg ugh, le lepaskan dulu tanganmu Ray." Queen mencoba melepaskan tangan Ray dari rahangnya, namun tangan itu sangat begitu kuat dan sulit untuk dilepaskan.


Brakh!


Ray melepaskan tangannya dan tubuh Queen seketika terhempas menabrak dinding pembatas disana, ia meringis kesakitan. Walaupun hal itu hanyalah sebagian kecil dari rasa sakit yang ada, karena pelakunya adalah Ray. Maka, rasa sakit itu bertambah berkali-kali lipat.


"Cepat katakan, aku tidak ingin waktuku terbuang sia-sia karena wanita sepertimu!"


Perlahan Queen membuat dirinya untuk berdiri, dengan tertatih yang pada akhirnya ia bisa berdiri kembali.


"Kau begitu sangat berubah Ray, dulu kau..."


"Jangan menyamakan masa lalu dengan saat ini, dan kau! Tidak ada urusan dengan kehidupanku, sudah cukup kesempatan yang aku berikan padamu Queen!" Kali ini amarah Ray sudah tidak dapat tertahankan lagi.


"Tapi Ray, aku benar-benar sangat mencintaimu. Bukan hanya sekedar patner dalam pekerjaan saja Ray, aku sudah mengatakan yang sebenarnya dari dulu. Tapi kau, tidak pernah peduli dengan perasaanku!"


"Aku mencintaimu Ray." Tanggis Queen akhirnya pecah, ia berlutut dihadapan Ray.

__ADS_1


Tidak ada jawaban apapun yang Ray berikan, ia hanya terdiam dalam pandangan tajamnya kepada perempuan yang pernah menjadi rekan kerjanya dalam cukup lama. Akan tetapi, itu hanya sebatas dan benar-benar sebagai rekan kerja. Ray tidak pernah berpikir untuk menjalin perasaan dengan orang lain, ia hanya fokus dengan pekerjaan dan juga kepemimpinannya pada dunia bawah.


"Jangan pernah menampakkan wajahmu itu lagi dihadapanku, jika itu terjadi. Kau sangat memahamiku akan hal itu, Queen. Pergilah." Membalikkan tubuhnya dengan menahan amarah dalam dirinya agar tidak menyakiti siapapun.


"Tunggu Ray, tidak sepatutnya kau membuangku begitu saja, ingat semua jasa yang sudah aku berikan untuk mendukung semua keberhasilanmu." Queen merasa ia patut mendapatkan perhatian lebih dari Ray.


"Apa kau bilang?! Membalas jasa atas semua keberhasilanku ini, dan itu semua itu dari kamu?!" Ray membalikkan kembali tubuhnya sehingga bisa melihat perempuan yang kini sedang menuntut padanya.


Brakh!


Prangh!


Kaki yang begitu kokoh itu menendang berbagai benda dihadapannya dan melempar pajangan yang terbuat dari kaca hingga hancur, melewati semua benda yang telah hancur itu dengan begitu tenang dan tanpa merasakan apapun. Hal itu membuat Queen bergerak melangkah mundur ke belakang, akan tetapi tubuhnya terhentikan oleh dinding yang berada disana.


"Akh! Sa sakit Ray!" Queen berteriak dengan cukup keras saat kaki beralaskan sepatu hitam itu menekan dengan sangat kuat kaki putih tersebut.


"Kaki ini, bukankah dia yang sudah membawaku hingga terjebak ke dalam sebuah permainan yang kau ciptakan bersama Black?"


"Aargh, ti tidak Ray!" Raungan suara itu begitu miris untuk didengar.


Tekanan pada kaki putih itu semakin keras dan menyebabkan suara patahan dari sebuah benda keras, wajah itu begitu datar dan dingin. Tidak ada ekpresi belas kasihan ataupun iba, yang ada ia semakin memperkuat tekanannya.


"Stt ttop Ray! Ku mohon hentikan, ini sakit!"


Bukannya melepaskan kakinya, namun kaki itu mendapatkan bantuan dari bagian tangan dalam beraksi. Kembali tangan itu menarik rambut panjang yang indah tersebut dan menghempaskan pemiliknya dan bertabrakan pada sebuah meja jamuan sebagai sambutan atas kehadirannya seseorang yang kini sudah membuag Ray menjadi manusia kejam terhadap wanita.


"Ini peringatanku yang terakhir, jika kau masih mengulanginya. Jangan harap kau bisa lolos dariku, bahkan aku sudah membuang semua belas kasihanku terhadapmu Queen." Mengatur nafas yang sudah harus mendapatkan penggantinya, Ray beranjak meninggalkan ruangan tersebut dengan Queen yang masih merintih.


"Ray! Ray!" Tanggisan itu semakin menjadi dan membuat Queen murka.


"Baiklah Ray, kau sudah membuatku seperti ini. Jika aku tidak bisa memilikimu, maka jangan harap ada wanita yang akan bahagia bersamamu. Akan kubuat mereka menyesal seumur hidup, Ray!"

__ADS_1


Meninggalkan begitu saja, Ray kembali fokus untuk menyelesaikan permasalahan perusahaannya di negara seberang. Sampai-sampai ia melupakan seseorang yang kini sudah pergi menjauh dari jangkauannya, semua anggota kelompok dibawah kepemimpinannya disana juga ikut andil. Dunia bawah sedang menjadi pusat perhatian dari pemerintahan, bahkan berbagai transaksi harus ditunda sampai keadaan menjadi normal kembali.


Untuk tidur pun ia hanya menggunakan beberapa jam saja dari keseluruhan waktu yang ia punya, para anggotanya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap Ray yang begitu.


"Tuan, lebih baik anda istirahat sejenak. Sudah beberapa hari ini tuan tidak beristirahat dengan baik, dan ini makanan untuk anda." Bibby sengaja membawakan beberapa menu makanan dan juga vitamin yang akan berguna bagi tubuh Ray.


"Letakkan saja dan keluarlah." Tanpa melihat orang yang menjadi lawan bicaranya, Ray hanya memfokuskan wajahnya pada layar datar dihadapannya.


Menerima perkataan yang telah di ucapkan oleh Ray, Bibby memilih untuk segera keluar dari ruangan milik tuannya.


"Aneh, biasanya tuan akan selalu pulang cepat dari perkiraan. Apakah tuan dan nona sedang dalam masa dingin (bertengkar)? ah, semoga saja itu tidak terjadi."


Berbagai kasus kini menyerang negara seberang, akibat dari terhentinya pergerakan dari dunia bawah atas tekanan dari pemerintahan yang ada. Tindak kriminal meningkat serta beberapa nilai saham menurun drastis, dan itu membuat Ray menjadi pribadinya yang terdahulu. Kejam, dingin dan tidak mengenal belas kasihan.


Begitu juga dengan felix dan juga Heru, mereka semakin pusing dengan pertarungan diantara aturan pemerintahan dengan kehidupan yang sebenarnya. Dan saat ini, Ray mengumpulkan semua anggotanya dari dunia bawah untuk mencari dalang dari kebocoran dunia mereka terhadap pemerintahan.


"Silahkan kalian mengatakan sendiri, aku tidak akan bertanya." Begitu tenanghya Ray berhadapan dengan orang-orang yang ia pimpin.


Tidak ada yang berani membuka suara untuk menjawab perkataan Ray saat itu, mereka menundukan semua pandangannya. Keheningan terjadi dalam beberapa saat, yang pada akhirnya Ray sudah mulai kehabisan batas.


Jlebh!


Jlebh!


"Argh!"


Senjata tajam itu melayang dan menancap tepat pada kepala dua orang anggotanya yang berada pada posisi belakang, semua perhatian teralihkan.


"Tidak ada yang mau mengatakannya padaku?!" Begitu tegasnya kalimat yang keluar dari mulut Ray.


Semua anggota tahu, mereka akan berkata jujur ataupun tidak, hasilnya pun akan tetap saja sama. Nyawa mereka sudah tidak dalam keadaan baik-baik saja, yang saat ini siap melayang kapan saja.

__ADS_1


__ADS_2