
"Tidak ada gunanya kau meratapi tentang semua yang sudah terjadi, Ray. Jangan lemah, sudah saatnya kau harus menunjukkan siapa sebenarnya dirimu."
Mendengar perkataan itu, membuat Ray menatap orang tersebut. Haykal sudah berada dihadapan Ray, tanpa ia sadari.
"Bagaimana keadaannya?" Ray bangkit.
"Tenangkan dirimu, masuklah." Haykal mempersilahkan Ray untuk mengikuti dirinya memasuki ruangan itu.
"Tunggu tuan, apa saya boleh ikut masuk?" Jihan tidak bisa menahan rasa khawatirnya.
Sebelum mendapatkan jawaban, Heru terlebih dahulu menarik Jihan dan menahannya.
Pintu terbuka, Ray tidak bisa menahan air mata yang lolos begitu saja dari matanya. Melihat seseorang yang sangat berarti bagi hidupnya kini terbaring lemah dalam keadaan mata tertutup dan berbagai alat medis di tubuhnya.
Haykal menepuk perlahan pundak sahabatnya itu, Ray menyeka air matanya dan ia menghampiri Nisha.
"Bertahanlah, setelah ini kamu tidak akan mas biarkan merasakan sakit seperti ini lagi. Jangan pernah berpikir untuk pergi dan meninggalkan lagi, sayang." Ray memberikan kecupan pada kening Nisha yang masih tidak sadar.
"Dia wanita yang kuat, Ray. Semuanya itu ada resikonya, dan mulailah kembali dengan hidupmu yang dulu. Ada wanita istimewa yang selalu mendampingimu, karena itu adalah kekuatanmu. " Kata-kata bijak yang Haykal katakan padanya, seakan menjadi cambuk untuk Ray.
Meninggalkan Ray yang masih terus berada disamping Nisha, Jihan yang saat itu sangat ingin bertemu dengan Nisha belum diperbolehkan. Al hasilnya, Heru membawanya pulang.
"Tuan, apakah tidak apa-apa jika aku menginap dirumahmu? Nanti kau malah akan menjualku?" Dengan penuh kewaspadaan, Jiha melirik Heru yang masih berdiam diri didepan rumahnya.
Begitu malas dan enggan untuk menjawabnya, membuka pintu dan masuk tanpa memperdulikan Jihan yang terus mencerca dirinya dengan berbagai pertanyaan.
"Tuan, aku..." Pertanyaan itu terhentikan saat matanya melihat seorang wanita paruh baya yang ia perlakukan sangat lembut.
"Kamu, kemarilah." Heru mengisyaratkan menggunakan tangannya untuk memanggil Jihan mendekat.
Berjalan dengan ragu-ragu, Jihan menghampiri keduanya yang menatapnya dengan senyuman.
"Kemarilah nak, kalian harus makan malam dulu. Setelah itu baru beristirahat." Soraya meraih tangan Jihan dan membawanya menuju tempat makan.
__ADS_1
Senyuman Soraya mengembang saat Heru membawa seorang wanita untuk pulang kerumah, apalagi mendapatkan kabar berita jika Nisha sudah ditemukan dan bersama dengan Ray.
"Namamu nak?" Soraya bertanya sembari memberikan beberapa lauk serta nasi ke dalam piring Jihan.
"Ee..."
"Jawab saja, disini tidak ada yang akan memakanmu." Heru dengan lepasnya mengatakan hal tersebut kepada Jihan, agar dia tidak terlalu canggung berada disana.
"Benar nak, anggap saja ini adalah rumahmu sendiri. Saya neneknya Nisha dan Heru adalah kakaknya, walaupun bertemunya disaat dewasa. Ayo makan, ceritanya nanti kita lanjutkan lagi."
Betapa semakin besar rasa kaget Jihan saat itu, mulai dari nama yang digunakan Icha, suami, penjagaan, kakak dan nenek. Jihan mengetuk kepalanya dengan menggunakan jarinya, menghembuskan nafas panjang lalu ia mulai memasukkan makanan dihadapannya ke dalam mulut.
Tidak ada lagi yang mereka perbincangkan, hanya beristirahatlah yang ada. Benar-benar menguras tenaga dan pikiran akan peristiwa yang terjadi, Jihan memasuki sebuah kamar yang ternyata itu adalah kamar Nisha saat ia berkunjung kerumah Heru.
"Wah, ternyata kamu benar-benar orang kaya Cha. Ini sih ceritanya kabur, bukannya merantau. Ish, kamu sudah membohongiku, awas saja ya. Kamu sangat banyak berhutang penjelasan padaku Cha, eh salah Nisha." Setelah mengomel panjang dengan melihat beberapa bukti yang ada dikamar tersebut, yang pada akhirnya ia terlelap tidur.
Pada ke esokan harinya, Jihan terbangun dengan suara berisik yang berasal dari halaman rumah bagian belakang. Dengan mata yang masih sangat berat untuk terbuka, ia melangkahkan kakinya menuju tempat tersebut, terlihat jika disana Heru sedang berlatih beladiri dengan menggunakan samsak.
Dalam keadaan tubuh yang penuh dengan keringat dan juga terlihat bagaimana bentuk tubuh ia sebenarnya.
Krak!
Tanpa sengaja kaki Jihan menginjak ranting pepohonan yang telah kering, sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring.
"Ups, sorry tuan." Bermaksud untuk kabur, namun sayangnya disaat tubuhnya berbalik arah dan tertahan.
"Mau kemana?" Heru sudah terlebih dahulu menahan pundak Jihan.
"Eee, mau ma mandi tuan. Aku tersesat, hehehe." Elak Jihan dari tatapan dingin Heru.
"Ehm, temani aku disini."
"Hah!" Kaget Jihan mendengar kalimat tersebut, dan anehnya pun ia tidak menolaknya.
__ADS_1
Ada kursi taman yang disana sudah ada menu sarapan di atas meja, Heru mendaratkan tubuhnya disana dan Jihan mengikuti.
"Makan saja, tidak perlu malu-malu. Yang ada nanti kamu kelaparan." Begitu tenang Heru meneguk air es yang sudah berada ditangannya.
Entah darimana keberanian yang dimiliki oleh Jihan, ia benar-benar mencomot dan menikmati sarapan tersebut.
"Ceritakan bagaimana Nisha bisa berada disana?" Tanpa memandangi Jihan, Heru mengeluarkan pertanyaan yang sudah ia tahan.
"Emm, sebentar tuan. Aku selesaikan dulu makannya, tanggung." Jihan menguyah roti dari tangannya dengan sangat cepat, hal itu membuat Heru menaikan salah satu alisnya.
"Tenang tuan, tidak perlu heran. Ini sudah biasa kami alami disaat jam istirahat sudah hampir habis."
Meneguk air dalam gelas hingga habis, Jihan merasa lega dengan perut yang sudah terisi dengan makanan.
"Kami bertemu di kontrakan, karena Icha penghuni baru jadi aku ingin mengenalnya..." Jihan menceritakan seluruhnya yang ia alami selama bersama Nisha.
"Dan satu lagi tuan, nasib kami berubah menjadi buram akibat bertemu wanita aneh dan sok berkuasa. Eh, tidak tahunya tu wanita adalah pemilik pabrik dimana tempat kami bekerja. Yang ada jam istirahat kami semakin berkurang dan harus melaksanakan hukuman demi hukuman, dan perlu anda tahu tuan. Nisha itu banyak bohongnya. "
"Bohong?"
"Ia, pembohong. Contohnya ya, tidak pernah mengeluh saat kekurangan uang. Tidak mau belanja disaat kami ke kota dengan alasan menghemat, tapi nyatanya uangnya itu diberikan kepada sebuah yayasan amal. Dan satu lagi, namanya itu Nisha apa Icha ya. Karena dia mengenalkan diri dengan nama Icha."
Mendengar cerita panjang dari Jihan, benar-benar membuat Heru tidak bisa lagi menahan tawanya.
"Hahaha, kamu akan mengetahuinya sendiri nanti. Tidak perlu khawatir lagi, kamu akan aku hantarkan pulang. Ayo."
"Eh tuan, terus Icha gimana?"
"Tenang saja, dia sudah kembali bersama suami dan keluarganya. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan lagi. Bersiap-siaplah, aku akan menunggu diruang tengah." Heru masih menahan tawanya dengan cerita Jihan.
"Tuan, apa saya boleh bicara?"
"Hem, dari tadi juga tidak ada yang menghalangimu untuk bicara."
__ADS_1
"Ish, sama-sama menyebalkan seperti adiknya."
"Apa kau bilang!" Heru meninggikan suaranya.