
"Sayang, apapun yang akan terjadi nanti. Tetaplah untuk tenang dan jangan berjauhan dengan Meri saat mas tidak ada." Ray mengelus perut buncit Nisha dengan perlahan.
"Apa yang sebenarnya terjadi mas?" Nisha yang juga merasakan adanya pergerakan dari lawan Ray yang mulai mengincar mereka disekitar mansion.
Ray belum bisa untuk membuka suara, ia terlalu fokus dengan keselamatan Nisha dan kedua calon anaknya. Berharap peristiwa ini akan berlalu, sayangnya musuhnya kali ini benar-benar ingin menunjukkan dan mendapatkan pengakuan sebagai leader yang disegani.
"Mas." Nisha dapat melihat ada ketegangan yang Ray tampakkan.
Dengan perlahan Nisha mengusap punggung tangan Ray, berlanjut membelai wajahnya yang sudah sangat banyak ditumbuhi dengan rambut-rambut halus.
"Mas tidak apa-apa, kalian adalah yang utama untuk mas. Maaf, sudah membawamu dan anak-anak kita dalam situasi seperti ini." Ray merebahkan kepalanya di atas paha Nisha, tanpa terasa air mata mengalir dari kedua sudut mata Ray.
Bahkan bahu pria kekar itu ikut bergerak, mendapati suaminya seperti itu. Nisha berusaha untuk menenangkannya, ia tahu saat ini suaminya sedang merasakan kecemasan yang sangat besar.
"Hay daddy, kami percaya akan perjuanganmu. Jangan patah semangat, yakinlah kita semua akan baik-baik saja." Nisha menurunkan suara anak kecil, seperti seorang anak yang sedang berbicara pada ayahnya.
Mendengar suara Nisha seperti itu, Ray membangkitkan tubuhnya dan menatap istrinya itu dengan sangat lekat. Seperkian detik kemudian, ia tersenyum dan juga membawa Nisha ke dalam pelukannya. Mengusap puncak kepala dan juga punggungnya dengan sangat lembut, ada perasaan bahagia yang muncul didalam diri Ray saat mendengar Nisha berbicara seperti itu.
"Jadikan kami sebagai sumber kekuatanmu mas, bukan menjadi kelemahan yang dapat membuatmu dan yang lainnya menjadi mudah untuk dikalahkan mas. Yakinlah, kami bisa menjaga diri untuk dirimu. Kalaupun terjadi sesuatu, ya kamu pastinya akan kami repotkan mas hehehe." Nisha menghibur Ray yang masih dalam keadaan risau.
Tak!
"Daddy!" Nisha memberikan wajah cemberutnya kepada Ray, karena keningnya terkena sentilan dari jemari Ray.
"Hahaha, mommy sepertinya suka sekali menggoda daddy ya sayang. Kalian berdua jangan membuat mommy kesakitan ataupun mengeluh ya, daddy sangat berharap pada kalian berdua untuk menjadi pelindung mommy maupun daddy kelak." Ray mengusap dan memberikan kecupan pada perut Nisha.
Disaat keduanya saling mencurahkan semua isi dari perasaannya saat ini, terdengar suara ketukan pintu yang cukup keras.
__ADS_1
Tok tok tok!!
"Mas." Nisha menyadari arti dari suara ketukan itu.
"Tetap tenang, jangan terlalu memikirkannya. "Ray menyuruh Nisha untuk tetap berada didalam kamar dan jangan terlalu memikirkan tentang apa yang terjadi.
Membuka pintu kamar miliknya, disana sudah berada Meri dan juga Heru dengan keadaan wajah yang begitu tegang. Sudah dapat dipastikan jika keadaan saat ini sudah begitu genting, Ray mengusap wajahnya dengan kasar. Menolehkan wajahnya untuk menatap Nisha sejenak, lalu ia kembali fokus pada kedua orang yang berada didepan pintu.
"Kondisi sudah tidak memungkinkan Ray, kau harus bertindak kali ini." Heru juga merasa sangat tertekan dengan keadaan sekarang.
"Jelaskan." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Ray, seakan ia mengetahui penyebab dari wajah datar Heru.
"Nenek, ah! Jangan biarkan Nisha mengetahuinya."
"Meri, jaga istriku. Kau tahu apa yang harus dilakukan saat itu tiba?!"
Bersama dengan Heru, ia melangkah dengan begitu cepat menuju ruang rahasia yang berada di dalam mansion. Disana, Heru menjelaskan semuanya yang telah terjadi. Namun yang sangat membuatnya tidak bisa tenang adalah beradaan Soraya, perempuan paruh baya itu telah dibawa oleh Vansh. Berdalih dengan menggunakan nama Nisha, pria itu berhasil membawa Soraya untuk dijadikan sebagai umpan dan juga titik lemahnya Nisha.
Ddrrtt...
Ddrrtt...
Tak lama dari mereka berdiskusi, suara ponsel milik Heru bergetar. Terlihat sebuah nomor yang melakukan panggilan secara video, Heru memperlihatkan hal tersebut kepada Ray. Ray mengintruksikan Heru untuk menerima panggilan tersebut, nomor yang begitu asing dan juga tidak terdaftar. Dengan cepat Heru menggeser tanda hijau pada layar ponsel miliknya.
Terlihat Soraya yang dalam keadaan terikat pada sebuah kursi, dalam keadaan tidak sadarkan diri. Hal itu memancing amarah Heru, namun Ray mencegahnya dengan memberikan kode agar Heru tidak terpancing. Akan tetapi, mereka dikagetkan lagi dengan Jihan yang juga ikut berada disana dan juga keadaannya tidak jauh berbanding dengan Soraya. Hanya saja Jihan dalam keadaan sadar dan hanya kedua matanya sajanyang dibiarkan terbuka bebas, disana terlihat ia begitu sangat ketakutan.
"Bagaimana tuan-tuan?" Suara terdengar dari video tersebut akan tetapi wajah sangat pemilik suara tidak terlihat.
__ADS_1
Disana juga mereka secara diam-diam melacak keberadaan dari sang penelfon, cara yang digunakan sangat halus dan hampir tidak ada pergerakan apapun. Sehingga tidak menampakkan jika mereka sedang dilacak.
Dor!
Dor!
Secara tiba-tiba terdengar suara letusan dari senjata api yang bergema mengisi seluruh ruang mansion, Ray begitu panik saat mengingat keberadaan Nisha.
"Hahaha, pertunjukan belum selesai Ray Tamoez! Kali ini, kau tidak bisa untuk mengalahkanku." Sambungan Video tersebut terputus, Ray mulai tidak bisa untuk berpikir lagi. Isi kepalanya hanya ada keselamatan Nisha dan anak-anaknya, dalam situasi seperti ini. Heru mengambil alih, ia menahan pergerakan Ray yang dapat membuat keadaan dan situasi tidak baik.
"Jangan ceroboh Ray. Percayakan Nisha pada Meri, dia akan aman disana. Pikirkan langkah selanjutnya yang harus kita ambil, ini tidak bisa untuk kita biarkan begitu saja."
Bersamaan dengan letusan dari senjata api tersebut, rupanya terjadi juga ledakan yang cukup besar pada markas mereka. Beberapa dari anggota mereka terkena dampaknya, namun bangunan itu terlihat aman-aman saja. Karena markas tersebut telah dirangkai khusus agar tidak hancur dengan ledakan bom, serangan senjata pun juga tidak terelakan.
"Bre****ek!" Umpat Bibby dan juga Felix yang saat itu sedang berada disana.
"Jangan biarkan mereka lolos, kerahkan semua anggota untuk melakukan perlawanan. Jangan lupa untuk tempatkan sebagian menjaga markas, kita tidak tahu apa ini nyata atau hanya tipuan saja." Felix mempersiapkan senjata yang akan ia gunakan.
Aksi saling serang pun terjadi, suara baku tembak juga terdengar dari sela-sela pertarungan. Hal tersebut berlangsung singkat, karena Felix dan juga Bibby sudah mengantisipasi semuanya. Bahkan lengan Felix terkena sayatan senjata tajam, karena itulah yang membuat jiwa bertarungnya meningkat.
Setelah keadaan mereda, mereka mulai membereskan kekacauan yang terjadi. Sebagian dari pihak lawan yang masih bernafas, tidak mereka biarkan dengan mudahnya untuk tewas begitu saja.
"Siapa kalian?" Felix dengan wajah dinginnya mengintrogasi tawanan mereka.
Tidak ada jawaban, seperkian menit terbuang begitu saja untuk mencari jawaban dari mulut tawanan tersebut. Cukup habis kesabaran seorang Felix.
Dor!
__ADS_1