
Keadaan markas sudah kembali normal, kegiatan yang mereka lakukan berjalan seperti sedia kala sebelum terjadi perang besar melawan musuh lamanya. Begitu pula perusahaan dibawah naungan Win'R, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
"Felix, tolong kamu perhatikan laporan untuk perusahaan negara seberang." Ray melemparkan sebuah berkas kepada Felix.
Menerima berkas tersebut dan segera memeriksanya dengan sangat teliti, setelah beberapa saat. Terlihat kening Felix berkerut sangat banyak, bahkan kedua bola matanya itu hampir saja keluar.
"Apa maksud anda tuan?" Karena tidak menemukan kesalahan apapun dalam berkas laporan tersebut, dengan begitu heran ia harus menanyakan hal tersebut.
"Maksudku?" Ray menunjuk dirinya dihadapan Felix.
Dengan memainkan kedua alisnya, Felix menjawab pertanyaan Ray sungguh membuatnya dirinya merasa terheran-heran sendiri.
"Selamat bertugas menggantikam diriku selama tiga bulan kedepan, dan itu bisa saja berubah. Itu adalah maksud atau arti dari ucapkanku, apa kau mengerti sekarang? Jika tidak juga, lebih baik kau membuat surat risign saja." Ray menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya.
"Heh, dasar pria kejam kau! Nisha kurang lebih masih empat bulan lagi melahirkan, tapi kau hari ini ingin melimpahkan semua tanggung jawab perusahaan kepadaku. Kau benar-benar kejam, Ray."
Mengetahui maksud dari ucapan Ray, membuat Felix berhenti berbicara normal kepada Ray.
"Aku hanya tidak ingin melewatkan banyak waktu untuk perjalanan masa kehamilannya, makanya punya wanita dan nikah." Rya melempar Felix menggunakan pena yang sedang berada di tangannya.
Prakh!
Menepis serangan secara tiba-tiba dari Ray, membuat Felix berdengus kesal. Pekerjaannya selama ini saja sudah membuatnya tidak mempunyai waktu lebih untuk beristirahat, apalagi ditambah dengan tugas barunya kali ini dan itu bisa-bisa membuat ia akan menjadi pria abadi selamanya.
"Bagimana aku bisa mempunyai teman wanita dengan semua pekerjaan yang kau berikan, dasar bre****ek memang." Mengumpat orang yang sudah membuatnya kesal secara langsung.
"Kerjakan atau tidak sama sekali?!" Ray mengeluarkan kalimat tegasnya.
"Aarrhkk!!! Sial!"
__ADS_1
Senyuman kemenangan sudah berada di ujung mata bagi Ray, karena ia tahu jika Felix tidak akan bisa membantah perintahnya.
"Baiklah, puas kau. Aku harap, kedua anakmu nanti akan membuat kau sakit kepala dan masuk angin!" Meninggalkan Ray sendiri yang masih menatapnya dengan arti yang sungguh tidak mengenakan.
Ucapan Felix berhasil membuat Ray tertawa begitu lepas, ia memang sengaja memberikan tugas tersebut kepada Felix. Karena ia yakin akan kinerja yang dilakukannya selalu memuaskan, maka dari itu Ray tidak merasa ragu padanya.
Sedikit membereskan barang-barang miliknya di atas meja, yang kemudian dilanjutkan dengan meninggalkan perusahaan dengan tenang. Sebelum ia benar-benar pulang, Ray menghampiri ruang kerja Felix. Terlihat jika asistennya itu sedang uring uringan, lalu ia memanggil Caca untuk ikut bergabung.
"Ada apa tuan?" Caca yang merasa bingung saat Ray memanggil dirinya.
"Tidak ada, kau lihat dan perhatikan. Apa yang dapat kau simpulkan?" Ray menunjuk Felix.
Kening Caca nampak berkerut dan ia memiringkan sedikit kepalanya, memerhatikan Felix didalam ruangannya. Berbicara sendiri seperti orang yang aneh, Caca bergidik merinding.
"Nampaknya terlalu banyak beban pikiran mungkin tuan."
"Fel, Caca akan menemanimu selama aku tidak ada. Selamat bekerja." Ray memberikan senyuman kepada keduanya dan berjalan meninggalkan perusahaan untuk segera pulang.
"Hah?!"Caca hanya bisa membuka mulutnya membentuk huruf O dengan apa yang dikatakan Ray.
"Dasar bos tidak punya hati, pergi saja sana!" Umpat Felix kepada Ray serta ia melempar ke arah dimana Ray sebelumnya berdiri dengan menggunakan sebuah kalender meja.
Bukh!
"Aduh!" Namun bukan Ray yang meringgis melainkan Caca yang terkena imbasnya.
Lemparan itu tepat mengenai kepalanya wanita yang menjabat sebagai sekretaris perusahaan, merasa tidak enak hati. Felix segera menghampiri Caca dan memastikan jika dirinya tidak cedera.
"Maaf, apa kau tidak, apa-apa?"
__ADS_1
"Seperti yang tuan lihat, tapi ini ni." Caca menunjukkan ke arah kepalanya yang mengeluarkan benjolan kecil.
"Hah! Sorry Ca, aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja tuan kita yang bre****ek itu membuat suasana hatiku menjadi buruk." Felix menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Ya ya ya, jol benjol kepalaku. Memangnya aku disuruh menemanimu kemana?"
"Hah, menemaniku?" Felix tidak mengerti akan arti dari perkataan Ray, karena disaat Ray mengatakan hal tersebut. Dirinya dalam keadaan menahan kekesalan.
"Iya, aku juga tidak tahu apa artinya. Makanya aku tanyakan." Dengan masih mengelus kepalanya yang benjol, Caca berharap ada berita baik.
Tanpa menunggu lama, Felix menghubungi Ray. Yang dimana tidak ada jawaban dari orang yang ia hubungi, wajah Felix semakin tidak karuan.
"Bagaimana?" Caca menimpali Felix.
Menggerakkan bahunya sebagai tanda jika tidak ada jawaban atas pertanyaan itu, lalu terdengarlah suara notifikasi pada ponsel milik Felix.
Ting!
...Caca akan menemamu untuk mengurus perusahaan selama aku tidak ada, selamat menjalankan tugas bersamanya. Jika perlu, kau bisa mendapatkan bonus untuk meraih hatinya. Jangan hubungi aku dengan hal-hal yang tidak penting....
"Argh! Dasar bucin!"
"Siapa?"
Memejamkan mata setidaknya membantu Felix untuk sedikit tenang, membuang nafas sebagai bentuk pengurangan beban pikirannya.
"Mulai detik ini, kau dan aku. Menghandle semua pekerjaan yang berhubungan dengan perusahaan pusat maupun cabang, paham. Karena tuan kita yang bucin itu ingin menemani istri dan anak-anaknya, dan ingat. Jangan pernah mengeluh, karena aku tidak akan segan untuk membentakmu. Bekerjalah."
Pintu ruangan tertutup, namun Caca masih setia berada disana. Wajah kebingungan serta pikiran yang sangat tidak siap untuk sebuah pekerjaan baru membuat wanita itu memilih bersandar pada pintu yang berada dibelakang tubuhnya.
__ADS_1