
Sepasang bayi kembar itu sedang asik mengeliat di dalam box khusus mereka, setelah dipastikan kondisi tubuh mereka cukup sehat. Kini keduanya berada di dalam ruang perawatan yang sama bersama sang mommy. Hal tersebut disarankan oleh dokter penanggung jawab dengan keadaan Nisha dan juga dokter anak rumah sakit tersebut, diharapkan dengan kehadiran bayi kembar itu bisa memberikan rangsangan kepada Nisha untuk membuka mata.
"Keadaanya sudah stabil, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kita hanya tinggal menunggu Nisha membuka matanya, alam sadarnya masih ingin beristirahat." Penjelasa Zahra mengenai kondisi Nisha yang sudah satu minggu mengalami koma.
"Apa tidak ada cara lain untuk membuatnya membuka mata lebih cepat?" Ray sangat ingin Nisha segera membuka matanya, agar bisa berkumpul kembali bersama bayi mereka.
"Eem, tidak ada salahnya untuk mencoba. Jangan merasa lelah untuk mengajaknya berbicara, coba dekatkan anak kalian padanya. Kita tidak tahu apa responnya nanti kalau tidak dicoba. Aku harus melihat pasien lainnya, cobalah." Zahra pamit undur diri dari semuanya.
Memandangi kedua anaknya, Ray memilih untuk menemani Nisha terlebih dahulu. Karena kedua anaknya sudah begitu banyak yang ingin menggendongnya.
" Eleh eleh tampan dan cantiknya keponakan aunty, pipinya gembul sekali sayang. Gemes deh." Jihan mentoel toel pipi bayi laki-laki yang sedang ia gendong.
"Heh, keponakan uncle juga cantik ya sayang. Tapi aunty kalian lebih cantik bagi uncle, kalian setuju kan." Heru tak mau kalah dengan Jihan, ia merasa tersaingi semenjak kedua keponakannya hadir.
__ADS_1
"Lama-lama kok malah jadi suka ngegombal kamunya ya, jangan terlalu ngegombal didepan anak-anak yang masih polos dna belum tahu apa-apa." Jihan berdengus kesal kepada Heru yang sudah tidak tahu tempat kalau mau ngegombal.
"Hahaha, maafkan uncle ya. Kita ajak mommy yuk, mommy." Heru mendekatkan bayi yang berada dalam pelukannya kepada Nisha.
Bayi itu seakan memiliki ikatan batin yang begitunkuat, ia mengetahui jika dihadapannya adalah wanita yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan mereka kedunia. Ray menyambut putranya dan meletakkannya di atas tubuh Nisha, sambil mengajak keduanya berbicara. Bertujuan untuk memancing kesadaran Nisha, namun disaat putranya sedang asik bersama mommynya.
"Oek oek!" Suara tanggisan dari putrinya memecah perhatian semuanya.
Jihan sedikit kewalahan untuk mendiamkan bayi perempuan itu, memberikannya botol susu yang semula ia kira sedang lapar. Akan tetapi tanggisan itu masih begitu keras, walaupun sudah beberapa orang yang secara bergantian untuk menggendongnya.
Wajah itu penuh senyuman kebahagian, Ray menyerahkan putranya kepada Heru dan bergantian membawa putrinya untuk diletakkan bersama mommynya. Dan benar saja, ketika bayi perempuan itu diletakkan seperti putranya. Tanggisan itu hilang begitu saja, berubah menjadi gerakan-gerakan bayi pada umumnya yang seperti sedang berceloteh kepada Nisha.
"Ternyata kamu cemburu ya dengan abang." Senyuman Ray semakin lebar mengetahui kecemburuan putrinya.
__ADS_1
Dengan inisiatif sendiri, Heru memberikan juga bayi laki-laki itu untuk Ray pertemuan secara bersamaan. Kedua bayi itu seperti bercengkrama dengan menggunakan bahasa mereka sendiri, membuat semua orang yang berada disana mempunyai harapan yang sangat besar untuk Nisha.
Waktu berlalu dengan sangat cepat, tak terasa malam pun tiba. Ray meminta Heru dan yang lainnya untuk segera membawa pulang kedua putra putrinya, terlihat keduanya sudah terlelap.
"Mereka sudah tertidur, sebaiknya kalian segera pulang saja. Besok bisa kembali lagi." Ray bergantian memberikan kecupan hangat di kening kedua putra putrinya.
"Iya, kau juga harus istirahat Ray. Jangan sampai ketika Nisha membuka mata, dia tidak mengenalimu lagi." Heru mengatakan yang sebenarnya, karena semenjak Nisha koma, Ray tidak pernah memperhatikan dirinya sendiri.
Hanya senyuman kecil dan anggukan kepala yang Ray berikan sebagai jawaban, setelah menghantarkan semuanya untuk pulang. Ray menatap sejenak wajah yang masih sangat betah memejamkan mata itu, lalu ia berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Memikirkan perkataan Heru padanya, Ray tidak ingin terlihat jelek dimata istrinya.
.
.
__ADS_1
Perlahan, pendengaran dari kedua telinganya dapat merasakan suara gemericik air. Cahaya pun berjalan dengan begitu lamban memasuki matanya, membuat kedua mata itu harus menyesuaikannya. Akan tetapi, telinga itu kembali mendengar suara pintu yang terbuka lalu ia menutup kembali kedua matanya.