
Sementara itu, Nisha kini berada pada sebuah rumah kontrakan yang sederhana. Ia sudah membayarkan untuk beberapa bulan ke depan, karena ia tidak tahu akan menetap disana atau tidak. Paling tidak, untuk saat ini ia merasa nyaman.
"Hem, sudah waktunya kepasar. Paling tidak untuk beberapa hari kedepan, persediaan makanan cukup." Nisha beranjak dari kontrakan sederhana tersebut menuju pasar terdekat.
Menggunakan jasa angkutan umum, yang dulunya sudah menjadi kendaraannya sehari-hari untuk beraktivitas. Membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit untuk tiba di pasar, menyegarkan tujuannya untuk berbelanja beberapa kebutuhan, Nisha memilih bahan masakan yang bisa awet untuk beberapa hari. Sedangkan untuk lauknya, Nisha memilih untuk membeli yang sudah masak saja. Karena di kontrakannya itu tidak mempunyai lemari pendingin, untuk menyimpan bahan-bahan segar seperti ikan dan temannya yang lain.
Merasa sudha cukup dengan perbelanjaannya dan membeli sedikit perabotan, Nisha segera pulang.
"Permisi, kamu penghuni baru ya?" Tanya seorang perempuan yang usianya tidak jauh dengan Nisha.
"Iya benar, saya Icha." Senyum manis Nisha berikan sebagai tanda sambutan hangatnya pada tetangga.
"Perkenalkan, aku Jihan. Kita bersebelahan, kamu sudah berumah tangga? Atau kerja dipabrik?"
"Tidak, aku bermaksud ingin mencari pekerjaan disini. Mencoba merantau dari kampung, ingin merubah nasib."
...Ya, mencoba peruntungan untuk merubah nasib dari dunia yang sungguh membuatku seperti orang terkena serangan jantung saja....
"Wah, kamu beruntung sekali. Pabrik tempat aku bekerja masih membuka lowongan kerja untuk buruh, coba saja disana. Siapa tahu nanti kita bisa jadi teman kerja juga. " Jihan terlihat bersemangat sekali memberitahukan hal tersebut.
"Em, tapi berkas-berkasku masih tertinggal di kampung." Nisha juga bingung jika harus melamar pekerjaan untuk menjadi buruh pabrik seperti perkataan Jihan.
"Sudah tidak usah khawatir, aku juga tidak pakai berkas disana. Yang dibutuhkan itu hanyalah tenaga kita yang dibayar dengan hasil terbaik, jam sembilan nanti kamu ikut denganku. Oh iya, jangan bilang kamounglah. Kita juga ini dikampung kali, bukan di kota."
" Hahaha, baiklah. Terima kasih Jihan."
"Eh, tidak usah berterima kasih. Sama-sama orang kampung dan Sama-sama cari cuan untuk bertahan hidup kok, ya sudah kamu siap-siap sana."
Mereka pun kembali pada kontrakannya sendiri-sendiri, Nisha merasa ada hawa sejuk yang mendukungnya. Menyusun hasil perburuannya di pasar, dan memasak hidangan yang sampel dan praktis untuk menganjal perutnya yang lapar. Mie instan, itulah makana terenak dan praktis untuk keadaan seperti ini. Dengan lahapnya Nisha menghabiskannya lalu bersiap untuk melamar pekerjaan, berharap ia bisa diterima disana. Walaupun uang hasil ia menjual ponsel dan juga beberapa benda lainnya yang bisa dibilang sangat cukup untuk hidup beberapa tahun kedepan, namun ia tidak ingin berdiam diri untuk mengisi waktunya.
__ADS_1
Kini Jihan dan Nisha sudah berada di sebuah pabrik yang dimaksud, menghantarkan Nisha untuk menemui seseorang petinggi disana untuk mengajukan lamaran pekerjaannya. Melakukan beberapa rangkaian tes untuk lulus sebagai karyawan, yang berakhir dengan diterimanya Nisha disana. Bergerak pada bidang bahan baku makanan, namun cukup besar di perkampungan tersebut.
"Akhirnya, kita bisa bertemu lagi Cha, semangat ya." Jihan begitu bahagia mendapatkan Nisha yang satu pekerjaan dengannya.
Bekerja dengan sangat bersemangat, Nisha dan Jihan menjadi teman dan juga patner kerja yang cukup baik.
Berbeda dengan keadaan Nisha yang mulai terbiasa dengan keadaan barunya, Ray yang sudah menyelesaikan permasalahan yang menimpa perusahaan dan juga bisnisnya dari dunia bawah. Ia merasa seperti hidup yang tidak mempunyai arah, Queen yang selalu berusaha mendekati dirinya. Benar-benar telah membuatnya menjadi seperti dahulu.
"Aku akan kembali, kalian selesaikan sisanya."
"Baik tuan."
Disaat Ray membereskan semua barang-barang miliknya, tiba-tiba saja Heru tiba disana dengan nafas yang tersendat-sendat.
"Hosh hosh, Ray!" Kalimat tersebut tidak menggunakan sebutan tuan, menandakan jika terjadi sesuatu.
"Apa, katakan?!" Dengan dingin Ray menatap Heru begitu tajam.
"Maafkan aku Ray, Nisha."
Degh!
Mendengar nama tersebut, membuat Ray menjadi merubah semua ekpresi dirinya saat itu. Ia begitu sibuk dengan persoalan yang harus ia selesaikan, namun melupakan seseorang yang sangat berarti didalam hidupnya.
"Nisha! Cepat katakan, ada apa dengan Nisha?!" Ray menarik kerah kemeja yang digunakan Heru, dan membuat dirinya tertarik ke atas.
"Argh, Nisha. Nisha menghilang!"
Brukh!
__ADS_1
Tubuh Heru terhempas ke lantai dikarenakan Ray melepas tangannya dari Heru, terlihat jika Ray menjadi terdiam. Bibby yang juga berada disana sangat kaget dengan apa yang dikatakan oleh Heru mengenai menghilangnya Nisha, tak lama kemudian, terlihat jika kedua telapak tangan Ray mengepal dengan sangat kuat. Suara retakan dari rahangnya begitu membuat merinding orang yang mendengarnya, kedua bola mata itu memerah.
...Auw, musibah ini. Oh Tuhan, selamatkan nyawaku....
Bibby merasakan jika aura dan juga situasi saat itu tidak bisa dikatakan baik.
Bugh!
Bugh!
Tanpa hentinya Ray menyerang Heru dengan pukulan terbaik yang ia miliki, tubuh Heru yang tidak siap pun menjadi bulan-bulanan samsak tangan Ray.
Tidak ada pembelaan dari Heru mengenai hal tersebut, namun Bibby begitu khawatir jika Heru akan fatal jadinya jika tuannya itu terus-terusan menyerang. Dengan bantuan dari beberapa anggota yang lainnya, mereka berhasil melerai.
"Kau! Kenapa baru memberitahuku sekarang! Apa kau sudah bosan hidup, hah!" Dengan penuh amarah, Ray mengumpat Heru yang baru memberitahukan berita kehilangan Nisha.
Dalam keadaan yang cukup mengenaskan, Heru berusaha berdiri walaupun dengan bantuan orang lain untuk menyanggah tubuhnya.
"Maaf, aku baru tahu jika Nisha tidak berada disana setelah nenek menelfonku. Ternyata supir yang menghantarkan Nisha tidak tahu, jika rumah itu sudah kosong." Menyapu darah dari sudut bibirnya, Heru meringis dengan beberapa luka pada tubuhnya.
"Argh!" Ray menarik rambutnya dengan kasar dan memukul beberapa anggota yang menahan dirinya, termasuk Bibby terkena imbasnya.
"Apa ada sesuatu hal diantara kalian berdua yang membuat Nisha menghilang dari semuanya ini?" Heru merasa curiga.
Berusaha menetralkan amarah yang begitu besar dalam dirinya, Ray nampak terdiam dan meresapi perkataan Heru.
"Apa maksudmu?" Ray menangkap ada arti tersembunyi dari ucapan tersebut.
Meminta sebuah kursi untuk dirinya duduk, Heru menunjukkan sebuah rekaman dari kamera pengawas di dalam mansion utama milik Ray. Dengan begitu cepat, Ray merampas ponsel milik Heru dan melihat rekaman tersebut begitu dinginnya.
__ADS_1
Melihat tanggal, waktu dan tempatnya. Ray merasa seperti orang bo***h yang tidak peka akan situasi seperti itu. Bagaimana bisa ia lupa jika dirinya mempunyai istri, yang dengan cerobohnya menyebabkan istrinya terluka.