Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
80.


__ADS_3

Lampu ruang operasi masih menyala, sudah tiga jam berlalu namun belum ada tanda-tanda operasi akan selesai. Ray pun harus memberikan stimulasi pada bayi kedua mereka yang perempuan, sempat tidak bernafas saat dilahirkan dan keracunan air ketuban. Kini bayi mungil itu membutuhkan rangsangan dari panas tubuh ayahnya, dengan perasaan takut. Ray meninggalkan ruang operasi dan mempercayakan semuanya kepada Heru, dengan langkah gontai ia memasuki ruang bayi mereka.


Berganti pakaian dan menggunakan pakaian khusus, Ray menitikkan air mata kembali saat bayi mungil itu diberikan kepadanya. Membawa tubuh itu ke dalam dekapannya, ada perasaan yang begitu berbeda timbul pada dirinya.


"Hal hallo sayang, selamat datang didunia nak. Mommy masih berjuang untuk kita, tumbuhlah menjadi wanita yang kuat seperti mommy kalian. Daddy minta maaf, belum bisa menjaga mommy dengan baik. Maafkan daddy, maafkan daddy." Tanggis itu semakin pecah, Felix yang mendampingi Ray ikut merasakan apa yang tuan mereka rasakan.


Bayi yang semula tertidur, kini menggerakkan tangannya dan menempelkannya pada wajah Ray. Seakan tahu apa yang sedang dirasakan oleh sang daddy, ikatan batin diantara mereka sangat kuat.


"Sayang, terima kasih sudah bertahan." Ray memberikan kecupan pertamanya kepada sang buah hati.


Bergantian dengan si sulung, Ray juga memberikan kecupannya pada bayi yang sedang mengeliat dalam pelukannya. Terlihat jika bayi laki-laki itu menuruni gen ketampanan dirinya, begitu juga dengan sang adik. Namun Ray berharap jika hanya fisik saja yang ia wariskan, tidak dengan yang lainnya terutama untuk soal dunia bawah.


"Tuan, nona sudah dipindahkan diruang perawatan." Tiba-tiba saja Henley memasuki ruangan dimana Ray berada.

__ADS_1


Mendengar hal tersebut, Ray memberikan waktu sejenak bersama kedua putra dan putrinya. Menyerahkan kembali kepada perawat yang menjaga mereka, Ray segera kembali menuju ruangan dimana Nisha telah dipindahkan.


Deg!


Deg!


Detak jantung Ray berdetak tidak karuan, kaki itu terasa begitu lemas. Pintu ruangan telah terbuka, memperlihatkan Nisha terbaring tak berdaya di atas tempat tidurnya dengan berbagai alat medis yang ditancapkan pada tubuhnya.


"Sayang, kamu sudah menjadi mommy seutuhnya. Anak kita telah lahir, terima kasih atas perjuanganmu." Menyatukan telapak tangannya pada salah satu tangan Nisha, mengusap wajah yang saat ini masih terlihat sangat pucat.


"Jangan membuatku takut seperti ini, buka matamu sayang. Mas dan anak-anak sangat membutuhkanmu, kamu tahu. Anak kita kembar sepasang sayang, perempuan dan laki-laki, wajah mereka sangat tampan dan cantik. Apa kamu tidak ingin melihat mereka? Bangunlah, bangunlah sayang."


Bahu kekar itu terlihat bergetar dan bergerak naik turun, suara isakan mewarnai ruang perawatan. Tidak ada yang berani untuk mendekat, semuanya hanya bisa menyaksikan seorang Ray Tamoez yang terkenal akan sikapnya yang dingin dan juga kejam. Kini, pria itu sedang terisak dihadapan wanita yang telah memiliki jiwanya.

__ADS_1


Dengan kehadiran wanita tersebut, membuat banyak perubahan pada diri seorang Ray. Statusnya sekarang telah berubah menjadi seorang suami dan juga ayah dari kedua bayi kembarnya, semua kesan dingin dan kejamnya telah hilang saat berada bersama orang-orang yang ia cintai.


Disaat isakan tangis itu semakin kuat, terdapat sebuah tangan yang mengusap bahu sang leader.


"Dia adalah wanita yang sangat kuat, berbagai ujian dan cobaan yang begitu besar sudah ia jalani dan berhasil dilewati. Yakinlah, ia akan bersama kita. Berikan istrimu waktu sejenak untuk beristirahat dari rasa lelahnya."


Mendengar perkataan itu, tangis Ray semakin pecah. Tangan wanita yang sudah membesarkan pemilik jiwanya, dia adalah Soraya. Ray bangkit dari tempatnya dan memeluk wanita paruh baya itu dengan sangat erat.


"Kuatlah, kita semua sangat yakin Nisha bisa melewati semuanya. Dia tidak suka orang lain bersedih karena dirinya, buktikan jika kamu adalah pria yang pantas untuk dirinya bersandar."


Soraya menepuk pundak Ray, bagaimana pun hancurnya hati seseorang yang melihat orang yang ia cintai sedang berjuang melawan maut. Hati itu harus kuat, karena tidak akan ada hati lain yang bisa membuatnya kokoh.


Semuanya bergantian memberikan dukungan dan stimulasi untuk pasangannya yang baru saja menjadi orang tua, terutama untuk Nisha, setelah melahirkan kedua bayi kembarnya. Nisha mengalami koma, tubuhnya tidak bisa menampung semua beban yang sedang ia alami. Namun, dengan keberadaan orang-orang yang sangat ia cintai dan mencintai dirinya. Kekuatan itu dapat membantunya dalam berjuang melawan kelemahan yang sedang menghampiri dirinya.

__ADS_1


__ADS_2