Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
12.


__ADS_3

"Bagaimana, apakah kalian sudah mendapatkan informasi tentang orang tersebut?" Pria dengan tubuh yang begitu kekar sedang mengintrogasi anggota kelompoknya.


"Belum tuan, kami belum bisa menembus data inti mereka. Sehingga informasi mengenai dirinya tidak bisa kita akses, hanya saja. Kami mendapatkan informasi ini, semoga anda puas dengan hasilnya." Kenzo, seorang hacker profesional yang cukup ahli dalam bidangnya.


Pria tersebut membaca dengan cukup teliti setiap goresan dalam berkas tersebut, informasi itu cukup membuatnya terkagetkan.


Bagaimana bisa seorang pria seperti dia menyukai wanita, heh. Kau benar-benar bo***h Ray, menunjukkan sisi kelemahan yang bisa membuatmu hancur. Tapi aku suka, dengan ini aku bisa mengatur strategi baru untuk membuatmu binasa.


Pria itu dengan bangganya memperlihatkan gigi taringnya yang seperti makhluk pengharapan darah, melihat kembali berkas yang berada ditangannya. Terdapat sebuah gambar seorang wanita dengan paras yang cukup menarik, berbeda dari wanita lainnya yang selalu menampakkan sisi glamour dan juga feminimnya. Namun tidak untuk yang satu ini, bahkan tanpa disadari. Ada sebuah perasan aneh yang dirasakan oleh pria tersebut.


Kenapa perasaanku aneh seperti ini, apa artinya semua ini.


"Tuan, anda baik-baik saja?" Kenzo menatap tuannya yang menampakkan sikap yang cukup aneh.


Tidak ada tanggapan yang diberikan oleh tuannya, lalu Kenzo melambaikan tangannya dihadapan wajah tuannya. Yang lagi-lagi tidak ada respon, memberanikan diri untuk menyentuh tuannya. Kenzo menepuk bahu tuannya dengan perlahan dan berakhir dengan cukup keras.


"Akh! Apa yang kau lakukan, hah!" Teriak Pria itu dengan cukup keras saat mendapati dirinya merasakan hentakan pada bahunya.


"Ma maafkan saya tuan, anda tidak merespon apa-apa saat..."


"Ah! Kenapa jadi aneh begini, aku tiba-tiba saja merasakan ada hal aneh. Huh, sudahlah. Kita fokus kembali dengan tujuan utamanya, aku serahkan pada kalian. Jangan membuatku kecewa, keluarlah. " Pria tersebut mengintruksikan untuk Kenzo segera pergi dari tempatnya.


"Baik tuan." Kenzo segera berlalu dari hadapan tuannya dengan penuh pertanyaan dalam dirinya.


Pria tersebut adalah Niki Maxxam, seorang laper dari suatu kelompok dunia bawah yang tersembunyi. Keberadaannya seperti bayangan, bahkan sampai saat ini Ray belum bisa menangkapnya. Walaupun dalam setiap pergerakannya akan selalu diketahui oleh Ray dan gagal, namun satu kelemahan Ray yaitu belum bisa menangkap dirinya.


"Aku akan mengalahkanmu Ray, tunggu saja sampai saatnya itu telah tiba. Kau akan merasakan bagaimana terkalahkan, kau juga cukup ceroboh dalam memperlihatkan titik kelemahanmu sendiri."


"Tapi, wanita ini. Aku harus menyelidikinya lebih dalam, aku merasakan seperti ada perasaan aneh yang cukup besar. Ti tidak mungkin jika aku menyukainya, ah sial." Niki mengacak-acak rambut kepalanya karena telah melihat gambar wanita yang disukai oleh rivalnya sendiri.

__ADS_1


...----------------...


Keadaan Cafe telah kembali kondusif, aktivitas seperti biasanya sudah terlaksana. Bagian proporsi yang rusak atas kejadian sebelumnya, kini telah diperbaiki.


"Bang Sat, kangen Nisha deh. Biasanya tu anak sudah nongol jam segini, dan ini malahan dia masih dirumah sakit. Huh, pengen rasanya aku bejek-bejek perempuan itu. Tapi apa daya, dompetku sedang menangis." Devi memasang wajah sendunya.


Tak!


"Argh! Kenapa disentil, sakit tahu!" Devi mendapatkan sentilan pada keningnya oleh Satria.


"Apa hubungannya dompet sama perempuan waktu itu? Lu rada-rada nggak beres ya, ngeri gue Vi." Satria menggerakkan bahunya seperti orang yang sedang merinding.


Meniup rambutnya yang masih tergerai, Devi berdengus kesal kepada Satria yang seperti menganggap dirinya aneh.


"Ya adalah hubungannya, tu perempuan kalau gue bejek-bejek pasti minta ganti rugi abang! Gimana mau ganti rugi, makan aja karbon di warteg mbok Susi."


"Wah bener tuh bang, tumben tu isi kepala bagus. Nanti bawain sate tu anak bang, biar nggak ngomel-ngomel. Cus kerja." Devi melangkah pergi meninggalkan Satria yang masih berada ditempatnya.


Ni anak memang sudah nggak beres tu isi kepalanya, dari masalah dompet. Ini malah nyaranin bawa sate, tambah merinding gue deket ni anak. Satria mengomel dalam hatinya, namun itu hanya sebatas celotehannya saja tapi tidak dengan sikapnya.


Disaat yang bersamaan, karena sudah memasuki waktu menjelang sore. Pengunjung Cafe mulai ramai, dari yang memesan makanan, ngobrol-ngobrol dengan memesan cofe dan ada juga yang hanya sekadar nongkrong doang.


"Permisi, saya mencari Nisha. Apakah dia sedang sibuk?" Seseorang dengan pakaian yang cukup dibilang pakaian orang besar, tiba-tiba menanyakan seorang pelayan dari sebuah Cafe.


" Iya tuan, ehm Nisha ya. Sebentar ya, akan saya panggilkan. Bapak bisa tunggu sebentar. "Merry yang bertugas sebagai kasir, segera menemui sang manager.


Orang yang sedang mencari keberadaan Nisha adalah Vansh, semenjak kejadian ia bertengkar dengan Nisha pada waktu itu. Ia harus berhadapan dengan kedua orangtuanya yang masih memandang rendah status Nisha.


Flashback on...

__ADS_1


Setelah terjadinya perdebatan dan pertengkaran diantara Vansh dan Nisha, seketika itu juga ponsel milik Vansh berdering.


Papa. Tampak kerutan pada kening Vansh saat mendapati siapa yang menelfon dirinya.


"Hallo Pa."


"Berhenti mencari jejak wanita itu, Vansh! Sudah papa bilang jangan pernah bertemu ataupun mencari keberadaannya. Atau kau lebih memilih untuk papa menghancurkan karirmu!"


Tut tut tut...


Pembicaraan tersebut terhentikan, hal itu membuat Vansh menjadi kesal dan berhenti untuk menemui Nisha dalam beberapa waktu.


Flashback off...


Erwin berjalan beriringan dengan Merry yang telah memberitahukan perihal kedatangan tamu tersebut, mengetahui siapa yang menjadi tamu tersebut. Membuat Erwin menghembuskan nafas kasarnya, mau tidak mau ia harus menemuinya.


"Vansh, apa kabar?" Sapa Erwin.


"Ah Erwin, baik. Apakah aku boleh menemui Nisha? Sebentar saja, ada beberapa hal yang harus aku bicarakan kepadanya." Vansh sangat berharap bisa menemui Nisha.


"Dia tidak bekerja lagi disini."


Jawaban itu membuat Vansh begitu kaget dan ia tidak percaya akan hal itu, ia masih dengan yakinnya jika Nisha ada disana. Akan tetapi dia tidak mau untuk menemui dirinya, bahkan Vansh dengan beraninya memasuki ruang karyawan dan beberapa ruang lainnya, ia terus mencari keberadaan Nisha.


"Hentikan kekonyolanmu ini, Vansh! Nisha memang tidak bekerja lagi disini, dia sudah bekerja ditempat lain yang lebih menjaga dirinya. Untuk apa lagi kamu mencarinya? Apa kau tidak merasa malu dengan apa yang sudah kau lakukan padanya, hah? Keluarlah dari sini, aku tidak ingin Cafe ini menjadi pusat perhatian atas sikapmu yang konyol ini." Erwin sudah begitu menahan emosinya dengan kekacauan yang terjadi.


Merasa tidak mendapatkan apa yang dia inginkan saat itu, Vansh dengan hebohnya mengobrak-abrik beberapa proporsi di dalam Cafe tersebut sehingga membuatnya menjadi berantakan. Melangkahkan kaki panjangnya keluar dari tempat tersebut dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang begitu cepat.


Nisha, kau mau menghindar dariku rupanya. Itu tidak akan terjadi, cukup waktu itu kau menjauh dariku. Tapi tidak untuk kali ini, kau akan aku dapatkan. Vansh tersenyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2