Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
22.


__ADS_3

Brakh!!


"Mas, ini hanya salah paham saja." Nisha sangat kaget mendapatkan Ray mengamuk di dalam ruangannya.


"Kenapa kau tidak memberitahukan, Heru! Apa kau sudah bosan hidup, hah?!" Tarikan pada kerah kemeja yang Heru gunakan sangat mencekik pernapasannya.


"Ma ma afkan saya tuan."


"Mas, hentikan. Kak Heru tidak bisa bernafas, ini semua salahku Mas. Aku yang tidak berhati-hati saat berjalan, lepaskan Mas." Nisha meraih lengan Ray, dengan maksud untuk membantu Heru yang sudah sangat sulit untuk bernafas.


"Kakak?! Apa-apaan ini!" Ray melepaskan tangannya dan mendorong Heru hingga ia terhempaskan ke sudut ruangan.


Brakh!


"Mas!" Suara Nisha sedikit ada penekanan.


"Akan kubuat kau lenyap detik ini juga, Heru!" Ray menghempaskan tangan Nisha dan mengejar keberadaan Heru.


Bugh!


Bugh!


Pukulan demi pukulan Ray berikan kepada Heru, ia tidak berani memberikan balasan atas apa yang dilakukan Ray padanya. Ia mengetahui jika itu adalah hukuman untuknya atas keteledoran dalam menjaga wanita milik tuannya, hukuman itu ia terima tanpa bisa dihentikan.


"Mas Ray, hentikan!" Nisha berteriak dengan cukup keras.


Felix yang mendengar suara keributan dari ruangan tuannya, ia segera menghampiri.


"Tuan!" Felix juga menjadi kaget dengan aksi tuannya bersama Heru.


Nisha dan Felix berusaha menarik Ray dari tubuh Heru yang sudah hampir babak belur, namun kekuatan yang dimiliki oleh Ray sangat dahsyat. Felix hanya bisa semampu dirinya untuk menyelamatkan rekan kerjanya.


"Mas hentikan!" Air mata Nisha sudah membanjiri wajahnya.


Ray terus meracau menghakimi Heru, ia mendapatkan pengaduan dari salah seorang karyawan yang pada saat itu sedang menghantarkan berkas laporan ke ruangannya. Dengan segera Ray melihat kamera pengawas CCTV untuk kejadian tersebut, dan benar adanya kejadian itu. Namun yang membuat Ray menjadi sangat emosional, yang menjadi bahan pembulian itu tak lain adalah wanitanya sendiri.


"Percuma saja kau aku tugaskan untuk menjaganya, tapi kau malah membuat menjadi hinaan. Mau mati kau, hah!" Kemurkaan Ray sangat nyata dimata Nisha pada saat itu.

__ADS_1


Tanpa mengeluarkan satu kata pun, Heru sudah memasrahkan dirinya atas apa yang diberikan Ray padanya. Nisha menarik tangan Ray yang terus memukuli Heru, akibat dari emosi yang tidak terkontrol. Tangan Ray menghempaskan Nisha dengan cukup kuat, membuat tubuh wanita mungil itu terpental dan menabrak meja kerja milik Ray dengan suara keras.


Brakh!


Brugh!


"Nona!" Felix dan Heru berteriak bersamaan.


Mendengar nama wanitanya disebut, Ray meliriknya.


"Nisha!"


Menghempaskan tubuh Heru begitu saja, Ray berlari dan meraih tubuh Nisha yang sedang meringgis.


"Baby, ma maafkan aku. Apa ada yang sakit, katakan sayang." Ray mengusap wajah Nisha yang masih terlihat seperti menahan rasa sakit.


"Kamu salah paham, Mas."Dalam keadaan rasa sakit disetujui tubuhnya, Nisha masih berusaha menjelaskan kepada Ray tentang apanyang terjadi.


"Sstthh, nanti saja menjelaskannya."


Tubuh Nisha melayang di udara, Ray menggendongnya dan membawanya menuju kamar pribadi miliknya.


Meletakkan Nisha dengan perlahan di atas tempat tidur miliknya, mengambil sebetulnya air mineral dan memberikannya kepada Nisha.


"Terima kasih mas." Mengembalikan botol air kepada Ray.


"Apa ada yang kamu rasakan, baby? Katakan saja, aku sangat khawatir." Menggenggam tangan mungil itu dengan sangat erat, bahkan Ray memberikan kecupan pada tangan itu.


"Benar mas, tidak apa-apa. Maaf, ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan Mas. Ini semuanya salahku, jangan menghukum kak Heru seperti itu."


"Huh, bagaimana aku tidak marah. Dia lalai dalam menjaga dirimu sayang, biarkan saja ini menjadi pelajaran untuknya."Ray memalingkan mukanya dari tatapan Nisha.


"Tapi Mas,..."


"Sstthh, jangan teruskan. Lagian, kamu kenapa memanggilnya kakak? Dia itu bawahanku, sangat tidak pantas jika kau menyebutnya seperti itu."


Beranjak dari tempatnya, Ray berdiri dan menatap ke luar jendela. Lagi-lagi Nisha harus membujuk bayi besarnya yang dalam keadaan cemburu, rasa sakit pada punggungnya tidak dapat menutupi rasa bersalahnya kepada Ray. Ia pun turun dari tempat tidur, menghampiri serta melingkarkan kedua tangan pada tubuh Ray dari arah belakang.

__ADS_1


"Maaf mas, maaf sudah membuatmu khawatir dan marah seperti ini."


Awalnya Ray kaget mendapatkan pelukan dari Nisha yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya, perubahan sikap Nisha yang mulai menerima dirinya sangat membuat Ray semakin bersikap posesif.


"Jangan marah lagi ya, Kak Heru sudah aku anggap sebagai kakak sendiri Mas. Dia selalu membantuku setelah dirimu, saat masuk kemari. Kak Heru sedang memarkirkan kendaraannya, itupun aku sendiri yang ingin menunggunya di dalam. Tapi makanannya tidak rusak kok, ya ampun. Dimana tas makanannya?" Nisha melepaskan tangannya dari tubuh Ray.


Namun itu tidak terlaksana, Ray terlebih dahulu menahan tangan Nisha untuk tidak terlepas.


"Baru saja membujukku, tapi dengan mudah melupakan hanya malah tas makanan yang kamu cari sayang. " Tubuh kekar itu berbalik arah, sehingga keduanya saling bertatapan.


"Tapi Mas, itu kan makanan. Akan mubazir kalau tidak dimakan, kamu juga pasti sudah lapar kan. Sebentar saja, aku akan mencarinya."


'Cup'


"Eh!" Nisha membuka lebar matanya saat Ray memberikan kecupan secara tiba-tiba.


"Kenapa? Sangat menggemaskan sekali dan kamu selalu bisa meredakan amarahku sayang."


"Emm tapi tidak harus mencium kan, dasar obesitas!" Nisha meronta untuk melepaskan diri.


"Omes? Siapa lagi itu, jangan membuatku menghukumnya baby."


Menghembuskan nafas beratnya, Nisha memutar bola matanya dengan begitu malasnya. Bagaimana bisa dia menjumpai pria yang begitu dingin, angkuh dan juga omes.


"O mes, Otak mesum. Pukul saja otak Mas, dia kan selalu membuat Mas marah-marah yang tidak jelas. Udah ah, berdua kayak gini dalam ruangan tertutup akan semakin membuat omes itu berpikiran yang aneh-aneh."


Nisha berhasil melepaskan diri dna segera keluar dari kamar pribadi milik Ray, ia masih tas makanannya berada di atas meja tamu diruangan kerja Ray. Memeriksa dan memastikan keadaan makana tersebut baik-baik saja, Nisha berjalan keluar ruangan tersebut dan bertemu dengan Caca.


"Mbak Caca, lihat kak Heru tidak?"


"Eh Nisha, pak Heru tadi dipapah oleh pak Felix masuk ke ruangannya. Ada apa, tuan Ray ngamuk ya? Bagi-bagi gosipnya Nish, hehehe." Caca selalu bersikap receh pada orang yang ia anggap baik.


"Mbak Caca ada-ada saja, oh iya. Temenin Nisha ya mbak, nanti kita makan bareng." Nisha menunjukkan tas makanan yang ia bawa.


"Wah, enak tu Nish. Ayo! Tapi, tuan Ray?" Caca takut akan kemarahan Ray saat melihat dirinya tidak ditempat.


"Nanti biar Nisha yang bilang Mbak, nanti kalau laper juga akan ikut gabung sendiri."

__ADS_1


"Hahaha, oke oke."


__ADS_2