Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
87.


__ADS_3

Berkas-berkas yang sudah diperiksa oleh Ray, kini menumpuk di atas meja kerjanya. Pandangan mata itu menampakkan jika dirinya tidak bisa berkonsultasi dengan baik.


"Bagimana keadaanmu sayang? Masih sakit kepalanya?" Ucap Ray yang menghubungi Nisha melalui video call.


"Sudah berkurang mas, ini lagi rebahan didalam kamar. Maaf ya, sudah membuat mas khawatir." Terlihat wajah Nisha yang sedang menempel pada bantal dikepalanya.


"Jika masih terasa sakit, kita sebaiknya..."


"Aku tidak apa-apa mas, ini hanya kelelahan saja. Istirahat sebentar nantinya juga akan sembuh, fokus bekerjanya ya sayang. Lihatlah, berkas-berkas itu terlihat sangat menumpuk." Tidak sengaja mata Nisha menangkap pemandangan di atas meja kerjanya Ray.


"Ini sudah selesai mas periksa, hanya tinggal menunggu Felix untuk membawanya. Maafkan mas yang sudah membuatmu lelah sayang, berisitirahatlah."Ray yang melihat mata Nisha sudah begitu berat untuk dibuka, tanpa berpikiran apa-apa Ray segera menutup percakapan mereka agar Nisha bisa segera tidur.


Mengehela nafas panjangnya, Ray memijat pangkal hidungnya. Sungguh besar rasa kekhawatiran itu, akan tetapi orang yang dikhawatirkan selalu membuat dan menyakinjan jika dirinya baik-baik saja. Menghubungi para pekerja di mansion mereka, agar selalu memastikan kondisi Nisha. Meneruskan pekerjaan yang masih cukup banyak, Ray menyegerakan dan mempercepat semua jadwal yang ada pada hari itu, berharap bisa segera cepat pulang.


Tok!


Tok!


Tok!

__ADS_1


"Tuan, rapat akan segera dimulai dalam sepuluh menit lagi." Caca memberitahukan jika Ray harus segera bersiap untuk memimpin rapat tersebut.


"Hem, siapkan saja." Ray kembali menghela nafas beratnya dan memakai kembali jas yang sebelumnya ia letakann pada sandaran kursi kerjanya.


Perasaan yang begitu tidak tenang, namun ia berusaha untuk membuat dirinya tenang. Berjalan menuju ruang rapat, dengan aura yang selalu saja membuat orang lain untuk merinding. Dan kali ini, aura itu sedikit meredup dengan perasaan yang campur aduk.


"Silahkan dimulai." Ray mempersilahkan peserta rapat untuk fokus.


Memberikan perintah untuk semua anggota rapat untuk fokus dengan materi yang disampaikan, namun tidak berlaku untuk Ray, dalam pikirannya selalu terpusatkan pada sang istri. Selama berjalannya rapat tersebut, Felix melirik Ray yang dimana pandangan tuannya itu begitu kosong. Hingga berakhirnya rapat tersebut, Felix mengambil alih seluruh jalannya rapat namun tidak untuk sebuah keputusan.


"Rapat selesai, silahkan kalian kembali untuk bekerja seperti semula. Hasilnya akan kita umumkan pada pertemuan berikutnya." Rahang itu mengeras tak kala melihat Ray masih terdiam.


Brakh!


"Maaf tuan, rapat sudah selesai." Merapikan berkas-berkas yang ada dan memberikannya kepada Caca.


Ray hanya memejamkan matanya sesaat, menghela nafas panjang dan sedikit melonggarkan ikatan dasi pada kerah bajunya.


"Anda baik-baik saja, tuan?" Melihat wajah keras itu menjadi sangat lusuh.

__ADS_1


Tidak menjawab, Ray memejamkan matanya dengan cukup lama. Memijit pelipisnya dengan kedua jemarinya, yang kemudian ia berdiri dengan cepat.


"Kalian urus semuanya, aku akan pulang." Ray berjalan keluar dari ruang rapat tanpa mengucapkan yang lainnya.


Dua orang yang masih berada disana saling bertatapan satu sama lainnya, menatap kepergian tuannya yang tidak memberikan alasan apapun atas apa yang terjadi. Hanya bisa menghembuskan nafas beriramakan kekesalan.


"Tuan Ray kenapa? Apa sedang sakit?" Tanya Caca kepada Felix yang masih membereskan beberapa berkas.


"Entahlah, bersiaplah berbagi tugas kembali." Felix menggelengkan kepalanya yang harus dihadapan lagi dengan berbagai macam persoalan mengenai perusahaan.


"Ish! Lembur lagi, padahal udah dirancang baik-baik mau ke korean food. Hufh, gagal maning gagal maning." Caca memanyunkan wajahnya atas pekerjaan yang secara mendadak dilimpahkan oleh tuannya.


Mendengarkan celoteh dari mulut sang rekan kerjanya, sudut bibir itu tertarik ke atas. Terukir senyuman yang nyaris tak terlihat, namun membuat raut wajah pria kaku itu menjadi lebih baik.


"Kerjakan saja yang sudah menjadi tugas seorang sekretaris, biar lainnya aku yang akan kerjakan." Jawab Felix sambil membawa berkas ke dalam dekapannya.


"His, nggak bosnya nggak asistennya. Sama-sama nyebelin!" Menghentakkan kakinya dan mengikuti langkah Felix yang sudah terlebih dahulu berjalan mendahuluinya.


Senyuman terukir kembali dari wajah kaku itu, hingga ia harus masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


"Pesankan makanan korea untuk makan siang kita nanti, pesan sesukamu dan kita makannya disini saja untuk menghemat waktu." Membalikkan tubuhnya setelah menyampaikan apa yang sebelumnya menjadi kemauan dari rekan kerjanya itu sebelum masuk ke dalam ruangannya.


"Hah!" Caca yang tidak percaya akan apa yang baru saja dikatakan oleh Felix padanya, benar-benar tidak bisa ditebak isi kepalanya sang asisten keparcayaan orang nomor satu di perusahaan ini.


__ADS_2