
Setelah berperang dengan bahan serta peralatan dapur, kini Ray tersenyum melihat maha karyanya yang menurut dirinya sangat memuaskan.
"Ada apa ini? Wow, ternyata ada orang yang sedang berperang. Ih, kau sungguh terlihat tidak baik-baik, Ray." Heru yang tiba dengan membawakan makanan kesukaan kedua keponakannya dna juga Nisha.
"Diam kau, rasakan jika nanti Jihan mengidam. " Ray segera berlalu dari dapur yang sangat berantakan itu untuk membersihkan diri.
Kepala Heru menggeleng dengan cepat, tidak bisa ia pikirkan bagaimana nantinya Jihan mengidam. Disaat tidak mengidam saja sudah begitu menyebalkan, sungguh seru nantinya.
Meninggalkan dapur yang berantakan, Heru membaur dengan beberapa anggota mereka disana. Ketika itu juga, Bibby tiba bersama Fio.
"Uncle!" Teriak gadis kecil itu setelah keluar dari mobil yang ia gunakan.
"Hei, jangan berlari!" Heru nampak cemas saat melihat Fio berlari enuju dirinya.
Fiona langsung masuk ke dalam pelukan Heru, yang kemudian tubuh itu seperti sedang melayang di udara. Bukannya merasa takut, namun Fiona tertawa dengan begitu lepas. Berjalan bersama memasuki mansion, dengan meninggalkan Bibby yang bermuka masam.
"Dasar gadis kecil yang cerewet, habis sudah isi dompetku dibuatnya. Sepertinya aku harus mengumpulkan semua nota belanjaan kedua anak itu, dan tuan harus menggantinya. Kalau tidak, argh!" Umpat Bibby yang sudah tidak melihat lagi keberadaan dari Fiona disisinya.
.
__ADS_1
.
.
Dari semalam, Ray berkutat di dapur yang sudah tak berbentuk. Demi keinginan sang belahan jiwa dan calon anaknya, ia rela harus turun sendiri ke dapur.
"Ternyata, lebih baik aku bertarung saja dengan musuh-musuhku daripada berada diruangan ini. Ini semua hanya demimu sayang, demi kalian berdua." Ray memandangi hasil karyanya yang cukup membuatnya merasa puas.
Menyimpan hasil maha karyanya ke dalam lemari pendingin, agar lebih enak saat nanti disantap oleh istrinya. Meninggalkan permasalaham pedapuran dan melanjutkan untuk membersihkan diri, di dalam kamar. Ray menatapi seseorang yang sedang terlelap dalam tidurnya, melihat ke arah jam tangan yang ia kenakan. Menunjukkan pukul tiga dini hari, ada rasa bersalah dalam dirinya yang sudah membuat sang istri menunggu lama untuk menikmati hasil karya dirinya.
Segera Ray masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri, laku menggunakan pakaian santainya dan ikut merebahkan diri disamping sang istri yang masih begitu lelah dalam tidurnya. Melingkarkan lengan kekar itu disamping tubuh Nisha yang tidur menyamping, karena aroma tubuh itu telah membuat Ray candu.
Ponsel Ray yang sedari tadi bergetar tak henti-hentinya, ada panggilan dan beberapa pesan disana. Karena keberadaan ponsel itu masih didalam saku jas kerjanya, sehingga beribu-ribu panggilan dan pesan masuk pun tidak akan tergubris oleh Ray ditambah dengan rasa lelahnya yang menyerang.
Keduanya pun terlelap bersama, hingga matahari pagi mulai menyapa para penghuni dunia. Nisha menggerakkan tubuhnya yang terasa pegal, dengan keberadaan lengan Ray yang cukup berat. Sehingga merasa perutnya tertekan dan nafasnya menjadi sesak, secepatnya Nisha menggoyangkan lengan tersebut serta berharap segera dipindahkan oleh pemiliknya.
"Huh, huh, mas mas." Nisha terus menggoyangkan lengan Ray.
Namun pria itu masih betah dalam alam tidurnya, karena terlalu lelah dan tepatnya merasa nyaman berada disamping Nisha.
__ADS_1
"Huh huh huh, mas!" Nada suara Nisha meninggi.
Seakan mendapatkan serangan mendadak, Ray tersentak dari tidurnya dan berubah dalam posisi duduk. Tubuh itu masih menyesuaikan keadaan yang ia alami, terkagetkan dari tidur benar-benar tidak enak.
"Sayang, sudah bangun." Ray mengusap wajahnya agar lebih lebar dalam membuka mata.
Namun pandangan pertama yang ia lihat, membuat dunianya seperti berhenti. Nisha yang sedang mengatur nafasnya agar bisa kembali normal,
"Sayang! Kamu kenapa, apa ada yang tidak enak?!" Ray ikut panik melihat keadaan Nisha.
Dengan nafas yang belum sepenuhnya kembali normal, Nisha melemparkan tatapan tajam pada Ray. Mengusap perutnya yang habis tertekan oleh lengan Ray, sungguh membuat Nisha ingin mengutuknya.
"Tidak sadar diri, ini semua ulah kamu mas. Sudah tahu perutku besar, eh lengan kamu ada disini dan itu membuatku sulit bernafas." Jelas Nisha yang masih menatap Ray tajam.
"Benarkah itu, tapi lengan mas hanya memelukmu sayang." Tanpa rasa bersalah, Ray membantah ucapan Nisha.
"Ish, terserah kamu la mas. Jika nafasku benar-benar sesak dan membuatku hampir mati, aku harap kamu tidak ada disampingku. Sudah salah tapi masih saja tidak mau mengakuinya, dasar pria egois." Racauan Nisha yang langsung menjauhi Ray dengan melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
"Hahaha, tunggu sayang. Maaf hanya bercanda, sayang." Pada akhirnya Ray menyusul Nisha dan akan menunjukkan hasil maha karyanya seharian kemarin.
__ADS_1