Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
58.


__ADS_3

Beberapa pekan berlalu, pergerakan dari rencana yang sudah disusun dengan baik, kini sudah mereka lancarkan. Kerjasama telah mereka sepakati sebelumnya, melalui beberapa orang yang sudah mendapatkan tugasnya sendiri.


"Bagaimana?" Niki sedang berhadapan dengan asistennya.


"Semuanya kini sudah berjalan dengan baik tuan."


"Orang itu?" Pertanyaan yang sangat irit dari seorang Niki.


"Dia bisa kita andaikan tuan, sepertinya dia benar-benar terobsesi dengan istri dari Ray." Jelas Kenzo yang mengetahui mengenai seorang Vansh.


"Awasi terus, kita tidak bisa mempercayainya begitu saja." Niki menggerakkan tangannya sebagai tanda untuk Kenzo pergi dari tempatnya.


"Baik tuan."


.


.


Kediaman Heru...


"Nek, semuanya sudah dikemas. Apa kita berangkat sekarang?" Jihan merapikan bawaan yang akan mereka bawa mengunjungi Nisha.


"Coba kamu tanya sama Heru nak, apa kita pergi sendiri atau dia yang akan menjemput?" Soraya dari balik ruangan dapur menjawab perkataan Jihan dengan suara yang cukup keras, agar bisa terdengar.


"Baiklah."


Jihan berjalan menuju telfon rumah, karena disana sudah ada nomor telfon yang akan ia hubungi. Melihat nomor yang tertera pada selembar kertas kecil disana, jemari tangan Jihan menekan tombol kecil yang bertuliskan angka.


"Halo tuan, nenek tanya. Kami berangkat sendiri ataukah tuan yang akan men..."


"Aku yang menjemput, tunggu saja." Heru menyela perkataan Jihan.


"Ah, baiklah. Kami akan menung..."


Tut tut tut...


"Eh, main tutup saja. Tidak ada sopan-sopannya ni laki, untung saja dia majikan. Kalau tidak, sudah habis tu mulut aku hajar pakek cabe." Gerutu Jihan yang mendapati Heru memutuskan pembicaraan mereka sebelum dirinya selesai berbicara.


Kini mereka sudah siap untuk mengunjungi Nisha, dalam waktu dua puluh menit Heru sudah berada disana.


"Kenapa kamu repot untuk pulang nak, nenek bisa naik taksi untuk kesana." Soraya merasa tidak enak jika Heru terus-terusan mementingkan dirinya.


"Sudah menjadi tugas Heru nek, jangan merasa sungkan dengan hal itu." Sambil menyusun barang bawaan yang sudah dikuatkan oleh Soraya untuk Nisha, Heru tidak melirik ataupun menyapa Jihan sedikitpun yang sudah cemberut melihatnya.


Selesai dengan barang bawaannya, mereka segera menuju mansion Ray. Dimana pada saat kejadian sebelumnya, hal itu memang sengaja mereka simpan agar Soraya tidak menjadi khawatir dengan apa yang terjadi.


Dalam waktu tiga puluh menit, mereka sudah tiba disana. Clara dan pak Muh sudah membantu Heru untuk menurunkan barang bawaan dari mobilnya.


"Aku mempekerjakanmu bukan hanya untuk berdiam diri, bantu mereka." Heru mempertegas ucapannya kepada Jihan yang hanya berdiam diri.

__ADS_1


"Ah iya tuan, maaf." Sebenanrnya Jihan masih sangat canggung dengan apa yang menjadi pekerjaannya.


Saat mereka masuk ke dalam, tidak ada seorang pun disana.


"Pak Muh, kemana Nisha?" Tanya Heru yang mendapati suasana mansion begitu sunyi.


"Nina sedang berada di taman belakang tuan, bersama Meri." Jawab pak Muh sembari berlalu membawa barang di tangannya.


Pikiran Heru berputar dengan cepat, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Pak Muh barusan. Ia meminta Jihan untuk menemani Soraya dna ia berlalu menuju taman belakang.


Terdengar suara seperti orang sedang berolahraga, hal itu semakin membuat Heru penasaran. Ditambah Wiley yang begitu sangat antusias menyaksikan sesuatu yang membuat dirinya berlarian kecil disekitar taman belakang.


Bugh! Bugh!


Prakk!


"Nisha!" Suara Heru membuyarkan semuanya.


"Kak Heru! Mer, istirahat ya. Haus." Suara Nisha yang manja dengan keringat membasahi wajah dna pakaiannya.


"Baik nona." Meri membereskan beberapa benda kecil yang mereka gunakan.


Denga nafas yang masih berat, Nisha menghampiri Wiley.


"Terima kasih sudah menemani untuk kesekian kalinya, sekarang kamu istirahat ya."


Suara itu diberikan Wiley kepada Nisha, saat wanita itu mengelus kepalanya. Untuk saat ini, keadaan Wiley telah pulih dari sebelumnya.


"Kak Heru, ada apa?"


"Kamu itu yang ada apa? Siapa dia? Ngapain?" Heru langsung menolong Nisha dengan berbagai pertanyaan.


"Itu nanya apa nodong kak? Satu-satu nanyanya." Nisha duduk pada kursi yang berada disana.


"Kakak tidak becanda Nisha." Heru pun ikut duduk disampingnya.


"Dia Meri, pengawal yang diberikan mas Ray untukku. Tadi itu kita lagi melatih Wiley agar semakin tangkas, memangnya kenapa kak?"


"Eh, kakak tidak kerja? Kasihan dong mas Ray sendirian."


Tak!


"Auw, sakit." Nisha meringgis setelah mendapatkan sentilan pada keningnya.


Bugh!


"Aaaa." Kini sebaliknya, Heru yang berteriak saat dirinya mendapatkan bogem dari Meri.


"Meri, jangan." Nisha berteriak saat Meri akan menyerang Heru kembali.

__ADS_1


Mengusap wajahnya yang sangat perih dan senut-senut, Heru menatap Meri dengan sangat tajam.


"Maaf kak, Meri tidak sengaja. Dia belum tahu posisi kakak, ayo berdiri." Nisha membantu Heru untuk duduk kembali.


Tatapan keduanya masih begitu tajam, Nisha pun merasa tidak enak dengan hal tersebut.


"Mer, kenalin ini kak Heru. Dia adalah sahabatnya mas Ray dan juga kakakku, kamu tidak perlu khawatir."


"Baik nona." Tanpa meminta maaf, Meri kembali pada posisinya berdiri tegak disisi Nisha.


Mendapati Heru masih menatap tajam Meri, Nisha menghela nafasnya dan menepuk pundak Heru.


"Sudah kak, jangan marah. Kakak ada apa kemari?"


"Mengantarkan nenek dan Jihan." Menggerakkan rahangnya dan masih menatap Meri.


"Nenek! Ish, kenapa tidak bilang dari tadi sih. Ah iya, sudah jangan ditatapin terus kak nanti malah bahaya loh. Biasanya akan berpindah dari mata dan jatuh ke hati." Menahan tawanya, Nisha segera berlalu dari sana.


Deg!


Jantung Heru mendadak berdetak sangat kencang, namun tidak bagi Meri. Wanita itu telah pergi mengikuti langkah kaki tuannya, meninggalkan Heru yang masih berdiri disana. Meletakkan telapak tangannya untuk menyentuh dadanya, berharap hal itu segera cepat berhenti.


.


.


"Nenek, Jihan!" Teriakan Nisha bergema saat memasuki ruang utama, ia segera menghambur dalam pelukan Soraya.


Betapa rindunya Nisha pada kedua wanita tersebut, terutama pada Soraya. Nisha meluapkan semua perasaannya dan tanpa sadar air mata itu menetes, bahkan terlihat pada bahu Nisha yang bergetar.


"Ya di lupain deh." Celetuk Jihan melihat Nisha dan Soraya berpelukan sangat lama.


Dengan ucapan itu, berhasil membuat Nisha melepaskan pelukannya dari Soraya. Menghapus air mata dari wajahnya, lalu ia menatap Jihan.


"Kenapa tidak memberitahuku kalau kamu menetap disini?"


"Ya mau gimana lagi Cha, disana sudah pasti aku dipecat dan jadi buronannya pemilik pabrik. Daripada nyerahin nyawa buat di lenyapin, mendingan aku disini cari kerja. Bener kan?!" Jihan tidak mau kalah juga beradu pendapat dengan Nisha.


"Hem, benar juga sih. Aaarhk!" Tiba-tiba saja Nisha berteriak.


"Jangan!" Suara Heru terdengar lebih keras.


Ia segera menarik Jihan dari hadapan Nisha, lalu ia menatap tajam Meri dengan sangat tajam.


"Ada apa kak?" Nisha yang kaget mendapati Heru menarik Jihan dengan tiba-tiba.


"Dasar wanita aneh!"


Nisha mengikuti arah mata Heru, lalu ia mendapati tatapan itu tertuju pada Meri. Memutar bola matanya dengan sangat malas, Nisha menjelaskan kepada Meri mengenai siapa yang sedang berada dihadapannya agar tidak terjadi lagi hal seperti ini dikemudian hari.

__ADS_1


__ADS_2