
Tiga bulan pun berlalu, usia kehamilan Nisha kini memasuki bulan ke delapan. Dengan keadaan perut yang semakin membesar, membuat dirinya menjadi sedikit mengalami kesulitan untuk bergerak dan berjalan. Namun dengan keberadaan Ray disisinya, membuat Nisha merasa nyaman.
"Jangan terlalu banyak berjalan sayang, nanti kamu kelelahan." Ray menggenggam tangan Nisha untuk membantunya berjalan menuju taman.
"Justru dengan cara berjalan itu bisa membantu proses persalinan nanti mas, aku takut jika harus dilakukan tindakan operasi." Ketakutan yang banyak dialami oleh ibu hamil untuk proses persalinan.
"Tapi..."
"Doakan saja saat persalinan anak kita nanti berjalan dengan lancar mas, buang semua ketakutan kamu. Kalau mas sendiri yang khawatir, bagaimana nantinya aku mas. Sudah ya, kita hadapi saja apa prosesnya nanti mas. Aduh!" Tiba-tiba saja Nisha meringgis dan menahan perutnya.
"Ada apa?" Ray mulai panik.
"Mereka sedang bermain mas, sshh. Sepertinya mereka berdua juga ikut mendengarkan apa yang sedang kita bahas, sshh." Nisha kembali meringgis meminta Ray untuk membantunya duduk pada kursi yang berada ditahan tersebut.
Membantu Nisha untuk merilekskan tubuhnya agar tidak merasakan sakit lagi, Ray lalu mengusap perut besar sang istri.
"Hay anak-anak daddy dan mommy, daddy mohon jangan membuat mommy kesakitan oke. Kalian berdua yang akur didalam ya nak, daddy sangat merinduka kalian." Kalimat-Kalimat Ray seperti seorang pria yang benar-benar merindukan kehadiran anak.
Dugh!
"Ssshh!"
Wajah Ray semakin panik saat calon anaknya malah semakin aktif bergerak, ia tidak sanggup untuk melihat Nisha yang meringgis menahan rasa sakit itu. Seperti apa rasa sakitnya, Ray sangat frustasi. Bahkan ia lebih memilih untuk bertarung saja daripada harus menyaksikan orang yang sangat berharga dalam kehidupannya menahan rasa sakit, apalagi rasa sakit itu timbul akibat dari ulahnya sendiri.
Plak!
Sebuah pukulan kecil mendarat pada bahu Ray, karena Nisha sudah begitu tidak tahan dengan sikap Ray kepada calon anak mereka.
__ADS_1
"Mas, kamu bisa tidak jangan membahas masalah lahirnya nanti. Ini anak-anak kami protes dari dalam, sshh." Nisha masih meringgis.
Merasa tidak ada sangkut padanya sama sekali dengan apa yang ia ucapkan, akan tetapi Ray menyadari itu semua saat gerakan dari perut Nisha semakin kencang dan terlihat bentuk perut istrinya itu menjadi tidak rata.
"Ba baiklah. Daddy berhenti membahas masalah cara kalian lahir nanti, tapi tolongnya kerjasamanya agar mommy tidak kesakitan lagi."
Benar apa yang terjadi, setelah Ray, mengucapkan hal tersebut. Bentuk perut Nisha kembali seperti semula dan tidak meringgis lagi, Ray pun menarik dan menghembuskan nafasnya dengan sangat lega.
Melanjutkan untuk berjalan mengelilingi taman tersebut dengan perlahan, hanya sebentar saja mereka disana karena sinar matahari sudah sedikit panas.
"Icha!" Suara yang begitu menyakitkan telinga terdengar.
Jihan berjalan ingin mendahului Heru yang berada disampingnya, namun tiba-tiba saja kerah baju yang ia kenakan tertahan.
"Jangan melupakan nenek, sebaiknya berjalan beriringan saja." Pelaku penarikan baju tersebut adalah Heru.
"Jangan pernah berpikiran yang tidak perlu dipikirkan, fokus saja dengan kesehatan kalian. Em, apa kau tidak mau tahu mengenai kabar mereka berdua?" Soraya melirik Heru dan Jihan.
"Maksud nenek?" Nisha belum bisa menebak apa yang dikatakan oleh sang nenek.
Lirikan mata mereka mengarah pada dua manusia yang sedang duduk berhadapan hadapan, terlihat jika Jihan menjadi berubah sedikit pendiam dari sikap sebelumnya. Dan didalam kepala Nisha, muncullah suatu ide yang cukup menarik.
"Kak, bagaimana kabarmu?"
"Baik, seperti yang terlihat." Jawab Heru yang sedikit dingin.
"Em, kalian berdua tidak pernah pergi kencan ya?" Tiba-tiba saja Nisha mengeluarkan kalimat yang membuat tiga orang menjadi kaget.
__ADS_1
"Sayang." Ray berpindah tempat duduk disamping Nisha yang sedang mengobrol dengan Soraya.
Nisha hanya memberikan kode melalui matanya kepada Ray dan itu mendapatkan anggukan dari Ray sebagai tanda ia mengerti.
"Lebih baik kakak sesekali mengajak Jihan untuk berkencan, suatu hubungan yang datar seperti ini akan menjadi lebih berwarna saat kalian berdua saling membuka hati dan menerima satu sama lain. Kasihan Jihan yang barus berada pada posisi yang bukan karakter dirinya sendiri kak." Ucapan Nisha semakin membuat Heru dan Jihan menjadi serba tidak enak.
"Jangan terlalu lama, resmikan jika kau sudah merasa yakin. Diambil orang lain, baru tahu rasa kau." Ray ikut menambahkan kalimat tajam untuk Heru.
Jihan maupun Heru menjadi semakin salah tingkah, Soraya tersenyum melihat cucu laki-lakinya itu benar-benar kaku dengan makhluk yang bernama wanita terkecuali pada dirinya dan Nisha.
"Nenek merestui kalian berdua nak." Soraya memberikan senyuman kepada keduanya dan Nisha juga menggenggam tangan Soraya.
Sangat nenek merupakan keluarga mereka satu-satunya, kebahagian Soraya adalah kebahagian mereka juga.
Baik Jihan maupun Heru belum memberikan tanggapan apapun atas perkataan yang diberikan kepada mereka, bukan Heru namanya jika tidak memberikan kejutan. Secara tiba-tiba, Heru berdiri dari duduknya dan menghampiri Soraya dan Nisha.
"Kenapa nenek selalu peka dengan apa yang aku lakukan, bahkan aku sendiri masih terlalu egois dengan diri sendiri." Heru memeluk Soraya dan meluapkan apa yang ia rasakan.
Membalas pelukan yang diberikan Heru padanya, Soraya menepuk-nepuk bahu kokoh itu dengan perlahan.
"Kalian adalah hati nenek, jadi jangan pernah menyembunyikan sesuatu yang bisa nenek rasakan. Sudah saatnya kamu meraih kebahagianmu, Jihan. Kemarilah nak."
Ray mengajak Nisha untuk sedikit bergeser dari tempatnya semula, agar bisa memberikan ruangan untuk ketiganya.
"Tolong jaga dan terima cucu nenek yang dingin dan juga datar ini, kalian bisa saling melengkapi kekurangan maupun kelebihan yang kalian miliki." Soraya meraih telapak tangan Jihan dna menyatukannya dengan telapak tangan Heru.
Cukup lama mereka terdiam dengan apa yang terjadi, mungkin ini adalah momen dimana kebahagian sedang menghampiri orang-orang yang tepat untuk mendapatkannya.
__ADS_1