
Pria yang sekarat itu tersenyum bahagia, kala wanita yang ia cintai selama ini berada dihadapannya. Tidak memperdulikan lagi sedang bersama siapa dan juga dimana ia sekarang berada, Vansh hanya menatap Nisha dengan begitu lekat.
"Nisha, akhirnya kamu mau menemuiku." Lirih Vansh dengan suara beratnya.
"Kak Vansh, kembalilah pada kehidupanmu seperti dulu tanpa ada aku kak. Aku sudah bahagia bersama suami dan calon anak-anakku, aku harap kakak bisa menerima semuanya. Tidak ada jodoh yang dipaksakan, itu hanya akan membuatmu semakin sakit kak. Untuk itu, lepaskan masa lalu dan mulailah dengan kehidupan yang baru."
"Dari awal kita memang tidak berjodoh kak, hanya saja semuanya tidak kita sadari. Aku harap, kakak bisa bahagia dengan memulai yang baru."
Nisha menatap Ray, lalu menganggukkan kepalanya menandakan jika ia sudah selesai dengan apa yang ingin ia katakan. Ray membawanya menjauh, karena apa yang ingin dikatakan sudah selesai.
"Tidak! Jangan pergi Nisha, jangan pergi! Aku mohon, jangan pergi lagi! Hiks hiks hiks." Vansh berteriak dan memberontak untuk menghentikan langkah Nisha agar tidak menjauh darinya.
"Kembali Nish, kembali."
Bugh!
"Berisik! Jangan pernah mengganggu adikku lagi, jika itu terjadi. Kau akan lenyap ditanganku sendiri, camkan itu!" Suara retakan rahang Heru terdengar jelas.
Membawa kembali Nisha untuk pulang, Vansh terus berteriak. Ray menenangkan Nisha jangan sampai ia berubah pikiran dan stres akan ucapan dari Vansh kepadanya, akan tetapi. Pertemuan itu tidak sesuai dengan apa yang mereka harapannya sebelumnya, karena begitu terobsesinya Vansh dengan Nisha. Ia terus memberontak dan berhasil terlepas dari ikatan dan juga tangan para anggota Dark Kill, mendapatkan kekuatan darimana ia sehingga dapat meraih bahu Nisha.
"Argh!" Jeritan Nisha ketika tubuhnya terhuyung mundur ke belakang, pada lehernya melingkar tangan Vansh dengan cukup kuat.
"Sayang!"
__ADS_1
"Nisha!"
Hal tersebut membuat Heru maupun Ray menjadi panik, apalagi Vansh terlihat begitu emosional dan membuat Nisha dalam keadaan cukup rawan untuk kehamilannya.
"Jangan coba-coba untuk mendekat! Jika kalian ingin Nisha selamat, menjauhlah! Cepat!!" Vansh memberikan ancaman agar Ray dan yang lainnya tidak mendekati dirinya maupun Nisha, dan kalau itu terjadi. Ia akan melakukan suatu hal yang cukup berbahaya.
"Dasar manusia tidak tahu diri, Berani-beraninya kau mengancam, hah!" Heru semakin marah kepada Vansh, rasanya ia ingin saat ini juga melenyapkan nyawa orang tersebut.
Dalam situasi seperti ini, Ray masih terdiam pada tempat ia berdiri. Memandangi sang istri yang meringgis atas perbuatan Vansh padanya, kedua telapak tangan itu mengepal dengan sangat kuat. Terlihat dari urat-uratnya yang cukup jelas dimata, apalagi ia merasakan sakit dengan melihat air mata pada mata sangat belahan jiwanya.
"Biarkan kami pergi dari sini, jika tidak aku akan membuat kalian semuanya menyesal seumur hidup. Menyingkirlah!"
Semua orang menjadi bingung dan panik akan kejadian ini, nyawa tiga orang kini sedang terancam.
Namun Ray masih terdiam seperti sebelumnya, ia sedang berpikir bagaimana caranya menyelamatkan Nisha dan anak-anaknya. Akan tetapi sebelum semuanya terpecahkan, tiba-tiba saja ada sesuatu yang membuat Ray serasa berhenti bernafas.
"Argh, sa sa kit! Ma mas sakit!" Kedua tangan Nisha yang semula menahan lengan Vansh pada lehernya, kini kedua tangan itu berpindah untuk menahan perutnya yang besar sedang merasakan kontraksi.
"Sayang!" Ray bergerak mendekati Nisha.
Dor!
Dor!
__ADS_1
Vansh meraih senjata api yang berada didekatnya dan menembakkannya kepada Ray, namun tembakan itu tidak mengenai target. Dengan gerakan cepat, Ray dapat menghindar dari tembakan tersebut.
"Argh!!" Seiring dengan teriakan itu, pakaian Nisha pada bagian bawah berubah warna menjadi lebih gelap. Cairan ketuban telah pecah, menandakan jika proses kelahiran semakin dekat.
Tidak menyadari hal tersebut yang terjadi pada Nisha, semuanya bersitegang dan melakukan serangan bertubi-tubi kepada Vansh. Menggunakan tubuh Nisha sebagai perisai dirinya dari serangan yang ditujukan padanya, Vansh menarik tubuh Nisha untuk menjauh.
"To tolong kak, sa sakit." Nisha memohon kepada Vansh untuk memberikannya pertolongan.
"Ti tidak Nish, kita akan pergi dari sini. Aku berjanji padamu, kita akan memulai kehidupan yang baru dari awal. Aku tidak mau kehilangan kamu lagi, Nish." Vansh terus menarik tubuh Nisha untuk mengikutinya.
Merasa putus asa, Ray seakan menjadi manusia yang sangat ketakutan. Tiga nyawa orang yang ia cintai sedang dipertaruhkan, salah mengambil keputusan sedikit saja akan membuat ketiganya meregang nyawa.
Cukup lama Vansh melakukan perbentengan dirinya dengan menggunakan Nisha, tidak banyak yang menyadari jika wanita itu sedang meregang nyawa. Aliran darah semakin deras melewati kedua kakinya, pakaian yang dikenakan Nisha membuat noda darah itu tertutupi dengan warna gelapnya, rasa sakit itu semakin menyakitkan. Pandangan Nisha semakin berkabut, kekuatan yang ia punya sudah sangat berkurang.
"Sa sa kit." Suara itu semakin melemah.
Namun sebelum mata itu tertutup, beberapa peluru melesat dengan cepat menembus anggota tubuh Vansh yang digunakannya untuk menahan Nisha.
Brugh!
Terhempas!
Tubuh Nisha terhempas dengan sangat kuat, namun bersamaan dengan jatuhnya tubuh tersebut. Kesadaran Nisha menghilang.
__ADS_1