
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Sikap Ray tak kunjung berubah, membuat nisha semakin dirundung dengan rasa penasaran dan juga kegelisahan. Dalam kesehariannya, Ray bersikap sangat irit dengan perkataan. Namun untuk keamanan dan fasilitas yang lainnya tetap berjalan seperti biasanya, hanya saja membuat keadaan mansion berubah.
"Mas, mau kemana?" Meraih tangan Ray yang saat itu akan beranjak dari kursinya.
"Tetaplah dirumah." Hanya itu yang keluar dari mulut Ray.
Kepergian Ray di pagi hari ini, membuat perasaan Nisha sangat gundah. Dengan kehamilan memasuki bulan ke lima, harus menahan semua apa yang ia rasakan tanpa bisa berdiskusi bersama sang suami.
"Kak Heru, apakah aku boleh meminta sahabatku untuk datang kemari?" Nisha merasa sedikit bosan dengan berdiam diri di mansion yang besar, tanpa melakukan apapun.
"Kakak tidak bisa memutuskan hal itu Nish, coba telfon saja tuan Ray."
Menghela nafas panjangnya, Nisha menghubungi ponsel suaminya. Berulang kali ia coba, tapi hasil tetap saja tidak terjawab. Menghubungi Felix, ternyata sama saja tidak ada jawaban.
"Kak, bagaimana kalau kita ke perusahaan saja. Aku merasa bosan jika harus seperti ini terus, bisa kan untuk menghantarkanku kesana?"
Degh!
"Ke perusahaan? Memangnya tidak ada tempat lain yang ingin kamu kunjungi selain perusahaan Nisha, aku sangat bosan jika harus bertemu sekretaris menyebalkan itu." Memang benar Heru sedikit risih dengan perhatian Caca kepadanya, sejak kejadian dimana ia terluka.
"Kan mbak Caca memang orangnya perhatian Kak, itu semua dia lakukan karena dia, emm..." Nisha menahan perkataannya agar tidak membongkar rahasia ya g sudah Caca percayakan padanya.
"Perhatian si perhatian, tapi bukan berlebihan mengalahkan sepasang kekasih saja. Itu membuatku sangat risih, catat itu." Heru memang bukan pria yang haus akan perhatian dari seorang wanita.
"Baiklah, aku akan mengirimkan pesan kepada mas Ray. Tiba-tiba saja aku ingin makan makanan ala korea." Nisha mulai menggerakkan jemarinya untuk meluiskan sebuah pesan singkat kepada suaminya.
...Pesan terkirim ❤...
__ADS_1
...Dimana kamu mas? Tidak ada satupun telfon dan pesanku yang kamu balas mas, aku ingin menemuimu di perusahaan. Namun Kak Heru tidak bisa menghantarkanku kesana, dan tiba-tiba saja aku menginginkan makanan yang berbau korea. Mungkin ini peralihan baby untuk rasa bosanku menunggu kabar darimu mas, aku izin pergi bersama Kak Heru. Balas dan telfon balik saat kamu melihat semua notifikasi dariku mas....
Tanpa menunggu lama, Nisha mengajak Heru untuk segera berangkat. Selama dalam perjalanan Heru juga berusaha menghubungi Ray maupun anggota lainnya, ia tidak ingin kepergian mereka ini akan mengundang kemarahan dari seorang Ray. Namun semuanya hanya sia-sia, rasa curiga yang Heru rasakan sangat besar.
"Nish, lebih baik kita pulang saja ya. Ini semua pasti ada penyebabnya, hal ini seperti yang kakak alami saat kelompok sedang dalam sebuah misi." Heri langsung memutar balik kemudi mobilnya untuk kembali.
"Misi apa kak? Baiklah, berhati-hatilah Kak." Nisha pun ikut-ikutan menjadi tegang melihat kepanikan dari wajah Heru.
Ddrrtt...
Ddrrtt...
Tiba di mansion, Nisha segera masuk ke dalam dan tidak menyadari jika ponselnya bergetar. Penjagaan diperketat, Heru memerintahkan semua anggotanya untuk berjaga-jaga dan jangan sampai lengah.
...----------------...
Situasi yang kini sedang dihadapi oleh kelompok Dark Kill sangatlah serius, mereka kini mengetahui siapa ketua dari kelompok Black yang selalu menjadi bayangan dan begitu licin untuk mereka tangkap.
Brakh!!
Ray tampak sedang mengamuk pada salah satu properti yang berada diruangan tersebut, Bibby menyampaikan hasil temuannya tentang siapa pria yang dikenali oleh istrinya tersebut.
"Kerahkan semuanya, kali ini mereka harus kita dapatkan!" Perintah itu langsung ia berikan kepada seluruh anggota kelompoknya.
Disaat mereka semua sedang bersiap, Ray yang seakan hilang ingatannya kepada seorang wanita yang sudah menjadi istrinya. Emosi dan juga tersulut dendam yang belum terselesaikan, sehingga ia memilih fokus untuk rencana yang telah mereka susun.
"Tuan! Tuan gawat! Gudang barang kita terbakar, dan juga markas kita dinegara seberang telah diserang!" Felix yang baru saja tiba di markas segera memberitahukan hal tersebut kepada Ray.
__ADS_1
"Apa?! Bagaimana bisa itu terjadi, Felix?!" Ray sudah tidak bisa menahan kemarahannya.
"Maaf tuan." Felix benar-benar tidak mengetahui mengapa hal itu terjadi, ia juga mendapat kabar dari anggota mereka yang berada disana.
Penyebab terjadinya serangan tersebut belum diketahui, semua anggotanya bergerak cepat untuk mengatasi peristiwa tersebut. Pergerakan mereka sangat cepat, bahkan kini Ray tengah fokus untuk mendapatkan targetnya yang sudah begitu lama ia cari.
Di luar dari perkiraan yang mereka sempat pikirkan, ternyata ada satu sisi yang membuat titik lemah seorang Ray menjadi target dari orang lain.
"Nish, lebih baik kamu berada didalam saja dan beristirahat. Jangan terlalu tegang, semuanya itu akan berpengaruh terhadap janinnya." Heru mengingatkan Nisha untuk tidak ikut memikirkan peristiwa yang sedang terjadi.
"Tidak apa-apa kak, ehm. Apa keadaan dan kondisi seperti ini yang kalian alami selama ini? Apakah dunia mafia itu selalu menakutkan?" Nisha terus bertanya kepada Heru tentang perasaan yang sedang ia rasakan saat ini.
Dengan terus mengusap perutnya yang sudah mulai berbentuk, Nisha tidak bisa menutupi jika dirinya juga begitu panik. Ponsel yang ia genggam terus menghubungi suaminya, berulang-ulang kali ia lakukan tanpa rasa bosan.
"Tidak semuanya mafia yang kamu katakan itu kejam Nish, suamimu hanya akan mengeluarkan sikap kejamnya untuk melindungi dan menyelamatkan orang-orangnya. Kau bisa membuktikannya sendiri Nish, sudah jangan berpikiran seperti itu." Heru tidak bisa mengelak, bagaimana pun suatu saat nanti Nisha akan mengetahui seperti apa dunia bawah yang suami dan orang-orang terdekatnya terlibat didalamnya.
...Aku benar-benar belum mengetahui hal itu semuanya kak, bahkan siapa suamiku yang sebenarnya saja belum aku dapatkan penjelasaannya. Diriku hanya orang awam yang masuk ke dalam dunia kalian seperti ini, bagiku ini sangatlah sulit untuk mencerna dan beradaptasi dengan semuanya....
"Permisi tuan, nona. Kami diminta tuan Ray membawa nona ikut bersamanya." Mereka dikagetkan dengan kehadiran dua orang pria yang mengaku sebagai bagian dari kelompok mereka.
"Benarkah?!" Heru yang keningnya tampak berkerut dengan apa yang ia dapatkan saat ini.
"Benar tuan." Jawab salah satu diantara pria tersebut.
Ada keraguan dalam hati Heru untuk mempercayai perkataan kedua orang itu, ia segera menghubungi kembali semua orang yang berada satu lokasi dengan Ray. Namun hal sebelumnya terjadi lagi, tidak ada tanggapan satupun untuk merespon panggilan darinya.
"Kak, mungkin saja disana sedang sibuk. Mas Ray tidak akan pernah mencelakaiku, bahkan dia akan selalu melindungi kami."Nisha menyebutkan kami, karena kini dia sudah bersama calon bayinya.
__ADS_1
"Tapi Nish, ah tunggu saja disini. Dia mau marah silahkan saja, kakak yang bertanggung jawab jika itu terjadi." Heru bahkan sangat berat untuk melepas Nisha pergi.
Beradu pendapat dan argumen, membuat Heru akhirnya harus melepas Nisha untuk bertemu dengan Ray. Bahkan Nisha sendiri yang sangat percaya jika dua orang pria itu memang benar suruhan dari suaminya, tanpa sepengetahuan lainnya. Heru mengikuti mereka dengan rapi, entah mengapa Heru merasa ada yang jangan dari kedua pria itu.